Selasa, 03 April 2018

Marni


Marni adalah seorang gadis desa yang cantik jelita. Wajahnya bulat dengan matanya yang belok. Rambutnya sebahu dengan warna hitam kemerah-merahan. Lesung pipi selalu menghiasi wajahnya jika dia tersenyum. Tingginya 165 cm dengan berat 55 kg membuat postur tubuhnya ideal. Singkat kata Marni adalah gadis desa yang menjadi primadona di kampungnya. 

Kini Marni sedang dirundung rindu. Pemuda yang dia cintai telah pergi entah kemana. Dua tahun yang lalu merantau ke seberang lautan dan hingga kini tidak kunjung pulang. Marni selalu menunggu di perbatasan desa, di mana tempat itu dulu adalah tempat perpisahan untuk terakhirnya kalinya. Setiap pagi dan sore hari, Marni pasti berdiri di tempat itu dengan membawa selendang warna biru tua pemberian darinya. 

Hampir setiap hari Marni pergi ke rumah Pardi. Bertemu ibu Pardi untuk menanyakan kabar anaknya. Tapi apa yang dia dapatkan? Lagi-lagi hanya kecewa. Pardi tak kunjung memberi kabar kepada dirinya maupun keluarganya. 

Setiap malam, Marni duduk di teras rumahnya. Memandangi langit, dalam hati kecilnya, dia merasa bahwa Pardi juga memandangi langit yang sama. Memandangi langit adalah ritual yang membuat rindunya sedikit terobati. Dibaca-baca lagi semua surat yang pernah dikirim untuknya sebelum Pardi pergi. Pardi saat rajin mengirimi Marni surat. Padahal rumah Marni dan Pardi tak terlalu jauh jaraknya. 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, namun tanda-tanda kepulangan Pardi tak kunjung ada kabar. Orang tua Marni gusar melihat tingkah anaknya yang semakin lama semakin tidak normal. Marni dulu gadis periang, aktif di berbagai acara karang taruna di desanya. Namun kini Marni lebih banyak berdiam diri di kamarnya, ke perbatasan desa atau melamun di teras rumahnya ketika malam menjelang. 

Marni seperti orang yang kehilangan jiwanya. Raganya hanya raga yang tidak bernyawa. Menjalani rutinitas hariannya nyaris tanpa semangat dan senyum ceria. Marni seperti mayat hidup yang berpenyakit ganas, yaitu kanker rindu stadium empat. 

Suatu hari keluarga Marlan datang ke rumah Marni. Marlan memang dari dulu ada hati dengan Marni. Marlan ingin menjadikan Marni sebagai istrinya. Marlan pandai membaca situasi bahwa Pardi sudah tidak ada kabar, maka Marlan berani untuk meminang Marni. Namun bagaimana reaksi Marni? Marni dengan serta merta mengusir Marlan dan keluarganya keluar rumah. Mengetahui diperlakukan tak sepatutnya, Marlan sakit hati. 

Keesok harinya Marlan pergi ke orang pintar di tetangga desa. Marlan ingin Marni mau menerima lamarannya. Mbah dukun memberikan jampi-jampi dan ritual yang harus dilakukan Marlan. Inilah kata orang, cinta ditolak dukun bertindak. 

*** 

Marni kini semakin linglung seperti orang binggung. Rambut yang dulu sebahu kini semakin panjang. Namun rambut yang semakin panjang itu jarang disisir, acak-acakan, warna hitamnya kini semakin dimonompoli warna merah. Senyumanya yang dihiasi lengsung pipi kini tak ada lagi. Lesung pipinya telah pergi sejak Pardi menghilang tanpa kabar. Mata belok dengan bulu mata yang lentik kini lebih sembab karena banyak air mata yang keluar. Kantung mata semakin tebal dan menghitam. Karena setiap malam dia kurang tidur memandangi langit di teras rumahnya. Terkadang jika hujan, Marni tetap nekat ke luar. 

“Oalah Nduk-nduk Kamu ini kenopo to?” Tanya ibunya sambil membelai rambutnya. 

Marni tidak menjawab pertanyaan itu, pandangannya kosong seperti hari-hari sebelumnya. 

“Mandi dulu saya! Sudah seminggu kamu belum mandikan?” perintah ibunya kepada Marni. 

Marni tidak pergi ke kamar mandi, dia malah masuk ke dalam kamarya mengambil selendang biru. Dilingkarkan selendang itu di lehernya, dia pergi mengelilingi desa. Rutinitas yang akhir-akhir ini dijalaninya. 

*** 

Suatu hari, mobil sedan warna putih masuk ke desa. Semua orang dibuat takjub dengannya, karena konon tidak banyak mobil yang masuk ke desa itu, kecuali milik Pak Lurah. Seseorang turun dari mobil sedan berplat Jakarta. 

“Pardi?” Teriak seorang warga yang mengetahui bahwa yang turun dari mobil sedan warna putih itu adalah Pardi, tetangganya. Sudah hampir tujuh tahun Pardi menghilang tanpa kabar berita. Tak lama Pardi turun dari mobinya, ada seorang wanita dan anak perempuan kecil juga turun dari sana. 

