Senin, 19 Februari 2018

Dapur

Poto dari Google
"DAPUR” adalah salah satu spot dirumah yang sangat familiar bagi seorang ibu. Bisa dibilang tempat kerjanya seorang perempuan. Walaupun memasak bukan kewajiban seorang istri bukan?


Tapi dari dapur inilah, seorang ibu bisa menyampaikan rasa sayangnya lewat masakan. Betul? Katanya memasaklah dari hati, pasti beda rasanya. Ungkapan tersebut saya kira tidak berlebihan, karena saya juga sudah mengalami, jika hati lagi ga enak atau marah, alamat masakannya bakal aneh. Iya ga? Hayo sapa yang pernah merasa begini?! Hihihi

Namun bagi saya, kegiatan memasak bukanlah kegiatan yang didominasi perempuan, para lelaki harus mau dan mampu di area dapur. Karena apa? Karena sesungguhmya dalam islam seorang suami berkewajiban untuk menyediakan makanan, yang selama ini dianggap domain tugas seorang istri.

4 mazhab besar plus  satu mazhab lagi yaitu mazhab Dzahihiri semua sepakat mengatakan bahwa para istri pada hakikatnya tidak punya kewajiban untuk berkhidmat kepada suaminya. Misal mazhab Hanafi, Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai’ menyebutkan : Seandainya suami pulang bawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, lalu istrinya enggan untuk memasak dan mengolahnya, maka istri tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membaca makanan yang siap santap.

Di dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah disebutkan : Seandainya seorang istri berkata,”Saya tidak mau masak dan membuat roti”, maka istri itu tidak boleh dipaksa untuk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santan, atau menyediakan pembantu untuk memasak makanan.

Atau Mazhab As-Syafi’i , yang banyak dianut di Indonesia, di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah, ada disebutkan : Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya, karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban.

Meskipun kalau kita membaca kitab Fiqih Kontemporer Dr. Yusuf Al-Qaradawi, beliau agak kurang setuju dengan pendapat jumhur ulama ini. Beliau cenderung tetap mengatakan bahwa wanita wajib berkhidmat di luar urusan seks kepada suaminya. Dalam pandangan beliau, wanita wajib memasak, menyapu, mengepel dan membersihkan rumah. Karena semua itu adalah imbal balik dari nafkah yang diberikan suami kepada mereka.

Namun satu hal yang harus kita ingat, beliau tetap mewajibkan suami memberi nafkah kepada istrinya, di luar urusan kepentingan rumah tangga. Artinya, istri mendapat 'upah' materi di luar uang nafkah kebutuhan bulanan.

Lalu cobalah tengok tentang  kehidupan Rasulullah di rumah, Aisyah r.a, istri Nabi SAW pernah ditanya, “Apa yang dikerjakan Rasulullah di rumah?” Aisyah menjawab, “Seperti layaknya manusia biasa. Beliau menambal bajunya, memerah susu kambingnya, dan mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya.” (HR. Ahmad dan Tirmizi). Itulah yang di teladankan rasul Allah dalam aktifitasnya sehari-hari. Dan itu artinya Rasulullah sangat mandiri, beliau tidak bermental mau dilayani. 

Oleh karena itu, kepada ketiga jagoanku, mulai dari kecil, saya tidak segan-segan memperkenalkan wilayah dapur buat mereka eksplorasi. Harapan saya, kelak jika mereka sudah besar bisa mandiri…  Tak sedikit-sedikit minta dilayani. Bukankah itu type suami idaman? Selain dari kesholehan? Hehehe... kreteria orang beda-beda ya, itu sih terserah anda mau yang bagaimana.

Sabtu, 17 Februari 2018

Rindu


“Haysa... ada telepon untukmu!”, suara ibu dari ruang tengah.
“Iya Bu.” Dengan langkah gontai aku menuju tempat dimana telepon itu diletakkan.
“Assalamualaikum”, sapaku membuka pembicaraan.
“Haysa ... aku... mau minta maaf”, suaranya gemetar dari ujung telepon. Namun aku tahu siapa dia, aku kenal betul dengan suaranya.
“Mas Fikri, ada apa mas?” tanyaku. Namun tanya itu tidak menemukan jawabannya.
Tut... tut...tut... sambungan telepon itu mati

***
Pagi yang sepi, tak ada suara kecuali bunyi burung-burung pipit menyambut pagi. Semburat warna merah dan sedikit jingga menghiasai langit yang siap menyambut matahari. Hatiku masih membeku karena tanya semalam. Tanya itu telah merenggut nyenyaknya tidurku. Hembusan angin yang terasa dingin saat mnyetuh kulitku nyatanya tak sanggup mengusir kegelisahan dalam hati.

Pagi ini kubulatkan tekad untuk menemui pemuda itu. Pemuda yang sudah kukenal 2 tahun lamanya. Berawal dari perkenalan yang tak disengaja di dalam sebuah bandara. Dan selama 2 tahun ini, dia telah mewarnai hidupku. Dia telah mengajariku banyak hal, tentang kehidupan, tentang bagaimana menjalani hidup bahkan tentang ketuhanan.

