Minggu, 08 April 2018

Menginstal Kepribadian Islami bagi Anak



Menjadi pribadi yang Islami merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam agama Islam. Karena Islam bukanlah ajaran normatif yang hanya diyakini dan dipahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tapi Islam memadukan dua hal antara keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan , antara keimanan dan amal saleh. Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam Islam harus tercermin dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan sikap pribadi-pribadi muslim.

Pembentukan kepribadian islami adalah menjadikan anak memiliki kemampuan berfikir, bertutur kata, bertindak, berakhlak, dan bertingkah laku selayaknya seorang muslim. Seorang anak diharapkan memiliki semangat juang yang tinggi dalam menyebarkan ajaran islam, membela kebenaran, menumpas kebatilan, serta berpegang teguh kepada ajaran islam, meskipun ia di kucilkan oleh orang-orang disekelilingnya. Dengan kata lain, yang di maksud dengan pembentukan kepribadian yang islami adalah pembentukkan pribadi muslim yang shalih, jiwanya dipenuhi dengan nilai-nilai keseimbangan dalam islam dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.

Ada beberapa macam langkah yang harus dilalui oleh orang tua dalam membentuk kepribadian islami bagi anak mereka, diantaranya adalah :

A. Memberikan contoh yang baik yang sesuai dengan ajaran islam
     Anak adalah peniru yang ulung. mereka lebih suka meniru orang tua dalam berperilaku dan bertindak. oleh karena itu, jika prilaku orang tua berdasarkan nilai-nilai ajaran islam maka akan membekas dalam kehidupan anak-anak mereka dan kelak anak-anak mereka akan menirunya. Pemberian contoh yang baik yang sesuai dengan ajaran islam merupakan salah satu faktor pembentukan kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam.

B. Menceritakan kisah-kisah islami
    Ada banyak kisah islami yang berisi kepribadian anak-anak musim, baik untuk anak-anak yang belum dewasa, menginjak usia dewasa ataupun setelah dewasa. Sebagian dari kisah tersebut ada di dalam Al-Quran dan sebagian yang lainnya merupakan kisah yang terjadi pada masa Rasulullah. 

kisah-kisah itu bisa menjadi pendorong untuk anak-anak agar mereka bisa meneladani dari tokoh-tokoh yang dikisahkan. Kisah-kisah tersebut diantaranya adalah kisah Ashabul Kahfi, Kisah Ashabul Ukhud (orang-orang yang menggali parit) dan anak-anak sahabat Rasulullah Saw.



Bersambung ....

Referensi :
Prophetic Parenting/Syekh Khalid bin Abdurrahman al-'lk: editor, Ahmad Saifuddin-cet.1-Yogyakarta:Laksana,2017

www.dakwatuna.com, 2009, Membangun Kepribadian Islami (Online)

Sabtu, 07 April 2018

Tetanic dan Morgan Robitson

Siapa yang tidak tahu kisah melegenda tentang sebuah kapal yang tenggelam akibat menabrak gunung es? ya kapal Titanic. Titanic adalah sebuah kapal penumpang super Britania Raya yang tenggelam di Samudra Atlantik Utara pada tanggal 15 April 1912. Kapal tersebut menabrak sebuah gunung es saat menuju pelayaran perdananya dari Southampton, Inggris ke New York City. Tenggelamnya kapal Tetanic ini merupakan salah satu  bencana maritim masa damai paling mematikan sepanjang sejarah yang mengakibatkan kematian sebanyak 1.514 orang. 

Tetanic ini dibuat pada  tahun 1909 sampai 1911 oleh galangan kapal Harland and Wolff di Belfast.  Berkapasitas penumpang sekitar  2.224 orang. Para penumpangnya terdiri dari sejumlah orang terkaya di dunia, serta lebih dari seribu emigran dari Britania Raya, Irlandia, Skandinavia, dan negara-negara lain yang mencari kehidupan baru di Amerika Utara. Kapal ini dirancang senyaman dan semewah mungkin, dengan dilengkapi gimnasium, kolam renang, perpustakaan, restoran kelas atas dan kabin mewah. Meski Titanic mempunyai perlengkapan keamanan yang maju seperti kompartemen kedap air dan pintu kedap air yang bisa dioperasikan dari jarak jauh, kapal tersebut tidak memiliki sekoci yang cukup untuk menampung seluruh penumpang kapal.

Lalu apa hubungannya dengan Morgan Robitson?

Morgan Robitson adalah seorang penulis novel dan cerpen yang terkenal di Amerika Serikat. Dia terkenal karena novel pendeknya Futility, or the Wreck of the Titan yang terbit pada tahun 1898.  Novel tersebut adalah novel yang berkisah tentang  kapal yang bernama Titan tenggelam di Samudera Atlantik bagian utara, setelah menabrak gunung es dalam perjalanannya dari Southampton ke New York City. Kapal besar Titan itu diharapkan tidak tenggelam sehingga tidak membawa sekoci yang cukup. 

