Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2018

Sang Bapak


Lelaki itu menatap lekat segelas air sirup di meja. Pikirannya melayang ke masa lalunya. Matanya tak bisa beralih dari gelas yang berwarna merah. Digenggamnya gelas itu dengan erat. Dingin dari gelas  kini telah merambat ke tangannya dan membekukan hatinya. 

Sosok lelaki yang sudah dewasa itu, tubuhnya mengkerut menjadi seorang bocah kecil. Kursi dan mejanya tak lagi sama. Hidangan di meja juga sangat jauh berbeda. hanya ada dua gelas air putih dan nasi berlauk tempe. Sedangkan di ujung meja adalah wanita separuh baya yang wajahnya sangat letih. Posisinya masih sama, memengang gelas. Namun gelasnya kini hanya berisi air putih yang tak bersuhu. Diangkatnya gelas itu dan di letakkan di bibirnya. Air itu tak manis. 

“Emak, kapan kita bisa beli sirup buat berbuka?” kata bocah itu. 

“Nanti ya Le, kalau Emak ada rejeki.” 

Mendengar jawaban dari Emaknya begitu, bocah itu tak banyak protes. Diteguk lagi air putih itu dengan penuh takzim. Dia sangat tahu bagaimana Emaknya harus bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sejak Bapaknya minggat entah ke mana. Emaknya banting tulang, pagi menjadi buruh cuci gosok, siangnya mencari rosokan. Membeli dan menikmati segelas sirup ketika berbuka adalah sesuatu yang mewah bagi mereka. 

Setiap hari bocah itu membantu emaknya mencari rosokan. Dari keliling mencari rosokan itulah dia tahu, di rumah warga banyak televisi yang mengiklankan salah satu merk sirup untuk berbuka puasa. Iklan itu memang sangat santer jika bulan ramadhan. Seperti siang ini, dengan keringat yang membuat badannya semakin dekil, dia menyaksikan lagi iklan sirup itu. Lagi-lagi dia menelan ludah. Keinginannya semakin memuncak, kering tenggorokannya semakin meronta ingin dialiri air manis yang beraneka warna. 

Entah syaitan apa yang membisikkan ke dadanya. Dengan terburu-buru dia masuk ke salah satu minimarket. Ditujunya tempat botol sirup berbagai merk dipajang. Diambilnya salah satu botol dan di masukkan ke dalam kaosnya yang sudah melar. Dengan langkah was-was dia meninggalkan deretan botol itu. Namun seorang bapak ternyata memilhat gerak geriknya dari tadi. Dihadang tubuh dekilnya. Badan Andi gemetar, dia tak berani menatap sosok di depannya. 

“Namamu siapa?” 

“Hmm An ... an ... Andi, Pak!” Dengan terbata-bata dia menjawab pertanyaan itu. 

“Lain kali jangan mencuri ya! Ini uang buat kamu bayarkan ke kasir!” Kata bapak itu sambil menyodorkan sejumlah uang. 

Kini Andi menantap Bapak itu dengan penuh ketakutan. Namun seutas senyuman tulus tergambar di wajah sang bapak. Dengan buru-buru dia menuju ke kasir dan membayar sirup yang nyaris dia curi. Setelah membayar, dia menoleh ke tempat Bapak tadi berdiri, namun sudah tidak ada lagi. 

Sejak peristiwa itu Andi selalu berdiri di depan minimarket itu. Menunggu sosok sang Bapak yang telah memberinya sejumlah uang. Namun tak pernah dia temukan. Sosok bapak itu bagaikan seorng malaikat yang diutus untuk membantu dirinya. Untuk merasakan manisnya air yang bernama sirup. 

*** 

“Mas, kok tidak segera berbuka? Sudah adzan dari tadi loh!” Suara lembut dari seorang perempuan yang duduk persis di depannya. Suara lembut itu juga yang telah mengembalikan pikirannya yang sudah melayang dari peristiwa puluhan tahun silam. Seorang perempuan yang telah dia nikahi 4 bulan yang lalu. 

Andi kini menjadi seorang pengusaha yang memiliki pabrik minuman sirup merk terkenal. Setiap ramadhan dia bagikan anekan makanan dan minuman sirup ke panti asuhan, ke anak-anak jalanan dan penghuni kolong jembatan. Dengan berbuat begitu dia merasa bahwa mungkin inilah caranya untuk berterimakasih kepada sosok sang Bapak yang telah menolongnya waktu itu. 