“Mbak Sur, kenalin ini istri dan anak saya!” kata Pardi kepada Surti. 

“Ya Allah Pardi, kamu kemana saja?” kata Surti. 

Belum sempat Pardi menjawab pertanyaan Surti, mata Pardi menangkap sosok wanita yang berkalung selendang biru melintas di depannya. Namun wanita itu seperti sudah tidak mengenalinya lagi. 


#Rindu
#30dwc
#squad4





Kamis, 29 Maret 2018

Tantangan 9 Be Creative Day 8



Toko Makanan dan Buah


Hari kedelapan anak-anak mulai "menciptakan" kreatifitas maenannya sendiri. Hari ini mereka menggambar di kertas mereka masing-masing. Rizwan menggambar berbagai macam makanan dan minuman, ada es krim, kentang goreng, pizza. Sedangkan Uwais menggambar aneka macam buah dan berupa titik-titik, dan ketika saya tanya itu adalah biji buah. Saya rasa mereka menggambar sesuai dengan apa yang mereka suka. Rizwan suka makanan yang persis ada di gambarnya sedangkan Uwais juga demikian, menyukai berbagai macam buah-buahan.

Awalnya saya pikir mereka hanya menggambar makanan kesukaannya. Namun saya salah, mereka membuat gambaran tersebut bukan hanya buat gambaran, namun mereka membuat sebuah toko yang isinya menjual barang-barang yang ada di gambarnya.

Waow ... jujur, saya kaget sekali. Mereka bermain peran. Berperan sebagai penjual dan pembeli, hmm ... sama-sama penjual dan pembeli mungkin lebih tepatnya. Dibawah gambar-gambar itu memang ada harganya. Dan saya tahu Uwais beradegan sebagai penjual saat dia menawarkan barang dagangannya.

Lucu sebenarnya, karena gambar Uwais meskipun tidak sempurna bentuknya, namun ketika saya tanya, "Ini buah apa Uwais?" Dia menjawab dengan yakin sekali bahwa itu adalah gambar melon, semangka, anggur dan apel. Sedangkan di sisi sebelahnya adalah biji-bijinya yang bisa ditanam. Lalu ada angka di sampingnya, kalau saya tanya itu adalah harganya. Karena belum bisa menulis, dia meminta saya menulis kata "buah" diatas gambar yang dia sebuat buah dan kata "biji" yang dia sebuat sebagai biji.


Alhamdulillah nya, kegiatan bermain peran ini bisa mengalihkan perhatiannya dari melihat televisi atau bermain gawai.



Selasa, 27 Maret 2018

Diorama Cinta Part 13



Aku lihat ruangan yang serba berwarna putih. Ruangan yang sama sekali tidak aku kenali. Ada Haifa, Faras, ibuku dan ibu mertuaku. Ada selang infus di tanganku. Aku mencoba untuk bangun, namun kepalaku masih terasa sakit.

“Fania .... " Mereka hampir berbarengan memanggil namaku.

“Aku di mana?” tanyaku.

“Kamu di rumah sakit, Fania!” jawab Haifa.

“Kamu sakit, kok gak bilang sama ibu, Nduk?” kata Ibuku.

“Tolong jangan bilang ke Mas Bram ya Bu!” Aku memohon kepada Ibu mertuaku. Beliau cuma mengangguk dan tersenyum.

Aku lihat Faras duduk di sofa. Sofa yang terletak tepat di depan tempat tidur. Dia masih mengenakan kemeja kotak-kotak warna biru seperti waktu di acara reuni. Dia menatapku dengan tatapan iba. Sedangkan Haifa berdiri di sampingku bersama Ibuku dan Ibu mertuaku. 

“Aku pingsan ya?” tanyaku.

“Iya Fania, kamu pingsan. Faras dan Haifa membawamu ke rumah sakit,” kata Ibuku.

“Makasih ya Ras!” Sengaja hanya aku tujukan buat Faras. Aku tahu bahwa Haifa pasti memaklumiku. 

Faras hanya tersenyum. Seorang dokter dan perawat datang. Dokter Arya, begitulah yang aku baca di jas baju praktiknya.

“Fania ... besok kita akan melakukan pemeriksaan yang menyeluruh. Dokter Haysa, adalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini akan memeriksa kamu. Bagaimana masih terasa pusing?” tanya dokter Arya.

“Sedikit, Dok!” Aku jawab pertanyaan itu dengan berbohong. Aku tak ingin semua orang mengkhawatirkan kondisiku.

“Iya ... kamu kekurangan darah Fania, sudah berapa lama pendarahan ini?” tanyanya lagi.

“Sudah seminggu lebih Dok.”

“Obatnya diminum ya, istirahat yang cukup! Biar besok badannya terasa lebih fresh.”

“Iya Dokter.”

