Tampilkan postingan dengan label KuliahBunsay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KuliahBunsay. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2018

Membangkitkan Fitrah seksualitas Anak Day1


Kuliah Bunsay IIP Materi level 11
Review Day 1

Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak 



Semakin maraknya fenomena 'Bingung" gender di tanyangan televisi maupun di media sosial, membuat para orang tua harus bekerja lebih keras lagi agar anak-anak mereka tumbuh sesuai fitrah seksualitasnya. Laki-laki  menjadi laki-laki sejati dan perempuan juga begitu. Miris sebenarnya melihat banyak penyimpangan yang terjadi di jaman sekarang. maraknya ideologi LGBT dengan dalih HAM dan laki-laki berpakaian dan berprilaku seperti perempuan dan sebaliknya. Padahal Rasulullah telah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. 

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885).

Tantangan Gender Jaman Now 
  • Di Keluarga  : Konsep yang samar, tentang peran suami dan istri. Dalam keluarga suami hanya berperan sebagai pencari nafkah sedangkan istri pemikul semua urusan domestik rumah. Belum tuntasnya penguatan konsep gender oleh orang tua ke anak ( anak lelaki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya) 
  • Maraknya penyebaran LGBT atas nama HAM  : Maraknya tontonan atau media sosial yang menampilkan bias gender. Laki-laki berpakaian atau berprilaku seperti perempuan dan atau sebaliknya. 
Sebenarnya apa sih yang di maksud dengan mendidik fitrah seksualitas itu? 
Mendidik Fitrah Seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya, yaitu bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana lelaki dan bagaimana seorang perempuan berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai seorang perempuan. 

Dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : 
Prinsip 1 : Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun) 

Prinsip 2 : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%. 

Prinsip 3 : Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan. 

Untuk itu orang tua hendaknya kembali kepada peran dan fungsi utamanya sebagai pendidik anak-anak. Berkaitan dengan pergeseran seksual dan peran gender yang terjadi saat ini, orang tua wajib bersinergi dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak. Karena menumbuhkan fitrah ini banyak bergantung pada kehadiran dan kedekatan dengan ayah dan ibu. 


Seberapa penting membangkitkan fitrah seksualitas anak? 

Penting, penting banget! 

Karena dengan kesadaran yang dimiliki sesuai dengan jenis kelaminnya, akan perperan besar terhadap peradaban. Karena peradaban itu dimulai dari manusia terkecil, individu, kemudian keluarga lalu masyarakat. 

Solusi dalam menjaga fitrah seksualitas anak 

~ orangtua bersama-sama memberikan pengasuhan sesuai tahapan usia anak 

~ Bijak dalam berteknologi, memanfaatkan teknologi sesuai dengan kebutuhan 

~ Berkomunikasi yang BBM, baik, benar dan menyenangkan juga memberikan pendidikan agama sejak dini. 

~ Memberikan lingkungan yang baik, lingkungan dan orang-orang yang bisa saling menguatkan dan saling menasehati dalam kehidupan 

Tahapan pengasuhan anak untuk membangkitkan fitrah seksualitas anak : 

Ø Usia 0-2 tahun anak laki-laki dan anak perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui. Ini tahap membangun kelekatan dan cinta. 

Ø Usia 3-6 tahun anak laki-laki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualnya sejak usia 3 tahun. 
Ø Usia 7-10 tahun anak laki-laki lebih didekatkan kepada ayah, agar mendapat suplai “kelelakian” atau maskulintas, melalui interaksi aktifitas dengan peran peran sosial kelelakian, misalnya diajak ke masjid, diajak naik gunung, diajak olahraga yang macho. Ayah juga yang harus menjelaskan tentang “mimpi basah” dan fiqh kelelakian, seperti mandi wajib, peran lelaki dalam masyarakat, konsep tanggungjawab aqilbaligh, pokok aqidah dsb. 

Begitu pula anak perempuan lebih didekatkan ke ibunya, agar mendapat suplai “keibuan” atau suplai feminitas, melalui interaksi aktifitas dengan peran peran sejati sosial keperempuanan, misalnya merawat keluarga, memasak, menjahit, menata rumah, menata keuangan dstnya. Bunda juga yang harus menjelaskan tentang “haidh” dan fiqh perempuan, seperti mandi wajib, peran wanita dalam masyarakat, konsep tanggungjawab aqilbaligh, pokok aqidah dsb. 

