Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2019

Sebuah Novel dari Sudut pandang Anak Usia 6 Tahun : Di Tanah Lada




Judul                              : Di Tanah Lada
Penulis                           : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit                         : Gramedia Pustaka Utama
Genre / Kategori          : Novel / Fiksi
ISBN                              : 978-602-03-1896-7
Tahun Terbit & Cetakan : 2015/1


Buku yang ditulis oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini terdiri dari 240 halaman. Dan buku ini adalah pemenang kedua sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014. Sebuah karya dari penulis muda ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang berdomisili di Bandung yang lahir pada tahun 1993 ini berlatar belakang dari sudut pandang seorang anak berusia 6 tahun. Sebelumnya Ziggy lebih banyak menulis tentang tema horor dan fantasi. Dibandingkan dengan karya Ziggy Semua ikan di Langit, novel Di tanah Lada ini lebih mudah untuk dipahami.


Buku ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Salva yang mempunyai trauma terhadap sosok papa. di dalam pembukaan, di bab awal, Salva menceritakan sosok papanya yang bagaikan hantu, kejam dan dingin. Namun ia mempunyai seorang kakek dan mama yang sangat baik. Sebelum kakeknya meninggal, kakek Kia, papa dari ayahnya, memberikan hadiah sebuah kamus Bahasa Indonesia di hari ulang tahunnya.  Sejak saat itu, Ava, panggilan Salva, pintar sekali berbahasa Indonesia. Jika ada kata-kata yang tidak dimengerti yang diucapkan orang tuanya atau orang di sekitarnya, dia kan mencari tahu dengan membuka kamus pemberian kakek Kia.


Setelah Kakek Kia meninggal, Papa Salva memperoleh warisan uang yang banyak. Karena Papanya suka berjudi, maka mereka bertiga pindah ke rusun Nero. Sebuah rusun kumuh namun dekat dengan kasino, tempat papanya berjudi. "Ya! Bagus, kan? Kau lihat gang kecil di samping rusun ini? Kalau kita lewat sana, terus saja, bisa langsung tembus ke kasino!" (Halaman 15)


Di rusun Nero Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. P adalah seorang anak laki-laki yang mempunyai latar belakang yang hampir sama dengan Ava. Papanya P sering memarahi dan memukulnya. Mempunyai latar belakang yang hampir sama, Ava dan P merasa cocok untuk berteman. Ava yang mempunyai kebiasaan berbahasa indonesia yang baik dan benar membuat P merasa ada yang aneh dengan Ava. "Tapi kamu ngomongnya aneh. Kayak orang besar." Aku binggung. "Mama dan Kakek Kia selalu menyuruhku bicara seperti ini. Katanya aku tidak boleh bicara seperti anak-anak di sekolah, karena cara bicara mereka kurang baik." (Halaman 24)


Ava menyukai P karena P pintar meskipun tidak sekolah. Ava di kenalkan P dengan Mas Arli dan kak Suri, dua orang yang sangat baik kepadanya. Mas Arli dan kak Suri mengajari banyak hal kepada P. Saat Papa Ava melakukan kekerasan, Mama Ava memutuskan untuk meninggalkan suaminya dan pergi dari rusun Nero. Dalam situasi begini, Ava merasa  tidak bisa meninggalkan P, karena P tidak memunyai siap-siapa lagi apalagi setelah papa P menyetrika tangan P. Akhirnya mereka berdua berencana untuk tinggal di rumah nenek Ava, di tanah lada. Dalam perjalanan akhirnya P tahu siapa ayah dan ibu kandungnya dan disitulah petualangan dua anak dimulai dan berakhir.


Membaca Novel ini penuh dengan pesan moral. Sebuah cerita dengan sudut pandang anak kecil yang penuh dengan kepolosan, ketulusan dan kesederhanaan. Apalagi dengan celoteh lucu khas anak-anak membuat novel ini terasa hidup. Sosok Ava yang selalu membawa kamus kemana-mana dan akan mencari tahu kata-kata yang asing baginya menjadi  bumbu yang menarik untuk buku ini. Akhirnya sebuah ending cerita yang menjadi perenengun kita semua, bahwa terkadang orang dewasa terlalu egois untuk memberikan masalah traumatis bagi anak-anak yang mempunyai pikiran yang masih sangat sederhana. Dan dalam mengambil sebuah keputusan harusnya dipikirkan matang-matang.





Kamis, 17 Mei 2018

Sang Bapak


Lelaki itu menatap lekat segelas air sirup di meja. Pikirannya melayang ke masa lalunya. Matanya tak bisa beralih dari gelas yang berwarna merah. Digenggamnya gelas itu dengan erat. Dingin dari gelas  kini telah merambat ke tangannya dan membekukan hatinya. 

Sosok lelaki yang sudah dewasa itu, tubuhnya mengkerut menjadi seorang bocah kecil. Kursi dan mejanya tak lagi sama. Hidangan di meja juga sangat jauh berbeda. hanya ada dua gelas air putih dan nasi berlauk tempe. Sedangkan di ujung meja adalah wanita separuh baya yang wajahnya sangat letih. Posisinya masih sama, memengang gelas. Namun gelasnya kini hanya berisi air putih yang tak bersuhu. Diangkatnya gelas itu dan di letakkan di bibirnya. Air itu tak manis. 

“Emak, kapan kita bisa beli sirup buat berbuka?” kata bocah itu. 

“Nanti ya Le, kalau Emak ada rejeki.” 

Mendengar jawaban dari Emaknya begitu, bocah itu tak banyak protes. Diteguk lagi air putih itu dengan penuh takzim. Dia sangat tahu bagaimana Emaknya harus bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sejak Bapaknya minggat entah ke mana. Emaknya banting tulang, pagi menjadi buruh cuci gosok, siangnya mencari rosokan. Membeli dan menikmati segelas sirup ketika berbuka adalah sesuatu yang mewah bagi mereka. 

Setiap hari bocah itu membantu emaknya mencari rosokan. Dari keliling mencari rosokan itulah dia tahu, di rumah warga banyak televisi yang mengiklankan salah satu merk sirup untuk berbuka puasa. Iklan itu memang sangat santer jika bulan ramadhan. Seperti siang ini, dengan keringat yang membuat badannya semakin dekil, dia menyaksikan lagi iklan sirup itu. Lagi-lagi dia menelan ludah. Keinginannya semakin memuncak, kering tenggorokannya semakin meronta ingin dialiri air manis yang beraneka warna. 

Entah syaitan apa yang membisikkan ke dadanya. Dengan terburu-buru dia masuk ke salah satu minimarket. Ditujunya tempat botol sirup berbagai merk dipajang. Diambilnya salah satu botol dan di masukkan ke dalam kaosnya yang sudah melar. Dengan langkah was-was dia meninggalkan deretan botol itu. Namun seorang bapak ternyata memilhat gerak geriknya dari tadi. Dihadang tubuh dekilnya. Badan Andi gemetar, dia tak berani menatap sosok di depannya. 

“Namamu siapa?” 

“Hmm An ... an ... Andi, Pak!” Dengan terbata-bata dia menjawab pertanyaan itu. 

“Lain kali jangan mencuri ya! Ini uang buat kamu bayarkan ke kasir!” Kata bapak itu sambil menyodorkan sejumlah uang. 

Kini Andi menantap Bapak itu dengan penuh ketakutan. Namun seutas senyuman tulus tergambar di wajah sang bapak. Dengan buru-buru dia menuju ke kasir dan membayar sirup yang nyaris dia curi. Setelah membayar, dia menoleh ke tempat Bapak tadi berdiri, namun sudah tidak ada lagi. 

Sejak peristiwa itu Andi selalu berdiri di depan minimarket itu. Menunggu sosok sang Bapak yang telah memberinya sejumlah uang. Namun tak pernah dia temukan. Sosok bapak itu bagaikan seorng malaikat yang diutus untuk membantu dirinya. Untuk merasakan manisnya air yang bernama sirup. 

*** 

“Mas, kok tidak segera berbuka? Sudah adzan dari tadi loh!” Suara lembut dari seorang perempuan yang duduk persis di depannya. Suara lembut itu juga yang telah mengembalikan pikirannya yang sudah melayang dari peristiwa puluhan tahun silam. Seorang perempuan yang telah dia nikahi 4 bulan yang lalu. 