Faras yang dari tadi duduk di sudut sofa, kini berdiri dan menuju keluar, mengikuti dokter itu pergi. Haifa mengikuti langkah Faras. Sedangkan Ibuku dan Ibu mertuaku masih setia di sampingku.

“Sabar ya, Nduk! Gusti Allah yang ngasih kesembuhan. Banyak doa dan istighfar.” Kata Ibuku sambil memijit kakiku.

Inggih, Bu!” kataku sambil tersenyum.




Bersambung ....

Baca Cerita sebelumnya : Diorama Cinta Part12

Senin, 26 Maret 2018

Tantangan9 "Be Creative" Day5



Day 5 

Belajar sambil Bermain


Masih seputar tantangan untuk mengurasi durasi melihat tayangan televisi dan pemakaian gawai di rumah. Di hari kelima ini, untuk mengalihkan televisi dan gawai saya membeli buku aktifitas “Belajar sambil Bermain 1”. Buku itu berisi tentang kegiatan menggambar, mencari bayangan benda, mewarnai, mencari jalan, dan menghubungkan benda yang sama.

Uwais sepertinya sangat tertarik dengan buku ini. Dia ambil pensil dan mengerjakanya. Waktu malam menjelang tidur, dia juga masih mau mngerjakan.

“Ummi, mana buku Wais, Wais mau sekolah ini lho!” katanya.

Memang selama ini, jika dia belajar sesuatu dia analogikan sebagai kegiatan sekolah. Uwais yang sekarang menginjak usia 5 tahun memnag belum bersekolah. Saya berfikir bahwa memang saya menunggu Uwais siap untuk bersekolah. Usia 5 tahun sepertinya usia yang pas.

Karena selama ini saya berkaca kepada kakaknya, Rizwan. Saat itu saya masih kurang paham tentang ilmu parenting, sejak dini, saya sekolahkan Rizwan di sekolah formal. Ya ... mulai usia 3 tahun. Lalu apa yang terjadi ketika dia menginjak usia sekolah dasar? Dia sepertinya sudah bosan dengan rutinitas sekolah, setiap pagi pasti mencari alasan untuk meliburkan diri, mungkin sindrom malinggering sederhana terkadang menjangkitnya.



#Tantangan9
#BeCreative
#KelasBunsay
#IIP

Resume Materi 9 Kelas Bunsay


"Be Creative"



Setiap anak adalah kreatif. Mereka terlahir dengan rasa ingin tahu tentang banyak hal yang besar. Mereka tidak mengenal kata “tidak mungkin”. Mencoba semua hal dan tidak takut salah. Namun mengapa sekarang anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang tidak kreatif? 

Karena kitalah yang mematikan kreatifitas mereka. Sering kali para orang tua terlalu protektif terhadap anak mereka. Kita takut, besok anak-anak kita akan menjadi apa? namun kita lupa bahwa mereka adalah seseorang yang sedang menjalani hidupnya hari ini. 

Lalu para orang tua mengirimkan anak-anak mereka ke "sekolah". Ke sekolah yang sistem pendidikannya membuat citra positif akan kemampuan belajar mereka semakin menurun. Gaya belajar yang hanya mentransfer ilmu tanpa melibatkan proses berfikir kreatif anak. Dan seringkali menseragamkan pola pikir, padahal setiap anak adalah unik dan mempunyai pola pikir yang berbeda. 

Jadi apa yang harus kita lakukan? Berikan kepada anak-anak kita lebih banyak dukungan. Cintai mereka tanpa syarat. Setiap anak adalah unik, maka hargailah keunikannya. Dan beri ruang seluas-luasnya untuk mereka jelajahi. 

Bukalah kotak pemikiran kita. Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja. Biarkanlah ia berpikir berbeda dari hal-hal yang pernah kita alami. 

Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak. Jangan terburu-buru membuat pernyataan, namun perbanyaklah membuat pertanyaan. Agar anak-anak kita bisa menyampaikan idenya dengan CLEAR dan tugas kita hanya mengklarifikasi saja (CLARIFY).

Sesungguhnya proses kreatifitas adalah EVOLUSI (Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya), SINTESIS (Dua atau lebih ide digabungkan menjadi sebuah ide baru), REVOLUSI (Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada). 

Ubahlah Fokus dan geser sudut pandang. Dalam mendampingi anak-anak kita perlu memiliki berbagai sudut pandang kreatif setiap melihat aksi mereka. 

Maka ... 

Jika ingin melihat anak-anak kita menjadi anak-anak yang kreatif, kitalah yang terlebih dahulu harus berubah!

#resumemateri9
#BeCreative
#KelasBunsay
#IIP

Minggu, 25 Maret 2018

Tantangan 9 "Be Creative" day 4

Berkunjung Ke Rumah Nenek


Minggu ini adalah waktu berkunjung kerumah Nenek. Jadwal berkunjung ke rumah Neneknya anak-anak, memang sudah kami agendakan setiap dua minggu sekali. Rumah Ibu berada di Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Kota Pandaan terletak di kaki gunung Penangungan. Maka tidak heran suhu di sana lebih dingin daripada di Gresik, tempat tinggal kami sekarang. Letaknya sangat strategis, berada di tengah-tengah jalur Malang - Surabaya dengan akses menuju tempat pariwisata yang banyak.