Ø Usia 11-14 tahun anak laki-laki didekatkan dengan ibu, agar dapat memahami perempuan dari cara pandang seorang perempuan atau ibunya. Anak perempuan didekatkan dengan ayah, karena kelak dia akan menjadi istri dari seorang lelaki yang juga menjadi ayah dan imam bagi keluarganya. 

Ø Usia >15 tahun adalah masa dimana fitrah seksualitas kelelakian matang menjadi fitrah peran keayahan sejati, dan fitrah seksualitas keperempuanan matang menjadi peran keibuan sejati. 


Sumber : Harry Santosa, Fitrah Based Education 



#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayangsesi11







Kamis, 29 Maret 2018

Tantangan 9 Be Creative Day 8



Toko Makanan dan Buah


Hari kedelapan anak-anak mulai "menciptakan" kreatifitas maenannya sendiri. Hari ini mereka menggambar di kertas mereka masing-masing. Rizwan menggambar berbagai macam makanan dan minuman, ada es krim, kentang goreng, pizza. Sedangkan Uwais menggambar aneka macam buah dan berupa titik-titik, dan ketika saya tanya itu adalah biji buah. Saya rasa mereka menggambar sesuai dengan apa yang mereka suka. Rizwan suka makanan yang persis ada di gambarnya sedangkan Uwais juga demikian, menyukai berbagai macam buah-buahan.

Awalnya saya pikir mereka hanya menggambar makanan kesukaannya. Namun saya salah, mereka membuat gambaran tersebut bukan hanya buat gambaran, namun mereka membuat sebuah toko yang isinya menjual barang-barang yang ada di gambarnya.

Waow ... jujur, saya kaget sekali. Mereka bermain peran. Berperan sebagai penjual dan pembeli, hmm ... sama-sama penjual dan pembeli mungkin lebih tepatnya. Dibawah gambar-gambar itu memang ada harganya. Dan saya tahu Uwais beradegan sebagai penjual saat dia menawarkan barang dagangannya.

Lucu sebenarnya, karena gambar Uwais meskipun tidak sempurna bentuknya, namun ketika saya tanya, "Ini buah apa Uwais?" Dia menjawab dengan yakin sekali bahwa itu adalah gambar melon, semangka, anggur dan apel. Sedangkan di sisi sebelahnya adalah biji-bijinya yang bisa ditanam. Lalu ada angka di sampingnya, kalau saya tanya itu adalah harganya. Karena belum bisa menulis, dia meminta saya menulis kata "buah" diatas gambar yang dia sebuat buah dan kata "biji" yang dia sebuat sebagai biji.


Alhamdulillah nya, kegiatan bermain peran ini bisa mengalihkan perhatiannya dari melihat televisi atau bermain gawai.



Senin, 26 Maret 2018

Tantangan9 "Be Creative" Day5



Day 5 

Belajar sambil Bermain


Masih seputar tantangan untuk mengurasi durasi melihat tayangan televisi dan pemakaian gawai di rumah. Di hari kelima ini, untuk mengalihkan televisi dan gawai saya membeli buku aktifitas “Belajar sambil Bermain 1”. Buku itu berisi tentang kegiatan menggambar, mencari bayangan benda, mewarnai, mencari jalan, dan menghubungkan benda yang sama.

Uwais sepertinya sangat tertarik dengan buku ini. Dia ambil pensil dan mengerjakanya. Waktu malam menjelang tidur, dia juga masih mau mngerjakan.

“Ummi, mana buku Wais, Wais mau sekolah ini lho!” katanya.

Memang selama ini, jika dia belajar sesuatu dia analogikan sebagai kegiatan sekolah. Uwais yang sekarang menginjak usia 5 tahun memnag belum bersekolah. Saya berfikir bahwa memang saya menunggu Uwais siap untuk bersekolah. Usia 5 tahun sepertinya usia yang pas.