Metromini yang kini kutumpangi terasa lambat sekali jalannya. Penumpangnya bergantian, ada yang naik dan ada yang turun. Dari wajah mereka nampak seperti enggan untuk melewati hari ini, meskipun ada juga wajah-wajah yang sangat sumringah. Hingga sampailah dimana tempat yang aku tuju.

Rumah itu masih nampak seram bagiku. Bangunannya masih arsitektur bangunan tua, dengan jendela besar di depannya. Nampak angkuh sekali dengan warna putihnya. Tapi kenapa rumah itu sepi. Pintunya yang terbuat dari jati tertutup, begitu juga dengan jendela-jendelanya. Tak ada aktifitas manusia disana. Bahkan lampu teras dibiarkan menyala.

“Assalamualaikum...” Tak ada yang menyambut salamku. tok.. tok... tok... Kuketok berkali-kali pintu jati itu.

Hatiku semakin kalut, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tadi malam mas Fikri menelepon dan meminta maaf? Dan sekarang rumahnyapun kosong.

 “Maaf Bu, ibu tau kemana keluarga pak Shaleh? Saya ketok pintunya berkali-kali tapi gak ada jawaban,” tanyaku kepada tetangganya.

“Waduh maaf Mba, saya kurang tahu. Cuma kemarin saya lihat mereka pergi bawa koper besar,” jawabnya.

“Pergi kemana ya Bu? Hmm... maksud saya, mungkin sebelumnya pernah cerita sama Ibu mau pergi kemana gitu?”

“Enggak mba... saya juga kurang tahu. Waktu kemarin saya juga ga nanya. Wong sepertinya buru-buru begitu.”

Kemana mas Fikri dan keluarganya? Kenapa tiba-tiba sekali mereka pergi tanpa memberitahuku? Ya... harusnya pamit dulu denganku. Bukankah aku dan keluarga mas Fikri sudah seperti keluarga sendiri? Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi dengan mas Fikri dan keluarganya?
Bersambung...



Jumat, 16 Februari 2018

BBE (Berat Badan Emak)

Taukah kamu, bagi Emak-emak seperti kami naik apa yang paling ditakuti? Yang paling ditakuti adalah saat naik timbangan badan. kok bisa? Iya... saat para Emak meletakkan kakinya diatas timbangan, berbagai perasaan berkecambuk. Berbagai macam pobiapun datang tiba-tiba, takut dengan jarum, takut dengan angka. Apalagi jika angka itu menunjukkan angka yang bukan menjadi idamannya, maka galau berkepanjangan pasti akan mendera.

terkadang saya suka heran dengan para Emak yang pobia dengan timbangan badan. bukankah dengan timbangan badan itu mereka harusnya bisa belajar sesutu yaitu belajar menerima kenyataan? Bukankah pelajaran itu adalah pelajaran yang mahal? banyak orang susah hidupnya karena apa? karena mereka tidak bisa menerima takdir.
coba deh para emak-emak jangan pobia dengan timbangan tapi pobia lah dengan makanan pasti dijaman kurus. setiap lihat makanan apalagi yang manis dan nasi, larilah sekencang mungkin. cobalah untuk bermusuhan dengannya dalam waktu beberapa bulan saja pasti berat badan anda akan turun. mau coba? hahahaha

ketika demam Dilan melanda, para Emak-emak juga tak mau kalah eksisnya mereka membuat kata puitis ala Dilan..
"jangan diet, diet itu berat, kamu tak akan kuat... Biar Aku saja". Kalau itu bukan Dilan ya tapi doyan. Semua-semua dihubungan dengan bagaimana caranya mereka bisa kurus. dan kata-kata ajaib yang mereka punya adalah "diet". tapi coba tengok kenyataannya. disaat makan di luar misalnya, makanan yang mereka pesan masih tersisa apa yang dilakukan para Emak-emak itu? mereka akan menghabiskan makanan tersebut dengan dalih "sayang".
"sayang ih makanan belinya mahal ga dihabisin!akukan orangnya penyanyang, jadi suka ga tegaan lihat makanan dianggurin", begitu modusnya.

Belum lagi prilaku dirumahnya, stigma menjadi "tempat sampah" terkadang sudah melekat. Lagi-lagi dengan dalih 'penyanyang" tak akan betah melihat makanan sisa di atas meja. Kalau prilakunya bgini mau kurus dari mana coba?

Suatu hari saya pernah dengar obrolan seorang bapak dengan temannya. "Istrimu kan gemuk, apa kamu gak ingin istrimu diet biar kurus ?" tanya temannya.
"Ah enggak...biar saja enak begitu. Jadi kalau nanti aku kepergok jalan sama cewek lain, dia gak bisa ngejar aku.Hahaha... " ketawanya penuh dengan kemenangan.