Kemiripan tenggelamnya kapal Titan di novel karya Morgan Robitson yang diterbitkan pada tahun 1898 dengan tragedi tenggelamnya kapal Titanic pada tahun 1912 menarik banyak perhatian. Dalam novel tersebut, Kapal Titan tenggelam setelah bagian kanan depan menabrak gunung es pada bulan April dan itu sama persis dengan tragedi yang terjadi pada kapal Titanic. Asal dari kedua kapal juga sama dari Britania Raya. Kapal Titan juga memiliki beberapa kemiripan dengan kapal Titanic, yang baru dibuat 14 tahun kemudian.

Meskipun ada beberapa perbedaan yang signifikan, seperti Titan terbalik dan tenggelam hampir bersamaan padahal Titanic tidak demikian. Titan berada pada perjalanan kembali ke-3 dari New York, bukan pelayaran perdananya ke New York. Setelah musibah Titanic, Robertson menerbitkan kembali novel itu sebagai Futility, or the Wreck of the Titan dengan ukuran kapal yang ditambah dari awalnya 45.000 ton ke 75.000 ton, mendekati 66,000 ton pada Titanic.


#30DWC
#Squad4
#Day18



Jumat, 06 April 2018

Pelita Fajar

14 April 1985 
Malam sunyi, di luar sepi tak ada suara kecuali bunyi jangrik yang memamerkan keindahan nyayiannya. Semilir angin yang berhembus dari selatan,  menyapa ranting pohon mangga, menelisik daun bunga nusa indah, menjatuhkan bunganya yang sudah kering, membuat suhu semakin dingin, lalu semilir angin itu pergi entah kemana. Burung-burung pipit sesekali bercuit-cuit seolah memberikan tanda bahwa pagi akan segera tiba.

Di sebuah kamar kecil berukuran 4 x 3 yang remang-remang, seorang ibu sedang merintih kesakitan. Ibu itu sedang meregang nyawa demi melahirkan buah hatinya ke dunia. Tiga hari sudah merasakan sakit akibat kontraksi yang tak kunjung selesai. Seorang nenek, yang dipanggil dukun bayi waktu itu, masih setia menungguinya sejak tengah malam. Sebuah lampu teplok minyak tanah yang terpasang persis di samping poto pahlawan perempuan dari Aceh, Cut Nyak Dien, apinya menari-nari, siap menjadi saksi akan lahirnya seorang bayi di muka bumi.

Tepat pukul empat pagi, bersamaan dengan kumandang adzan subuh di masjid dekat rumah, anak pertama yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir ke dunia. Seorang bayi perempuan dengan panjang 50 cm dan berat 3,4 kg. Tangisan bayi itu seolah menyambut  muadzin yang sedang mengumandangkan seruan-Nya. Bayi perempuan itu diberi nama Dian Fajar.

Dian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah alat untuk menerangi sesuatu atau pelita. Fajar adalah keadaan dalam hari ketika cahaya kemerah-merahan tampak di langit sebelah timur menjelang matahari terbit. Maka Dian Fajar adalah pelita fajar. Selain karena lahirnya waktu fajar, kedua orang tuanya berharap bahwa anak perempuannya nanti bisa menjadi cahaya yang dinanti, memberikan inspirasi kepada banyak orang yang membutuhkan pencerahan, layaknya cahaya fajar yang memulai hari, yang selalu ditunggu oleh orang yang menginginkan datangnya pagi.

*** 


Kini bayi perempuan yang susah dilahirkan itu telah tumbuh  besar. Dibesarkan dalam lingkungan yang sederhana. Bapaknya yang dulu hanya seorang penjaga sekolah, sedangkan ibunya seorang guru SD. Dahulu gaji guru tidak seperti sekarang, tidak ada Tunjangan Profesi Guru (TPG). Maka gaji bulanan hanya cukup buat makan, itupun makanan yang sederhana. Mungkin karena itulah anak perempuan itu ketika dewasa hanya berpostur mungil. Apa karena kurang gizi? atau memang karena genetik? Ah ... entahlah.

Tinggal di sebuah desa yang masih sejuk udaranya. Sebuah desa yang terletak di arah barat daya dari kota Gresik. Hamparan sawah yang luas dengan kultur masyarakat dinamisme yang masih kental, menjadikan desa itu masih terlihat sangat tradisional.