Karena selama ini saya berkaca kepada kakaknya, Rizwan. Saat itu saya masih kurang paham tentang ilmu parenting, sejak dini, saya sekolahkan Rizwan di sekolah formal. Ya ... mulai usia 3 tahun. Lalu apa yang terjadi ketika dia menginjak usia sekolah dasar? Dia sepertinya sudah bosan dengan rutinitas sekolah, setiap pagi pasti mencari alasan untuk meliburkan diri, mungkin sindrom malinggering sederhana terkadang menjangkitnya.



#Tantangan9
#BeCreative
#KelasBunsay
#IIP

Sabtu, 24 Maret 2018

Tantangan 9 "Be Creative" day 3

Berkreasi dengan Kardus


Hari ketiga masih seputar mengahadapi tantangan dalam mengurangi durasi untuk melihat televisi di pagi hari. Hari ini adalah hari sabtu dan hari sabtu ayah mereka libur. Anak-anak akan melakukan berbagai macam aktifitas bersama Ayah. Dan hari ini aktivitas yang dilakuakan adalah membuat sebuah perahu dari bahan kardus.

Kenapa membuat sebuah perahu? Karena minggu depan kita akan mengikuti Family Camp se Jawa Timur yang mengharuskan setiap keluarga membuat perahu untuk dijadikan salah satu ajang perlombaan di sana. Kenapa kita memilih bahan kardus? Karena kardus adalah bahan yang paling gampang kami temukan di rumah. Lalu apakah nanti bisa bertahan lama di air? Tenang, kami sudah melapisi bagian bawah kardus dengan menggunakan solasi. Tapi apakah nanti perahu kami bisa mengarungi aliran sungai di sana? Nah kalau menjawab pertanyaan ini, mungkin itu nanti menjadi bahan tulisan saya selanjutnya.

Menjadi orang tua kreatif sebenarnya bisa dilakukan dengan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Membuat anak-anak untuk lepas dari gawai dan televisi pasti membutuhkan kreatifitas dan usaha yang sungguh-sungguh.

Hari ini keluarga kami belajar bagaimana meningkatkan bonding keluarga, dan bonding itu bisa di lakukan dengan cara-cara yang sederhana. Meskipun anak-anak tidak 100% membantu dalam proses pembuatan perahu, namun di sini, mereka akan banyak belajar tentang bagaimana cara menyampaikan ide, ide dari kreatifitas mereka.

Setelah perahu kami siap, ternyata masih ada sisa kardus. 
"Hmm ... enaknya dibuat apa ini?" tanyaku kepada anak-anak.
"Kita buat menjadi baju robot aja," usul Uwais.

Dan inilah hasil dari kreatifitas kami pagi ini, sebuah perahu dan baju robot (hmm atau baju perang?) Ah ... itu sih terserah yang menilai ya! hehehehe



#TantanganLevel9
#10hari
#kelasBUnsay
#Becreative
#IIP


Jumat, 23 Maret 2018

Tantangan 9 "Be Creative" Day 2

Membuat anak untuk lepas dari televisi dan gawai memang bukan perkara yang mudah. Butuh konsistensi dan kesabaran. Sebenarnya bisa lebih mudah, kalau seumpama kita hidup sendiri dengan keluarga kecil kita. Namun jika berada di lingkungan yang menyangkup nenek dan kakek pasti juga ada tantangannya.

Di hari ke dua tantangan level 9 ini, aku mengajak anak-anakku yaitu Uwais dan Fatir (karena mas Rizwannya masih sekolah) pagi ini bermain origami. Seni melipat kertas dari Jepang ini sebenarnya mempunyai banyak bentuk yang bisa dihasilkan. Untuk pagi ini, aku tidak memberikan contoh bentuk tertentu, namun Uwais sendiri yang membuat bentuk sesuai dengan imajinasinya. Meskipun dia sedang sakit dan melakukannya di atas kasur tapi dia masih semangat dengan aktifitas yang saya berikan pagi ini, dan hasilnya adalah ...

 




"Itu bentuk apa?" tanyaku.
"Ini bentuk lidah raksasa," jawab Uwais.
"Oh ... iya iya." Kataku sambil ku anggukan kepala. Aku ambil gawaiku dan aku suruh dia bergaya.