Saat itu sebenarnya aku pengen ngomong sama bapak itu, "Eh Pak, jangan salah ya, jangan remehin kekuatan para Emak-emak. Ketika tau suaminya begitu emak itu mempunyai kekuatan tersembunyi dan dengan seketika bisa berubah macam super hero. Larinya bakal cepat secepat kilat, kalau sudah begitu habis kamu pak!'" tapi sayang omonganku itu hanya dalam hati hehehehe

Tapi sebenarnya dibalik kegendutan mereka, aku nyakin mereka sangat bahagia. Di Arab,wanita gemuk sehabis menikah adalah tanda bahwa mereka bahagia dalam pernikahannya.
jadi hidup Emak-emak... jangan minder, Aku malah iri dengan kalian. Yang penting tetap berpikir positif, jalani,nikmati syukuri.


#Tantangan
#ODOP Batch5
#pekan4

Rabu, 14 Februari 2018

Tips Menulis Cerpen

Menulis adalah salah satu hobi yang kini menjadi passion bagi sebagian orang, baik menulis fiksi atau non fiksi. Menulis non fiksi membutuhkan banyak data sehingga di butuhkan riset, misalnya Essai, artikel, resesi dan lainnya. Sedangkan menulis fiksi lebih cenderung ke kreatifitas dan imajinasi. Menulis fiksi bisa berupa cerpen ataupun novel.

Ada banyak tips dalam nenulis cerpen, tips yang paling ampuh adalah tekat kuat buat menyelesaikannya. Karena tidak ada tulisan yang jelek, tulisan yang jelek adalah tulisan yang tidak  diselesaikan hehehe.

Kapan hari, giliran karyaku yang dibedah oleh genk Bumi ODOP batch5. Senang banget rasanya dapat krisan (kritik dan saran) dan ilmu baru yang buuaanyaak. Tulisan yang aku suguhkan untuk dibedah adalah sebuah cerpen dengan jumlah kata sekitar 900 lebih. cerpen pertamaku hehehe, jadi masih belum jago bener bikin cerpen yang bisa bikin baper. #ea

Beberapa waktu yang lalu, pernah juga berkesempatan menimba ilmu di kelas online cara membuat cerpen . Tapi karena aku masih pemula, masih susah menerapkan ilmu yang diperoleh hehehe. jadi masih butuh banyak belajar, harus banyak membaca biar kosakata dan referensi bertambah dan yang paling penting harus sering-sering latihan menulis.

Berikut adalah tips menulis cerpen :

  • ·         Rajinlah menabung ide
Bukan hanya uang, ide juga butuh di tabung lho...hehehe. jadi jika suatu hari kita mau mengeksekusi ide tersebut kita tinggal membuka di buku rekening tabungan kita. Sehingga pencatatan ide juga penting. Biar jika suatu hari ide itu hilang bisa di telusuri tanpa harus lapor polisi #eh.

  • ·         Membuat outline atau kerangka karangan
Kenapa membuat outline itu penting? Hayo ada yang tahu? Jawaban yang bener dapat piring cantik hahahaha. Outline berguna biar ide-ide dalam cerpen kita bisa tersalurkan dengan baik. Kan terkadang kalau kita nulis, di tengah-tengah jadi ngeblank ( kalau ini mah aku hehhe) nah salah satu gunanya outline ini ya itu. Biar kita tidak tersesat, tersesat dengan kembuletan atau terlalu jauh, ceritanya melebar kemana mana, gak jelas gitu.

  • ·         Memulai dengan paragraf yang menarik dengan kalimat yang nendang.
Kalau kalimat pembuka, mengusik pembaca untuk tidak bisa berhenti membacanya itu namanya kalimatnya nendang banget. Terkadang kita membaca tulisan yang awalnya tidak menarik jadi malas  untuk melanjutkannya bukan? Bahasanya ngebosenin. Atau kalau gak menarik jadi ya gak dilirik. Hehehehe

  • ·         Mempertimbangkan pembaca, dengan patokan :
ü  Gaya bahasanya bagaimana? mudah dipahami tidak?
ü  Endhing ceritanya bagaimana? Apa mudah ditebak?
ü  Konfliknya logis tidak?
ü  Benar gak tema yang diangkat tidak klise?

  • Buat suasana lebih hidup
Terkadang menciptakan kondisi dramatisasi itu sangat diperlukan, supaya pembaca larut dalam konflik cerita yang kita ciptakan. Menerapkan teknik showing terkadang juga jadi senjata ampun yang membuat pembaca larut dalam suasana cerita yang kita tulis.
  • Membuat kalimat yang efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah tata bahasa, baik itu ejaan maupun tanda bacanya. Sehingga kalimat tersebut mudah dipahami oleh pembaca.
  • Percantik tulisan dengan bumbu-bumbu
Seperti halnya masakan, tulisan juga membutuhkan bumbu-bumbu biar tulisan menjadi lebih hidup dan bikin baper. Tapi seperti halnya sebuah masakan, kebanyakan garam juga membuat keasinan, tulisan juga begitu. Kebanyakan bumbu juga terkesan lebay bukan? jadi berikan bumbu-bumbu secara proporsional.
  • Menggerakkan tokoh.
Cara menggerakkan tokoh yaitu bisa melalui perbuatan, ucapan, penggambaran fisik tokoh dan Melalui pikiran tokoh.
  • Selalu Fokus pada konflik cerita
Fokus sama konflik cerita ya ... jangan fokus ke mantan #eh hehehehe
  • Sertakan ending yang  memiliki "suspense" (kejutan) yang membuat  terkejut, terpesona, terharu, marah, gembira, dst.
 Tapi tetap pada "kausalitas". Jangan membuat ending yang tidak logis, antara adegan satu dengan adegan lainyan dalam alur cerita saling bertentangan. Jangan sampai buat kejutan yang tidak rasional.
  • Endapkan Tulisan paling lama sehari lalu mengeditnya
  • Berilah Judul yang benar-benar mewakili cerita secara keseluruhan
Itulah kurang lebih tips menulis cerpen yang dirangkum dari berbagai sumber. Saya menulis ini bukan berarti saya sudah mahir membuat cerpen, tapi tulisan ini sesungguhnya juga buat saya sendiri. Karena sejatinya saya juga masih belajar. 
·          