#tantanganRWC
#Day1
#sirup

















Sabtu, 14 April 2018

Tentang Dirimu



Aku tak tahu kamu sebenarnya terbuat dari apa? Ragamu terasa sangat istimewa. Setiap kamu hadir di depanku, jantungku pasti berdetak lebih kencang dari biasanya. Tatapan tajam seperti mata elang pasti membuat aku melayang sehingga hukum gravitasi yang ditemukan Newton menjadi tak berlaku lagi. Terkadang aku heran, aku seperti orang yang tak mengenali diri sendiri. Aku kacau dengan berbagai macam perasaan yang silih berganti, kadang senang, kadang sedih, kadang rindu yang tak menentu. Aku seperti berpenyakit dan kehadiran dirimu adalah obatnya. Dirimu seperti di batas dunia maya dan nyata. 


Sosokmu yang sederhana, dengan suara yang penuh wibawa telah memberikan daya pikat yang luar biasa. Kata-katamu bagaikan matra yang menyulap rinduku menjadi raib. Namun jujur, aku menikmati, aku suka dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini. 


Namun harusnya kamu bertanggungjawab, hidupku yang semula tenang kini menjadi penuh gejolak. Berisik dengan kata-kata rindu yang menderu. Bayanganmu terkadang merubah fokusku, ketika aku belajar atau membaca buku. Aku seperti hidup di dunia imajinasi, hidup di dunia dongeng seperti seorang putri yang betemu pangerannya. Aku kehilangan orientasi yang selama ini aku pegang, aku kehilangan arah, aku linglung, aku binggung. 


Masihkan engkau ingat? Saat kita bertemu di kantin sekolah. Kamu membelikan aku sebuah makanan ringan yang banyak mengandung vetsin. Jajanan itu tidak aku makan, aku pajang di dinding kamarku. Bukannya aku takut menjadi bodoh, bukan, semua itu aku lakukan agar kenangan itu nyata di depan mata. Aku pandangi ketika aku hendak belajar, ketika aku mau berangkat ke sekolah. Hingga suatu hari makanan itu sudah tak berada lagi di tempatnya. 


Pernah suatu ketika sambil memandang lautan lepas kamu berseloroh tentang kisah seorang pria yang rela melakukan apapun untuk wanitanya. Kamu bercerita dengan penuh penghayatan. Aku jadi teringat sebuah film tentang kisah sepasang kekasih yang aku tonton tadi malam. Sebenarnya aku tak begitu mendengarkan ceritamu, aku lebih tertarik memandangi wajahmu. Angin pantai yang sesekali mengibaskan rambutmu dan mimik wajahmu saat bercerita adalah pemandangan yang tiada duanya. Sungguh aku telah terbuai dengan daya pikat dan pesonamu yang telah merubah sebagian besar duniaku.




#30dwc
#squad4
#Daya
#Day24

Kamis, 12 April 2018

Terimakasih Kenzo!



Namaku Kenzi, biasa dipanggil Ken. Aku dulunya anak yang pemalu, mengindap Selective Mutism (SM) lebih tepatnya. Kini aku berprofesi menjadi seorang pengacara yang bekerja di kantor pengacara ternama di Jakarta. Bertolak belakang dengan kondisi masa laluku bukan? Di meja yang penuh berkas kasus yang sedang aku tangani, kini aku akan menceritakan kisah hidupku 25 tahun yang lalu.

*** 

25 Mei 1990

Rumah berukuran 8x13 bercat biru itu kini ramai tak seperti biasanya. Orang datang silih berganti. Beberapa aku kenal namun banyak yang asing. Ada teman Papa, teman mama, kerabat dekat dan beberapa keluarga besar. Di halaman rumahku yang biasanya sepi, kini banyak mobil dan sepeda motor yang berjejer dengan rapi. 

Aku duduk di teras rumah, persis menghadap pohon mangga. Pohon mangga yang kini terlihat jauh lebih besar dibandingkan awal kami pindah ke sini. Di bawah pohon mangga itu, rumput hijau tumbuh subur, rumput itu memang sengaja ditanam. Sedangkan di dekat pagar, berjejer bunga mawar. Itu adalah bunga-bunga kesanyangan Mama..

Aku amati orang yang berlalung lalang, silih berganti. Banyak tetanggaku yang datang ke rumah. Dari wajahnya aku melihat tak ada gairah dan penuh dengan kesedihan. Sedangkan di dalam rumah, aku mendengar mamaku menangis tak henti. Pamanku yang dari tadi selalu setia menemaniku akhirnya angkat suara.

“Ken ... sekarang Om jadi pengganti papamu ya!” Posisinya yang semula berdiri kini dia duduk. Tubuhnya sejajar dengan tubuhku, tangannya membelai rambutku. Jujur, sebenarnya aku tak begitu mengerti maksudnya, namun aku hanya mengangguk saja.

“Papa kenapa, Om? Kenapa banyak orang datang kerumah Ken?” tanyaku kepada Om Dani, adik papaku. Tadi pagi sebelum banyak orang datang, aku mendengar mama menerima telepone, dia menangis lalu terduduk dengan memanggil nama papa. Dari sanalah aku tahu bahwa telah terjadi sesuatu dengan papaku.