Setelah bosan dengan aktifitas bermain origami, aku ambil lagi buku gambar yang kemarin, yang  di halaman dua nya ada gambar kota. Aku ajak Uwais untuk mewarnai. Meskipun saya juga ikut mewarnai namun alhamdulillah kegiatan pagi ini, bisa mengalihkan kebiasaannya untuk menonton televisi di pagi hari.


#TantanganLevel9
#10hari
#kelasBUnsay
#Becreative
#IIP



Kamis, 22 Maret 2018

Tantangan bunsay level9 "Be creative" Day 1

Sudah setahun ini, kami tinggal di desa, di rumah ibu. Kami akui segala sesuatu pasti ada sisi negatif maupun positifnya. Sisi positifnya, anak-anak menjadi lebih dekat dengan alam. terutama Uwais, anak kedua kami, yang kecerdasan naturalisnya sangat menonjol. Namun sisi negatifnya salah satunya adalah tentang kedisiplinan. Dulu waktu kami tinggal mandiri, di Surabaya ataupun di Bekasi, anak-anak sudah mempunyai jadwal dan mereka mematuhinya. Misal bahwa melihat televisi atau bermain gawai ada batas waktunya. Namun di sini, kedispilinan itu mulai longgar. bermain gawai ataupun gadget tak seketat dulu. Gawaiku dan gawai ayahnya memang tidak kami kasih game. Namun gawai nenek dan Kakeknya? itulah yang terkadang menjadi kendala kami dalam menerapkan nilai kedisplinan yang dulu sudah kita sepakati.

Dulu lihat televisi hanya boleh sehari cuma 2 jam. Waktu terserah mereka, asal tidak menganggu waktu prioritas, misal waktu ngaji atau belajar. Namun sekarang anak-anak lebih bebas dan jadwal menonton televisinya jauh lebih lama dari kesepakatan. ada beberapa titik televisi juga membuat kendala.

Oleh karena itu, melalui tantangan game level 9 ini, saya akan berusaha mengalihkan perhatian Uwais dan Fatir, terutama, dari kebiasaan menonton televisi yang berlama-lama dengan melakukan aktifitas yang menarik dan kreatif.

Hari pertama di game level 9 ini saya telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk aktifitas yang akan kami lakukan bersama. Saya membeli beberapa perlengkapan menggambar dan crayon. biasanya waktu melihat televisi adalah pagi hari ketika saya masih sibuk dengan aktivitas rumah. Maka pagi ini uwais dan Fatir mulai mewarnai gambar yang sudah dibuat ayahnya tadi malam. Rizwan yang hari ini tidak masuk sekolah akhirnya ikut nimbrung juga.



Ketika Wais mewarnai sebuah gunung merapi, yang puncaknya ada warna merah, coklat dan hijau saya tanya kenapa demikian, Dia menjawab bahwa merah adalah lahar panasnya, hijau melambangkan tumbuhan dan coklat adalah tanah.


#TantanganLevel9
#KelasBunsay
#BeCreative
#Day1

Rabu, 29 November 2017

level6 day5 bunsay IIP

Menstimulus Matematika Logis pada Anak.


Tantangan 10 hari level 6 Menemukan Matematika di sekitarmu


Hari ke-5 tantangan 10 hari " Belajar mengidentifikasi warna dan mengelompokkannya"

Mengajarkan anak untuk bernalar dan berfikir logis bisa dengan berbagai macam cara dan metode. Bagi anak-anak bermainnya adalah belajar dan belajarnya adalah bermain. Terkadang yang membuat anak-anak tidak menyukai matematika (berhitung –khususnya) karena mereka tidak mengetahui konsep atau kerangka berfikirnya. Misal, penjumlahan adalah penggabungan, perkalian adalah penjumlahan berulang dan lain sebagainya. Dengan menggunakan media yang menarik diharapkan bisa memberikan suasana belajar yang menyenangkan.