Apa Bisa Saya Bertahan Di Kelas ODOP Batch5?


Pekan keempat di kelas ODOP batch5. Awalnya agak pesimis masuk dalam konunitas ini, apa bisa saya menulis setiap hari 300 kata lagi? Apalagi saya hanya seorang ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Setiap hari mau menulis apa coba? Tapi semakin kesini semakin menemukan jalannya. Banyak hal yang bisa di tulis, karena sejatinya menulis adalah merekam semua kejadian yang kita alami atau apa saja yang kita pikirkan. Mungkin dari sini  awal mulanya saya bisa bertahan sampai di pekan keempat.

Jadi teringat sebuah tagline,“ Jika ingin melihat dunia bacalah! Namun jika dunia ingin tahu tentang dirimu maka menulislah."  Mungkin ini juga salah satu motivasi saya untuk terus menulis. Karena saya hanya ibu rumah tangga biasa yang mungkin tidak akan dikenal dalam cangkupan yang besar. Saya menulis biar ada jejak saya di dunia ini bahwa saya pernah hidup di planet bumi. Jika nanti, puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang tulisan saya di baca orang, mereka akan tahu bahwa ada seorang wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga pernah membuat tulisannya dalam akun blognya. Selain biar dibaca oleh anak cucu saya, semoga tulisan saya juga bermanfaat buat banyak orang.

Menulis setiap hari dengan 300 kata susah gak sih? Sebenarnya tidak ada yang susah. Yang membuat susah adalah sifat perfeksionis saya. Saya selalu beranggapan bahwa tulisan yang saya share harus memiliki konten yang ada bobotnya, tidak hanya asal curhat. Setiap mau memposting sebuah tulisan maka saya selalu ragu, tulisan saya layak gak sih dibaca orang? Paradigma tabu menshare tulisan "sampah" membuat kendala untuk memposting tulisan tiap hari. Padahal sebenarnaya setiap peristiwa yang dialami bisa dimaknai menjadi sebuah pelajaran, pasti ada hikmah disana. Bukankah dengan kita menuliskan sebuah peristiwa, dan di sana ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran bisa memberikan feedback positip buat pembaca dan menjadi ladang pahala buat kita?

Jadi jangan pernah ragu untuk menulis. Menulislah paling tidak untuk diri sendiri. Selain untuk self healing,  menulis juga bisa menyalurkan 20ribu kata perhari yang harus dikeluarkan oleh para wanita. Dan yang paling penting adalah dengan menulis bisa kita jadikan lahan untuk menebar kebaikan.
Jadi ... TETAP SEMANGAT!

Jika pertanyaannya, "Apa Bisa Saya Bertahan Di Kelas ODOP Bath5?" Maka akan saya jawab, "Saya harus bisa!". Karena apa? Karena disini saya memperoleh banyak ilmu. Karena disini saya dilatih istiqomah dalam menulis, harus menulis 300 kata setiap hari. Bukankah jika saya ingin menjadi ahli dalam menulis, saya harus menekuninya selama 10 ribu jam? Sebagaimana Teori 10 ribu jam yang dimuat dalam buku “Outliers” karya Malcolm Gladwell.

Sebuah keberhasilan dibutuhkan ketekunan dan kerjakeras bukan? Bukan datang dengan tiba-tiba dan bisa diperoleh secara instan. Bahkan pada orang-orang yang berbakat sekalipun, keahliannya baru akan berkilau setelah diasah dengan proses yang tidak sebentar. Jadi jika setiap hari saya menekuni dunia menulis dengan durasi 4 jam maka untuk bisa menjadi seorang ahli membutuhkan waktu kurang lebih 6,8 tahun . Waow bukan waktu yang sebentar. 