Konon, dahulu ada sebuah pohon besar yang dijadikan tempat sesembahan. Batang pohonnya disarungi dengan kain berwarna putih, dihari-hari tertentu ada banyak sesajen di bawah pohon itu. Tepat di samping pohon itu ada sebuah mata air. Mata air yang kata beberapa warga tidak akan pernah kering. Beberapa ikan hidup di sana, namun tak seorangpun yang berani mengambilnya. Bunga-bunga jaman dahulu juga masih banyak ditemukan. Bunga nusa indah atau  bunga sepatu bertengger manja di depan rumah mayoritas warganya.

Dahulu ada anak yang hilang, kata orang pintar di gondol Wewe Gombel. Seluruh warganya keluar rumah dan mengililingi desa dengan menggunakan peralatan dapur. Mulai dari panci, tampah, penggorengan, dan lain-lain. Membuat bunyi suara dari peralatan dapur menjadi sebuah nada, persis seperti orkestra berjalan. Mengelilingi desa dari ujung desa sampai ke tempat-tempat yang dianggap angker, termasuk pohon keramat itu. Namun itu cerita dulu, sekarang  desa itu sudah bermetamorfosa menjadi desa yang dipaksa modern karena perkembangan teknologi. Para ibu yang dulunya suka mencari kutu rambut sambil ngerumpi, kini lebih asyik bermain media sosial. Update status ketika hendak pergi ke sawah atau mengantar anaknya ke sekolah.

***

Sang Pelita fajar itu kini menjadi seorang ibu. Ibu yang sedang menggandrungi tulisan. Jari-jarinya  senang menari-nari di atas tuts Laptop miliknya. Dia bebaskan imajinasinya tertuang dalam rangkaian kata. Melalui tulisannya, dia berharap bisa memenuhi harapan kedua orang tuanya. Harapannya bisa membuat tulisan yang menginspirasi orang atau sebagai ladang dalam menebar kebaikan. Seperti mottonya, menulis adalah caranya untuk menyapa dunia.



#TantanganDiskripsi


Rabu, 04 April 2018

Ikhlas dalam Mendidik Anak

Syarat diterimanya amal ada dua yaitu Ikhlas dan sesuai dengan tuntutan Nabi Muhammad. Sebagai seorang Muslim dalam melakukan ibadah harus di dasarkan kepada dua hal tersebut, yaitu ikhlas dan sesuai teladan Nabi Muhammad.

Ikhlas ialah  menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. (Sumber: https://almanhaj.or.id/2977-pengertian-ikhlas.html)

Dalam melakukan apapun, Ikhlas harus menjadi landasan awal. Demikian juga iklhas dalam mendidik anak. seringkali orang tua mendidik anak-anak mereka ingin agar anak-anaknya menjadi anak yang sukses dunia. tidak ada yang salah sebenarnya. Namun jika itu tujuan utamana maka kemungkinan kita sebagai orang tua hanya mendapat sedikit keberkahan dari apa yang selama ini kita lakukan.

 Lalu bagaimana sih seharusnya kita Ikhlas dalam mendidik anak itu? Jika mendidik anak mengharapkan ridhonya Allah maka seharusnya melakukan apa-apa yang membuat Allah ridho. Dan yang membuat Allah ridho adalah yang sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan, baik yang terdapat di dalam Alquran atau melalui tuntutan yang di contohkan Nabi Muhammad.

 Di dalam Al-Quran , Allah Swt telah menceritakan kepada kita tentang nasihat Luqman yang penuh keikhlasan dan kebaikan kepada anaknya. 

         يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ


"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). " (QS. Luqman ( 31) : 17).

Dalam Pemberian wasiat kepada anaknya, Luqman berpesan agar anaknya menjadi pribadi yang shalih dengan jalan beribadah kepada Allah  SWT. Luqman juga berpesan kepada anaknya agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, yakni dengan menyerukan perbuatan yang ma'ruf  dan mencegah perbuatan yang mungkar. Selain itu Luqman juga berpesan kepada anaknya agar menjadi orang yang sabar bila menerima perlakuan yang semena-mena dari orang lain. Dalam ayat di atas terdapat pesan moral yang sejalan denga nilai-nilai ajaran islam.


#Ikhlas
#30DWC
#Squad4
#Day14

Selasa, 03 April 2018

Marni


Marni adalah seorang gadis desa yang cantik jelita. Wajahnya bulat dengan matanya yang belok. Rambutnya sebahu dengan warna hitam kemerah-merahan. Lesung pipi selalu menghiasi wajahnya jika dia tersenyum. Tingginya 165 cm dengan berat 55 kg membuat postur tubuhnya ideal. Singkat kata Marni adalah gadis desa yang menjadi primadona di kampungnya. 