Dan itu yang kulakan hari ini, saya mengajarkan berbagai macam warna kepada si Bungsu dengan menggunakan metode bunga warna-warni (sebenarnya ini hanya menggunakan media yang sudah ada saja hehe). berbagai macam warna bunga, mengindentifikasikanya dan mengemlompokkan. Di akhir pembelajaran Fatir akan dengan senang hati berusaha menghitung bunga-bunga tersebut, meskipun  pengetahuan tentang angka Cuma 1-10 dan terkadang juga masih sering lupa.
Untuk Uwais konsep penjumlahan dang pengurangan Alhamdulillah sudah cukup , ya bisa dibilang sedikit banyak agak paham. Dia mengumpulkan bunga sebanyak 5 bunga dan mengambil 2, maka dia katakan 5-2, dan menjawabnya dengan 3.
Membuat anak bisa adalah biasa, namun membuat anak suka baru tantangan.  







#Tantangan10Hari
#level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath

#MathAroundUs









Senin, 27 November 2017

day4 Level6 BunsayIIP

Menstimulus Matematika Logis pada Anak.


Tantangan 10 hari level 6 Menemukan Matematika di sekitarmu


day 4 "Bermain petak umpet dan Menggambar Animal Numbers"


Belajar dan bermain adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari dunia anak-anak. belajarnya adalah bermainnya dan bermainnya adalah belajarnya. Begitupun dengan hari ini. Kami bermain petak umpet, saya,wais dan fatir. fatir yang masih berusia 2 tahun senang sekali dengan permainan ini. ketika Fatir yang harus mencari maka Fatir akan berhitung dari angka 1 sampai dengan 10 ( meskipun terkadang masih lupa dengan angka selanjutnya, jika demikian maka saya berteriak untuk menyebutnya), sedangkan aku dan wais bersembunyi. bagiku ini adalah salah metode pembelajaran sederhana tentang matematika. 





Eh dalam permainan petak umpet ini, wais menunjukkan jam di dinding dan mengatakan, "mi ini jam 9 ya?".
dan saya lihat jam di dinding, waow tepat sekali sekarang memang jam 9 pagi. Dia membaca jam , memang pernah suatu hari saya singgung sedikit. saya fikir wais belum saatnya nya untuk belajar membaca jam atau waktu. namun pagi ini dia menunjukkan kepada saya bahwa dia paham apa yang kapan hari saya ajarkan kepadanya sambil lalu.


Malam harinya saya ajak wais untuk menulis angka-angka. sepertinya dia terinspirasi sebuah iklan di tv. menulis angka dan menjadikannya seekor binatang. it's ok. ada banyak kreasi malah saya suka. karena semakin dia berkreasi menunjukkan bahwa dia kreatif. tapi harusnya acaranya adalah menulis angka-angka malah dia mengambar bebas. menggambar dinosaurus, mobil, pesawat. ya ga papalah namanya juga masih anak-anak heheheh.






#Tantangan10Hari
#level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs

Minggu, 26 November 2017

level6 day3 bunsay IIP

 Menstimulus Matematika Logis pada Anak.

Tantangan 10 hari level 6 Menemukan Matematika di sekitarmu


Hari 3 “ Belajar Berhitung bilangan sederhana dan mata uang"


Hari Minggu pagi, saya dan Uwais naik sepeda bersama.  Sedangkan ayah dan Fatir mengikutinya kami dibelakang menggunakan motor. Tujuan kami adalah melihat mas Rizwan yang sedang mengikuti kegiatan disekolahnnya sejak tadi malam. minggu pagi ini saya pergunakan untuk berolah raga sekaligus belajar. Belajar matematika tepatnya, seperti slogan challenge 6 ini “Math Around Us”, dari hal-hal sederhana bisa kita buat untuk belajar matematika, di dalam perjalanan saya meminta Wais untuk menghitung  setiap pohon pepaya, berhitung angka 1 sampai dengan angka 10. Karena jalan yang kami lewati ada beberapa pohon pepaya yang berjejer di sepanjang perjalanan.
  



Siang harinya kami mengunjungi pameram properti di Grand City Surabaya. Anak-anak antusias sekali melihat maket dari apartemen dan rumah.
"Ummi lihat bangunannya tinggi banget?", kata Uwais.
"wah iya ya, kira-kira berapa lantai ya is?", tanya saya.
"hmmm banyak lah mik", jawab wais yang saya kira dia malas berhitung. 
mungkin kalau saya disuruh berhitung juga akan malas hehehe



Malamnya ditutup dengan mengajari mas Rizwan temati matematika yang membahas masalah mata uang. penjumlahan dan pengurangan nilai mata uang, melalui soal cerita.