Senin, 12 Februari 2018

Sedikit Oleh-Oleh dari Stadium Generale

Minggu, 11 Februari 2018
Hari ini kami, aku dan suami menghadiri udangan stadium generale Kuttab Al-fatih Gresik. Niat kami insyaAllah akan memasukkan Uwais (anak kedua kami) kesana. Kuttab mungkin sesuatu yang asing buat masyakat kita sekarang. Padahal Kuttab adalah sistem pendidikan islam yang berhasil menjadikan islam berjaya beratus-ratus tahun lamanya. Dan banyak generasi islam yang sukses di usia belia. Kurikulum di Kuttab ini hanya ada dua yaitu keimanan dan Alquran. Setiap hari, anak mulai usia 5 tahun ditempa dengan ilmu masalah keimanan dan alquran. Tidak ada pelajaran bahasa inggris, tidak ada pelajaran IPS atau IPA. Toh jika ada ilmu alam hanya tempelan yang kebetulan hari itu, saat belajar Alquran membahas masalah tersebut. Ilmu berhitung hanya ilmu berhitung dasar.

Sekilas kurikulum di Kuttab ini adalah kurikulum yang anti mainstream. Karena kurikulumnya tidak seperti kurikulum di Diknas atau Depag, maka jangan berharap anak anda akan mendapatkan ijasah. Tidak ada ijasah disini, jika anak anda ingin melanjutkan ke jenjang sekolah yang resmi maka anda harus mengikuti ujian persamaan (kejar paket).
Dalam stadium general kemarin, pemateri menyampaikan sebuah Hadist, “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mencari dunia, maka pada hari kiamat ia tidak akan mendapatkan bau surga.”(HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan Ahmad; shahih).  Itulah mengapa di Kuttab tidak di anjurkan atau bahkan dilarang keras anak didiknya mengikti berbagai lomba atau kompetisi. Seperti lomba hafizh Quran atau sejenisnya karena hal itu bertujuan untuk menjaga niat dalam menuntut ilmu.

Gambar diambil dari Google
Sistem pengajaran yang masih tradisonal. Tidak menggunakan bangku, hanya lesehan di karpet atau tikar. Tempat duduk sang Guru di posisikan lebih tinggi. Mengapa demikian? Karena sejatinya seorang guru mempunyai izzah sebagai orang yang berilmu. Harus dihargai dan dihormati. Sangat kontras dengan kondisi sekarang bukan?  Akhir-akhir ini bertebaran di berita seorang murid yang berlaku tidak sopan dengan gurunya dan bahkan ada yang sampai membunuh gurunya. Padahal seseorang yang sudah tidak bisa menghargai seorang guru maka dia tidak akan merasakan manisnya ilmu.  

Teringat sebuah peristiwa di Madura, seorang Guru tewas karena di hajar muridnya. Apakah separah ini dunia pendidikan kita? Dimana adab seorang murid terhadap gurunya? Bukankah adab menuntut ilmu itu 2/3 dari ilmu itu sendiri? Dan bukankah seharusnya adab seorang murid kepada gurunya adalah dengan menghormati dan memuliakannya?

Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Qur’an, ahli Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan khalifah, orang yang punya keutamaan dan orang yang berilmu.” (al-Adab as-Syar’iah 1/408).
 Lalu coba tengok Nabi bersabda,“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama kami.” (HR. Al-Bazzar 2718, Ahmad 5/323, lafadz milik Al-Bazzar. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shohih Targhib 1/117)

Ya akhlak atau moral generasi sekarang yang harus dipertanyaakan. Di era semua serba Digital, kenapa moral nya semakin bobrok? salahnya dimana?
Seharusnya menjadi PR kita semua, bahwa menanamkan adab atau akhlak yang mulia adalah tugas semua, baik guru ataupun orang tua.  Mengapa akhlak sangat penting? Bukankah Rasulullah diutus oleh Allah untuk memperbaiki akhlak umatnya?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang Muslim berarti semakin kuat imannya.





Menunggu

Menunggumu ....
Didermaga ini..,
Seperti air mengalir dari hulu ke hilir...

Aku ikuti saja arusnya..
Senja, yang selalu setia menemaniku ...

Senja adalah pertanda...
menunggumu..



Banda Aceh, 5 oktober 2008

Minggu, 11 Februari 2018

Tips Agar Batita Mau Menggosok Giginya


Membiasakan anak-anak untuk mau menggosok gigi dengan teratur bukanlah perkara yang mudah. Tak semuadah melipat baju atau menyapu lantai. Dibutuhkan startegi yang handal bak seperti membuat startegi perang hihihi. Apalagi membiasakan menggosok gigi buat si kecil yang usianya dibawah 3 tahun. Penuh dengan drama jika sudah dikamar mandi. Mulai dari tutup mulut sampai dengan guyuran air yang membuat baju basah kuyup. Susahnya minta ampun, mengalahkan pusingnya membuktikan theorema pada saat kuliah dulu heheheh. persiapan dan peralatan tempur harus dipersiapkan dengan matang.

Berikut ini adalah Tips agar batita antusias saat menggosok giginya :

1. Persiapan pertama, Menyediakan berbagai macam media buku atau alat peraga.
Alat peraga yang sederhana saja, misal membuat busy book yang ada aktifitas mengogosok gigi. dengan memberikan panduan yang benar tata cara menggosok gigi diharapkan anak-anak mampu untuk menggosok gigi dengan benar. buku bergambar yang isinya mengenai pentingnya menggosok gigi, tentang sakitnya jika gigi berlubang atau penyakit mulut akibat dari tidak menjaga kebersihan gigi dan mulut. Terkadang dengan cerita menggunakan media buku dengan gambar berwarna atau alat peraga memiliki efek yang berbeda. anak-anak cenderung lebih menyukai pembelajaran yang atraktif dan inovatif.