Kini Marni sedang dirundung rindu. Pemuda yang dia cintai telah pergi entah kemana. Dua tahun yang lalu merantau ke seberang lautan dan hingga kini tidak kunjung pulang. Marni selalu menunggu di perbatasan desa, di mana tempat itu dulu adalah tempat perpisahan untuk terakhirnya kalinya. Setiap pagi dan sore hari, Marni pasti berdiri di tempat itu dengan membawa selendang warna biru tua pemberian darinya. 

Hampir setiap hari Marni pergi ke rumah Pardi. Bertemu ibu Pardi untuk menanyakan kabar anaknya. Tapi apa yang dia dapatkan? Lagi-lagi hanya kecewa. Pardi tak kunjung memberi kabar kepada dirinya maupun keluarganya. 

Setiap malam, Marni duduk di teras rumahnya. Memandangi langit, dalam hati kecilnya, dia merasa bahwa Pardi juga memandangi langit yang sama. Memandangi langit adalah ritual yang membuat rindunya sedikit terobati. Dibaca-baca lagi semua surat yang pernah dikirim untuknya sebelum Pardi pergi. Pardi saat rajin mengirimi Marni surat. Padahal rumah Marni dan Pardi tak terlalu jauh jaraknya. 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, namun tanda-tanda kepulangan Pardi tak kunjung ada kabar. Orang tua Marni gusar melihat tingkah anaknya yang semakin lama semakin tidak normal. Marni dulu gadis periang, aktif di berbagai acara karang taruna di desanya. Namun kini Marni lebih banyak berdiam diri di kamarnya, ke perbatasan desa atau melamun di teras rumahnya ketika malam menjelang. 

Marni seperti orang yang kehilangan jiwanya. Raganya hanya raga yang tidak bernyawa. Menjalani rutinitas hariannya nyaris tanpa semangat dan senyum ceria. Marni seperti mayat hidup yang berpenyakit ganas, yaitu kanker rindu stadium empat. 

Suatu hari keluarga Marlan datang ke rumah Marni. Marlan memang dari dulu ada hati dengan Marni. Marlan ingin menjadikan Marni sebagai istrinya. Marlan pandai membaca situasi bahwa Pardi sudah tidak ada kabar, maka Marlan berani untuk meminang Marni. Namun bagaimana reaksi Marni? Marni dengan serta merta mengusir Marlan dan keluarganya keluar rumah. Mengetahui diperlakukan tak sepatutnya, Marlan sakit hati. 

Keesok harinya Marlan pergi ke orang pintar di tetangga desa. Marlan ingin Marni mau menerima lamarannya. Mbah dukun memberikan jampi-jampi dan ritual yang harus dilakukan Marlan. Inilah kata orang, cinta ditolak dukun bertindak. 

*** 

Marni kini semakin linglung seperti orang binggung. Rambut yang dulu sebahu kini semakin panjang. Namun rambut yang semakin panjang itu jarang disisir, acak-acakan, warna hitamnya kini semakin dimonompoli warna merah. Senyumanya yang dihiasi lengsung pipi kini tak ada lagi. Lesung pipinya telah pergi sejak Pardi menghilang tanpa kabar. Mata belok dengan bulu mata yang lentik kini lebih sembab karena banyak air mata yang keluar. Kantung mata semakin tebal dan menghitam. Karena setiap malam dia kurang tidur memandangi langit di teras rumahnya. Terkadang jika hujan, Marni tetap nekat ke luar. 

“Oalah Nduk-nduk Kamu ini kenopo to?” Tanya ibunya sambil membelai rambutnya. 

Marni tidak menjawab pertanyaan itu, pandangannya kosong seperti hari-hari sebelumnya. 

“Mandi dulu saya! Sudah seminggu kamu belum mandikan?” perintah ibunya kepada Marni. 

Marni tidak pergi ke kamar mandi, dia malah masuk ke dalam kamarya mengambil selendang biru. Dilingkarkan selendang itu di lehernya, dia pergi mengelilingi desa. Rutinitas yang akhir-akhir ini dijalaninya. 

*** 

Suatu hari, mobil sedan warna putih masuk ke desa. Semua orang dibuat takjub dengannya, karena konon tidak banyak mobil yang masuk ke desa itu, kecuali milik Pak Lurah. Seseorang turun dari mobil sedan berplat Jakarta. 

“Pardi?” Teriak seorang warga yang mengetahui bahwa yang turun dari mobil sedan warna putih itu adalah Pardi, tetangganya. Sudah hampir tujuh tahun Pardi menghilang tanpa kabar berita. Tak lama Pardi turun dari mobinya, ada seorang wanita dan anak perempuan kecil juga turun dari sana. 

“Mbak Sur, kenalin ini istri dan anak saya!” kata Pardi kepada Surti. 