Masih dalam suasana tantangan kelas Bunsay game level 9 yaitu dengan tema "Be Creative". Dan yang menjadi tantangan kami di hari-hari sebelumnya adalah bagaimana mengalihkan perhatian anak-anak dari gawai dan televisi maka hari kedua di rumah neneknya, kami gunakan untuk mengeksplorasi kota Pandaan.

Tujuan awal yang kami kunjungi adalah Taman Dayu. Taman Dayu awalnya adalah kawasan hunian dan resort golf yang dilengkapi dengan fasilitas Waterpark, Boutique Hotel, Camping Ground dan Outbound. Saat ini seiring dengan perkembangan di Kecamatan Pandaan, kawasan Taman Dayu telah dikembangkan menjadi kota mandiri yang juga dilengkapi dengan pusat bisnis dan perdagangan yang dikenal sebagai Pandaan Central Business District (CBD). Di dalam area Pandaan CBD ini didirikan gedung pertokoan, pusat jajanan kuliner (Food Terrace dan Food Veranda) dan Public Area yang berisi berbagai hiburan keluarga.

Sejak sekitar tahun 2007 kawasan Taman Dayu telah menjadi ikon kota Pandaan. Kawasan hunian The Taman Dayu dan Pandaan CBD dikembangkan oleh Ciputra Group. Di atas bukit, baru dibangun sebuah restaurant yang berkonsep alam, De Gunungan namanya. Sebuah rumah makan yang tidak hanya menjual makanan tapi juga menyediakan wisata pemandangan alam bagi para pengunjung.

Setelah dari Taman Dayu, destinasi selanjutnya adalah Taman Chandra Wilwatikta yang di dalamnya terdapat panggung sendratari alami terbesar di Indonesia dengan latar belakang gunung Penanggungan. Di panggung sendratari ini pernah diadakan festival tari Ramayana se-Asia. Taman Chandra Wilwatika juga terdapat tempat penangkaran rusa. Dan kini juga dibangun area bermain untuk anak-anak.






Seharian Mengeksplorasi dua tempat wisata di Pandaan ini, membuat anak-anak lupa dengan gawai dan tayangan televisi. Sebenarnya banyak cara untuk sedikit demi sedikit membiasakan anak-anak untuk tidak kecanduan gawai ataupun televisi. Namun memang dibutuhkan kesabaran dan kreativitas kegiatan yang beragam agar mereka bisa enjoy dan terlupakan.


#Tantangan9
#KelasBunsay
#Tantangan10hari
#BeCreative
#IIP

Sabtu, 24 Maret 2018

Tantangan 9 "Be Creative" day 3

Berkreasi dengan Kardus


Hari ketiga masih seputar mengahadapi tantangan dalam mengurangi durasi untuk melihat televisi di pagi hari. Hari ini adalah hari sabtu dan hari sabtu ayah mereka libur. Anak-anak akan melakukan berbagai macam aktifitas bersama Ayah. Dan hari ini aktivitas yang dilakuakan adalah membuat sebuah perahu dari bahan kardus.

Kenapa membuat sebuah perahu? Karena minggu depan kita akan mengikuti Family Camp se Jawa Timur yang mengharuskan setiap keluarga membuat perahu untuk dijadikan salah satu ajang perlombaan di sana. Kenapa kita memilih bahan kardus? Karena kardus adalah bahan yang paling gampang kami temukan di rumah. Lalu apakah nanti bisa bertahan lama di air? Tenang, kami sudah melapisi bagian bawah kardus dengan menggunakan solasi. Tapi apakah nanti perahu kami bisa mengarungi aliran sungai di sana? Nah kalau menjawab pertanyaan ini, mungkin itu nanti menjadi bahan tulisan saya selanjutnya.

Menjadi orang tua kreatif sebenarnya bisa dilakukan dengan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Membuat anak-anak untuk lepas dari gawai dan televisi pasti membutuhkan kreatifitas dan usaha yang sungguh-sungguh.

Hari ini keluarga kami belajar bagaimana meningkatkan bonding keluarga, dan bonding itu bisa di lakukan dengan cara-cara yang sederhana. Meskipun anak-anak tidak 100% membantu dalam proses pembuatan perahu, namun di sini, mereka akan banyak belajar tentang bagaimana cara menyampaikan ide, ide dari kreatifitas mereka.

Setelah perahu kami siap, ternyata masih ada sisa kardus. 
"Hmm ... enaknya dibuat apa ini?" tanyaku kepada anak-anak.
"Kita buat menjadi baju robot aja," usul Uwais.