“Papa Ken ... ga papa kok, papa Ken sekarang sudah bahagia,” jawab Om Dani dengan tersenyum. Namun gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya.

”Om, Ken ... ngantuk, mau istirahat ke kamar, boleh?” tanyaku setengah berbisik. Om Dani tak menjawab pertanyaanku, dia hanya tersenyum dan mengangguk lalu menepuk bahaku.

Aku seret kakiku melewati kerumunan orang yang berada di ruang tamu. Bau cat masih menyengat di hidung. Baru kemarin papa mewarnai dinding tembok ruang tamu itu dengan warna biru. dari tamu-tamu yang hadir, sebagian besar dari mereka menggenakan baju berwarna hitam. Aku lihat sosok mamaku masih duduk di posisi yang sama sejak tadi. Sesekali dia menyeka air matanya, pandanganya kosong, dan beberapa tamu terkadang memeluknya seperti memberikan sebuah dukungan moral.

Aku pegang gagang pintu kamarku, kuputar ke kanan dan ke kiri. Kekacauan pikiranku membuat aku lupa bagaimana cara membukanya. Dengan sedikit kudorong, memanfaatkan berat badanku akhirnya pintu itu terbuka. Aku rebahkan badanku di atas kasur. Aku lihat potoku bersama papa yang terpasang di pigura di atas meja belajarku. Papa kamu kenapa, Pa? tanyaku dalam hati. Jujur aku sangat binggung.

Lalu tak lama kemudian terdengar suara sirene mobil ambulan berhenti di pekarangan rumah. Aku mengintip dari jendela kamarku, sebuah peti mati di keluarkan dari sana. Peti itu digotong masuk ke dalam rumah oleh beberapa orang laki-laki berseragam tentara. Lalu terdengar suara mamaku menangis histeris.


Bersambung ....


#MasaLalu
#BinatangKesayangan
#30DWC
#squad4
#day22

Selasa, 03 April 2018

Marni


Marni adalah seorang gadis desa yang cantik jelita. Wajahnya bulat dengan matanya yang belok. Rambutnya sebahu dengan warna hitam kemerah-merahan. Lesung pipi selalu menghiasi wajahnya jika dia tersenyum. Tingginya 165 cm dengan berat 55 kg membuat postur tubuhnya ideal. Singkat kata Marni adalah gadis desa yang menjadi primadona di kampungnya. 

Kini Marni sedang dirundung rindu. Pemuda yang dia cintai telah pergi entah kemana. Dua tahun yang lalu merantau ke seberang lautan dan hingga kini tidak kunjung pulang. Marni selalu menunggu di perbatasan desa, di mana tempat itu dulu adalah tempat perpisahan untuk terakhirnya kalinya. Setiap pagi dan sore hari, Marni pasti berdiri di tempat itu dengan membawa selendang warna biru tua pemberian darinya. 

Hampir setiap hari Marni pergi ke rumah Pardi. Bertemu ibu Pardi untuk menanyakan kabar anaknya. Tapi apa yang dia dapatkan? Lagi-lagi hanya kecewa. Pardi tak kunjung memberi kabar kepada dirinya maupun keluarganya. 

Setiap malam, Marni duduk di teras rumahnya. Memandangi langit, dalam hati kecilnya, dia merasa bahwa Pardi juga memandangi langit yang sama. Memandangi langit adalah ritual yang membuat rindunya sedikit terobati. Dibaca-baca lagi semua surat yang pernah dikirim untuknya sebelum Pardi pergi. Pardi saat rajin mengirimi Marni surat. Padahal rumah Marni dan Pardi tak terlalu jauh jaraknya. 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, namun tanda-tanda kepulangan Pardi tak kunjung ada kabar. Orang tua Marni gusar melihat tingkah anaknya yang semakin lama semakin tidak normal. Marni dulu gadis periang, aktif di berbagai acara karang taruna di desanya. Namun kini Marni lebih banyak berdiam diri di kamarnya, ke perbatasan desa atau melamun di teras rumahnya ketika malam menjelang. 

Marni seperti orang yang kehilangan jiwanya. Raganya hanya raga yang tidak bernyawa. Menjalani rutinitas hariannya nyaris tanpa semangat dan senyum ceria. Marni seperti mayat hidup yang berpenyakit ganas, yaitu kanker rindu stadium empat. 

Suatu hari keluarga Marlan datang ke rumah Marni. Marlan memang dari dulu ada hati dengan Marni. Marlan ingin menjadikan Marni sebagai istrinya. Marlan pandai membaca situasi bahwa Pardi sudah tidak ada kabar, maka Marlan berani untuk meminang Marni. Namun bagaimana reaksi Marni? Marni dengan serta merta mengusir Marlan dan keluarganya keluar rumah. Mengetahui diperlakukan tak sepatutnya, Marlan sakit hati. 