“Ya Allah Pardi, kamu kemana saja?” kata Surti. 

Belum sempat Pardi menjawab pertanyaan Surti, mata Pardi menangkap sosok wanita yang berkalung selendang biru melintas di depannya. Namun wanita itu seperti sudah tidak mengenalinya lagi. 


#Rindu
#30dwc
#squad4





Kamis, 29 Maret 2018

Tantangan 9 Be Creative Day 8



Toko Makanan dan Buah


Hari kedelapan anak-anak mulai "menciptakan" kreatifitas maenannya sendiri. Hari ini mereka menggambar di kertas mereka masing-masing. Rizwan menggambar berbagai macam makanan dan minuman, ada es krim, kentang goreng, pizza. Sedangkan Uwais menggambar aneka macam buah dan berupa titik-titik, dan ketika saya tanya itu adalah biji buah. Saya rasa mereka menggambar sesuai dengan apa yang mereka suka. Rizwan suka makanan yang persis ada di gambarnya sedangkan Uwais juga demikian, menyukai berbagai macam buah-buahan.

Awalnya saya pikir mereka hanya menggambar makanan kesukaannya. Namun saya salah, mereka membuat gambaran tersebut bukan hanya buat gambaran, namun mereka membuat sebuah toko yang isinya menjual barang-barang yang ada di gambarnya.

Waow ... jujur, saya kaget sekali. Mereka bermain peran. Berperan sebagai penjual dan pembeli, hmm ... sama-sama penjual dan pembeli mungkin lebih tepatnya. Dibawah gambar-gambar itu memang ada harganya. Dan saya tahu Uwais beradegan sebagai penjual saat dia menawarkan barang dagangannya.

Lucu sebenarnya, karena gambar Uwais meskipun tidak sempurna bentuknya, namun ketika saya tanya, "Ini buah apa Uwais?" Dia menjawab dengan yakin sekali bahwa itu adalah gambar melon, semangka, anggur dan apel. Sedangkan di sisi sebelahnya adalah biji-bijinya yang bisa ditanam. Lalu ada angka di sampingnya, kalau saya tanya itu adalah harganya. Karena belum bisa menulis, dia meminta saya menulis kata "buah" diatas gambar yang dia sebuat buah dan kata "biji" yang dia sebuat sebagai biji.


Alhamdulillah nya, kegiatan bermain peran ini bisa mengalihkan perhatiannya dari melihat televisi atau bermain gawai.



Selasa, 27 Maret 2018

Diorama Cinta Part 13



Aku lihat ruangan yang serba berwarna putih. Ruangan yang sama sekali tidak aku kenali. Ada Haifa, Faras, ibuku dan ibu mertuaku. Ada selang infus di tanganku. Aku mencoba untuk bangun, namun kepalaku masih terasa sakit.

“Fania .... " Mereka hampir berbarengan memanggil namaku.

“Aku di mana?” tanyaku.

“Kamu di rumah sakit, Fania!” jawab Haifa.

“Kamu sakit, kok gak bilang sama ibu, Nduk?” kata Ibuku.

“Tolong jangan bilang ke Mas Bram ya Bu!” Aku memohon kepada Ibu mertuaku. Beliau cuma mengangguk dan tersenyum.

Aku lihat Faras duduk di sofa. Sofa yang terletak tepat di depan tempat tidur. Dia masih mengenakan kemeja kotak-kotak warna biru seperti waktu di acara reuni. Dia menatapku dengan tatapan iba. Sedangkan Haifa berdiri di sampingku bersama Ibuku dan Ibu mertuaku. 

“Aku pingsan ya?” tanyaku.

“Iya Fania, kamu pingsan. Faras dan Haifa membawamu ke rumah sakit,” kata Ibuku.

“Makasih ya Ras!” Sengaja hanya aku tujukan buat Faras. Aku tahu bahwa Haifa pasti memaklumiku. 

Faras hanya tersenyum. Seorang dokter dan perawat datang. Dokter Arya, begitulah yang aku baca di jas baju praktiknya.

“Fania ... besok kita akan melakukan pemeriksaan yang menyeluruh. Dokter Haysa, adalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini akan memeriksa kamu. Bagaimana masih terasa pusing?” tanya dokter Arya.

“Sedikit, Dok!” Aku jawab pertanyaan itu dengan berbohong. Aku tak ingin semua orang mengkhawatirkan kondisiku.

“Iya ... kamu kekurangan darah Fania, sudah berapa lama pendarahan ini?” tanyanya lagi.

“Sudah seminggu lebih Dok.”

“Obatnya diminum ya, istirahat yang cukup! Biar besok badannya terasa lebih fresh.”

“Iya Dokter.”