Andi kini menjadi seorang pengusaha yang memiliki pabrik minuman sirup merk terkenal. Setiap ramadhan dia bagikan anekan makanan dan minuman sirup ke panti asuhan, ke anak-anak jalanan dan penghuni kolong jembatan. Dengan berbuat begitu dia merasa bahwa mungkin inilah caranya untuk berterimakasih kepada sosok sang Bapak yang telah menolongnya waktu itu. 



#tantanganRWC
#Day1
#sirup

















Sabtu, 14 April 2018

Tentang Dirimu



Aku tak tahu kamu sebenarnya terbuat dari apa? Ragamu terasa sangat istimewa. Setiap kamu hadir di depanku, jantungku pasti berdetak lebih kencang dari biasanya. Tatapan tajam seperti mata elang pasti membuat aku melayang sehingga hukum gravitasi yang ditemukan Newton menjadi tak berlaku lagi. Terkadang aku heran, aku seperti orang yang tak mengenali diri sendiri. Aku kacau dengan berbagai macam perasaan yang silih berganti, kadang senang, kadang sedih, kadang rindu yang tak menentu. Aku seperti berpenyakit dan kehadiran dirimu adalah obatnya. Dirimu seperti di batas dunia maya dan nyata. 


Sosokmu yang sederhana, dengan suara yang penuh wibawa telah memberikan daya pikat yang luar biasa. Kata-katamu bagaikan matra yang menyulap rinduku menjadi raib. Namun jujur, aku menikmati, aku suka dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini. 


Namun harusnya kamu bertanggungjawab, hidupku yang semula tenang kini menjadi penuh gejolak. Berisik dengan kata-kata rindu yang menderu. Bayanganmu terkadang merubah fokusku, ketika aku belajar atau membaca buku. Aku seperti hidup di dunia imajinasi, hidup di dunia dongeng seperti seorang putri yang betemu pangerannya. Aku kehilangan orientasi yang selama ini aku pegang, aku kehilangan arah, aku linglung, aku binggung. 


Masihkan engkau ingat? Saat kita bertemu di kantin sekolah. Kamu membelikan aku sebuah makanan ringan yang banyak mengandung vetsin. Jajanan itu tidak aku makan, aku pajang di dinding kamarku. Bukannya aku takut menjadi bodoh, bukan, semua itu aku lakukan agar kenangan itu nyata di depan mata. Aku pandangi ketika aku hendak belajar, ketika aku mau berangkat ke sekolah. Hingga suatu hari makanan itu sudah tak berada lagi di tempatnya. 


Pernah suatu ketika sambil memandang lautan lepas kamu berseloroh tentang kisah seorang pria yang rela melakukan apapun untuk wanitanya. Kamu bercerita dengan penuh penghayatan. Aku jadi teringat sebuah film tentang kisah sepasang kekasih yang aku tonton tadi malam. Sebenarnya aku tak begitu mendengarkan ceritamu, aku lebih tertarik memandangi wajahmu. Angin pantai yang sesekali mengibaskan rambutmu dan mimik wajahmu saat bercerita adalah pemandangan yang tiada duanya. Sungguh aku telah terbuai dengan daya pikat dan pesonamu yang telah merubah sebagian besar duniaku.




#30dwc
#squad4
#Daya
#Day24

Jumat, 13 April 2018

Terimakasih Kenzo 2


Gundukan tanah di depanku ini kelihatan masih basah. Bau bunga kenanga dan mawar masih tercium di hidung. Di atas gundukan itu ada papan yang bertuliskan huruf-huruf dan angka. Mama yang berada di depanku menangis. Aku sedih sekali ketika melihatnya menangis hampir di sepanjang hari. Senyumamnya yang biasanya mengembang di wajahnya, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan lesung pipi yang merekah kini seakan sirna. Matanya kini lebih sembab, rambutnya dibiarkan menjuntai, bahkan ketika di meja makan, makanan di hadapannya hanya dipandanginya. Mamaku seperti kehilangan semangat hidupnya. 

Sama seperti mama, aku juga sangat sedih. Aku kehilangan seseorang yang selama ini sangat dekat denganku. Teman mainku, teman bersepeda, teman bercerita dan yang terakhir kami lakukan bersama adalah mencat rumah. Papa adalah segalanya, di saat aku belum punya teman, dia adalah teman pertamaku, yang tak pernah membuat aku menangis, tidak seperti teman-temanku sekolah. Kami tidak pernah bertenggar atau berebut mainan. 

Kini tanpa papa semua hampa. Di depan televisi yang biasa kami main mobil-mobilan berdua, kini aku sendiri. Aku lihat mama masih sama seperti biasanya, memandangi bunga mawar kesanyanganya di balik jendela. Ya itu menjadi rutinitasnya setelah kepergian papa. Kini aku merasa sangat kesepian, sepi sekali. Aku seperti tak mempunyai siap-siapa lagi. Kumainkan mobil-mobilanku ke depan dan belakang, sesekali aku lirik mamaku, dia masih di sana namun kini aku lihat air mata meleleh di pipinya. 

Kini aku tak lagi bersekolah, tak mau sekolah tepatnya, sudah seminggu. Waktu di sekolah aku lebih banyak diam atau menyendiri saat istirahat. Hampir tak banyak berinteraksi dengan orang. Dan di rumah juga begitu, karena di rumah ini hanya ada aku dan mamaku, dan mamaku sekarang lebih banyak diam lalu menangis. 

Suatu hari Om Dani berkunjung ke rumah. Kata Om Dani, dia di telepon Nenek disuruh berkunjung ke sini. 

“Ken, Om dengar kamu sudah lama gak sekolah ya?” tanyanya siang itu. 

“Iya, Om. Mungkin sudah segini.” Sambil kutunjukkan jari yang menunjukkan angka 7. 

“Kenapa?” 

“Ga pa apa. Ken gak suka sekolah. Ken gak punya teman!” 

“Besok Ken mau gak diantar Om Dani ke sekolah?” tanyanya sambil menatap mataku. 

“Lihat besok ya, Om!” Aku berjalan menuju ke kotak mainanku. Aku ambil dua mobil, warna merah dan biru. Lalu mobil warna biru aku kasihkan ke Om Dani, sebenarnya itu mobil kesanyangan papa.

“Om, kita main mobil-mobilan yuk?” tanyaku. 

“Iya, tapi kamu janji dulu besok kita ke sekolah bersama!” katanya. Aku setuju dengan tawaran yang di berikan kepadaku dengan isyarat anggukan kepala.


Bersambung ...

#BinatangKesayangan
#30DWC
#Squad4

Kamis, 12 April 2018

Terimakasih Kenzo!



Namaku Kenzi, biasa dipanggil Ken. Aku dulunya anak yang pemalu, mengindap Selective Mutism (SM) lebih tepatnya. Kini aku berprofesi menjadi seorang pengacara yang bekerja di kantor pengacara ternama di Jakarta. Bertolak belakang dengan kondisi masa laluku bukan? Di meja yang penuh berkas kasus yang sedang aku tangani, kini aku akan menceritakan kisah hidupku 25 tahun yang lalu.

*** 

25 Mei 1990

Rumah berukuran 8x13 bercat biru itu kini ramai tak seperti biasanya. Orang datang silih berganti. Beberapa aku kenal namun banyak yang asing. Ada teman Papa, teman mama, kerabat dekat dan beberapa keluarga besar. Di halaman rumahku yang biasanya sepi, kini banyak mobil dan sepeda motor yang berjejer dengan rapi. 

Aku duduk di teras rumah, persis menghadap pohon mangga. Pohon mangga yang kini terlihat jauh lebih besar dibandingkan awal kami pindah ke sini. Di bawah pohon mangga itu, rumput hijau tumbuh subur, rumput itu memang sengaja ditanam. Sedangkan di dekat pagar, berjejer bunga mawar. Itu adalah bunga-bunga kesanyangan Mama..

Aku amati orang yang berlalung lalang, silih berganti. Banyak tetanggaku yang datang ke rumah. Dari wajahnya aku melihat tak ada gairah dan penuh dengan kesedihan. Sedangkan di dalam rumah, aku mendengar mamaku menangis tak henti. Pamanku yang dari tadi selalu setia menemaniku akhirnya angkat suara.