Keesok harinya Marlan pergi ke orang pintar di tetangga desa. Marlan ingin Marni mau menerima lamarannya. Mbah dukun memberikan jampi-jampi dan ritual yang harus dilakukan Marlan. Inilah kata orang, cinta ditolak dukun bertindak. 

*** 

Marni kini semakin linglung seperti orang binggung. Rambut yang dulu sebahu kini semakin panjang. Namun rambut yang semakin panjang itu jarang disisir, acak-acakan, warna hitamnya kini semakin dimonompoli warna merah. Senyumanya yang dihiasi lengsung pipi kini tak ada lagi. Lesung pipinya telah pergi sejak Pardi menghilang tanpa kabar. Mata belok dengan bulu mata yang lentik kini lebih sembab karena banyak air mata yang keluar. Kantung mata semakin tebal dan menghitam. Karena setiap malam dia kurang tidur memandangi langit di teras rumahnya. Terkadang jika hujan, Marni tetap nekat ke luar. 

“Oalah Nduk-nduk Kamu ini kenopo to?” Tanya ibunya sambil membelai rambutnya. 

Marni tidak menjawab pertanyaan itu, pandangannya kosong seperti hari-hari sebelumnya. 

“Mandi dulu saya! Sudah seminggu kamu belum mandikan?” perintah ibunya kepada Marni. 

Marni tidak pergi ke kamar mandi, dia malah masuk ke dalam kamarya mengambil selendang biru. Dilingkarkan selendang itu di lehernya, dia pergi mengelilingi desa. Rutinitas yang akhir-akhir ini dijalaninya. 

*** 

Suatu hari, mobil sedan warna putih masuk ke desa. Semua orang dibuat takjub dengannya, karena konon tidak banyak mobil yang masuk ke desa itu, kecuali milik Pak Lurah. Seseorang turun dari mobil sedan berplat Jakarta. 

“Pardi?” Teriak seorang warga yang mengetahui bahwa yang turun dari mobil sedan warna putih itu adalah Pardi, tetangganya. Sudah hampir tujuh tahun Pardi menghilang tanpa kabar berita. Tak lama Pardi turun dari mobinya, ada seorang wanita dan anak perempuan kecil juga turun dari sana. 

“Mbak Sur, kenalin ini istri dan anak saya!” kata Pardi kepada Surti. 

“Ya Allah Pardi, kamu kemana saja?” kata Surti. 

Belum sempat Pardi menjawab pertanyaan Surti, mata Pardi menangkap sosok wanita yang berkalung selendang biru melintas di depannya. Namun wanita itu seperti sudah tidak mengenalinya lagi. 


#Rindu
#30dwc
#squad4





Kamis, 22 Februari 2018

Semua Istimewa


Pagi ini kancil berjalan-jalan menusuri hutan. “Hmm pagi yang indah ...!”gumamnya. Hutan itu begitu asri banyak binatang yang lalu lalang dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang mencari makan ada yang masih santai di bawah pohon. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor kura-kura.

“Pagi kura-kura, mau hendak kemana? bagaimana kalau kita bermain hari ini?” tanya kancil kepada kura-kura yang sedang berjalan dipinggir jalan.

“Aku sedang buru-buru kancil, sodaraku sedang membutuhkan bantuanku di sungai!” jawab si kura-kura.

“Ha... ha ... jalan begitu kau anggap buru-buru, cobalah kamu berlari lebih cepat, pasti saudaramu tak akan menunggu lebih lama!”

“Ini aku sudah berlari,kancil!” jawab kura-kura denga keki.

“Ha... ha ... ha ...itu lari!  begini loh yang namanya lari!” Sambil memperagakan larinya. “Nanti aku tunggu di sungai ya? Aku ingin tahu, sampai sungai kamu butuh waktu berapa jam.” Sambil berlari, dia berteriak. Dengan sombong kancil menunjukkan kepada kura-kura tentang kehebantan larinya.

Setelah tiba di sungai, si Kancil bertemu dengan semut. Semut itu sedang mengumpulkan makanan dengan para koloninya. Merasa dirinya mau di injak oleh si kancil, semut itu berteriak.

“Hai Kancil, lihat-lihat dong kalau berjalan. Ada kami di bawah sini. Jangan asal injak saja,” protes semut kepada kancil.

“Maaf, habis kamu kecil sekali sih, mana tahu aku kalau ada kamu dan teman-temanmu. Makannya Badan itu yang besar kayak aku,  kelihatan kan? Jadi gak ada yang mengijak,” ledek kancil kepada semut.

Semut tak menghiraukan ejekan kancil, dia dan koloninya tetap berbaris menuju sarang mereka.
Tak lama setelah bertemu dengan semut, kancil menuju ke pinggir sungai hendak minum. Di sungai ada seekor ikan.