Dan inilah hasil dari kreatifitas kami pagi ini, sebuah perahu dan baju robot (hmm atau baju perang?) Ah ... itu sih terserah yang menilai ya! hehehehe



#TantanganLevel9
#10hari
#kelasBUnsay
#Becreative
#IIP


Jumat, 23 Maret 2018

Tantangan 9 "Be Creative" Day 2

Membuat anak untuk lepas dari televisi dan gawai memang bukan perkara yang mudah. Butuh konsistensi dan kesabaran. Sebenarnya bisa lebih mudah, kalau seumpama kita hidup sendiri dengan keluarga kecil kita. Namun jika berada di lingkungan yang menyangkup nenek dan kakek pasti juga ada tantangannya.

Di hari ke dua tantangan level 9 ini, aku mengajak anak-anakku yaitu Uwais dan Fatir (karena mas Rizwannya masih sekolah) pagi ini bermain origami. Seni melipat kertas dari Jepang ini sebenarnya mempunyai banyak bentuk yang bisa dihasilkan. Untuk pagi ini, aku tidak memberikan contoh bentuk tertentu, namun Uwais sendiri yang membuat bentuk sesuai dengan imajinasinya. Meskipun dia sedang sakit dan melakukannya di atas kasur tapi dia masih semangat dengan aktifitas yang saya berikan pagi ini, dan hasilnya adalah ...

 




"Itu bentuk apa?" tanyaku.
"Ini bentuk lidah raksasa," jawab Uwais.
"Oh ... iya iya." Kataku sambil ku anggukan kepala. Aku ambil gawaiku dan aku suruh dia bergaya.


Setelah bosan dengan aktifitas bermain origami, aku ambil lagi buku gambar yang kemarin, yang  di halaman dua nya ada gambar kota. Aku ajak Uwais untuk mewarnai. Meskipun saya juga ikut mewarnai namun alhamdulillah kegiatan pagi ini, bisa mengalihkan kebiasaannya untuk menonton televisi di pagi hari.


#TantanganLevel9
#10hari
#kelasBUnsay
#Becreative
#IIP



Kamis, 22 Maret 2018

Rumah itu Bernama Bumi



Rumah itu bernama bumi. Di mana aku mulai melangkahkan kakiku di dunia literasi. Walaupun sebelumnya juga pernah mengikuti grup yang serupa, namun di bumi ada banyak hal yang berbeda.

Rumah itu bernama bumi, Di mana banyak ilmu  tentang dunia kepenulisan yang aku jumpai. Bagaimana cara menulis dialog yang benar, cara penggunaan kata sambung, kata depan, sebutan orang, dan seabreg tata cara penulisan yang disempurnakan.

Rumah itu bernama Bumi. Di Bumi untuk pertama kalinya tulisanku diapresiasi. 
Diapresiasi dengan cara dibedah dengan komentar-komentar yang membuat aku semakin melek akan kekurangan dan kesalahan. Ternyata masih banyak yang harus aku perbaiki.

Rumah itu bernama Bumi. Di Bumi baru pertama kali membuat cerita bersambung yang dipublikasi.
Cerita bersambung yang 12 episode  belum juga selesai. Namun di sini aku banyak belajar tentang konsistensi.

Rumah itu bernama Bumi. Di Bumi aku temukan orang-orang yang merasa senasib seperjuangan. Yang setiap malam terkadang harus begadang hanya karena satu alasan ... setoran tulisan.

Di bumi ... adalah sebuah rumah bagiku, di sana ada persahabatan, ada persaudaraan, ada coletahan, ada canda, ada tawa, (mungkin) juga ada cinta.

Di bumi aku tumbuh dan berkembang. Layaknya sebuah biji yang memerlukan pupuk, tanah yang subur, cukup air dan sinar matahari. Di sini, aku biji itu mendapatkan semua itu.

Terimakasih buat para peje atas ilmu dan pendampingannya. Mas Suden, Mbak Wiwid, Mbak Nisya dan mbak Lia ... sungguh kalian luar biasa. Mohon maaf dan terimakasih banyak untuk teman-teman penghuni rumah Bumi semuanya. Karena kalian semuanya, bumi menjadi begitu berwarna. 



NB : Sebenarnya ingin di postingan kali ini, ada poto-poto penduduk Bumi.

Tantangan bunsay level9 "Be creative" Day 1

Sudah setahun ini, kami tinggal di desa, di rumah ibu. Kami akui segala sesuatu pasti ada sisi negatif maupun positifnya. Sisi positifnya, anak-anak menjadi lebih dekat dengan alam. terutama Uwais, anak kedua kami, yang kecerdasan naturalisnya sangat menonjol. Namun sisi negatifnya salah satunya adalah tentang kedisiplinan. Dulu waktu kami tinggal mandiri, di Surabaya ataupun di Bekasi, anak-anak sudah mempunyai jadwal dan mereka mematuhinya. Misal bahwa melihat televisi atau bermain gawai ada batas waktunya. Namun di sini, kedispilinan itu mulai longgar. bermain gawai ataupun gadget tak seketat dulu. Gawaiku dan gawai ayahnya memang tidak kami kasih game. Namun gawai nenek dan Kakeknya? itulah yang terkadang menjadi kendala kami dalam menerapkan nilai kedisplinan yang dulu sudah kita sepakati.