“Ken ... sekarang Om jadi pengganti papamu ya!” Posisinya yang semula berdiri kini dia duduk. Tubuhnya sejajar dengan tubuhku, tangannya membelai rambutku. Jujur, sebenarnya aku tak begitu mengerti maksudnya, namun aku hanya mengangguk saja.

“Papa kenapa, Om? Kenapa banyak orang datang kerumah Ken?” tanyaku kepada Om Dani, adik papaku. Tadi pagi sebelum banyak orang datang, aku mendengar mama menerima telepone, dia menangis lalu terduduk dengan memanggil nama papa. Dari sanalah aku tahu bahwa telah terjadi sesuatu dengan papaku.

“Papa Ken ... ga papa kok, papa Ken sekarang sudah bahagia,” jawab Om Dani dengan tersenyum. Namun gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya.

”Om, Ken ... ngantuk, mau istirahat ke kamar, boleh?” tanyaku setengah berbisik. Om Dani tak menjawab pertanyaanku, dia hanya tersenyum dan mengangguk lalu menepuk bahaku.

Aku seret kakiku melewati kerumunan orang yang berada di ruang tamu. Bau cat masih menyengat di hidung. Baru kemarin papa mewarnai dinding tembok ruang tamu itu dengan warna biru. dari tamu-tamu yang hadir, sebagian besar dari mereka menggenakan baju berwarna hitam. Aku lihat sosok mamaku masih duduk di posisi yang sama sejak tadi. Sesekali dia menyeka air matanya, pandanganya kosong, dan beberapa tamu terkadang memeluknya seperti memberikan sebuah dukungan moral.

Aku pegang gagang pintu kamarku, kuputar ke kanan dan ke kiri. Kekacauan pikiranku membuat aku lupa bagaimana cara membukanya. Dengan sedikit kudorong, memanfaatkan berat badanku akhirnya pintu itu terbuka. Aku rebahkan badanku di atas kasur. Aku lihat potoku bersama papa yang terpasang di pigura di atas meja belajarku. Papa kamu kenapa, Pa? tanyaku dalam hati. Jujur aku sangat binggung.

Lalu tak lama kemudian terdengar suara sirene mobil ambulan berhenti di pekarangan rumah. Aku mengintip dari jendela kamarku, sebuah peti mati di keluarkan dari sana. Peti itu digotong masuk ke dalam rumah oleh beberapa orang laki-laki berseragam tentara. Lalu terdengar suara mamaku menangis histeris.


Bersambung ....


#MasaLalu
#BinatangKesayangan
#30DWC
#squad4
#day22

Selasa, 03 April 2018

Marni


Marni adalah seorang gadis desa yang cantik jelita. Wajahnya bulat dengan matanya yang belok. Rambutnya sebahu dengan warna hitam kemerah-merahan. Lesung pipi selalu menghiasi wajahnya jika dia tersenyum. Tingginya 165 cm dengan berat 55 kg membuat postur tubuhnya ideal. Singkat kata Marni adalah gadis desa yang menjadi primadona di kampungnya. 

Kini Marni sedang dirundung rindu. Pemuda yang dia cintai telah pergi entah kemana. Dua tahun yang lalu merantau ke seberang lautan dan hingga kini tidak kunjung pulang. Marni selalu menunggu di perbatasan desa, di mana tempat itu dulu adalah tempat perpisahan untuk terakhirnya kalinya. Setiap pagi dan sore hari, Marni pasti berdiri di tempat itu dengan membawa selendang warna biru tua pemberian darinya. 

Hampir setiap hari Marni pergi ke rumah Pardi. Bertemu ibu Pardi untuk menanyakan kabar anaknya. Tapi apa yang dia dapatkan? Lagi-lagi hanya kecewa. Pardi tak kunjung memberi kabar kepada dirinya maupun keluarganya. 

Setiap malam, Marni duduk di teras rumahnya. Memandangi langit, dalam hati kecilnya, dia merasa bahwa Pardi juga memandangi langit yang sama. Memandangi langit adalah ritual yang membuat rindunya sedikit terobati. Dibaca-baca lagi semua surat yang pernah dikirim untuknya sebelum Pardi pergi. Pardi saat rajin mengirimi Marni surat. Padahal rumah Marni dan Pardi tak terlalu jauh jaraknya. 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, namun tanda-tanda kepulangan Pardi tak kunjung ada kabar. Orang tua Marni gusar melihat tingkah anaknya yang semakin lama semakin tidak normal. Marni dulu gadis periang, aktif di berbagai acara karang taruna di desanya. Namun kini Marni lebih banyak berdiam diri di kamarnya, ke perbatasan desa atau melamun di teras rumahnya ketika malam menjelang. 

Marni seperti orang yang kehilangan jiwanya. Raganya hanya raga yang tidak bernyawa. Menjalani rutinitas hariannya nyaris tanpa semangat dan senyum ceria. Marni seperti mayat hidup yang berpenyakit ganas, yaitu kanker rindu stadium empat. 

Suatu hari keluarga Marlan datang ke rumah Marni. Marlan memang dari dulu ada hati dengan Marni. Marlan ingin menjadikan Marni sebagai istrinya. Marlan pandai membaca situasi bahwa Pardi sudah tidak ada kabar, maka Marlan berani untuk meminang Marni. Namun bagaimana reaksi Marni? Marni dengan serta merta mengusir Marlan dan keluarganya keluar rumah. Mengetahui diperlakukan tak sepatutnya, Marlan sakit hati. 

Keesok harinya Marlan pergi ke orang pintar di tetangga desa. Marlan ingin Marni mau menerima lamarannya. Mbah dukun memberikan jampi-jampi dan ritual yang harus dilakukan Marlan. Inilah kata orang, cinta ditolak dukun bertindak. 

*** 

Marni kini semakin linglung seperti orang binggung. Rambut yang dulu sebahu kini semakin panjang. Namun rambut yang semakin panjang itu jarang disisir, acak-acakan, warna hitamnya kini semakin dimonompoli warna merah. Senyumanya yang dihiasi lengsung pipi kini tak ada lagi. Lesung pipinya telah pergi sejak Pardi menghilang tanpa kabar. Mata belok dengan bulu mata yang lentik kini lebih sembab karena banyak air mata yang keluar. Kantung mata semakin tebal dan menghitam. Karena setiap malam dia kurang tidur memandangi langit di teras rumahnya. Terkadang jika hujan, Marni tetap nekat ke luar. 

“Oalah Nduk-nduk Kamu ini kenopo to?” Tanya ibunya sambil membelai rambutnya. 

Marni tidak menjawab pertanyaan itu, pandangannya kosong seperti hari-hari sebelumnya. 

“Mandi dulu saya! Sudah seminggu kamu belum mandikan?” perintah ibunya kepada Marni. 

Marni tidak pergi ke kamar mandi, dia malah masuk ke dalam kamarya mengambil selendang biru. Dilingkarkan selendang itu di lehernya, dia pergi mengelilingi desa. Rutinitas yang akhir-akhir ini dijalaninya. 

*** 

Suatu hari, mobil sedan warna putih masuk ke desa. Semua orang dibuat takjub dengannya, karena konon tidak banyak mobil yang masuk ke desa itu, kecuali milik Pak Lurah. Seseorang turun dari mobil sedan berplat Jakarta. 

“Pardi?” Teriak seorang warga yang mengetahui bahwa yang turun dari mobil sedan warna putih itu adalah Pardi, tetangganya. Sudah hampir tujuh tahun Pardi menghilang tanpa kabar berita. Tak lama Pardi turun dari mobinya, ada seorang wanita dan anak perempuan kecil juga turun dari sana. 

“Mbak Sur, kenalin ini istri dan anak saya!” kata Pardi kepada Surti. 

“Ya Allah Pardi, kamu kemana saja?” kata Surti. 

Belum sempat Pardi menjawab pertanyaan Surti, mata Pardi menangkap sosok wanita yang berkalung selendang biru melintas di depannya. Namun wanita itu seperti sudah tidak mengenalinya lagi. 


#Rindu
#30dwc
#squad4





Selasa, 27 Maret 2018

Diorama Cinta Part 13



Aku lihat ruangan yang serba berwarna putih. Ruangan yang sama sekali tidak aku kenali. Ada Haifa, Faras, ibuku dan ibu mertuaku. Ada selang infus di tanganku. Aku mencoba untuk bangun, namun kepalaku masih terasa sakit.