“Hai ikan ..., sedang apa kamu? Kamu gak bosan ya di dalam ait terus. Dunia ini bukan hanya air, ada daratan yang indah, ada banyak bunga, pohon, dan buah-buahan. Kalau di air, mana ada banyak tanaman? Pasti masih banyak di darat bukan?”

“Hmmm ... kamu kan tahu aku hanya bisa bernafas di air. Mana bisa aku jalan-jalan di daratan?”
“Ha .. Ha.. kasihan banget ya kamu!” Ledek Kancil kepada ikan.

Setelah puas minum, kancil bersandar pada sebuah pohon. Ada seekor burung gagak di sana. Burung gagak itu menyaksikan dari tadi mendengar percakapan kancil, semut dan ikan.

 “Kancil sedang apa kamu di sini?” tanya gagak .

“Aku ini sedang menunggu kura-kura. Kura-kura itu lambat sekali jalannya, dari tadi gak sampai-sampai, padahal aku sudah capek sekali menunggu.”

“Ya kan kamu tahu jalan kura-kura memang begitu, meskipun dia lambat dia punya tempurung sebagai rumahnya. Tempurungnya sangat kuat, jadi jika ada musuh yang menggangu atau ada bahaya, dia bisa bersembunyi di dalamnya.”

“Lantas kenapa semut tadi berteriak kepadamu?” tanya gagak lagi.

“Oh semut ... dia hampir saja terinjak aku. Salah sendiri kenapa badannya begitu kecil!” jawab kancil.

“Wah jangan salah ya, dengan tubuh kecil begitu, semut bisa masuk ke tempat-tempat yang sempit. Yang pastinya kamu tak bisa masuk kesana. Kancil, semua dari kita pasti istimewa, tidak ada yang di ciptakan yang tidak berguna, semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak mungkin kan Allah menciptakan produk gagal?”

“Lantas apa kelebihan ikan?” tanya kancil.

“Ikan bisa bernafas dalam air, dia pandai berenang. Kalau aku disuruh berenang pasti aku tidak akan sanggup. Begitupun sebaliknya, jika ikan itu disuruh ikut perlombaan terbang pasti juga tidak akan menang. Jadi tidak usahlah kamu menghina dan mengolok-olok. Semua unik, semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Jadi semua istimewa."

Mendengar penjelasan gagak, kancil mulai berfikir. "Lantas buat apa diberikan kekurangan. Kenapa aku tidak diberi kemampuan terbang sepertimu? atau kenapa aku tidak diberi kemampuan bisa bernafas di dalam air seperti ikan?"

"Kancil ... semua mempunyai kekuranga dan kelebihan. Dengan kekurangan itu, kita diharapkan bisa saling bekerjasama dan dengan kelebihan kita, kita menjalani peran kita masing-masing."

Kancil termenung ternyata apa yang dikatakan gagak telah menyadarkannya. Selama ini dia selalu menhina dan meremehkan teman-temannya.






Rabu, 21 Februari 2018

Perlu Budek

Peringatan hari kemerdekaan di Negeri Binatang berlangsung meriah dengan di adakannya berbagai macam perlombaan. Salah satu perlombaan yang sangat menarik perhatian rakyat negeri Binatang adalah lomba lari yang di ikuti oleh para Rusa. Para peserta lomba harus lari sejauh 10 km dan dekat di garis finish harus melewati sebuah sungai. Di sungai itu disedikan rintangan berupa pijakan, tapi pijakan itu tak semuanya kokoh. Peraturannya sederhana, jika ada Rusa yang jatuh di sungai maka diberi kesempatan dua kali unutk bisa melanjutkan larinya. Bagi pemenang yang berhasil sampai di garis finis berhak mendapatkan sebuah mahkota emas persembahan dari sang Raja.

Peserta lomba lari kali ini berjumlah 30 ekor rusa yang datang dari berbagai penjuru negeri Binatang. Selain karena berpartisipasi untuk memeriahkan hari kemerdekaan, mereka juga tergiur dengan hadiah yang diberikan. Ketika seorang juri meniup peluit tanda perlombaan dimulai, Rusa-rusa itu lari dengan sekuat tenaga. Ada yang melesat jauh di depan namun ada juga yang tertinggal di belakang. Namun ketika sampai di sungai, banyak rusa yang jatuh dan dinyatakan gagal, hingga tersisalah hanya beberapa ekor rusa saja. 

Penontonpun semakin histeris ada yang memotivasi namun banyak pula yang mengolok-olok. Memang terkadang penontot merasa lebih hebat dari pada para peserta. Beberapa waktu telah berlalu, para Rusa yang tereliminasipun semakin banyak karena telah terjatuh lebih dari dua kali. Tinggalah 5 ekor rusa yang berjuang sampai ke garis finish. 