2. Persiapan kedua, Memasang westafel di kamar mandi dengan kaca di atasnya.
Tujuannya adalah agar mereka tahu bahwa gigi mana saja yang harus disikat itu terlihat. Mau menggosok gigi sambil berkaca. Kaca itu akan memberikan cerminan bahwa gigi yang dalam juga kelihatan jika digosok. Jika tidak ada westafel cukup sediakan kaca di kamar mandi. Bagi balita anda yang suka mengaca pasti sangat antusias sekali jika aktifitas menggosok giginya terlihat dia di bayangan cermin. 

3. Persiapan ketiga, Mengajak si kecil pergi ke toko minimarket.
Bukan membujuknya dengan memberikan jajan atau es krim. Bukan. Tapi mengajak sikecil membeli sikat gigi pilihannya sendiri dan pasta gigi kesukaannya. Biasanya dengan bentuk yang yang lucu, dia akan bersemangat ketika menggosok gigi.

4. Langkah keempat, dampingi sikecil ketika mandi.
Langkah ini penting dan terkadang butuh sedikit kesabaran. Jika memungkinkan ajaklah si kecil untuk menyikat gigi Anda dan Anda menyikat giginya. Dengan bertukar peran terkadang membuat sikecil sangat senang dan antusias.

Demikian tips dari saya dan selamat mencoba.




RESENSI BUKU


Judul     : TALENTS MAPPING
                Inspirasi untuk Hidup Lebih Asyik dan Bermakna
Penulis  : Rama Royani
Genre    : Non Fiksi
Penerbit: Tosca
Jumlah Halaman : 208
No.ISBN : 978-602-74211-3-4



Setiap manusia diberi oleh Allah kelebihan dan potensi uniknya. Namun tidak semua orang bisa nemekuman apa bakat dan potensinya tersebut. Buku Talent Mapping ini memberikan gambaran kepada kita apa itu bakat. Bakat disini adalah sebagai sifat (personality) yang produktif. Dikatakan produktif bilamana suatu sifat (personality) dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menghasilkan sesuatu. Dan memetakan apa bakat dan kekurangan kita sehingga bisa disiasati.

Pada pembahasan awal kita akan diperkenalkan dengan prinsip aku. Aku yang pertama adalah mengandalkan kekuatan menjadi utama. kekuatan adalah hasil dari mengelola bakat.  Mengelola bakat perlu dibarengi dengan attitude (sikap), skill (Ketrampilan) dan knowledge(pengetahuan). Bakat yang dibarengi dengan sikap, ketrampilan dan pengetahuan akan melahirkan sebuah kekuatan pada dirinya. "Asahlah kapak pada sisi tajamnya", itulah ungkapan yang diberikan oleh Abah Rama sang penulis.
Pada prinsip AKU yang kedua, mengakui keterbatasan juga utama. Setiap orang di anugrahi oleh Allah kelebihan dan kekurangan. Jika seseorang mau mengakui  kekurangannya maka diharapkan mampu untuk menyiasatinya. Seperti logo dalam buku ini yaitu sarang lebah madu. Lebah madu mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bekerja sama dalam kebaikan. Menyiasati kekurangan dengan bekerja sama dengan orang-orang yang mempunyai kelebihan pada keterbatasan kita merupakan point utama dalam prinsip AKU yang kedua.
Fokus pada kekuatan, dan siasati keterbatasan. Dalam pengembangan kekuatan, ada rumusan yang harus dipegang agar menemukan jalan hidup yaitu 4E, Enjoy (asyik), Easy (Bisa), Excellent(Andalan) dan Earn (hasil).
Pada buku Talent Mapping ini, kita bisa mengindentifikasi potensi kekuatan kita yang didasari pada penemuan bakat yang kita punyai dengan melakukan assessment dihalaman yang sudah disediakan. Setelah melakukan assessment sebagai individual Discovery kita juga akan diajari cara membaca hasil assessment tersebut.
Buku Talents Mapping ini untuk siapa saja yang yang terpanggil untuk mengenali potensi dan menggali kekuatan diri, serta menyiasati keterbatasannya.

                                               
















;

Sabtu, 10 Februari 2018

Hujan dan Kenangan

Hujan..
Selalu saja kusuka...
Suaranya, hawanya,baunya...
Guntur bergemuruh bagiku bukan alam sedang murka..
Namun pertanda bahwa ia tunduk dan bertasbih pada-Nya..

Hujan selalu saja mengingatkanku pada kenangan-kenangan masa lalu.
Dulu aku selalu mengintip dari tirai dibalik jendelaku
Walaupun kenangan-kenangan itu tak akan pernah sama,

Tapi bagiku suara nya di atap rumah adalah nada nada yang tak pernah terlupa.

HARAPAN

"Ummi, tau ga? Masak temenku kalau besar pengen jadi penari jaranan, Aneh gak Mi?” Tanya Rizwan dalam family forum kami.