“Fania .... " Mereka hampir berbarengan memanggil namaku.

“Aku di mana?” tanyaku.

“Kamu di rumah sakit, Fania!” jawab Haifa.

“Kamu sakit, kok gak bilang sama ibu, Nduk?” kata Ibuku.

“Tolong jangan bilang ke Mas Bram ya Bu!” Aku memohon kepada Ibu mertuaku. Beliau cuma mengangguk dan tersenyum.

Aku lihat Faras duduk di sofa. Sofa yang terletak tepat di depan tempat tidur. Dia masih mengenakan kemeja kotak-kotak warna biru seperti waktu di acara reuni. Dia menatapku dengan tatapan iba. Sedangkan Haifa berdiri di sampingku bersama Ibuku dan Ibu mertuaku. 

“Aku pingsan ya?” tanyaku.

“Iya Fania, kamu pingsan. Faras dan Haifa membawamu ke rumah sakit,” kata Ibuku.

“Makasih ya Ras!” Sengaja hanya aku tujukan buat Faras. Aku tahu bahwa Haifa pasti memaklumiku. 

Faras hanya tersenyum. Seorang dokter dan perawat datang. Dokter Arya, begitulah yang aku baca di jas baju praktiknya.

“Fania ... besok kita akan melakukan pemeriksaan yang menyeluruh. Dokter Haysa, adalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini akan memeriksa kamu. Bagaimana masih terasa pusing?” tanya dokter Arya.

“Sedikit, Dok!” Aku jawab pertanyaan itu dengan berbohong. Aku tak ingin semua orang mengkhawatirkan kondisiku.

“Iya ... kamu kekurangan darah Fania, sudah berapa lama pendarahan ini?” tanyanya lagi.

“Sudah seminggu lebih Dok.”

“Obatnya diminum ya, istirahat yang cukup! Biar besok badannya terasa lebih fresh.”

“Iya Dokter.”

Faras yang dari tadi duduk di sudut sofa, kini berdiri dan menuju keluar, mengikuti dokter itu pergi. Haifa mengikuti langkah Faras. Sedangkan Ibuku dan Ibu mertuaku masih setia di sampingku.

“Sabar ya, Nduk! Gusti Allah yang ngasih kesembuhan. Banyak doa dan istighfar.” Kata Ibuku sambil memijit kakiku.

Inggih, Bu!” kataku sambil tersenyum.




Bersambung ....

Baca Cerita sebelumnya : Diorama Cinta Part12

Selasa, 20 Maret 2018

Diorama Cinta part12



Kukenakan gamis tosca dengan kerudung warna senada. Hari ini aku akan menghadiri acara reuni di kampusku dulu. Sebelum Haifa datang menjemputku, aku layangkan pesan WhatsApp ke nomer mas Bram. 

Mas ... pagi ini aku ke kampus ya? Mau reuni. Ijinku yang memang terkesan bukan sebuah ijin namun lebih kepada pemberitahuan. Sambil menunggu balasan, aku menuju ke dapur. Aku buka jendelanya, aku tengok ke pekarangan, aku cari di mana sosok dua ekor burung gereja. Namun lagi-lagi aku kecewa. Burung gereja itu lagi-lagi cuma sendiri. 

Gawaiku berbunyi, Aku lihat ke layarnya, ada sebuah panggilan masuk, dari mas Bram. 

“Assalamualaikum.” 

“Wa’alaikumsalam.” 

“Mau pergi dengan siapa?” 

“Sama Haifa mas.” 

“O ya udah, hati-hati ya?” 

“Iya mas.” 

“Gimana kamu sehat kan?” 

Aku tak menjawab pertanyaan itu, air mataku mengalir. 

“Fania ...?” 

“Iya mas, aku sehat, aku baik-baik saja kok!” Aku seka air mataku, aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan nada suara yang seperti biasanya. 

“Alhamdulillah. Oiya maaf ya Fania, akhir-akhir ini aku sibuk. Jadi jarang menghubungimu.” 

“Iya mas, Fania ngerti kok.” 

“Ya udah kalau begitu, hati-hati di jalan ya! Assalamualaikum.” 

“Iya Mas, Waalaikumsalam.” 

Kini air mataku mengalir lagi, kejadian malam itu diruang dokter terlintas dalam pikiranku. Kata-kata dokter itulah yang membuat pikiranku akhir-akhir ini menjadi kacau. Dan akupun belum ke dokter kandungan seperti yang di rujukkan kepadaku. Bukannya apa-apa, aku cuma takut menghadapi kenyataan jika benar aku mengidap penyakit kanker ovarium. 

Sebuah klakson mobil berbunyi. Itu pasti Haifa, gumamku dalam hati. Aku ambil tas di sofa yang sudah aku persiapkan dari tadi. 

“Hai, Haifa.. ayo langsung  berangkat saja!” Aku temui dia di pekarangan rumah. 

Sampainya di sana, aku lihat sudah banyak yang datang. Begitu juga teman-teman seangkatanku. Kita saling melepas rindu dengan saling berbincang. Haifa yang dari tadi ada di sampingku, kini aku tak tahu kemana dia. Sindy, teman sekelasku, datang dengan menggendong bayi dan suaminya. Anaknya lucu sekali, bayi perempuan dengan memakai baju merah muda dan bando di kepala, cantik sekali. Ya Allah, rasanya aku ingin sekali menimbang bayi, ya ... bayiku sendiri. Lamunanku kian liar kemana-mana. Seandainya aku punya bayi pasti lucu seperti itu. 

“Fania...” Haifa menarik tanganku. 

“Hei ... kemana saja kamu. Ada apa?” 

“Fania ... Faras ingin menemuimu!” 

“Hah, Faras?” aku terperanjat mendengar perkataan Haifa. Bagaimana Faras ada di sini? 

“Fania, Faras baru saja meneleponku, dia menuju kesini.” 

Seketika badanku lemas, aku binggung. Apa yang akan ku katakan kepada Faras? 

“Tenang saja, aku sudah bilang bahwa kamu sudah menikah kok!” Kata Haifa berusaha menenangkanku, sepertinya dia tahu bagaimana kegalauan hatiku. 

Tak berselang lama datanglah Faras dengan mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan celana berwarna hitam. 

“Fania, bisa bicara sebentar?” tanyanya. 

“Bisa, tapi bertiga dengan Haifa, bagaimana?” 

“Ok , tak masalah.” 

Aku tarik tangan Haifa, supaya mengikuti langkah kami. Kami menuju taman di depan gedung perpustakaan. 

“Fania, jujur aku kecewa sekali saat tahu bahwa kamu sudah menikah.” 

Aku diam saja dan tak berani menatapnya. 

“Dulu aku kira kamu akan menungguku hingga aku bekerja, lalu aku akan ke rumahmu, melamarmu,” lanjutnya. 

Aku tarik nafas panjang. Haifa di sampingku juga diam. 

“Ternyata aku salah, aku tahu dari Ridho bahwa kamu sudah menikah. Aku pulang ke Indonesia untuk memastikan apakah benar itu terjadi. Ternyata memang benar begitulah kenyataannya.” 

Ridho adalah teman kita se SMA. Aku tahu aku salah, namun aku juga tak mungkin menolak permintaan ibuku. Aku lihat Faras, namun dia tertunduk lesu. 

“Faras maafkan aku, ini sudah takdir dari Allah.” Kataku dengan setengan berbisik. 

Namun seketika itu, kepalaku pusing, pandanganku menjadi gelap. Sayup-sayup aku dengar Haifa dan Faras memanggil namaku. 





Bersambung ....

Baca Cerita sebelumnya : Diorama Cinta part11 

#TantanganCerbung
#ODOP

Senin, 12 Maret 2018

Diorama Cinta Part6



Sebenarnya bukannya aku tidak mau pergi kemana-mana sendiri, namun aku memang tak suka. Dulu aku selalu dengan Haifa sahabatku. Namun kini dia sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Kita punya kehidupan sendiri-sendiri sekarang. Pagi ini kususun rencana, bahwa setelah selesai pekerjaan rumah aku akan pergi ke toko buku langgananku. Mungkin aku akan membeli beberapa buku. 