Anehnya para penonton bukan malah memotivasi para rusa yang masih bertahan namun melainkan mereka justru menggendorkan semangat para rusa yang masih berjuang. "Ah ... sudahlah gak mungkin, sudah banyak yang jatuh, sudah pulang sajalah!"
" Haduh masak cuma gara-gara iming-iming mahkota aja sampai rela begini!" dan ada juga yang berkomentar, " Kalau aku mending pulang sajalah, gak usah terlalu ngotot , daripada sakit kenapa-kenapa mending pulang saja."

Mendengar teriakan-teriakan yang demikian, beberapa ekor rusa mulai jatuh motivasinya, daya juang mereka semangin melorot, dan akhirnya tereliminasi satu persatu. Melihat kondisi yang demikian, para penonton-penoton itu semakin mempertinggi suara teriaknya, mereka mengatakan bahwa tidak akan ada rusa yang berhasil menuju garis finish. Namun perlombaan belum selesai, meskipun ada rusa yang memilih untuk menyerah namun ada seekor rusa yang terus berjuang melewati pijakan-pijakan di sungai itu dengan optimis. satu persatu pijakan itu di injaknya dan dia terjatuh, namun jatuh pertama ini tidak menyurutkan tekatnya untuk menjadi juara.

Melihat Rusa itu terjatuh, mulailah para penontot itu bersorak lagi,  bahwa sesuatu hal yang mustahil kalau rusa itu bisa berhasil menuju garis finish, pasti seperti rusa-rusa lainnya yang tereliminasi. Namun sang rusa tidak patah semangat dia bangun dari jatuhnya dan mulai lagi dengan pijakan terakhir hingga akhirnya bisa keluar dari sungai dan berhasil menuju garis finish. 

Gegap gempita dan sorak penonton bergemuruh. Para penonton yang semula berkomentar meremehkan pun ikut bahagia. Semua penontot bertanya-tanya, kenapa rusa itu bisa berhasil hingga menuju garis finish? Apa yang menyebabkan dia bisa berhasil melewati rintangan disungai dan berhasil menjadi suara? Kenapa dia tidak berpengaruh dengan teriakan dn cemooh para penonton?Betapa kagetnya mereka setelah di periksa ternyata sang rusa juara itu tidak bisa mendengar alias budek

***
Dalam hidup terkadang kita perlu menjadi budek dengan komentar-komentar yang negatif yang membuat kita tidak bisa maju dalam meraih apa yang kita cita-citakan. Karena ada beberapa orang yang menerima komentar negatif membuatnya  sering kali mematahkan motivasinya untuk berkembang dengan baik dan optimal. Semua orang berhak berkomentar apapun tentang kita, namun kita juga berhak untuk memberikan respon yang bagaimana. Menjadikan komentar negatif itu menjadi lecutan semangat? atau malah menjadi tak percaya diri? dan terkadang kita juga perlu budek untuk tidak mendengar segala macam pembicaraan yang negatif yang justru menghambat laju kita untuk maju. Tapi bukan berarti dengan budek tidak melakukan intropeksi diri, jika memang komentar-komentar itu benar harusnya kita melakukan perbaikan diri agar kedepannya tidak terulang kembali. namun jika tidak benar maka bersabarlah, kebenaran akan menemukan jalannya. 

Selasa, 20 Februari 2018

Selingkuh


Sejak mengenal dunia maya, Facebook tepatnya, Erna kini banyak berubah. Dulu sehari-hari daster dan bau kompor adalah menjadi ciri-kasnya. Namun kini berbeda, gincu merah merona selalu melapisi bibirnya. Daster yang menjadi seragamnya sehari-hari kini juga berganti, rok mini dan kaos ketat membalut tubuhnya, dan daster itu kini menjadi jampel  di dapur dan sebagian lagi menjadi kain keset kamar mandi.

Marlina teman dekat Erna juga heran dengan perubahan penampilannya, bukan hanya penampilan gaya bicara dan cara berjalannya pun berubah. Dulu Erna suka membicarakan hal-hal seputar masakan, atau membicarakan tetangga mereka yang sembunyi karena dikejar-kejar bank harian. Namun kini tema pembicaraan Erna berubah, Erna seperti politikus yang sedang berkomentar di acara televisi, bahasa asingpun sering terlontar dari mulutnya, meskipun sejatinya Marlina tahu bahwa Erna pasti juga tak mengerti apa yang sedang dia ucapkan. Jika demikian Marlina hanya mengangguk-angguk dengan khitmat seperti orang yang sedang tidur dalam angkot.