Faras yang dari tadi duduk di sudut sofa, kini berdiri dan menuju keluar, mengikuti dokter itu pergi. Haifa mengikuti langkah Faras. Sedangkan Ibuku dan Ibu mertuaku masih setia di sampingku.

“Sabar ya, Nduk! Gusti Allah yang ngasih kesembuhan. Banyak doa dan istighfar.” Kata Ibuku sambil memijit kakiku.

Inggih, Bu!” kataku sambil tersenyum.




Bersambung ....

Baca Cerita sebelumnya : Diorama Cinta Part12

Senin, 26 Maret 2018

Tantangan9 "Be Creative" Day5



Day 5 

Belajar sambil Bermain


Masih seputar tantangan untuk mengurasi durasi melihat tayangan televisi dan pemakaian gawai di rumah. Di hari kelima ini, untuk mengalihkan televisi dan gawai saya membeli buku aktifitas “Belajar sambil Bermain 1”. Buku itu berisi tentang kegiatan menggambar, mencari bayangan benda, mewarnai, mencari jalan, dan menghubungkan benda yang sama.

Uwais sepertinya sangat tertarik dengan buku ini. Dia ambil pensil dan mengerjakanya. Waktu malam menjelang tidur, dia juga masih mau mngerjakan.

“Ummi, mana buku Wais, Wais mau sekolah ini lho!” katanya.

Memang selama ini, jika dia belajar sesuatu dia analogikan sebagai kegiatan sekolah. Uwais yang sekarang menginjak usia 5 tahun memnag belum bersekolah. Saya berfikir bahwa memang saya menunggu Uwais siap untuk bersekolah. Usia 5 tahun sepertinya usia yang pas.

Karena selama ini saya berkaca kepada kakaknya, Rizwan. Saat itu saya masih kurang paham tentang ilmu parenting, sejak dini, saya sekolahkan Rizwan di sekolah formal. Ya ... mulai usia 3 tahun. Lalu apa yang terjadi ketika dia menginjak usia sekolah dasar? Dia sepertinya sudah bosan dengan rutinitas sekolah, setiap pagi pasti mencari alasan untuk meliburkan diri, mungkin sindrom malinggering sederhana terkadang menjangkitnya.



#Tantangan9
#BeCreative
#KelasBunsay
#IIP

Resume Materi 9 Kelas Bunsay


"Be Creative"



Setiap anak adalah kreatif. Mereka terlahir dengan rasa ingin tahu tentang banyak hal yang besar. Mereka tidak mengenal kata “tidak mungkin”. Mencoba semua hal dan tidak takut salah. Namun mengapa sekarang anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang tidak kreatif? 

Karena kitalah yang mematikan kreatifitas mereka. Sering kali para orang tua terlalu protektif terhadap anak mereka. Kita takut, besok anak-anak kita akan menjadi apa? namun kita lupa bahwa mereka adalah seseorang yang sedang menjalani hidupnya hari ini. 

Lalu para orang tua mengirimkan anak-anak mereka ke "sekolah". Ke sekolah yang sistem pendidikannya membuat citra positif akan kemampuan belajar mereka semakin menurun. Gaya belajar yang hanya mentransfer ilmu tanpa melibatkan proses berfikir kreatif anak. Dan seringkali menseragamkan pola pikir, padahal setiap anak adalah unik dan mempunyai pola pikir yang berbeda. 

Jadi apa yang harus kita lakukan? Berikan kepada anak-anak kita lebih banyak dukungan. Cintai mereka tanpa syarat. Setiap anak adalah unik, maka hargailah keunikannya. Dan beri ruang seluas-luasnya untuk mereka jelajahi. 

Bukalah kotak pemikiran kita. Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja. Biarkanlah ia berpikir berbeda dari hal-hal yang pernah kita alami. 

Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak. Jangan terburu-buru membuat pernyataan, namun perbanyaklah membuat pertanyaan. Agar anak-anak kita bisa menyampaikan idenya dengan CLEAR dan tugas kita hanya mengklarifikasi saja (CLARIFY).

Sesungguhnya proses kreatifitas adalah EVOLUSI (Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya), SINTESIS (Dua atau lebih ide digabungkan menjadi sebuah ide baru), REVOLUSI (Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada). 

Ubahlah Fokus dan geser sudut pandang. Dalam mendampingi anak-anak kita perlu memiliki berbagai sudut pandang kreatif setiap melihat aksi mereka. 

Maka ... 

Jika ingin melihat anak-anak kita menjadi anak-anak yang kreatif, kitalah yang terlebih dahulu harus berubah!