Aku masukkan gawaiku yang tadi malam aku letakkan di meja dekat tempat tidur ke dalam tas selempangku warna biru. Jalanan yang kulalui tak banyak berubah. Pohon-pohon besar dengan trotoar yang lebar membuat para pejalan kaki merasa nyaman. beberapa orang berlalu lalang sibuk dengan gawainya. Aku jadi teringat pesan WA tadi malam. Apa benar pesan itu buatku? Dari siapa? Atau hanya salah kirim? Aku ambil gawaiku dalam tas biruku. Aku lupa bahwa pesan itu sudah aku hapus. Segera aku buang memoriku tentangnya. 

Memoriku kembali ke masa lalu, hari-hari bersama Haifa sahabatku. Memang benar terasa janggal rasanya. Biasanya ada teman mengobrol di sepanjang perjalanan, namun kini aku sendiri. Bukan berarti aku tak bahagia dengan kehidupan baruku namun ada rindu akan masa lalu. Setelah mendapatkan beberapa buku, aku langsung pulang kerumah. 

“Waduh hujan... lupa gak bawa payung lagi!” gumamku dalam hati. Aku biarkan saja air hujan itu membasahi tubuhku. Sesampainya di depan rumah aku cari di mana aku tadi menyimpan kunciku di dalam tas selempang yang kubawa siang itu.

“Aduh kemana ini kuncinya’” gumamku dalam hati. Tapi aneh pintu itu sepertinya tak terkunci. Apa aku yang lupa ya tadi tidak aku kunci? Apa karena rutinitas baruku telah mengorupsi sebagian memoriku? Kubuka perlahan-lahan pintunya, takut ada maling di dalam rumah. 

“Lho Mas, jam segini kok dirumah?” tanyaku. Aku terkejut mas Bram duduk di sofa sambil membaca koran. 

“Lho kamu kok basah kuyup begitu?” Tanyanya yang tidak menjawab pertanyaanku. 

“Iya aku lupa membawa payung. Aku tadi jalan-jalan di luar sebentar ke toko buku langgananku.” 

“Oh ... ya sudah ganti baju sana biar tidak masuk angin. Ada hal penting yang mau aku sampaikan.” 

Tanpa pikir panjang aku segera menuju kamar mandi. Sedangkan mas Bram sejak tadi masih duduk di sofa di ruang keluarga dengan menikmati secangkir tehnya. 

“Fania ... kesini sebentar!” perintah mas Bram ketika dia tahu bahwa aku sudah selesai mandi. 

“Iya mas, sebentar lagi.” Kuletakkan hair dryer di meja riasku. 

“Sini duduk sini!” katanya. Akupun duduk didekatnya. Aku lihat sudah ada dua cangkir teh di meja dan ada kotak sebesar kotak sepatu. 

“Fania, bulan depan aku ada tugas dari kantor untuk mengawal proyek di Singapura. Ya ... mungkin selama sebulan.” Kata-katanya berhenti. Aku lihat dia merilikku. 

“Tapi sebelum kepergianku, aku sudah mengajukan cuti. Kita akan berlibur,” lanjutnya. 

Aku tidak tahu, aku harus senang atau sedih. Di lain sisi aku senang karena kita akan berlibur berdua. Itu berarti kesepianku bisa terobati saat ini. Namun setelah itu, dengan kepergiannya sebulan sama juga dengan membuat kesepianku semakin berkepanjangan. 

“Berlibur kemana?” tanyaku. 

“Coba kamu buka!” mas Bram menunjuk kotak di depanku. Aku buka kotak itu. Sekuntum bunga mawar dan dua tiket pesawat. Aku ambil tiket itu dan aku baca dengan teliti. 

“Banda Aceh?” 

“Iya kita akan ke pulau Weh, di sana alamnya masih asri dan sangat indah. Kita mulai petualangan kita dari ujung Indonesia, dari Sabang.” 


Baca Cerita sebelumnya : pesan WhatsApp

#tantanganCerbung
#ODOP
#OneDayOnePost





Sabtu, 10 Maret 2018

Cerbung Part5

Pesan WhatsApp


”Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ... Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ....” Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, pertanda bahwa berakhirnya sholat isya’ku. Aku panjatkan doa dan wirid selesai sholat. Belum selesai lantunan doaku, kudengar seseorang mengucapkan salam. 

“Assalamualaikum ...Fania?” Jelas itu adalah suaranya mas Bram. 

“Waalaikumsalam...” jawabku. Aku bangkit dari sajadah, aku sambut suamiku. 

“Sudah sholat Mas?” Sambil kucium tangannya. 

“Sudah ... tadi di jalan terdengar Adzan, lalu mampir ke Masjid.” Jawabnya sambil tangan kirinya mengusap kepalaku.

Aku lipat sajadahku yang masih tergeletak di lantai. Aku duduk di tempat tidur sedangkan Mas Bram melangkah menuju kamar mandi. 

Sejak pertemuanku dengan Haifa, membuat akhir-akhir ini aku tidak bisa berkosentrasi. Kata-katanya telah meracuni pikiranku. Bukannya aku takut menjadi Zombie, tidak. Namun mungkin benar apa yang dikatakannya, bahwa aku sekarang jarang bersosialisasi. Hal ini sangat kontras dengan kehidupanku dulu sebelum menikah. Aku orang yang paling tidak betah berdiam diri di rumah.

Waktu kuliah aku mengikuti banyak kegiatan di kampus, bahkan sejak SMA aku suka camping dan mendaki gunung bersama teman-teman pramukaku. Kini kehidupan yang kujalani bertolak belakang, sehari-hari melakukan pekerjaan rumah tangga, bersantai dengan melihat televisi atau membaca buku. Sehari dua hari masih oke, namun jika terjadi hampir dua bulan, pasti membuatku bosan. 

“Loh kok masih pake mukenanya? pake acara ngelamun lagi,” kata mas Bram keluar dari kamar mandi. Bau sabun sangat wangi dari tubuhnya. 

“Fania ...kok ngelamun?mikirin apa?” tanyanya lagi karena tidak mendapatkan respon dariku. 

“Oh ... hehehe,” sambil tersenyum kuperlihatkan gigiku. Aku lepas mukenaku dan melipatnya. 

“Oh iya mas, Haifa kemarin ke rumah?”Sambil kuubah posisi dudukku lebih menghadap kepadanya. 

“Trus?” Tangannya kini membetulkan poniku yang hampir menutupi mata. 

“Dia mengantarkan undangan reuni kampus.” 

“Wah ... bagus. Coba kamu ikut, biar gak bosan dengan rutinitas di rumah,” katanya. 

“Kapan acaranya?” tanyanya . 

“Bulan depan.” 

“Wah masih lama ya?” tanyanya lagi. Aku menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepala. 

“Maaf Fania, mungkin waktuku tidak banyak dirumah. Mungkin membuatmu kesepian. Kamu boleh kok jalan-jalan ke toko buku atau ke mall buat belanja. Asal hati-hati dan kamu bisa menjaga diri.” Kini dia menatapku dengan senyuman. Kubalas senyumannya dengan sebuah senyuman juga. 

Tit tit tut bunyi notifikasi WhatsApp di gawaiku berbunyi. 

Assalamualaikum. Gimana kabarnya? Aku dengar kamu sudah menikah ya?

Bunyi pesan WhatsApp itu di layar gawaiku. Dari sebuah nomer yang tidak aku kenal. "Ah ... paling juga salah kirim!" gumamku dalam hati. Kuhapus pesan itu dan ku letakkan kembali gawaiku di meja dekat  tempat tidur.


Bersambung ...

Baca cerita sebelumnya : Burung Gereja




#TantanganCerbung #cerbung10Episode
#ODOP
#OnedayOnePost

Jumat, 09 Maret 2018

Cerbung part4


Burung Gereja

Kulihat kalender di dinding, jariku mulai menghitung hari pernikahan kami dan berhenti di hari ini. Sudah 42 hari aku menjadi seorang istri. Kini hari-hariku lebih banyak aku habiskan dirumah. Nyaris tak pernah keluar kecuali membeli sayur atau diajak mas Bram untuk sekedar makan malam di luar. Selebihnya aku hanya berkutat di kasur, dapur dan sumur, itu kalau istilah orang Jawa. 