 “Ga ada yang aneh, sah-sah saja", jawabku.

 “Tapi kan cita-cita itu biasanya hal-hal yang besar, misal jadi tentara, dokter, pilot, gitu mik!”, protesnya.

 “ Lo mas, emang kalo cita-cita jadi penari jaranan ga hebat?, dia bisa menari keliling dunia, memperkenalkan seni dan budaya indonesia, menari di depan presiden kan hebat! "

"Bukan menari jaranan yang kesurupan dari kampung ke kampung, bukan. Bukan maksud Ummi juga merendahkan profesi penari jaranan, tapi mungkin teman mas Rizwan pengen menjadi penari internasional yang mengenalkan seni budaya indonesia.”

“Kalau kayak fizi, temennya Upin Upin, dia pingin jadi tukang sampah gimana Mik?”

 “Boleh, boleh saja ... yang penting mimpi itu harus tinggi, kalau seseorang suka dengan pekerjaan bersih-bersih dia bisa jadi pengusaha yang bergerak dalam bidang jasa cleaning service, kan bisa membuka lapangan usaha buat orang lain?! Atau mau jadi pengusaha sampah juga bisa, pengepul ronsokan banyak yang sukses. Intinya profesi apapun asal halal, kalau dikerjakan dengan hati, sungguh-sungguh dan kerja keras akan memberikan hasil yang maksimal”. Jawabku.

 “profesi yang paling bagus itu da’i ya mik?”, tanyanya.

“ hmm ...  Menyampaikan kebenaran dan nilai-nilai islam kewajiban setiap orang kan? untuk menjadi seorang pendakwah kan ga harus ngomong dipodium atau mimbar kan mas? Jadi apapun nanti, Ummi sama Ayah berharap kamu bisa mengajak  kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai ajaran islam. Kalau mau jadi tentara ya tentara yang sholeh, dokter yang sholeh, guru yang sholeh, wah syukur syukur bisa jadi da’i kayak dr. Zakir naik." Senyum simpul mengembang di bibirku.


***

Setiap orang tua pasti memiliki harapan yang besar buat anak- anaknya! Ingin Anaknya bisa sukses di kehidupannya yang akan dia jalani nanti. Tapi terkadang orang tua lupa sukses dunia tak memberikan jaminan bahwa dia bisa membahagiakan orangtuanya di akhirat.
Bukankah hanya doa anak yang sholeh yang bisa menjadi penolong orang tuannya kelak di akhirat?


Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)


Kamis, 08 Februari 2018

BERSYUKURLAH!

Terkadang kita lupa, bahwa ada orang yang menginginkan kehidupan seperti kita. Sedangkan kita malah sibuk dengan kegalauan hati yang selalu merasa kurang.
Pagi ini seperti biasa, setelah mengerjakan rutinitas harian, aku membuka gawaiku untuk menghilangkan sedikit lelah. Ada sebuah pesan WhatsApp yang masuk di layarnya. Ternyata whatsApp dari teman lama, teman SMAku dulu. Sudah 3 tahun dia bekerja di Jakarta, belum menikah. Dia mengabarkan kepadaku bahwa minggu depan dia akan berangkat keluar negeri untuk tugas belajar, ya …  dapat beasiswa ke salah satu Universitas di Brimingham Inggris. Seketika itu perasaanku campur aduk, ada rasa bahagia, ada rasa resah, ada perasaan minder, perasaan bahwa aku bukan siapa-siapa.

Dulu dia adalah sahabatku. Kemana- kemana kita bersama hingga kita memutuskan untuk kuliah ditempat yang berbeda, disitulah kami berpisah. Dan kini kami memilih jalan yang berbeda. Setelah lulus kuliah aku menikah dan memilih karir di dalam rumah, sedangkan dia, bekerja di sebuah instansi pemerintah di Jakarta. Lamunanku kian mengelana, berbagai macam lintasan peristiwa hadir dalam pikiranku.
Selamat ya, seneng dengarnya.  Aku tulis pesan itu.
Kamu kapan-kapan tengokin aku kesana ya, nanti kita jalan- jalan keliling Eropa. Balasannya.
Hmm … iya kalau sempat ya, kamu kan tahu aku sekarang tak seperti dulu, kemana- mana bawa pasukan banyak! Andai aku dulu tak menikah mungkin sekarang juga mengelana entah kemana, seperti kamu. 
Jangan begitu, terkadang aku malah iri melihatmu. Dia membalas.
iri denganku?  
Iya … kamu punya semua yang aku belum punya. Punya keluarga, punya anak yang lucu. Aku yang terkadang merasa sendiri di sini. Merasa kesepian.
Jariku seperti kaku, aku tak tahu harus membalas dengan tulisan apa?
Dia merindukan kehidupanku? Mempunyai suami dan keluarga kecil, sederhana sekali.
Kamu baik-baik di negeri orang ya! hati-hati.
Akhirnya kata-kata itu yang kukirim, karena aku sudah speechless, tidak tahu harus menulis apa.

Ya … semua orang menjalani ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan jodoh, dengan pasangan, dengan anak, dengan keuangan, dengan pekerjaan, dengan kesehatan.  Dan setiap orang menjalani ujian-ujian itu dengan berbeda versi dan porsi.

Lantas kenapa kita merasa paling merana di dunia ini? Bukankah semua juga menjalani ujiannya?
Mungkin pola pikirku yang harus dirubah, harusnya aku tidak meratapi kekurangan. Tapi memulai dari rasa syukur. Mensyukuri apa yang aku punya.

Aku punya keluarga kecil yang bahagia. Suami yang baik dan bertanggungjawab. Anak-anak yang sehat, pintar dan isyaAllah shaleh. Aku sehat tidak kekurangan apapun. dan aku memiliki nikmat iman dan islam, bukankah itu nikmat yang terbesar yang harus di syukuri?

Aku punya Allah yang menggemgam seluruh alam semesta ini. Apa yang susah buat Allah?
Jika Dia berkehendak, kun fayakun, maka seluruh alam semesta akan bergerak untuk mewujudkanya.
Bukankah dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya?

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim:7)




Selasa, 06 Februari 2018

Curhatan Emak-emak Jaman Now

Bagi emak-emak curhat adalah bentuk dari penyaluran kekesalan yang dialami. Meskipun dengan curhat tidak menemukan solusi dari masalah yang dihadapi, namun dengan mengungkapkan apa yang dirasakannya adalah salah satu terapi yang bikin plong
Dulu curhat adalah identik dengan rahasia. Para Emakers akan curhat kepada seseorang yang dia percaya, namun fenomena yang berkembang sekarang adalah mereka sepertinya lebih suka curhat ke media sosial, dengan menulis status atau dengan mengunggah video. Lalu kalau begini kan sudah tidak jadi rahasia lagi ya? semua orang bisa mengakses?.
Jadi teringat beberapa minggu yang lalu tentang video yang lagi viral di media sosial, Emak Alfa. Beliau curhat bahwa suaminya kurang perhatian.(hmm... masalah yang hampir sama dihadapi ibu-ibu rumah tangga). Suami kurang perhatian juga menjadi tema curhatan seorang ibu, yang kecewa dan dalam video tersebut beliau melepaskan semua burung koleksi milik suaminya.
Terkadang juga para emakers menulis status di linamasa facebooknya, isinya tentang curhatan karena bermasalah dengan tentangga, cucian gak kering karena hujan hingga curhatan yang bersifat pribadi. Atau mungkin seperti yang saya lakukan, curhat di blog sambil belajar menulis, hehehehe
Semuanya sih sah sah saja ya, asal...  sebisa mungkin tidak melanggar etika, supaya tidak terkena konsekuensi hukum, baik hukum positif maupun sosial. Hukum positif itu adalah aturan atau undang-undang yang berlaku di Indonesia, seperti undang-undang ITE dan Pornografi. Sedangkan hukum sosial nya adalah hukuman yang diberikan masyarakat atau nitizen, bisa berupa pembullyan atau semisalnya.  Karena apapun tulisan/ video yang kita posting ke media sosial adalah menjadi konsumsi publik. Ada dampak positif dan negatif apalagi yang berkaitan dengan orang lain. 
Dampak baik dari curhat di media sosial misalnya dapat menjadi kontrol sosial bagi orang lain. Kontrol sosial yang dimaksud adalah saat seseorang tidak tersentuh oleh ranah hukum tapi pelakunya mendapat ganjaran oleh masyarakat. Sepanjang yang disampaikan adalah fakta dan memiliki barang bukti . Seperti curhatan seorang emak yang mengupload  percakapan via aplikasi whatsApp antara dirinya dengan seorang perempuan yang diduga sebagai pelakor. Atau juga curhatan emak Alfa ternyata membuat dia mendapat hadiah voucher belanja dari minimarket Alfamart.
Namun meskipun memiliki dampak positif, ternyata curhat ke media sosial juga mempunyai dampak negatif. Dampak negatif itu antara lain telah mengumbar aib atau kondisi yang tidak baik soal orang lain dan diri sendiri. Jangan sampai curhatan kita  itu kemudian melanggar hukum seperti hukum pencemaran nama baik atau mengumbar kebencian.
Sebenarnya masalah pribadi tidak perlulah di umbar ke publik karena kalau benar kan sudah menjelek-jelekkan yang diunggah di akunnya dan juga menjelek-jelekkan dirinya sendiri. Mungkin tabayun atau islah bisa jadi solusi. Kalau merasa di dzolimi serahkan sama Allah, ini peluang kita untuk bisa berdoa yang banyak, bukankah doa orang yang terdzolimi dikabulkan?
Walaupun ajang curhat di media sosial terbilang biasa, namun ada hukum yang perlu diperhatikan supaya tidak melanggar hak orang lain juga kan?
Jadi para emakes hati-hati ya... ,kalau curhat di media sosial, di filter dulu sebelum di publikasikan. kalau dulu adalah mulutmu harimaumu tapi kalau sekarang  jarimu harimaumu. hehehe

So be wise ya emakers
.