#resumemateri9
#BeCreative
#KelasBunsay
#IIP

Minggu, 25 Maret 2018

Tantangan 9 "Be Creative" day 4

Berkunjung Ke Rumah Nenek


Minggu ini adalah waktu berkunjung kerumah Nenek. Jadwal berkunjung ke rumah Neneknya anak-anak, memang sudah kami agendakan setiap dua minggu sekali. Rumah Ibu berada di Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Kota Pandaan terletak di kaki gunung Penangungan. Maka tidak heran suhu di sana lebih dingin daripada di Gresik, tempat tinggal kami sekarang. Letaknya sangat strategis, berada di tengah-tengah jalur Malang - Surabaya dengan akses menuju tempat pariwisata yang banyak.

Masih dalam suasana tantangan kelas Bunsay game level 9 yaitu dengan tema "Be Creative". Dan yang menjadi tantangan kami di hari-hari sebelumnya adalah bagaimana mengalihkan perhatian anak-anak dari gawai dan televisi maka hari kedua di rumah neneknya, kami gunakan untuk mengeksplorasi kota Pandaan.

Tujuan awal yang kami kunjungi adalah Taman Dayu. Taman Dayu awalnya adalah kawasan hunian dan resort golf yang dilengkapi dengan fasilitas Waterpark, Boutique Hotel, Camping Ground dan Outbound. Saat ini seiring dengan perkembangan di Kecamatan Pandaan, kawasan Taman Dayu telah dikembangkan menjadi kota mandiri yang juga dilengkapi dengan pusat bisnis dan perdagangan yang dikenal sebagai Pandaan Central Business District (CBD). Di dalam area Pandaan CBD ini didirikan gedung pertokoan, pusat jajanan kuliner (Food Terrace dan Food Veranda) dan Public Area yang berisi berbagai hiburan keluarga.

Sejak sekitar tahun 2007 kawasan Taman Dayu telah menjadi ikon kota Pandaan. Kawasan hunian The Taman Dayu dan Pandaan CBD dikembangkan oleh Ciputra Group. Di atas bukit, baru dibangun sebuah restaurant yang berkonsep alam, De Gunungan namanya. Sebuah rumah makan yang tidak hanya menjual makanan tapi juga menyediakan wisata pemandangan alam bagi para pengunjung.

Setelah dari Taman Dayu, destinasi selanjutnya adalah Taman Chandra Wilwatikta yang di dalamnya terdapat panggung sendratari alami terbesar di Indonesia dengan latar belakang gunung Penanggungan. Di panggung sendratari ini pernah diadakan festival tari Ramayana se-Asia. Taman Chandra Wilwatika juga terdapat tempat penangkaran rusa. Dan kini juga dibangun area bermain untuk anak-anak.






Seharian Mengeksplorasi dua tempat wisata di Pandaan ini, membuat anak-anak lupa dengan gawai dan tayangan televisi. Sebenarnya banyak cara untuk sedikit demi sedikit membiasakan anak-anak untuk tidak kecanduan gawai ataupun televisi. Namun memang dibutuhkan kesabaran dan kreativitas kegiatan yang beragam agar mereka bisa enjoy dan terlupakan.


#Tantangan9
#KelasBunsay
#Tantangan10hari
#BeCreative
#IIP

Sabtu, 24 Maret 2018

Tantangan 9 "Be Creative" day 3

Berkreasi dengan Kardus


Hari ketiga masih seputar mengahadapi tantangan dalam mengurangi durasi untuk melihat televisi di pagi hari. Hari ini adalah hari sabtu dan hari sabtu ayah mereka libur. Anak-anak akan melakukan berbagai macam aktifitas bersama Ayah. Dan hari ini aktivitas yang dilakuakan adalah membuat sebuah perahu dari bahan kardus.

Kenapa membuat sebuah perahu? Karena minggu depan kita akan mengikuti Family Camp se Jawa Timur yang mengharuskan setiap keluarga membuat perahu untuk dijadikan salah satu ajang perlombaan di sana. Kenapa kita memilih bahan kardus? Karena kardus adalah bahan yang paling gampang kami temukan di rumah. Lalu apakah nanti bisa bertahan lama di air? Tenang, kami sudah melapisi bagian bawah kardus dengan menggunakan solasi. Tapi apakah nanti perahu kami bisa mengarungi aliran sungai di sana? Nah kalau menjawab pertanyaan ini, mungkin itu nanti menjadi bahan tulisan saya selanjutnya.

Menjadi orang tua kreatif sebenarnya bisa dilakukan dengan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Membuat anak-anak untuk lepas dari gawai dan televisi pasti membutuhkan kreatifitas dan usaha yang sungguh-sungguh.