Pagi ini seperti biasa, pagi hari di mulai dengan membuat sarapan. Kini memasak tidak lagi menjadi “hantu” bagi diriku semenjak peristiwa kalung dan liontin itu. Acara memasak di televisi sudah aku lihat lagi, pembawa acaranya tidak lagi aku benci, jika grup WA membahas masalah masakan maka aku sesekali juga berkomentar, meskipun terkadang hanya berupa emoji. Terkadang aku suka tersenyum sendiri, ternyata hatiku mudah sekali di suap, hanya diberi hadiah saja bisa langsung hilang marahnya dan luluh. Sebenarnya bukan masalah hadiahnya, bukan masalah kalung dan liontin itu. Tapi lebih kepada sikap mas Bram yang mau meminta maaf dan mengerti perasaanku, itu jauh dari hadiah tadi. Ternyata sederhana sekali ya mau seorang wanita, cuma ingin dimengerti. hehehehe 

Pagi ini setelah memasak untuk sarapan dan Mas Bram sudah berangkat kerja, rutinitas berikutnya adalah mencuci piring dan membersihkan rumah. Jendela yang berada tepat di atas westafel cuci piring itu aku buka. Pandanganku menatap jauh kedepan, melihat tanaman di  halaman belakang rumahku. Rumputnya kini kelihatan panjang dan ada beberapa rumput liar yang harus segera dicabut biar tidak semakin mengintimidasi rumput yang sengaja aku tanam. Bunga-bunganya kelihatan ceria sekali dengan warna-warninya. Daunnya yang terkadang menari ke kanan dan ke kiri ketika tertiup angin sepoi-sepoi. Nampak ada seekor burung disana, yang sedang mematuki sesuatu di rumput, seperti sedang mencari makan. Lalu terbang keranting pohon kedondong.Tidak lama setelah itu, seekor burung mendatanginya. Lalu mereka berdua terbang tinggi entah kemana. 

Pemandangan seperti ini yang aku nantikan setiap pagi. Adegan kedua burung itu selalu menjadi adegan favoritku. Mereka selalu saja berdua. Ketika  baru seekor burung yang datang, tak lama kemudian seekor lagi menghampiri. Seperti membisikan sesuatu lalu mereka terbang. Mereka akan saling bersiul bersahutan sambil mengepakkan sayapnya. 

Seketika itu aku mendengar suara yang arahnya dari pintu rumahku. 

Tok ... tok ... tok. 

“Assalamualaikum.” Terdengar suara seseorang di balik pintu. Dengan buru-buru, kubersihkan tanganku dan kumatikan kran airnya. 

“Wa’alaikumsalam,”jawabku. Dengan setengah berlari aku menuju ke ruang tamu. kubuka pintunya. 

“Hai ... Fania!” Seorang gadis disana, dan aku kenal betul dengan wajah itu. 

“Ya Allah Haifa, tumben kok kerumah?” sambil kusalami dan kupeluk sahabatku itu. 

“Ayo masuk!” Kupersilakan dia untuk masuk kedalam rumah. Lalu dia duduk di pojokan sofa. 

“Gimana kabarnya? Sejak pernikahanku, kita belum pernah ketemukan lagi kan?” tanyaku. 

“Idih... kamu itu yang menghilang. Di telepone gak pernah diangkat, di WA di read doank. Gak pernah nongol saat anak-anak pada kumpul. Di grup WA juga seringnya Cuma silent reader. Kamu kemana aja Nyonya.Bramatyo? kamu dipingit sama suamimu ya?” kata-katanya tanpa jeda, nyaris membuat aku tidak bisa menjawab pertanyaannya untuk membela diri. 

“Sebentar,Mas Bram ... baik kan orangnya? Maksudku tidak ada KDRT dalam rumah tangga kalian?” tanyanya sambil menyipitkan matanya penuh curiga, seperti meminta penjelasan dariku. 

“Haduh ... kamu itu ya kebanyakan lihat sinetron, pikirannya jadi drama begitu. Aku baik-baik saja kok, seperti kamu lihat sekarang.” Kataku membela diri. 

Haifa bangkit dari tempat duduknya. Diperhatiankan aku dari kepala hingga kaki. Tidak puas sampai disitu, dia memutar mengelilingiku. 

“Ya ... ya... tak ada tanda-tanda kekerasan,” katanya sambil menganggukkan kepalanya. 

“Habis kamu gak ada kabar gitu. Aku kan khawatir sama kamu. Gimana enak gak menikah. Jadi seorang istri gimana?” tanyanya dengan antusias sambil mendekatkan wajahnya di wajahku. 

“Ih ... kepo, makanya segera menikah biar tahu gimana rasanya menikah dan jadi istri.” Kataku yang tak mau kalah oleh tindakan intimidasinya. 

“Kamu mau minum apa? Mau yang dingin apa yang hangat?” Tanyaku sambil berjalan menuju ke dapur. 

“Gak usah Fan, aku Cuma sebentar kok. Aku hanya mengantarkan undangan reuni akbar bulan depan di kampus. Ya ... Sengaja aku antar saja kerumahmu. Habis kalau aku WA takut gak kamu baca.” 

“Oh ... reuni itu? iya aku pernah lihat di grup WA.” 

“Iya ... kamu datang ya! Biar gak suntuk dirumah terus. Kumpul-kumpul sama teman-teman. Kalau kelamaan jadi istri yang kerjanya di rumah terus bisa-bisa kamu seperti mayat hidup, Zombie Hiii . Tak punya semangat hidup.” Katanya yang mencoba menakutiku. 

“Ngaco kamu ..., kamu itu yang harusnya cepat menikah biar pikirannya gak drama gitu, ngawur.”Dan kamipun tertawa bersama. 


Bersambung ....

Baca Cerita sebelumnya :Liontin Hati



#TantanganCerbung
#Cerbung10Episode
#ODOP
#OneDayOnePost



Cerbung Part3

Baca Cerita Sebelumnya : Cerbung Part2

Liontin Hati

Semenjak tragedi sayur lodeh itu, aku menjadi tidak bersemangat dengan apapun yang berbau masakan. Bahkan acara memasak di televisi yang biasa aku tonton, yang sebenarnya tidak berdosa pun terkena dampaknya, aku jadi hater pembawa acaranya. Iklan tentang masakan langsung aku ganti channelnya. Obrolan grup di WA mengenai masakanpun langsung aku clear chat. Aku muak sekali dengan semua hal berbau masakan. Bahkan mas Bram, suamiku, bercerita bahwa hari ini dia ditraktir koleganya makan di restaurant America yang menghidangkan makanannya tanpa piring juga jadi sasaran kemarahanku. Seketika itu mimik mukaku berubah. Kurubah posisi dudukku, tanda aku menarik diri. Dan mas Bram sepertinya memperhatikan perubahan sikapku.

Setiap pagi aku hanya memasak makanan yang sederhana, nasi goreng atau sarden itupun jika mas Bram ingin sarapan nasi. Namun jika tidak, maka aku hanya menyediakan roti dan selai. Sedangkan siang dan malam, dia jarang sekali makan dirumah. Karena sampai rumah biasanya habis isya'.

Sebenarnya bukan masalah masakan, masakan tidak salah apa-apa. Masakan hanya menjadi kambing hitam atas kejadian pagi itu. Sebenarnya aku hanya kecewa dengan sikap Mas Bram. Kenapa kaum laki-laki tidak bisa untuk basi-basi? Bukankah kebohongan pasangan suami istri juga diperbolehkan dalam islam jika itu untuk kebaikan? 

Sebenarnya sejak pernikahan kami, nyaris tidak ada keributan yang berarti. Mas Bram orangnya sangat baik. Beliau lebih banyak ngemong aku yang terkadang masih suka kekanak-kanakan, yang lebih banyak mengalah ketika kami bertengkar. Dan pertengkaran kami pemicunya pasti hanya hal-hal yang sepele, terkadang hanya masalah cara berkomunikasi. Salah satunya masalah sayur lodeh yang keasinan itu, itupun menurutku. Tapi sebenarnya Mas Bram orangnya sangat romantis, seperti yang terjadi pagi ini. 

“Fania ...?” 

“Iya Mas?” 

“Tolong ambilkan barangku di dalam tas,” katanya. Dengan buru-buru kuturuti saja perintahnya. Aku temukan kotak kecil yang dibungkus kertas kado warna merah muda. 

“Yang dibungkus kertas kado ini Mas?” 

“Iya ... Tolong bawa kesini ya!” 

“Ini,” sambil kusodorkan bungkusan itu. 