Dulu lihat televisi hanya boleh sehari cuma 2 jam. Waktu terserah mereka, asal tidak menganggu waktu prioritas, misal waktu ngaji atau belajar. Namun sekarang anak-anak lebih bebas dan jadwal menonton televisinya jauh lebih lama dari kesepakatan. ada beberapa titik televisi juga membuat kendala.

Oleh karena itu, melalui tantangan game level 9 ini, saya akan berusaha mengalihkan perhatian Uwais dan Fatir, terutama, dari kebiasaan menonton televisi yang berlama-lama dengan melakukan aktifitas yang menarik dan kreatif.

Hari pertama di game level 9 ini saya telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk aktifitas yang akan kami lakukan bersama. Saya membeli beberapa perlengkapan menggambar dan crayon. biasanya waktu melihat televisi adalah pagi hari ketika saya masih sibuk dengan aktivitas rumah. Maka pagi ini uwais dan Fatir mulai mewarnai gambar yang sudah dibuat ayahnya tadi malam. Rizwan yang hari ini tidak masuk sekolah akhirnya ikut nimbrung juga.



Ketika Wais mewarnai sebuah gunung merapi, yang puncaknya ada warna merah, coklat dan hijau saya tanya kenapa demikian, Dia menjawab bahwa merah adalah lahar panasnya, hijau melambangkan tumbuhan dan coklat adalah tanah.


#TantanganLevel9
#KelasBunsay
#BeCreative
#Day1

Selasa, 20 Maret 2018

Diorama Cinta part12



Kukenakan gamis tosca dengan kerudung warna senada. Hari ini aku akan menghadiri acara reuni di kampusku dulu. Sebelum Haifa datang menjemputku, aku layangkan pesan WhatsApp ke nomer mas Bram. 

Mas ... pagi ini aku ke kampus ya? Mau reuni. Ijinku yang memang terkesan bukan sebuah ijin namun lebih kepada pemberitahuan. Sambil menunggu balasan, aku menuju ke dapur. Aku buka jendelanya, aku tengok ke pekarangan, aku cari di mana sosok dua ekor burung gereja. Namun lagi-lagi aku kecewa. Burung gereja itu lagi-lagi cuma sendiri. 

Gawaiku berbunyi, Aku lihat ke layarnya, ada sebuah panggilan masuk, dari mas Bram. 

“Assalamualaikum.” 

“Wa’alaikumsalam.” 

“Mau pergi dengan siapa?” 

“Sama Haifa mas.” 

“O ya udah, hati-hati ya?” 

“Iya mas.” 

“Gimana kamu sehat kan?” 

Aku tak menjawab pertanyaan itu, air mataku mengalir. 

“Fania ...?” 

“Iya mas, aku sehat, aku baik-baik saja kok!” Aku seka air mataku, aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan nada suara yang seperti biasanya. 

“Alhamdulillah. Oiya maaf ya Fania, akhir-akhir ini aku sibuk. Jadi jarang menghubungimu.” 

“Iya mas, Fania ngerti kok.” 

“Ya udah kalau begitu, hati-hati di jalan ya! Assalamualaikum.” 

“Iya Mas, Waalaikumsalam.” 

Kini air mataku mengalir lagi, kejadian malam itu diruang dokter terlintas dalam pikiranku. Kata-kata dokter itulah yang membuat pikiranku akhir-akhir ini menjadi kacau. Dan akupun belum ke dokter kandungan seperti yang di rujukkan kepadaku. Bukannya apa-apa, aku cuma takut menghadapi kenyataan jika benar aku mengidap penyakit kanker ovarium. 

Sebuah klakson mobil berbunyi. Itu pasti Haifa, gumamku dalam hati. Aku ambil tas di sofa yang sudah aku persiapkan dari tadi. 

“Hai, Haifa.. ayo langsung  berangkat saja!” Aku temui dia di pekarangan rumah. 

Sampainya di sana, aku lihat sudah banyak yang datang. Begitu juga teman-teman seangkatanku. Kita saling melepas rindu dengan saling berbincang. Haifa yang dari tadi ada di sampingku, kini aku tak tahu kemana dia. Sindy, teman sekelasku, datang dengan menggendong bayi dan suaminya. Anaknya lucu sekali, bayi perempuan dengan memakai baju merah muda dan bando di kepala, cantik sekali. Ya Allah, rasanya aku ingin sekali menimbang bayi, ya ... bayiku sendiri. Lamunanku kian liar kemana-mana. Seandainya aku punya bayi pasti lucu seperti itu. 

“Fania...” Haifa menarik tanganku. 

“Hei ... kemana saja kamu. Ada apa?” 

“Fania ... Faras ingin menemuimu!” 

“Hah, Faras?” aku terperanjat mendengar perkataan Haifa. Bagaimana Faras ada di sini? 

“Fania, Faras baru saja meneleponku, dia menuju kesini.” 