Cara jalan Erna juga berubah, dulu Erna kalau jalan seperti orang yang sedang mengejar kucing yang mencuri ikan di meja makan. Cepat sekali. Dasternyapun dia salahkan karena mengganggunya dalam melangkah hingga tak jarang daster itu akan diangkat  diatas lutut. Tapi sekarang, jangan heran , jalannya seperti jalan induk entok yang sedang berjalan dengan anak-anaknya, seorang model yang sedang jalan di catwolk pun pasti kalah dengannya.

Persahabatan Marlina dan Erna dimulai sejak mereka masih SD. jika ujian, Marlina yang tak lebih pintar dari Erna selalu percaya dengan jawaban yang diberikan Erna padanya.
“Na.. no.5 Medan ibu kota dari propinsi apa?” tanya Marlina.
“ Jelas Ambon itu.”
“Ambon?” tanya Marlina ragu.
“Iya, percaya saja sama aku.1000% pasti betul. Kemarin aku lihat ditipi bikang Ambon menjadi buah tangan paling terkenal dari Medan. Jadi jelas, bikang nama makanan dan Ambon pasti nama daerah. Jadi Medan pasti ibukota dari Ambon.” Jawabnya mantab sekali, seperti orang yang sedang mengucapkan ijab kabul saat menikah,tak ada keraguan sedikitpun.

***
Persahabatan Merlina dan Erna tetap terjalin meskipun keduanya telah menikah. Marlina menikah dengan seorang pemuda dikampungnya. Sedangkan Erna menikah dengan pemuda tetangga desa. Tidak ada rahasia diantara keduanya. Bahkan urusan pribadipun kerap mereka bicarakan. Seperti yang terjadi diobrolan siang ini.

“Mar... tengoklah pemuda ini! Cakep banget kan?” Tanya Erna sambil menyodorkan gawainya kepada Marlina.
“Wah ini mah bukan hanya cakep tapi udah kayak artis. “ Jawab Marlina dengan antusias.
“Itu siapa Na? Aha jangan bilang itu selingkuhan kamu ya? Dosa atuh Na selingkuh itu! Kalau kang Ujo tahu bakal bahaya kamu, bisa-bisa kamu tidak dikasih uang belanja selama 3 tahun.”
“sstt... jangan keceng-kenceng ngomongnya. Aku Cuma kenal dia lewat facebook kok, belum pernah ketemu.”
“ih... itumah sama ajah atuh Na, sama-sama selingkuh. Meskipun belum ketemu tapi kalau kalian sudah sering ngobrol, apalagi ngomongnya pake mesra-mesra segala!”
“Ah sok tahu kamu Mar, namanya juga buat hiburan.”

4 hari kemudian Erna mendatangi rumah Marlina. Rumah Marlina yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Erna, Cuma berjarak 3 rumah. Saat itu Marlina sedang memasak di dapur.
“Mar... aku binggung!”
“Ada apa? Pagi-pagi kok sudah binggung,” jawab Marlina.
“Mas Joy ngajak aku ketemuan,”
“Mas Joy? Siapa dia?”tanya Marlina sambil membalik tempe di penggorengan.
“Iya mas Joy... itu loh poto yang pernah aku perlihatkan ke kamu, teman facebookku!”
“Oo... selingkuhanmu itu.”
“Hus... jangan kenceng-kenceng ngomongnya.”
“Kalian mau ketemu dimana?”
“Di Warung Mbok Sumi.”

Pukul 4 sore, Erna sudah rapi. Gincu merah merona dengan bulu mata anti badan sudah terpasang di mata sipitnya. Aneka warna warni, biru, merah, jingga juga berebut menghiasi wajahnya. Gaun merah muda selutut dengan banyak payet sudah ia kenakan. Baju itu terakhir dia pake saat tampil menyanyi di acara Agustusan. Baju keramat yang hanya digunakan saat manggung. Sandal berhak tinggi yang sudah lama tersimpan dalam lemari kini dia pake. Sandal itu hanya keluar jika menghadiri hajatan kawinan. Rambutnya yang dulu selalu di kucir kuda kini digerai  manja di pundaknya. Rambutnya dihiasi jepit kupu-kupu di sisi kiri dengan poni barunya yang baru saja ia potong siang tadi di salon Mbak Sri.

Dengan langkah entoknya dia terlihat sangat kaku. Nampak sekali dia tidak biasa menggunakan sandal berhak tinggi. Kekiri ke kanan  menjaga keseimbangan. Sore ini jantungnya serasa berdetak 2 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Selain merasa deg-deg bertemu mas Joy, Erna juga takut pertemuannya dengan pria itu diketahui oleh kang Ujo.