“Tolong kamu buka.” Katanya sambil mengancingkan kancing di lengan bajunya. 


Akupun melihatnya, dia seperti tidak begitu peduli. Sebenarnya bungkusan apa sih ini. Bentuknya seperti kado. Kado dari siapa? Lalu mengapa aku yang disuruh membukanya? Berbagai macam pertanyaan masih bermuculan di benakku. Hingga bungkusan itu telah telanjang dari bungkusnya. Kotak kecil berwarna merah, kotak perhiasaan. Dan setelah aku buka ternyata sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati warna merah jambu. 


“Waow ... cantik banget, punya siapa ini Mas?” tanyaku. Sambil kulihat dia yang sedang memperhatikan ekspresiku melihat kalung dan liontin di tanganku. Senyum mengembang di wajahnya. 

“Ya... Buat kamu Fania!”jawabnya. 

“Buat aku? Yang benar Mas? “ 

“Iya buat kamu.” 

“Tapi ... Mengapa ada hadiah hari ini? Hari ini bukan hari ulang tahunku.” Aku berusaha mengingat-ingat kejadian penting lain yang terjadi di tanggal ini, namun tidak juga aku temukan. 

“Selamat hari perempuan Fania ... Semoga kamu menjadi perhiasan paling indah yang kumiliki di dunia ini.” Sambil mengambil kalung itu dan memasangnya di leherku.

Aku tidak tahu harus berkata apa, seketika badanku seperti beku, mulutku kaku. 

“Ini juga sebagai permintaan maafku karena kata-kataku  kemarin, yang telah menyinggung perasaanmu.” 


“Kata-kata yang mana?” Aku mengernyitkan dahi. 

“kemarin aku bilang bahwa sayur lodehnya keasinan, maaf ya!” 

Akupun tersenyum, tersipu malu tepatnya. Ternyata Mas Bram tau perasaan yang ku rasakan. Ternyata dia mengamati mimik mukaku, sikap dinginku pagi itu dan gerak gerikku selama ini. Lalu aku hanya mengangguk dan tersenyum. 



Bersambung ....

Baca Cerita Selanjutnya : Burung Gereja

#tantanganCerbung  #10Episode 
#ODOP
#OneDayOnePost











Selasa, 06 Maret 2018

cerbung part2 (2 love is 2 touch lives 4 EVER)

Baca cerita sebelumnya : cerbung part1

Kutatap lekat wajah laki-laki itu. Mungkin banyak beban. Beban pekerjaan atau beban yang lainnya. Namun yang pasti dia mempunyai beban tanggungjawab yang baru yaitu aku. Wanita yang benar benar belum ia kenal untuk tinggal bersama. Aku tahu tidak mudah tinggal seatap sebagai pasangan suami istri jika rasa cinta itu belum ada. Selain tantangan permasalahan perbedaan karakter dan kebiasaan, masalah hati juga tak bisa dipungkiri. Bagaiman bisa menyakinkan hatinya untuk bisa mencintaiku dan aku juga bisa mencintainnya. Tak mudah namun tak sulit juga sebenarnya. Tapi bagiku ini adalah pekerjaan yang tak gampang, karena aku bukan type orang yang gampang jatuh cinta.

Perubahan status membuat beban tersendiri dalam hidupku. Hampir setiap hari aku selalu berbisik di hati, “aku sekarang seorang istri”. Namun disaat kata-kata itu berakhir, terasa beban berat ada dipundakku. Aku tidak tau beban apa itu, tapi aku merasa aku mempunyai tanggaung jawab yang besar untuk aku bawa. Dan laki-laki itu selalu mengingatkanku bahwa aku mampu.

Hari-hari bersama orang “asing" itu tidak mudah. Aku harus bisa bertoleransi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Seperti pagi ini, bangun pagi dan memasak adalah bukan kebiasaanku, tapi karena perubahan statusku, akhirnya mau tak mau harus aku lakukan. Sebenarnya aku tidak jago masak apalagi masak yang ‘aneh-aneh’. Buku resep masakan setebal 456 halaman menjadi buku pedoman wajib yang harus ada di dapur. “Resep Masakan Komplit” judul bukunya.

Memasak sayur lodeh, seperti requestnya kemarin. Segala bahan dan pelengkap sudah aku siapkan. Dan belajar dari “kitab” itupun sudah aku pelajari sejak tadi malam. Singkat kata pagi itu adalah pagi tersibuk sejak pertama kali statusku berubah.

“Ok lodeh nya sudah siap,” aku bergumam sendiri.

“Silakan Mas kalau mau sarapan!” Agak sedikit teriak karena dia masih sibuk di dalam kamar.

Akhirnya dia keluar dan menuju meja makan kami yang sangat sederhana.

“Waow sarapan pertama kita,” katanya dengan riang. Dia menarik salah satu kursi lalu mengambil nasi dipiring.

“Makasih ya sudah repot-repot membuatkan sayur ini buatku,” imbuhnya.

Agak aneh memang sayur lodeh buat sarapan. Hehe, tapi mungkin dia ingin melihat ketrampilan memasakku. Ah ... biarlah yang penting ujicoba kali ini lulus.

“Dicobain dulu mas sayurnya!” 

“Hmm ... enak sih, tapi kok agak keasinan ya?” katanya tanpa dosa.

Namun kata-kata itu bagiku seperti pedagang kaki lima yang diteriakin satpol pp. Seketika itu perasaanku nano-nano, antara binggung, sedih, kecewa campur aduk jadi satu.

“O begitu ya? Ya udah gak usah dimakan sayurnya, sarapannya pake telor dadar aja ya!” jawabku seriang mungkin. Sambil aku sodorkan piring yang berisi telor dadar.

Sarapan kami pertama kali nyaris tanpa obrolan, sebenarnya aku yang kurang merespon setiap tema yang dia buka untuk menjadi bahan obrolan. Bukannya apa-apa, aku hanya kecewa dengan sayur lodehku. yang aku buat dengan susah payah, namun semua serasa sia-sia karena satu kata, "keasinan".

Setelah laki-laki yang kupanggil mas itu pergi, kupandangi sayur itu dalam kuali, mau kuapakan sayur ini? Namun hatiku tak bisa berbohong, kuambil sayur itu di mangkok dan kumasukkan dalam kualinya. Tanpa banyak bicara ku buang semua sayur itu keluar rumah. Itulah masakan pertamaku sebagai seorang istri yang berakhir di got pembuangan.


Bersambung
Baca cerita selanjutnya : part3 Liontin Merah

2 love is 2 touch lives 4 EVER
#TantanganCerbung
#Cerbung10Episode
#ODOP
#OneDayOnePost


Kamis, 22 Februari 2018

Semua Istimewa


Pagi ini kancil berjalan-jalan menusuri hutan. “Hmm pagi yang indah ...!”gumamnya. Hutan itu begitu asri banyak binatang yang lalu lalang dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang mencari makan ada yang masih santai di bawah pohon. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor kura-kura.

“Pagi kura-kura, mau hendak kemana? bagaimana kalau kita bermain hari ini?” tanya kancil kepada kura-kura yang sedang berjalan dipinggir jalan.

“Aku sedang buru-buru kancil, sodaraku sedang membutuhkan bantuanku di sungai!” jawab si kura-kura.

“Ha... ha ... jalan begitu kau anggap buru-buru, cobalah kamu berlari lebih cepat, pasti saudaramu tak akan menunggu lebih lama!”

“Ini aku sudah berlari,kancil!” jawab kura-kura denga keki.

“Ha... ha ... ha ...itu lari!  begini loh yang namanya lari!” Sambil memperagakan larinya. “Nanti aku tunggu di sungai ya? Aku ingin tahu, sampai sungai kamu butuh waktu berapa jam.” Sambil berlari, dia berteriak. Dengan sombong kancil menunjukkan kepada kura-kura tentang kehebantan larinya.

Setelah tiba di sungai, si Kancil bertemu dengan semut. Semut itu sedang mengumpulkan makanan dengan para koloninya. Merasa dirinya mau di injak oleh si kancil, semut itu berteriak.

“Hai Kancil, lihat-lihat dong kalau berjalan. Ada kami di bawah sini. Jangan asal injak saja,” protes semut kepada kancil.

“Maaf, habis kamu kecil sekali sih, mana tahu aku kalau ada kamu dan teman-temanmu. Makannya Badan itu yang besar kayak aku,  kelihatan kan? Jadi gak ada yang mengijak,” ledek kancil kepada semut.

Semut tak menghiraukan ejekan kancil, dia dan koloninya tetap berbaris menuju sarang mereka.
Tak lama setelah bertemu dengan semut, kancil menuju ke pinggir sungai hendak minum. Di sungai ada seekor ikan.

“Hai ikan ..., sedang apa kamu? Kamu gak bosan ya di dalam ait terus. Dunia ini bukan hanya air, ada daratan yang indah, ada banyak bunga, pohon, dan buah-buahan. Kalau di air, mana ada banyak tanaman? Pasti masih banyak di darat bukan?”

“Hmmm ... kamu kan tahu aku hanya bisa bernafas di air. Mana bisa aku jalan-jalan di daratan?”
“Ha .. Ha.. kasihan banget ya kamu!” Ledek Kancil kepada ikan.

Setelah puas minum, kancil bersandar pada sebuah pohon. Ada seekor burung gagak di sana. Burung gagak itu menyaksikan dari tadi mendengar percakapan kancil, semut dan ikan.

 “Kancil sedang apa kamu di sini?” tanya gagak .

“Aku ini sedang menunggu kura-kura. Kura-kura itu lambat sekali jalannya, dari tadi gak sampai-sampai, padahal aku sudah capek sekali menunggu.”

“Ya kan kamu tahu jalan kura-kura memang begitu, meskipun dia lambat dia punya tempurung sebagai rumahnya. Tempurungnya sangat kuat, jadi jika ada musuh yang menggangu atau ada bahaya, dia bisa bersembunyi di dalamnya.”

“Lantas kenapa semut tadi berteriak kepadamu?” tanya gagak lagi.

“Oh semut ... dia hampir saja terinjak aku. Salah sendiri kenapa badannya begitu kecil!” jawab kancil.

“Wah jangan salah ya, dengan tubuh kecil begitu, semut bisa masuk ke tempat-tempat yang sempit. Yang pastinya kamu tak bisa masuk kesana. Kancil, semua dari kita pasti istimewa, tidak ada yang di ciptakan yang tidak berguna, semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak mungkin kan Allah menciptakan produk gagal?”

“Lantas apa kelebihan ikan?” tanya kancil.

“Ikan bisa bernafas dalam air, dia pandai berenang. Kalau aku disuruh berenang pasti aku tidak akan sanggup. Begitupun sebaliknya, jika ikan itu disuruh ikut perlombaan terbang pasti juga tidak akan menang. Jadi tidak usahlah kamu menghina dan mengolok-olok. Semua unik, semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Jadi semua istimewa."

Mendengar penjelasan gagak, kancil mulai berfikir. "Lantas buat apa diberikan kekurangan. Kenapa aku tidak diberi kemampuan terbang sepertimu? atau kenapa aku tidak diberi kemampuan bisa bernafas di dalam air seperti ikan?"

"Kancil ... semua mempunyai kekuranga dan kelebihan. Dengan kekurangan itu, kita diharapkan bisa saling bekerjasama dan dengan kelebihan kita, kita menjalani peran kita masing-masing."

Kancil termenung ternyata apa yang dikatakan gagak telah menyadarkannya. Selama ini dia selalu menhina dan meremehkan teman-temannya.






Rabu, 21 Februari 2018

Perlu Budek

Peringatan hari kemerdekaan di Negeri Binatang berlangsung meriah dengan di adakannya berbagai macam perlombaan. Salah satu perlombaan yang sangat menarik perhatian rakyat negeri Binatang adalah lomba lari yang di ikuti oleh para Rusa. Para peserta lomba harus lari sejauh 10 km dan dekat di garis finish harus melewati sebuah sungai. Di sungai itu disedikan rintangan berupa pijakan, tapi pijakan itu tak semuanya kokoh. Peraturannya sederhana, jika ada Rusa yang jatuh di sungai maka diberi kesempatan dua kali unutk bisa melanjutkan larinya. Bagi pemenang yang berhasil sampai di garis finis berhak mendapatkan sebuah mahkota emas persembahan dari sang Raja.

Peserta lomba lari kali ini berjumlah 30 ekor rusa yang datang dari berbagai penjuru negeri Binatang. Selain karena berpartisipasi untuk memeriahkan hari kemerdekaan, mereka juga tergiur dengan hadiah yang diberikan. Ketika seorang juri meniup peluit tanda perlombaan dimulai, Rusa-rusa itu lari dengan sekuat tenaga. Ada yang melesat jauh di depan namun ada juga yang tertinggal di belakang. Namun ketika sampai di sungai, banyak rusa yang jatuh dan dinyatakan gagal, hingga tersisalah hanya beberapa ekor rusa saja. 

Penontonpun semakin histeris ada yang memotivasi namun banyak pula yang mengolok-olok. Memang terkadang penontot merasa lebih hebat dari pada para peserta. Beberapa waktu telah berlalu, para Rusa yang tereliminasipun semakin banyak karena telah terjatuh lebih dari dua kali. Tinggalah 5 ekor rusa yang berjuang sampai ke garis finish. 

Anehnya para penonton bukan malah memotivasi para rusa yang masih bertahan namun melainkan mereka justru menggendorkan semangat para rusa yang masih berjuang. "Ah ... sudahlah gak mungkin, sudah banyak yang jatuh, sudah pulang sajalah!"
" Haduh masak cuma gara-gara iming-iming mahkota aja sampai rela begini!" dan ada juga yang berkomentar, " Kalau aku mending pulang sajalah, gak usah terlalu ngotot , daripada sakit kenapa-kenapa mending pulang saja."

Mendengar teriakan-teriakan yang demikian, beberapa ekor rusa mulai jatuh motivasinya, daya juang mereka semangin melorot, dan akhirnya tereliminasi satu persatu. Melihat kondisi yang demikian, para penonton-penoton itu semakin mempertinggi suara teriaknya, mereka mengatakan bahwa tidak akan ada rusa yang berhasil menuju garis finish. Namun perlombaan belum selesai, meskipun ada rusa yang memilih untuk menyerah namun ada seekor rusa yang terus berjuang melewati pijakan-pijakan di sungai itu dengan optimis. satu persatu pijakan itu di injaknya dan dia terjatuh, namun jatuh pertama ini tidak menyurutkan tekatnya untuk menjadi juara.

Melihat Rusa itu terjatuh, mulailah para penontot itu bersorak lagi,  bahwa sesuatu hal yang mustahil kalau rusa itu bisa berhasil menuju garis finish, pasti seperti rusa-rusa lainnya yang tereliminasi. Namun sang rusa tidak patah semangat dia bangun dari jatuhnya dan mulai lagi dengan pijakan terakhir hingga akhirnya bisa keluar dari sungai dan berhasil menuju garis finish. 

Gegap gempita dan sorak penonton bergemuruh. Para penonton yang semula berkomentar meremehkan pun ikut bahagia. Semua penontot bertanya-tanya, kenapa rusa itu bisa berhasil hingga menuju garis finish? Apa yang menyebabkan dia bisa berhasil melewati rintangan disungai dan berhasil menjadi suara? Kenapa dia tidak berpengaruh dengan teriakan dn cemooh para penonton?Betapa kagetnya mereka setelah di periksa ternyata sang rusa juara itu tidak bisa mendengar alias budek

***
Dalam hidup terkadang kita perlu menjadi budek dengan komentar-komentar yang negatif yang membuat kita tidak bisa maju dalam meraih apa yang kita cita-citakan. Karena ada beberapa orang yang menerima komentar negatif membuatnya  sering kali mematahkan motivasinya untuk berkembang dengan baik dan optimal. Semua orang berhak berkomentar apapun tentang kita, namun kita juga berhak untuk memberikan respon yang bagaimana. Menjadikan komentar negatif itu menjadi lecutan semangat? atau malah menjadi tak percaya diri? dan terkadang kita juga perlu budek untuk tidak mendengar segala macam pembicaraan yang negatif yang justru menghambat laju kita untuk maju. Tapi bukan berarti dengan budek tidak melakukan intropeksi diri, jika memang komentar-komentar itu benar harusnya kita melakukan perbaikan diri agar kedepannya tidak terulang kembali. namun jika tidak benar maka bersabarlah, kebenaran akan menemukan jalannya.