Hari ini keluarga kami belajar bagaimana meningkatkan bonding keluarga, dan bonding itu bisa di lakukan dengan cara-cara yang sederhana. Meskipun anak-anak tidak 100% membantu dalam proses pembuatan perahu, namun di sini, mereka akan banyak belajar tentang bagaimana cara menyampaikan ide, ide dari kreatifitas mereka.

Setelah perahu kami siap, ternyata masih ada sisa kardus. 
"Hmm ... enaknya dibuat apa ini?" tanyaku kepada anak-anak.
"Kita buat menjadi baju robot aja," usul Uwais.

Dan inilah hasil dari kreatifitas kami pagi ini, sebuah perahu dan baju robot (hmm atau baju perang?) Ah ... itu sih terserah yang menilai ya! hehehehe



#TantanganLevel9
#10hari
#kelasBUnsay
#Becreative
#IIP


Jumat, 23 Maret 2018

Tantangan 9 "Be Creative" Day 2

Membuat anak untuk lepas dari televisi dan gawai memang bukan perkara yang mudah. Butuh konsistensi dan kesabaran. Sebenarnya bisa lebih mudah, kalau seumpama kita hidup sendiri dengan keluarga kecil kita. Namun jika berada di lingkungan yang menyangkup nenek dan kakek pasti juga ada tantangannya.

Di hari ke dua tantangan level 9 ini, aku mengajak anak-anakku yaitu Uwais dan Fatir (karena mas Rizwannya masih sekolah) pagi ini bermain origami. Seni melipat kertas dari Jepang ini sebenarnya mempunyai banyak bentuk yang bisa dihasilkan. Untuk pagi ini, aku tidak memberikan contoh bentuk tertentu, namun Uwais sendiri yang membuat bentuk sesuai dengan imajinasinya. Meskipun dia sedang sakit dan melakukannya di atas kasur tapi dia masih semangat dengan aktifitas yang saya berikan pagi ini, dan hasilnya adalah ...

 




"Itu bentuk apa?" tanyaku.
"Ini bentuk lidah raksasa," jawab Uwais.
"Oh ... iya iya." Kataku sambil ku anggukan kepala. Aku ambil gawaiku dan aku suruh dia bergaya.


Setelah bosan dengan aktifitas bermain origami, aku ambil lagi buku gambar yang kemarin, yang  di halaman dua nya ada gambar kota. Aku ajak Uwais untuk mewarnai. Meskipun saya juga ikut mewarnai namun alhamdulillah kegiatan pagi ini, bisa mengalihkan kebiasaannya untuk menonton televisi di pagi hari.


#TantanganLevel9
#10hari
#kelasBUnsay
#Becreative
#IIP



Kamis, 22 Maret 2018

Rumah itu Bernama Bumi



Rumah itu bernama bumi. Di mana aku mulai melangkahkan kakiku di dunia literasi. Walaupun sebelumnya juga pernah mengikuti grup yang serupa, namun di bumi ada banyak hal yang berbeda.

Rumah itu bernama bumi, Di mana banyak ilmu  tentang dunia kepenulisan yang aku jumpai. Bagaimana cara menulis dialog yang benar, cara penggunaan kata sambung, kata depan, sebutan orang, dan seabreg tata cara penulisan yang disempurnakan.

Rumah itu bernama Bumi. Di Bumi untuk pertama kalinya tulisanku diapresiasi. 
Diapresiasi dengan cara dibedah dengan komentar-komentar yang membuat aku semakin melek akan kekurangan dan kesalahan. Ternyata masih banyak yang harus aku perbaiki.

Rumah itu bernama Bumi. Di Bumi baru pertama kali membuat cerita bersambung yang dipublikasi.
Cerita bersambung yang 12 episode  belum juga selesai. Namun di sini aku banyak belajar tentang konsistensi.

Rumah itu bernama Bumi. Di Bumi aku temukan orang-orang yang merasa senasib seperjuangan. Yang setiap malam terkadang harus begadang hanya karena satu alasan ... setoran tulisan.

Di bumi ... adalah sebuah rumah bagiku, di sana ada persahabatan, ada persaudaraan, ada coletahan, ada canda, ada tawa, (mungkin) juga ada cinta.

Di bumi aku tumbuh dan berkembang. Layaknya sebuah biji yang memerlukan pupuk, tanah yang subur, cukup air dan sinar matahari. Di sini, aku biji itu mendapatkan semua itu.

Terimakasih buat para peje atas ilmu dan pendampingannya. Mas Suden, Mbak Wiwid, Mbak Nisya dan mbak Lia ... sungguh kalian luar biasa. Mohon maaf dan terimakasih banyak untuk teman-teman penghuni rumah Bumi semuanya. Karena kalian semuanya, bumi menjadi begitu berwarna. 



NB : Sebenarnya ingin di postingan kali ini, ada poto-poto penduduk Bumi.