Pukul 4.30 wib Erna datang lebih dulu di warung Mbok Sumi. Di inbox Facebooknya mas Joy bilang bahwa dia kan menggunakan baju kotak-kotak warna biru muda dengan bunga mawar disakunya. Semenit dua menit Erna menunggu dengan perasaan tak menentu. Hingga akhirnya dari kejauhan terlihat sosok seorang pria memakai baju kotak-kotak biru muda dengan bunga mawar di sakunya. Tapi... semakin dekat pria itu sepertinya Erna kenal dengan sosoknya. Apa... itu kan Kang Ujo? Jerit Erna dalam hati. Kenapa Kang Ujo memakai baju kotak-kotak berwarna biru dengan bunga mawar di sakunya? Harusnya kostum itu yang dipakai mas Joy bukan Kang Ujo. Antara wajah Kang Ujo dengan profil picture di Facebook Mas Joy sangat jauh berbeda.

“Erna kenapa kamu disini?”tanya Kang Ujo membuyarkan pikiran Erna yang sedang binggung.
“Enggak ada apa-apa kang, tadi aku lewat jadi sekalian beli gorengan.”
“Aku pulang dulu ya Kang!” Dengan menjinjing sandalnya dia mengambil langkah panjang.
Di perjalanan pulang, dia membuka inbox di facebooknya, dia menulis sebuah pesan untuk Mas Joy
“Maaf mas sepertinya kita putus saja”

Di Facebooknya, poto profile nya dia hapus. Di poto itu nampak wanita cantik bermata belok tersenyum manis menunjukkan gigi gingsulnya. Poto wanita itu dulu dia ambil dari google. Dan sebuah akun facebook yang bernama Mr. Joy dia blokir.

Sabtu, 17 Februari 2018

Rindu


“Haysa... ada telepon untukmu!”, suara ibu dari ruang tengah.
“Iya Bu.” Dengan langkah gontai aku menuju tempat dimana telepon itu diletakkan.
“Assalamualaikum”, sapaku membuka pembicaraan.
“Haysa ... aku... mau minta maaf”, suaranya gemetar dari ujung telepon. Namun aku tahu siapa dia, aku kenal betul dengan suaranya.
“Mas Fikri, ada apa mas?” tanyaku. Namun tanya itu tidak menemukan jawabannya.
Tut... tut...tut... sambungan telepon itu mati

***
Pagi yang sepi, tak ada suara kecuali bunyi burung-burung pipit menyambut pagi. Semburat warna merah dan sedikit jingga menghiasai langit yang siap menyambut matahari. Hatiku masih membeku karena tanya semalam. Tanya itu telah merenggut nyenyaknya tidurku. Hembusan angin yang terasa dingin saat mnyetuh kulitku nyatanya tak sanggup mengusir kegelisahan dalam hati.

Pagi ini kubulatkan tekad untuk menemui pemuda itu. Pemuda yang sudah kukenal 2 tahun lamanya. Berawal dari perkenalan yang tak disengaja di dalam sebuah bandara. Dan selama 2 tahun ini, dia telah mewarnai hidupku. Dia telah mengajariku banyak hal, tentang kehidupan, tentang bagaimana menjalani hidup bahkan tentang ketuhanan.

Metromini yang kini kutumpangi terasa lambat sekali jalannya. Penumpangnya bergantian, ada yang naik dan ada yang turun. Dari wajah mereka nampak seperti enggan untuk melewati hari ini, meskipun ada juga wajah-wajah yang sangat sumringah. Hingga sampailah dimana tempat yang aku tuju.

Rumah itu masih nampak seram bagiku. Bangunannya masih arsitektur bangunan tua, dengan jendela besar di depannya. Nampak angkuh sekali dengan warna putihnya. Tapi kenapa rumah itu sepi. Pintunya yang terbuat dari jati tertutup, begitu juga dengan jendela-jendelanya. Tak ada aktifitas manusia disana. Bahkan lampu teras dibiarkan menyala.

“Assalamualaikum...” Tak ada yang menyambut salamku. tok.. tok... tok... Kuketok berkali-kali pintu jati itu.

Hatiku semakin kalut, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tadi malam mas Fikri menelepon dan meminta maaf? Dan sekarang rumahnyapun kosong.

 “Maaf Bu, ibu tau kemana keluarga pak Shaleh? Saya ketok pintunya berkali-kali tapi gak ada jawaban,” tanyaku kepada tetangganya.

“Waduh maaf Mba, saya kurang tahu. Cuma kemarin saya lihat mereka pergi bawa koper besar,” jawabnya.

“Pergi kemana ya Bu? Hmm... maksud saya, mungkin sebelumnya pernah cerita sama Ibu mau pergi kemana gitu?”

“Enggak mba... saya juga kurang tahu. Waktu kemarin saya juga ga nanya. Wong sepertinya buru-buru begitu.”

Kemana mas Fikri dan keluarganya? Kenapa tiba-tiba sekali mereka pergi tanpa memberitahuku? Ya... harusnya pamit dulu denganku. Bukankah aku dan keluarga mas Fikri sudah seperti keluarga sendiri? Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi dengan mas Fikri dan keluarganya?
Bersambung...