Seketika badanku lemas, aku binggung. Apa yang akan ku katakan kepada Faras? 

“Tenang saja, aku sudah bilang bahwa kamu sudah menikah kok!” Kata Haifa berusaha menenangkanku, sepertinya dia tahu bagaimana kegalauan hatiku. 

Tak berselang lama datanglah Faras dengan mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan celana berwarna hitam. 

“Fania, bisa bicara sebentar?” tanyanya. 

“Bisa, tapi bertiga dengan Haifa, bagaimana?” 

“Ok , tak masalah.” 

Aku tarik tangan Haifa, supaya mengikuti langkah kami. Kami menuju taman di depan gedung perpustakaan. 

“Fania, jujur aku kecewa sekali saat tahu bahwa kamu sudah menikah.” 

Aku diam saja dan tak berani menatapnya. 

“Dulu aku kira kamu akan menungguku hingga aku bekerja, lalu aku akan ke rumahmu, melamarmu,” lanjutnya. 

Aku tarik nafas panjang. Haifa di sampingku juga diam. 

“Ternyata aku salah, aku tahu dari Ridho bahwa kamu sudah menikah. Aku pulang ke Indonesia untuk memastikan apakah benar itu terjadi. Ternyata memang benar begitulah kenyataannya.” 

Ridho adalah teman kita se SMA. Aku tahu aku salah, namun aku juga tak mungkin menolak permintaan ibuku. Aku lihat Faras, namun dia tertunduk lesu. 

“Faras maafkan aku, ini sudah takdir dari Allah.” Kataku dengan setengan berbisik. 

Namun seketika itu, kepalaku pusing, pandanganku menjadi gelap. Sayup-sayup aku dengar Haifa dan Faras memanggil namaku. 





Bersambung ....

Baca Cerita sebelumnya : Diorama Cinta part11 

#TantanganCerbung
#ODOP

Minggu, 18 Maret 2018

Diorama Cinta part11

Baca cerita sebelumnya : Diorama Cinta part10

Haifa mengantarkanku pulang. Di perjalanan aku lebih banyak diam. Tidak banyak obrolan yang kita lakukan. Pikiranku kalut, apakah aku akan bilang sama mas Bram? Bahwa aku dari dokter, dan katanya kemungkinan aku mengidap tumor atau kanker ovarium. Ah, sepertinya belum dulu. Lagipula penyakit ini juga belum pasti. 

“Gimana kata Dokter Fan?” Tanya Haifa memecahkan keheningan kami. memang dari tadi dia aku larang untuk ikut masuk ke ruang dokter. 

“Ah, ga pa-pa, cuma sakit perut biasa.” Alasanku untuk menutupi. 

“Alhamdulillah deh kalau begitu. Tapi kamu yakin, malam ini kamu tak ingin aku menginap di rumahmu?” 

“Ga usah Haifa, aku ga pa-pa kok. Lagian kamu besok kan juga harus ngantorkan? Kalau kamu menginap di rumahku, bisa-bisa besok kamu tidak bisa sampai kantor tepat waktu, terkena macet.” 

“Ya udah deh kalau begitu. Tapi kalau ada apa-apa kamu telepon aku ya?” 

“Iya.” Jawabku. 

“Oiya lusa jadi ikut reuni?” tanyanya. 

“Iya, ikutlah. Kamu jemput aku ya!” 

“Siap tuan putri,” jawabnya. Kamipun terkekeh. 

Tak terasa mobil haifa sudah masuk ke pekarangan rumahku. 

“Makasih ya Fa. Hati-hati di jalan!” Akupun turun dari mobilnya. 

“Aku ga usah turun ya? Udah malam, aku langsung balik.” 

“iya. Hati-hati.” Aku lambaikan tangan. 

“Assalamualaikum.” 

“Waalaikumsalam.” 

Tidak lama mobil suzuki Swift itupun tak terlihat. 

Dengan gontai aku melangkah menuju kamar. Berbagai macam pikiran dan perasaan menghantuiku malam ini. Aku binggung apa yang harus aku lakukan? Aku ambil laptopku, aku browsing tentang kanker ovarium. Mataku tak berkedip saat membaca dengan teliti setiap informasi yang di sajikan di salah satu laman kesehatan. Ya Allah ... kenapa tanda dan gejala kanker ovarium itu sama seperti yang aku alami akhir-akhir ini. Aku menarik nafas panjang, namun serasa susah sekali aku bernafas. Tak terasa air mataku mengalir. Aku teringat Almarhum ayahku, ibuku dan mas Bram, suamiku. Kini aku sendiri disini, meratapi ketakutan akan penyakit ganas yang kemungkinan di tubuhku. Jika memang benar ada tumor atau kanker di ovariumku, apakah aku masih bisa mempunyai anak? Menjadi seorang ibu, menjadi arsitek buat anak-anakku? Air mataku semakin deras mengalir. 



Bersambung ...