#Tantangan10Hari
#level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs


Sabtu, 25 November 2017

level6 day2 bunsayIIP

Menstimulus Matematika Logis pada Anak.

Tantangan 10 hari level 6 Menemukan Matematika di sekitarmu

DAY 2 " BELAJAR BERHITUNG SEDERHANA"

sebenarnya belajar matematika hari ini adalah tanpa disengaja. Pagi tadi mereka minta di belikan buah kelengkeng tiba-tiba wais mulai berhitung buah kelengkeng dan ditaruh di sebuah baskom kecil. "Aha..,ini waktu yang tepat untung belajar operasi sederhana, penjulahan". gumam ku dalam hati.
aku ambil 5 buah kelengkeng yang telah saya kupas lalu aku katakan kepada wais,
"Wais kalau kelengkeng ini wais makan satu, jadi berapa kelengkeng dalam mangkok?". tanya saya.
"1..2..3..4..,aha ada 4 ummi"! jawab dia sambil berhitung
'Waow hebat anak Ummi". jawab ku dengan penuh antusias.
'kalau kelengkeng itu di ambil 2, dimakan Ummi sama Adik?" tanya ku selanjutnya.
"hmm 1..2..ya tinggal 2 lho!", katanya.
"hebat!", jawab ku dengan senyum simpul mengembang di bibir.




Pada malam harinya dia mengambil busy booknya. saya buka perlembarnya dan saya menemukan tentang perhitungan angka 1 samapai dengan angka 6. diatas monte-monte itu ada angka yang menunjukkan banyaknya monte. wais memulai berhitung. dipaling ujung berisi 6 monte dan harusnya nanti huruf 6 dipasang diatasnya.



#Tantangan10Hari
#level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs

Kamis, 23 November 2017

Level6Day1 BunsayIIP

Menstimulus Matematika Logis pada Anak.

Tantangan 10 hari level 6 Menemukan Matematika di sekitarmu

Hari 1 tantangan 10 hari " Mengenal Macam-macam Bentuk Bangun Datar"

Hari ini adalah hari pertama mengikuti tantanagan 10 hari tentang Menstimulasi matematika Logis pada Anak. dan di hari pertama ini kami belajar tentang mengenal macam-macam bentuk bangun datar. dan Macam- macam bentuk itu adalah kotak,persegi panjang, lingkaran, segitiga, oval, hati, bintang. media yang saya gunakan adalah menggunkan busy book yang kebetulan kemarin saya beli dari seorang kawan. dan halaman pertama dari busy book ini adalah tentang shape.




metode yang saya gunakan adalah menerangkan pada Uwais ( uwais adalah target subyek pada tantangan kali ini) saya perlihatkan padanya ini persegi dengan menempelkan bentuk persegi di kain planel, ini segitiga dengan menempelkan dikain planel bentuk segitiga dan seterusnya. Uwais bersemangat sekali menempelkan bentuk- bentuk bangun di kain planel yang bersesuain.


setelah paham, saya ajak dia untuk menemukan benda-benda di sekitar yang sama dengan bentuk bangun datar tersebut. Rizwan ( kakaknya-red) jadi ikut bergabung dan membantu wais dalam mencari benda-benda tersebut.


wais menemukan tutup botol sebagai benda yang sama dengan bentuk lingkaran. lalu saya bilang, "coba apa lagi?', dia menunjuk televisi



Uwais menunjuk televisi sebagai persegi panjang, pigora sebagai persegi dan kipas sebagai lingkaran.

setelah saya rasa Uwais sudah paham tentang macam bentuk bangun datar dan bisa mencari contoh benda-benda di sekitar yang mempunyai bentuk sama dengan bangun datar maka saya berinisiatip agar Uwais menggambarkannya di buku.



yeay Wais bisa menggambarnya. dan saya merasa senang sekali karena misi hari ini saya nyatakan "berhasil".


#Tantangan10Hari
#level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs