Rabu, 14 Februari 2018

Apa Bisa Saya Bertahan Di Kelas ODOP Batch5?


Pekan keempat di kelas ODOP batch5. Awalnya agak pesimis masuk dalam konunitas ini, apa bisa saya menulis setiap hari 300 kata lagi? Apalagi saya hanya seorang ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Setiap hari mau menulis apa coba? Tapi semakin kesini semakin menemukan jalannya. Banyak hal yang bisa di tulis, karena sejatinya menulis adalah merekam semua kejadian yang kita alami atau apa saja yang kita pikirkan. Mungkin dari sini  awal mulanya saya bisa bertahan sampai di pekan keempat.

Jadi teringat sebuah tagline,“ Jika ingin melihat dunia bacalah! Namun jika dunia ingin tahu tentang dirimu maka menulislah."  Mungkin ini juga salah satu motivasi saya untuk terus menulis. Karena saya hanya ibu rumah tangga biasa yang mungkin tidak akan dikenal dalam cangkupan yang besar. Saya menulis biar ada jejak saya di dunia ini bahwa saya pernah hidup di planet bumi. Jika nanti, puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang tulisan saya di baca orang, mereka akan tahu bahwa ada seorang wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga pernah membuat tulisannya dalam akun blognya. Selain biar dibaca oleh anak cucu saya, semoga tulisan saya juga bermanfaat buat banyak orang.

Menulis setiap hari dengan 300 kata susah gak sih? Sebenarnya tidak ada yang susah. Yang membuat susah adalah sifat perfeksionis saya. Saya selalu beranggapan bahwa tulisan yang saya share harus memiliki konten yang ada bobotnya, tidak hanya asal curhat. Setiap mau memposting sebuah tulisan maka saya selalu ragu, tulisan saya layak gak sih dibaca orang? Paradigma tabu menshare tulisan "sampah" membuat kendala untuk memposting tulisan tiap hari. Padahal sebenarnaya setiap peristiwa yang dialami bisa dimaknai menjadi sebuah pelajaran, pasti ada hikmah disana. Bukankah dengan kita menuliskan sebuah peristiwa, dan di sana ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran bisa memberikan feedback positip buat pembaca dan menjadi ladang pahala buat kita?

Jadi jangan pernah ragu untuk menulis. Menulislah paling tidak untuk diri sendiri. Selain untuk self healing,  menulis juga bisa menyalurkan 20ribu kata perhari yang harus dikeluarkan oleh para wanita. Dan yang paling penting adalah dengan menulis bisa kita jadikan lahan untuk menebar kebaikan.
Jadi ... TETAP SEMANGAT!

Jika pertanyaannya, "Apa Bisa Saya Bertahan Di Kelas ODOP Bath5?" Maka akan saya jawab, "Saya harus bisa!". Karena apa? Karena disini saya memperoleh banyak ilmu. Karena disini saya dilatih istiqomah dalam menulis, harus menulis 300 kata setiap hari. Bukankah jika saya ingin menjadi ahli dalam menulis, saya harus menekuninya selama 10 ribu jam? Sebagaimana Teori 10 ribu jam yang dimuat dalam buku “Outliers” karya Malcolm Gladwell.

Sebuah keberhasilan dibutuhkan ketekunan dan kerjakeras bukan? Bukan datang dengan tiba-tiba dan bisa diperoleh secara instan. Bahkan pada orang-orang yang berbakat sekalipun, keahliannya baru akan berkilau setelah diasah dengan proses yang tidak sebentar. Jadi jika setiap hari saya menekuni dunia menulis dengan durasi 4 jam maka untuk bisa menjadi seorang ahli membutuhkan waktu kurang lebih 6,8 tahun . Waow bukan waktu yang sebentar. 




Senin, 12 Februari 2018

Sedikit Oleh-Oleh dari Stadium Generale

Minggu, 11 Februari 2018
Hari ini kami, aku dan suami menghadiri udangan stadium generale Kuttab Al-fatih Gresik. Niat kami insyaAllah akan memasukkan Uwais (anak kedua kami) kesana. Kuttab mungkin sesuatu yang asing buat masyakat kita sekarang. Padahal Kuttab adalah sistem pendidikan islam yang berhasil menjadikan islam berjaya beratus-ratus tahun lamanya. Dan banyak generasi islam yang sukses di usia belia. Kurikulum di Kuttab ini hanya ada dua yaitu keimanan dan Alquran. Setiap hari, anak mulai usia 5 tahun ditempa dengan ilmu masalah keimanan dan alquran. Tidak ada pelajaran bahasa inggris, tidak ada pelajaran IPS atau IPA. Toh jika ada ilmu alam hanya tempelan yang kebetulan hari itu, saat belajar Alquran membahas masalah tersebut. Ilmu berhitung hanya ilmu berhitung dasar.

Sekilas kurikulum di Kuttab ini adalah kurikulum yang anti mainstream. Karena kurikulumnya tidak seperti kurikulum di Diknas atau Depag, maka jangan berharap anak anda akan mendapatkan ijasah. Tidak ada ijasah disini, jika anak anda ingin melanjutkan ke jenjang sekolah yang resmi maka anda harus mengikuti ujian persamaan (kejar paket).
Dalam stadium general kemarin, pemateri menyampaikan sebuah Hadist, “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mencari dunia, maka pada hari kiamat ia tidak akan mendapatkan bau surga.”(HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan Ahmad; shahih).  Itulah mengapa di Kuttab tidak di anjurkan atau bahkan dilarang keras anak didiknya mengikti berbagai lomba atau kompetisi. Seperti lomba hafizh Quran atau sejenisnya karena hal itu bertujuan untuk menjaga niat dalam menuntut ilmu.

Gambar diambil dari Google
Sistem pengajaran yang masih tradisonal. Tidak menggunakan bangku, hanya lesehan di karpet atau tikar. Tempat duduk sang Guru di posisikan lebih tinggi. Mengapa demikian? Karena sejatinya seorang guru mempunyai izzah sebagai orang yang berilmu. Harus dihargai dan dihormati. Sangat kontras dengan kondisi sekarang bukan?  Akhir-akhir ini bertebaran di berita seorang murid yang berlaku tidak sopan dengan gurunya dan bahkan ada yang sampai membunuh gurunya. Padahal seseorang yang sudah tidak bisa menghargai seorang guru maka dia tidak akan merasakan manisnya ilmu.  

Teringat sebuah peristiwa di Madura, seorang Guru tewas karena di hajar muridnya. Apakah separah ini dunia pendidikan kita? Dimana adab seorang murid terhadap gurunya? Bukankah adab menuntut ilmu itu 2/3 dari ilmu itu sendiri? Dan bukankah seharusnya adab seorang murid kepada gurunya adalah dengan menghormati dan memuliakannya?

Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Qur’an, ahli Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan khalifah, orang yang punya keutamaan dan orang yang berilmu.” (al-Adab as-Syar’iah 1/408).
 Lalu coba tengok Nabi bersabda,“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama kami.” (HR. Al-Bazzar 2718, Ahmad 5/323, lafadz milik Al-Bazzar. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shohih Targhib 1/117)

Ya akhlak atau moral generasi sekarang yang harus dipertanyaakan. Di era semua serba Digital, kenapa moral nya semakin bobrok? salahnya dimana?
Seharusnya menjadi PR kita semua, bahwa menanamkan adab atau akhlak yang mulia adalah tugas semua, baik guru ataupun orang tua.  Mengapa akhlak sangat penting? Bukankah Rasulullah diutus oleh Allah untuk memperbaiki akhlak umatnya?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang Muslim berarti semakin kuat imannya.





Menunggu

Menunggumu ....
Didermaga ini..,
Seperti air mengalir dari hulu ke hilir...

Aku ikuti saja arusnya..
Senja, yang selalu setia menemaniku ...

Senja adalah pertanda...
menunggumu..



Banda Aceh, 5 oktober 2008

Minggu, 11 Februari 2018

Tips Agar Batita Mau Menggosok Giginya


Membiasakan anak-anak untuk mau menggosok gigi dengan teratur bukanlah perkara yang mudah. Tak semuadah melipat baju atau menyapu lantai. Dibutuhkan startegi yang handal bak seperti membuat startegi perang hihihi. Apalagi membiasakan menggosok gigi buat si kecil yang usianya dibawah 3 tahun. Penuh dengan drama jika sudah dikamar mandi. Mulai dari tutup mulut sampai dengan guyuran air yang membuat baju basah kuyup. Susahnya minta ampun, mengalahkan pusingnya membuktikan theorema pada saat kuliah dulu heheheh. persiapan dan peralatan tempur harus dipersiapkan dengan matang.

Berikut ini adalah Tips agar batita antusias saat menggosok giginya :

1. Persiapan pertama, Menyediakan berbagai macam media buku atau alat peraga.
Alat peraga yang sederhana saja, misal membuat busy book yang ada aktifitas mengogosok gigi. dengan memberikan panduan yang benar tata cara menggosok gigi diharapkan anak-anak mampu untuk menggosok gigi dengan benar. buku bergambar yang isinya mengenai pentingnya menggosok gigi, tentang sakitnya jika gigi berlubang atau penyakit mulut akibat dari tidak menjaga kebersihan gigi dan mulut. Terkadang dengan cerita menggunakan media buku dengan gambar berwarna atau alat peraga memiliki efek yang berbeda. anak-anak cenderung lebih menyukai pembelajaran yang atraktif dan inovatif.

2. Persiapan kedua, Memasang westafel di kamar mandi dengan kaca di atasnya.
Tujuannya adalah agar mereka tahu bahwa gigi mana saja yang harus disikat itu terlihat. Mau menggosok gigi sambil berkaca. Kaca itu akan memberikan cerminan bahwa gigi yang dalam juga kelihatan jika digosok. Jika tidak ada westafel cukup sediakan kaca di kamar mandi. Bagi balita anda yang suka mengaca pasti sangat antusias sekali jika aktifitas menggosok giginya terlihat dia di bayangan cermin. 

3. Persiapan ketiga, Mengajak si kecil pergi ke toko minimarket.
Bukan membujuknya dengan memberikan jajan atau es krim. Bukan. Tapi mengajak sikecil membeli sikat gigi pilihannya sendiri dan pasta gigi kesukaannya. Biasanya dengan bentuk yang yang lucu, dia akan bersemangat ketika menggosok gigi.

4. Langkah keempat, dampingi sikecil ketika mandi.
Langkah ini penting dan terkadang butuh sedikit kesabaran. Jika memungkinkan ajaklah si kecil untuk menyikat gigi Anda dan Anda menyikat giginya. Dengan bertukar peran terkadang membuat sikecil sangat senang dan antusias.

Demikian tips dari saya dan selamat mencoba.




RESENSI BUKU


Judul     : TALENTS MAPPING
                Inspirasi untuk Hidup Lebih Asyik dan Bermakna
Penulis  : Rama Royani
Genre    : Non Fiksi
Penerbit: Tosca
Jumlah Halaman : 208
No.ISBN : 978-602-74211-3-4



Setiap manusia diberi oleh Allah kelebihan dan potensi uniknya. Namun tidak semua orang bisa nemekuman apa bakat dan potensinya tersebut. Buku Talent Mapping ini memberikan gambaran kepada kita apa itu bakat. Bakat disini adalah sebagai sifat (personality) yang produktif. Dikatakan produktif bilamana suatu sifat (personality) dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menghasilkan sesuatu. Dan memetakan apa bakat dan kekurangan kita sehingga bisa disiasati.

Pada pembahasan awal kita akan diperkenalkan dengan prinsip aku. Aku yang pertama adalah mengandalkan kekuatan menjadi utama. kekuatan adalah hasil dari mengelola bakat.  Mengelola bakat perlu dibarengi dengan attitude (sikap), skill (Ketrampilan) dan knowledge(pengetahuan). Bakat yang dibarengi dengan sikap, ketrampilan dan pengetahuan akan melahirkan sebuah kekuatan pada dirinya. "Asahlah kapak pada sisi tajamnya", itulah ungkapan yang diberikan oleh Abah Rama sang penulis.
Pada prinsip AKU yang kedua, mengakui keterbatasan juga utama. Setiap orang di anugrahi oleh Allah kelebihan dan kekurangan. Jika seseorang mau mengakui  kekurangannya maka diharapkan mampu untuk menyiasatinya. Seperti logo dalam buku ini yaitu sarang lebah madu. Lebah madu mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bekerja sama dalam kebaikan. Menyiasati kekurangan dengan bekerja sama dengan orang-orang yang mempunyai kelebihan pada keterbatasan kita merupakan point utama dalam prinsip AKU yang kedua.
Fokus pada kekuatan, dan siasati keterbatasan. Dalam pengembangan kekuatan, ada rumusan yang harus dipegang agar menemukan jalan hidup yaitu 4E, Enjoy (asyik), Easy (Bisa), Excellent(Andalan) dan Earn (hasil).
Pada buku Talent Mapping ini, kita bisa mengindentifikasi potensi kekuatan kita yang didasari pada penemuan bakat yang kita punyai dengan melakukan assessment dihalaman yang sudah disediakan. Setelah melakukan assessment sebagai individual Discovery kita juga akan diajari cara membaca hasil assessment tersebut.
Buku Talents Mapping ini untuk siapa saja yang yang terpanggil untuk mengenali potensi dan menggali kekuatan diri, serta menyiasati keterbatasannya.

                                               
















;

Sabtu, 10 Februari 2018

Hujan dan Kenangan

Hujan..
Selalu saja kusuka...
Suaranya, hawanya,baunya...
Guntur bergemuruh bagiku bukan alam sedang murka..
Namun pertanda bahwa ia tunduk dan bertasbih pada-Nya..

Hujan selalu saja mengingatkanku pada kenangan-kenangan masa lalu.
Dulu aku selalu mengintip dari tirai dibalik jendelaku
Walaupun kenangan-kenangan itu tak akan pernah sama,

Tapi bagiku suara nya di atap rumah adalah nada nada yang tak pernah terlupa.

HARAPAN

"Ummi, tau ga? Masak temenku kalau besar pengen jadi penari jaranan, Aneh gak Mi?” Tanya Rizwan dalam family forum kami.

 “Ga ada yang aneh, sah-sah saja", jawabku.

 “Tapi kan cita-cita itu biasanya hal-hal yang besar, misal jadi tentara, dokter, pilot, gitu mik!”, protesnya.

 “ Lo mas, emang kalo cita-cita jadi penari jaranan ga hebat?, dia bisa menari keliling dunia, memperkenalkan seni dan budaya indonesia, menari di depan presiden kan hebat! "

"Bukan menari jaranan yang kesurupan dari kampung ke kampung, bukan. Bukan maksud Ummi juga merendahkan profesi penari jaranan, tapi mungkin teman mas Rizwan pengen menjadi penari internasional yang mengenalkan seni budaya indonesia.”

“Kalau kayak fizi, temennya Upin Upin, dia pingin jadi tukang sampah gimana Mik?”

 “Boleh, boleh saja ... yang penting mimpi itu harus tinggi, kalau seseorang suka dengan pekerjaan bersih-bersih dia bisa jadi pengusaha yang bergerak dalam bidang jasa cleaning service, kan bisa membuka lapangan usaha buat orang lain?! Atau mau jadi pengusaha sampah juga bisa, pengepul ronsokan banyak yang sukses. Intinya profesi apapun asal halal, kalau dikerjakan dengan hati, sungguh-sungguh dan kerja keras akan memberikan hasil yang maksimal”. Jawabku.

 “profesi yang paling bagus itu da’i ya mik?”, tanyanya.

“ hmm ...  Menyampaikan kebenaran dan nilai-nilai islam kewajiban setiap orang kan? untuk menjadi seorang pendakwah kan ga harus ngomong dipodium atau mimbar kan mas? Jadi apapun nanti, Ummi sama Ayah berharap kamu bisa mengajak  kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai ajaran islam. Kalau mau jadi tentara ya tentara yang sholeh, dokter yang sholeh, guru yang sholeh, wah syukur syukur bisa jadi da’i kayak dr. Zakir naik." Senyum simpul mengembang di bibirku.


***

Setiap orang tua pasti memiliki harapan yang besar buat anak- anaknya! Ingin Anaknya bisa sukses di kehidupannya yang akan dia jalani nanti. Tapi terkadang orang tua lupa sukses dunia tak memberikan jaminan bahwa dia bisa membahagiakan orangtuanya di akhirat.
Bukankah hanya doa anak yang sholeh yang bisa menjadi penolong orang tuannya kelak di akhirat?


Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)


Kamis, 08 Februari 2018

BERSYUKURLAH!

Terkadang kita lupa, bahwa ada orang yang menginginkan kehidupan seperti kita. Sedangkan kita malah sibuk dengan kegalauan hati yang selalu merasa kurang.
Pagi ini seperti biasa, setelah mengerjakan rutinitas harian, aku membuka gawaiku untuk menghilangkan sedikit lelah. Ada sebuah pesan WhatsApp yang masuk di layarnya. Ternyata whatsApp dari teman lama, teman SMAku dulu. Sudah 3 tahun dia bekerja di Jakarta, belum menikah. Dia mengabarkan kepadaku bahwa minggu depan dia akan berangkat keluar negeri untuk tugas belajar, ya …  dapat beasiswa ke salah satu Universitas di Brimingham Inggris. Seketika itu perasaanku campur aduk, ada rasa bahagia, ada rasa resah, ada perasaan minder, perasaan bahwa aku bukan siapa-siapa.

Dulu dia adalah sahabatku. Kemana- kemana kita bersama hingga kita memutuskan untuk kuliah ditempat yang berbeda, disitulah kami berpisah. Dan kini kami memilih jalan yang berbeda. Setelah lulus kuliah aku menikah dan memilih karir di dalam rumah, sedangkan dia, bekerja di sebuah instansi pemerintah di Jakarta. Lamunanku kian mengelana, berbagai macam lintasan peristiwa hadir dalam pikiranku.
Selamat ya, seneng dengarnya.  Aku tulis pesan itu.
Kamu kapan-kapan tengokin aku kesana ya, nanti kita jalan- jalan keliling Eropa. Balasannya.
Hmm … iya kalau sempat ya, kamu kan tahu aku sekarang tak seperti dulu, kemana- mana bawa pasukan banyak! Andai aku dulu tak menikah mungkin sekarang juga mengelana entah kemana, seperti kamu. 
Jangan begitu, terkadang aku malah iri melihatmu. Dia membalas.
iri denganku?  
Iya … kamu punya semua yang aku belum punya. Punya keluarga, punya anak yang lucu. Aku yang terkadang merasa sendiri di sini. Merasa kesepian.
Jariku seperti kaku, aku tak tahu harus membalas dengan tulisan apa?
Dia merindukan kehidupanku? Mempunyai suami dan keluarga kecil, sederhana sekali.
Kamu baik-baik di negeri orang ya! hati-hati.
Akhirnya kata-kata itu yang kukirim, karena aku sudah speechless, tidak tahu harus menulis apa.

Ya … semua orang menjalani ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan jodoh, dengan pasangan, dengan anak, dengan keuangan, dengan pekerjaan, dengan kesehatan.  Dan setiap orang menjalani ujian-ujian itu dengan berbeda versi dan porsi.

Lantas kenapa kita merasa paling merana di dunia ini? Bukankah semua juga menjalani ujiannya?
Mungkin pola pikirku yang harus dirubah, harusnya aku tidak meratapi kekurangan. Tapi memulai dari rasa syukur. Mensyukuri apa yang aku punya.

Aku punya keluarga kecil yang bahagia. Suami yang baik dan bertanggungjawab. Anak-anak yang sehat, pintar dan isyaAllah shaleh. Aku sehat tidak kekurangan apapun. dan aku memiliki nikmat iman dan islam, bukankah itu nikmat yang terbesar yang harus di syukuri?

Aku punya Allah yang menggemgam seluruh alam semesta ini. Apa yang susah buat Allah?
Jika Dia berkehendak, kun fayakun, maka seluruh alam semesta akan bergerak untuk mewujudkanya.
Bukankah dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya?

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim:7)




Selasa, 06 Februari 2018

Curhatan Emak-emak Jaman Now

Bagi emak-emak curhat adalah bentuk dari penyaluran kekesalan yang dialami. Meskipun dengan curhat tidak menemukan solusi dari masalah yang dihadapi, namun dengan mengungkapkan apa yang dirasakannya adalah salah satu terapi yang bikin plong
Dulu curhat adalah identik dengan rahasia. Para Emakers akan curhat kepada seseorang yang dia percaya, namun fenomena yang berkembang sekarang adalah mereka sepertinya lebih suka curhat ke media sosial, dengan menulis status atau dengan mengunggah video. Lalu kalau begini kan sudah tidak jadi rahasia lagi ya? semua orang bisa mengakses?.
Jadi teringat beberapa minggu yang lalu tentang video yang lagi viral di media sosial, Emak Alfa. Beliau curhat bahwa suaminya kurang perhatian.(hmm... masalah yang hampir sama dihadapi ibu-ibu rumah tangga). Suami kurang perhatian juga menjadi tema curhatan seorang ibu, yang kecewa dan dalam video tersebut beliau melepaskan semua burung koleksi milik suaminya.
Terkadang juga para emakers menulis status di linamasa facebooknya, isinya tentang curhatan karena bermasalah dengan tentangga, cucian gak kering karena hujan hingga curhatan yang bersifat pribadi. Atau mungkin seperti yang saya lakukan, curhat di blog sambil belajar menulis, hehehehe
Semuanya sih sah sah saja ya, asal...  sebisa mungkin tidak melanggar etika, supaya tidak terkena konsekuensi hukum, baik hukum positif maupun sosial. Hukum positif itu adalah aturan atau undang-undang yang berlaku di Indonesia, seperti undang-undang ITE dan Pornografi. Sedangkan hukum sosial nya adalah hukuman yang diberikan masyarakat atau nitizen, bisa berupa pembullyan atau semisalnya.  Karena apapun tulisan/ video yang kita posting ke media sosial adalah menjadi konsumsi publik. Ada dampak positif dan negatif apalagi yang berkaitan dengan orang lain. 
Dampak baik dari curhat di media sosial misalnya dapat menjadi kontrol sosial bagi orang lain. Kontrol sosial yang dimaksud adalah saat seseorang tidak tersentuh oleh ranah hukum tapi pelakunya mendapat ganjaran oleh masyarakat. Sepanjang yang disampaikan adalah fakta dan memiliki barang bukti . Seperti curhatan seorang emak yang mengupload  percakapan via aplikasi whatsApp antara dirinya dengan seorang perempuan yang diduga sebagai pelakor. Atau juga curhatan emak Alfa ternyata membuat dia mendapat hadiah voucher belanja dari minimarket Alfamart.
Namun meskipun memiliki dampak positif, ternyata curhat ke media sosial juga mempunyai dampak negatif. Dampak negatif itu antara lain telah mengumbar aib atau kondisi yang tidak baik soal orang lain dan diri sendiri. Jangan sampai curhatan kita  itu kemudian melanggar hukum seperti hukum pencemaran nama baik atau mengumbar kebencian.
Sebenarnya masalah pribadi tidak perlulah di umbar ke publik karena kalau benar kan sudah menjelek-jelekkan yang diunggah di akunnya dan juga menjelek-jelekkan dirinya sendiri. Mungkin tabayun atau islah bisa jadi solusi. Kalau merasa di dzolimi serahkan sama Allah, ini peluang kita untuk bisa berdoa yang banyak, bukankah doa orang yang terdzolimi dikabulkan?
Walaupun ajang curhat di media sosial terbilang biasa, namun ada hukum yang perlu diperhatikan supaya tidak melanggar hak orang lain juga kan?
Jadi para emakes hati-hati ya... ,kalau curhat di media sosial, di filter dulu sebelum di publikasikan. kalau dulu adalah mulutmu harimaumu tapi kalau sekarang  jarimu harimaumu. hehehe

So be wise ya emakers
.

Minggu, 04 Februari 2018

PERSEPEKTIF LAIN TENTANG PROFESI IBU RUMAH TANGGA


Pada dasarnya semua ibu adalah pekerja. Ada yang memilih fokus bekerja di ranah publik namun ada juga yang fokus  berkerja di ranah domestik. Jadi menurutku sudah tidak jaman lagi ya mem-versus-kan keduanya, antara ibu pekerja diranah publik dengan ibu rumah tangga. keduanya mempunyai peran peradapan masing-masing, keduanya sama-sama mulia. Keduanya mempunyai tantangan yang berbeda.  Namun  kali ini, aku akan membahas tentang ptofesi ibu rumah tangga.
Banyak orang mencibir profesi yang satu ini. Mengganggap bahwa profesi ibu rumah tangga adalah profesi yang tidak berkelas, tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi dan menganggap bahwa semua orang pasti bisa. Sekilas memang profesi ini begitu mudah dijalani. Tak perlu keahlian khusus, tapi apakah memang begitu kenyataannya?
Tidak sedikit wanita yang bergelar sarjana memilih profesi ini, mendapat pandangan yang sumbang dari masyarakat atau keluarga besarnya. Mereka menganggap bahwa sayang sekali ijasah yang dengan susah payah di raih kini hanya tersimpan rapi dalam lemari. Anggapan "sayang ilmunya" membuat stigma negatif bahwa profesi ibu rumah tangga tidak perlu pendidikan tinggi. tapi apakah memang begitu?.  
Mendidik anak adalah tugas orang tua, baik ayah ataupun ibu, baik ibu pekerja ataupun ibu rumah tangga. Seorang ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya di habiskan dirumah, maka konsekuensi logisnya adalah dia punya banyak waktu bersama anak-anak mereka. Bermain bersama atau menemaninya untuk tumbuh dan berkembang. Menemani anak-anak untuk melakukan kegiatan yang positif, aktifitas yang sesuai usianya, yang mendukung tumbuh kembangnya, bukankah membutuhkan kreatifitas dan pengetahuan atau ilmu yang tidak sedikit?! 
Kalau parameternya dunia, maka profesi ini seperti tidak berkelas. Sebagian besar yang menekuni profesi ini (meskipun tidak semuanya ya) daster jadi seragam andalan, tidak perlu gincu, setiap pagi tidak perlu berdandan rapi, bersepatu (padahal seharusnya juga harus berdandan rapi mengantar suami pergi kerja?). Tidak ada kenaikan pangkat, tidak ada promosi jabatan, uang lembur, atau perjalanan dinas keluar kota.
Tapi coba parameternya berubah, orientasinya diubah, dari dunia menjadi akhirat. pasti tidak menganggap remeh profesi ini. seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan dirinya untuk keluarga, anak dan suami adalah pekerjaan yang mulia. Membentuk generasi dari dalam rumahnya, menjadikan manusia-manusia yang mempunyai peran dalam peradabannya adalah tugas yang harusnya tidak di pandang sebelah mata. ibu sebagai arsitek peradaban. You teach a man:you teach a man, you teach a women ; you build a generation.
Lalu apakah benar tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi?  Seorang ibu yang mempunyai tugas sebagai arsitek peradaban pasti membutuhkan ilmu yang banyak khususnya tentang pengasuhan. Apalagi tantangan jaman yang semua serba digital, semua  mudah dilakukan dengan sentuhan jari, pasti membutuhkan ketrampilan dan ilmu yang tidak sembarangan. Mendidik anak menjadi seorang yang tau tentang dirinya, tentang tuhannya pasti membutuhkan ilmu yang tidak main-main. ibu yang cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas.
Apakah mudah dijalani? Cobalah tengok kondisi para ibu rumah tangga. Mereka harus berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya. Terkadang kadar kewarasan yang mereka punya ada pada titik terendah. Kalau sudah begini apa yang akan terjadi? Pasti berakibat kekacauan dalam rumah, jadi uring-uringan. Jika seorang ibu yang kondisi emosinya tidak stabil, maka seluruh anggota keluarga pasti kena dampak yang luar biasa. Kena marah kan? hehehehe. Makanya akhir-akhir ini banyak bertebaran tagline  di media sosial Happy mommy happy family.
Saya punya seorang sahabat, dia dulu adalah seorang ibu pekerja di ranah publik. Pengajar di Universitas Airlangga Surabaya dan kini memilih menjadi profesi ibu rumah tangga murni. Apa yang terjadi? berbagai macam perasaan berkecambuk dalam dirinya. Dia merasa Useless, tidak produktif, rendah diri, mimpi-mimpinya serasa terbang tinggi meninggalkannya dan berbagai macam perasaan negatif lainnya. Apakah memang begitu? bagi saya dan sebagian besar ibu rumah tangga yang berijasah sarjana pasti berat jika melihat ijasah yang dengan susah payah di raih kini tersimpan rapi dalam lemari, ada ego yang harus ditaklukkan, dibutuhkan keikhlasan. Mengubah prioritas tujuan, dari siapa aku menjadi apa yang bisa aku lakukan. Bahwa orientasinya nya diubah dari dunia menjadi akhirat. bukankah anak-anak yang sholeh adalah investasi akhirat yang tidak ternilai harganya?
Sekali lagi kalau orientasinya dunia, maka ibu rumah tangga sepertinya tidak mempunyai ruang untuk berprestasi dalam hal duniawi, tidak ada hal besar yang bisa dibanggakan dari dalam dirinya. Namun para ibu rumah tangga seperti saya, bisa menekuni hobi. Mungkin dari hobi itu tergali sebuah potensi bakat yang dimiliki, dan dari potensi bisa menjadi sebuah kekuatan. Dengan kekuatan potensi inilah bisa menjadi citra positip bagi dirinya. 
Selayaknya manusia pada umumnya, seorang ibu rumah tangga pasti di anugrahi oleh Allah potensi uniknya, yang menjadikan potensi itu sebagai peran didalam kehidupan. Jadi ibu rumah tangga juga butuh diberi ruang untuk bisa mengembangkan hobi dan potensi.

SURAT CINTA UNTUK UWAIS

Malam itu, 31 januari 2013 perutku merasa mulas, tanda-tanda akan melahirkan pun semakin jelas. Aku nyakin entah malam ini atau besok pagi, bayi dalam kandunganku pasti akan lahir. Kulirik tas yang tergeletak di pojok kamar, tas untuk persalinan. Tas itu berisi baju bayi, baju gantiku, kerudung dan sarung. Sebenarnya perasaanku tak setegang melahirkan anak pertama dulu, cuma ada yang menganjal pikiranku, sekarang pukul 23.30 wib bagaimana jika bayi ini tak sabar ingin bertemu dengan ibunya? Kami naik apa ke rumah bidan yang jaraknya lumayan jauh? Tidak mungkin kami naik motor, motor itu pasti overload karena ada aku, ayahnya dan Rizwan anak pertama kami. Sedangkan mencari taksi tengah malam begini, apa ada ?. 
Ku elus-elus perutku, kukatanya padanya, “Nak keluarnya besok pagi saja ya, agak pagian!”, pintaku. Mules itu bertambah namun durasinya masih lambat.

Tanggal 1 Februari 2013. pukul 03.15 wib.
Darah segar itu sudah nampak. “Mungkin ini waktunya aku harus pergi”, gumamku dalam hati. Tas di pojok kamar itu kuraih, suamiku yang sudah siap dari tadi menstater motornya untuk mencari taksi. Dalam perjalanan, perutku bertambah kontraksinya. Dan sepertinya supir taksi itu tau bagaimana kegundahanku, aku takut melahirkan dalam taksi ini. Dengan kencang dia kemudikan mobilnya.

Pukul 06.00 wib Bulak kapal Bekasi.
“Masih bukaan 3 bu”, kata bidan itu kepada ku. “Mungkin sejam atau dua jam lagi, ibu tunggu di sini saja ga usah pulang”.
Ku elus perutku, “Anak Pintar, nanti bantu ummi ya nak! Ummi juga sudah ga sabar ketemu sama kamu”. 
Kontraksi itu semakin lama semakin sering. Tulang ekorku seperti ditarik dan mau putus rasanya, sakit sekali. Melihat ibunya yang meringis kesakitan, Rizwan (yang waktu itu masih berusia 4 tahun) mengelus-elus perutku.
“Sabar ya ummi, adik Rizwan mau keluarkan?”, tanyanya.
kujawab pertanyaan itu hanya dengan anggukan kepala.

Pukul 10.00 wib.
Kontraksi nya semakin sakit dan jeda waktunya semakin sering, dari pengalaman melahirkan sebelumnya aku tahu bahwa bayiku mau lahir ke dunia. 
“Ayah tolong panggilkan bidannya”, pintaku dengan berbisik.
Bu Bidan pun datang, setelah diperiksa akhirnya aku di bawa ke ruang bersalin. 
“Rizwan tunggu diluar ya, ayah jagain ummi mengeluarkan adiknya”, sayup-sayup kudengar suamiku bicara dengan anak sulungku.
Disela rasa sakitku, kulantunkan doa dan pujian untuk-Nya. Yang katanya ini adalah pertaruhan nyawa seorang ibu untuk anaknya. air ketubanku pecah dan inilah saatnya perjuanganku dimulai. Berkali-kali aku mengejan tapi mengapa dia tidak jua mau keluar? 
“Ayah... , aku sudah ga kuat”, kataku, aku menyerah.
“Bentar lagi ummi, bentar lagi… , semangat ya!”, memotivasiku sambil menggemgam tanganku. 
“Ayo bu… Mengejannya pake tenaga perut ya, ga usah bersuara. Sebentar lagi kok, sudah  kelihatan kepalanya”, kata bidan itu menyemangatiku.

Dan akhirnya lahirlah dia dengan persalinan normal, Uwais nama yang kami berikan untuknya. panjangnya 50 cm dengan berat 3,8 kg. karena bayinya besar, pundaknya selalu nyangkut ketika hendak keluar, itulah mengapa mengejan berkali-kali tapi tidak kunjung lahir. Dari ketiga persalinanku, melahirkan uwais adalah yang paling sakit dan membutuhkan perjuangan yang panjang.



*********** 
 Kini bayi yang dulu susah di lahirkan, hari ini tanggal 1 februari 2018 genap berumur 5 tahun. Harapan kami sebagai orang tua, kami ingin kamu seperti sosok namamu, Muhammad Uwais Al-qarny. Muhammad seperti sosok rasul Allah,bahwa kamu umatnya nabi Muhammad, harus meneladi kehidupan dan akhlak beliau. Sedangkan Uwais  adalah pemuda dari Qarn, seorang pemuda yang tidak dikenal oleh penduduk bumi tapi terkenal oleh penduduk langit. pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. 





Tulisan ini aku persembahkan buat uwais anakku... 
(bahwa ibunya pernah menulis ini untuknya)


Sabtu, 03 Februari 2018

NAURA


Namaku Naura, biasa di panggil Na. Aku tinggal di Aceh Besar, kecamatan Lhoong, gampong Keutapang namanya. Gampongku mempunyai pemandangan yang indah, hamparan laut lepas dengan pengunungan yang hijau. Pantainya masih perawan, deretan pohon pinus dan kelapa membuat keelokannya semakin menawan. Gampongku berada dekat dengan laut hanya berjarak kurang lebih 500 meter dari bibir pantai dan  ada beberapa bukit  batu di sana. Bukit batu yang kini dijadikan tempat evakuasi jika terjadi tsunami. Karena jaraknya yang dekat, maka tahun 2004 terkena dampak gempa dan tsunami.

***************

Minggu, 26 Desember 2004. Seperti hari minggu biasanya, aku dan adikku akan bermain layang-layang di belakang sekolah kami. Ya... meskipun aku seorang perempuan tapi aku suka bermain layang-layang.
“ Na... kamu tuh anak inong, kenapa kok main layang-layang? Sini bantu mamak, masak sayur pliek ue kesukaanmu!,"protes mamak ku pagi itu.
“Sudahlah mak Cuma hari ni aja, nanti kalau sudah siap, Na bantu mamak cuci baju!",  bujukku.
“Ya sudahlah, tapi sebelum berangkat, tolong kau panggil bapak mu di kedai kopinya bang Fadli, suruh pulang, bapak kau ini betah banget kalau sudah di kedai," jawabnya. Yes kataku dalam hati, berarti negoisasiku berhasil.
Di kamar, adikku sedang membaca buku sambil tidur-tiduran. Setelah berhasil membujuk mamakku, aku segera masuk ke kamar memanggil adikku dan mengambil perlengkapan layang-layang kami. Layang-layang itu berada di kolong tempat tidur.  Namun seketika itu tempat tidur  bergoyang, kulihat sekeliling, pigora poto, hiasan dinding juga bergerak. Mataku melihat jam dinding, dan jam itupun bergerak dan kulihat saat itu pukul 7.58 wib. Adikku yang yang tidur-tiduran di kasur pun panik.
“Gempa”, kataku.
Namun gempa kali ini berbeda dengan gempa yang biasa kami alami. Goncangannya sangat kencang dan durasi waktunya lebih lama dari biasanya.
" mamak... !", teriakku. Aku berlari sambil menggandeng adikku keluar rumah. Di luar sudah banyak orang berhamburan. Gurat  ketakutan tergambar jelas di wajah mereka. Berbagai macam kalimat tasbih mereka ucapkan. Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter telah mengguncang jiwa kami. Semua orang ketakutan, semua orang panik.

Belum reda ketakutan itu, kulihat gelombang air laut setinggi pohon kelapa menggulung-gulung  menuju kami. Air itu seperti monster raksasa yang  mengejar. Tinggi dan sangat menakutkan. Kami berlari sekencang mungkin tapi apa daya, monster itu jauh lebih ganas. Hingga akhirnya kami pun tersapu. Air laut yang menghantam kami, membuat kami berpisah. Badanku seperti di makan monster air itu, mataku melihat ada banyak orang didalamnya, tapi tidak kutemukan keluargaku. Orang-orang itu, bergerak- gerak seolah-olah mencari di mana permukaannya. Kucoba menghirup udara tapi aku malah menelan air, perutku kembung kurasa sudah banyak air yang masuk.

Dengan sekuat tenaga ku kerahkan  agar aku bisa muncul kepermukaan, menghirup udara. Sayup-sayup kudengar suara adikku dikejauhan Sebelum dia menghantam pintu rumah yang mengambang di air, kulihat dia, dia berteriak minta tolong. Setelah itu, dia menghantam kayu lagi, lalu dia lemas tak berdaya. kejadian itu terekam jelas dalam ingatku. Aku tersapu ombak lagi, gelap lalu tak sadarkan diri.

**********

Di bukit belakang gampong aku ditemukan, tersangkut di sebuah pohon. Kata orang-orang badanku lemas dan telanjang. Setelah peristiwa itu, semua orang menganggap aku gila. Aku tidak gila, aku hanya histeris ketika lintasan peristiwa tsunami itu melintas. Aku suka tertawa sendiri ketika teringat kenangan  dengan keluargaku. Atau aku akan menangis karena aku rindu sekali dengan bapak, mamak dan adik ku. Hanya itu, dan hari-hariku hanya ada bayangan kenangan itu. Sejak kejadian itu, aku tidak pernah bicara dengan siapapun.

Kini sudah hampir 2 tahun sejak peristiwa gempa dan tsunami. Warga gampongku mendapatkan rumah bantuan  dari pemerintah Turki, dan sekarang aku tinggal bersama bibiku. Rumah bantuan itu dibangun tidak jauh dari gampongku dulu.
Setiap hari hatiku pilu ketika aku lihat rumah ku tinggal sisa- sisa pondasinya. Tak kutemukan siapapun disana, Emak,bapak dan adikku mana? Bisik ku. Namun tiba-tiba aku teringat adikku. Adikku yang pontang-panting dihantam air dan terbentur kayu, seketika itu aku berteriak, aku teringat gelombang air raksasa itu yang setinggi pohon kelapa. Menyeramkan sekali.

"Tidak... !", teriakku.
Aku berlari sekuat tenaga, menuju arah pantai, aku mau mencari keluargaku tapi tak juga kutemukan siapa-siapa, sepi... hanya ada gerombolan sapi yang yang bertuan tapi dibiarkan. 
Lalu aku pergi menuju bekas sekolah kami, siapa tau adikku bermain layang-layang. Tapi lagi-lagi tidak kutemukan, sekolah itu sama dengan bekas rumahku dan rumah warga lainya hanya tinggal pondasi dan lantai kamar mandinya. Semuanya membisu dan sepi, hembusan angin menyapu wajahku, luka hatiku terasa getir sekali.
"Kemana keluargaku? Aku ingin bertemu mereka!".
 Lalu aku teringat kala itu  mamak menyuruhku untuk menjemput bapak, ya... di kedai bang Fadli. Dengan penuh semangat aku menuju kesana, tapi lagi-lagi aku kecewa, hanya tanah kosong yang kini banyak ditumbuhi rumput dan tumbuhan pantai. Selalu saja begitu, selalu berulang, gelombang air raksasa itu, wajah adikku, aku lari kepantai, ke sekolah lalu ke kedai bang Fadli dan lagi-lagi berakhir dengan kesedihan.

*********
Malam ini susah sekali kupejamkan mataku, suaru gemuruh ombak laut itu mengusikku. Malam ini keputusan bahwa aku akan mencari keluargaku, ayah ibu dan adikku. Aku sudah tidak tahan dengan rindu yang semakin menderu.
Dengan pelan-pelan aku buka pintu rumah bibi. Malam ini terasa lebih dingin dari malam biasanya. Aku akan ke bukit, aku nyakin keluargaku pasti ada di sana, tersangkut di salah satu pohon seperti yang dulu aku alami.
Dengan langkah panjang kunaiki bukit ini,  bukit yang sama dimana dulu aku di temukan.  Bukit ini kini mempunyai tangga dan bertuliskan, "jalur evakuasi" terpasang di papan. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan keluargaku. Satu persatu  ku naiki anak tangganya,  namun tiba-tiba seperti ada langkah lain selain langkahku. Semakin Aku percepat langkahku, langkah itu juga semakin cepat. Rasa takut tak bisa disembunyikan. Aku takut langkah itu akan mencelakai keluargaku. Aku harus menemukan mereka sebelum langkah itu menemukannya.
Langkahku semakin kupercepat, kunaiki tebing ini dengan setengah berlari, tapi tiba-tiba kakiku terpeleset, badanku berguling-guling kebawah dan kepalaku berkali-kali membentur anak tangganya. Aku terpelanting jatuh kebawah, sebelum tubuhku menghantam tanah, kurasakan kepalaku membentur batu. Seketika itu aku melihat senyum adikku, lalu semua menjadi gelap dan tubuhku serasa melayang, sangat ringan.


#Tantangan2
#onedayonepost
#ODOPbatch5










Kamis, 01 Februari 2018

ACEH BAGI KAMI


Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia. Terletak di ujung utara pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. 
Nangroe Aceh Darussalam adalah sebuah daerah yang mempunyai nilai historis yang berkesan dalam hidupku, ada kisah kami, aku dan suami.  Aceh adalah sebuah tempat yang menjadi saksi bahwa kita pernah di sana untuk saling mengenal, berbagi, saling belajar, belajar mencintai, belajar menyayangi. Hingga kita tahu bahwa kita diperkenalkan di tempat ini, adalah bukan sesuatu yang kebetulan. Ada “sutradaranya", ada jalan ceritanya, yang membuat “film" kita begitu bermakna.


Aceh… suatu tempat yang luar biasa, pemandangan yang begitu indah. Lautnya, bukit nya, tata kotanya, masyarakatnya, suasananya, kebiasaanya, dan budayanya.

Perpaduan yang begitu apik. Bak not not sebuah nada yang menjadikan lagu itu menjadi begitu merdu.

Masyarakatnya seperti masyarakat melayu pada umumnya, yang para lelakinya suka ke kedai kopi setiap pagi, maka tidak heran jika di Aceh, banyak sekali ditemukan kedai yang hanya menjual kopi dan jajanan. Apalagi kalau musim bola pasti semua kedai bakal penuh  karena nonton bareng.
 Di kedai kopi sebenarnya bukan hanya melulu minum kopi, tapi di sini kita akan dapati banyak sekali kegiatan, tukar informasi, mengomentasi masalah politik, keadaan negara, keamanan, pekerjaan atau mungkin masalah keluarga , mungkin ?! Hehe

Dulu kalau kita ke mana-mana pasti selalu bawa buku nikah kawan, karena takut di razia polisi syariah. Karena Qonun yang berlaku, sepasang laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri akan diciduk, kalau sudah 3 kali  dinikahkan. Bagaimana ada yang mau coba? Jangan ya. Hehehe

Bagi lidah jawa seperti ku, awalnya butuh adaptasi untuk merasakan kuliner aceh, karena bumbu masakannya sangat khas, rempah-rempahnya sangat kuat. Tapi aneh nya lama-lama aku menyukainnya. Ada bumbu bumbu masakan yang hanya orang aceh mungkin yang tahu, seperti asam sunti, sayur plie ue, hmm apalagi ya?!
Intinya i love aceh, love budayanya, love kulinernya, alamnya pokoknya i love Aceh full lah. Karena telah memberikan dimensi baru dalam hidupku.