Baca cerita selanjutnya : Diorama Cinta part12

Diorama Cinta Part10



Sudah seminggu mas Bram pergi. Rutinitasku pun tak banyak berubah. Seperti pagi ini, setelah memasak aku mencuci piring. Seperti hari-hari sebelumnya aku menantikan pemandangan pagi hari yang selalu kutunggu. Namun ada yang aneh hari ini, burung gereja yang biasanya bertengger di ranting pohon kedondong kini hanya seekor. Yang satunya kemana? Ah ... mungkin sebentar lagi, pikirku. Namun setelah beberapa saat aku tunggu, burung itupun tak pernah hadir. Burung gereja itu  akhirnya terbang sendirian. 

Seketika pikiranku tambah kesepian. Aku sedih bahwa aku tahu burung gereja itu sejatinya sama seperti diriku. Segera aku ambil gawaiku. Biasanya pagi hari mas Bram akan meneleponku atau sekedar WA menanyakan kabarku. Namun aneh pagi ini, gawaiku tidak nampak berita darinya. Ah ... mungkin sibuk, gumamku. 

Apa aku yang harus memulai dulu? Tapi rasanya aku masih gengsi. Ah, entahlah ... itulah aku. Kubiarkan saja, kulihat gawai yang kini berada di atas meja. Kulihat tumpukan piring kotor yang belum aku sentuh. Meskipun tak banyak tapi tak juga aku cuci sejak aku tahu pagi ini tidak ada sepasang burung gereja, hatiku jadi merasa. 

Kini nyeri itu kurasakan lagi, kali ini sakitnya tak bisa aku tahan. Aku binggung hendak menghubungi siapa? Tidak mungkin aku menghubungi ibuku. Ibuku sudah tua untuk bisa naik kendaraan umum ke tempat tinggalku. Kini siapa lagi yang bisa kuhubungi? Mas Bram ... ah rasanya tak mungkin. Jika aku menelepon mas Bram, malah membuat dia semakin kepikiran. Hingga akhirnya kutahan sakit ini sampai malam hari. 

Haifa sudah pulang kantor? Tolong ke rumah sebentar ya! 

Ku kirim pesan itu ke pada sahabatku, Haifa. Aku tunggu balasan darinya. Dan akhirnya gawaiku pun berbunyi. 

Iya, tunggu ya sebentar lagi. 

Tidak lama setelah itu, bel rumahku berbunyi. Aku yakin itu pasti Haifa, sahabatku. Aku ambil kerudungku dan menuju ke pintu depan. 

“Assalamualaikum...” 

“Wa’alaikumsalam ...” 

“Masuk Fa.” Dengan menahan rasa sakit, aku pegangi perutku. 

“Fania, kamu tidak apa-apa? kamu pucat sekali!” tanyanya. 

“Kamu kenapa Fan?” tanyanya lagi. 

“Perut bagian bawahku sakit sekali Haifa, sejak tadi pagi.” Sambil meringis ku jawab pertanyaanya. 

“Kita kedokter ya?” 

Aku jawab pertanyaan itu dengan anggukan kepala. 

Di perjalanan haifa mengemudikan mobilnya dengan cepat bahkan bisa dibilang ngebut. Aku tahu dia sangat panik melihat kondisiku. 

“Pelan-pelan Fa, aku gak papa ko,” kataku. Agar dia tidak mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. 

“Iya, kamu tenang saja, bentar lagi nyampe.” 

Setelah mengantri akhirnya tiba giliranku memasuki ruang praktek dokter. 

“Malam mba! Sakit apa? Tanya dokter itu kepadaku?” 

“ini dokter perut di bagian bawah sakit sekali!” 

“Sering begini?” 

“Iya Akhir-akhir ini.” 

“Menstruasinya lancar?” 

“Enggak dokter.” 

“Coba saya periksa dulu ya?” 

Akupun tidur di tempat tidur yang sudah disediakan. 

“Maaf saya periksa perutnya ya?” 

Aku buka bajuku, aku perlihatkan perutku. 

“Loh, kok perutnya kelihatan agak besar ya? Mbak sudah menikah?” 

“Sudah dokter.” 

“Apa hamil?maksud saya apa pernah di tesk pack kalau hamil?” 

“Ah, ga mungkin lah dokter. Sekarang saya sedang menstruasi kok.” 

Dokter itu kini kembali ke tempat duduknya. Aku pun mengikuti. 

“Ini saya kasih rujukan untuk periksa ke dokter kandungan saja. Nanti biar disana diadakan pemeriksaan lebih lanjut.” 

“Maaf dokter, sebenarnya saya sakit apa?” 

“Kalau diagnosa saya, saya curiga, kalau tidak tumor ya kanker di ovarium. Tapi ini masih diagnosa sementara. Semoga tidak demikian ya!” kata dokter itu berusaha menghiburku. 

Seketika itu badanku lemas, seperti aku tidak mempunyai tulang untuk menyangga tubuhku. Ya Allah lindungi hamba dari penyakit yang berbahaya, doaku dalam hati.


Bersambung ...