Senin, 05 Maret 2018

Gara-Gara ODOP

"Sudah malam ummi, kok belum tidur?" tanya suamiku.

"Bentar lagi, masih ada hutang tulisan belum selesai," jawabku

Ya ... Sejak mengenal ODOP jam malamku berubah, kini hampir setiap hari begadang adalah hal yang lumrah. Apalagi akhir pekan pasti sampai larut malam. Tugas tulisan yang harus setor setiap hari memang aku lakukan pada malam harinya, ketika anak-anak sudah tidur. Hal ini aku lakukan bukan tanpa alasan, karena aku pernah mencoba membuat tulisan pada siang hari. Tapi apa yang terjadi? tulisan itu bukan malah selesai tapi malah membuat aku stres. Bagaimana tidak stres, baru juga mengetik beberapa kata, datang si kecil dengan bermacam-macam permintaan dengan menggunakan laptop. Mau main gamelah, mau ikut ngetiklah, mau lihat filmlah. 

Tapi sebenarnya menulis malam hari bukan tanpa resiko. Resikonya adalah ketika laptop sudah menyala, namun mata tak mau bekerja sama. Kalau sudah begini, apa yang terjadi? Laptop itu akan menyala sampai pagi, sedangkan aku sudah terbuai di alam mimpi. Kalau begitu, tahukah kawan apa akibatnya? tumpukan hutang akan semakin menghantui. Kalau hari berikutnya begitu juga maka dipastikan hidupku bakal tak tenang seperti dikejar rentenir. hehehehe

Gara-gara ODOP juga aku seperti orang gila. Malam-malam suka tertawa sendirian adalah contoh kecilnya. Setiap hari mencari inspirasi tulisan bukan perkara yang gampang. terkadang suka merenung seperti orang melamun, demi apa coba? demi mendapatkan ide buat tulisan hari itu. Namun sayang upaya mendapatkan ide tulisan itu tak semudah melipat baju atau menyapu lantai. Sering buntu sering blank. Kalau sudah begini bagaimana? ya ... seperti tulisan ini yang sedang anda baca. Hahahaaa. Temanya ngalor ngidul gak jelas.

Semua jalan sukses memang butuh perjuangan. Aku anggap ini adalah sebuah proses menuju sukses itu. Thomas Alva Edison pernah mengemukakan bahwa tiga hal yang paling diperlukan untuk meraih keberhasilan adalah bekerja keras dan cerdas, ketekunan, dan akal sehat. Edison juga mengungkapkan bahwa segala sesuatu akan dapat dihasilkan dengan baik pada orang-orang yang terus bekerja sambil mencari dan memanfaatkan kesempatan.





Sabtu, 03 Maret 2018

Kita Bisa

Sejauh ini ada kekhawatiran dalam diriku, apakah bisa aku bertahan di ODOP Batch 5? Sering kali kekhawatiran itu cenderung membuatku untuk menyerah. Namun ketika rasa itu muncul, aku teringat sebuah kisah yang pernah di alami oleh Julius Caesar seorang komandan perang yang berhasil merebut pantai Brittania. 

Dalam catatan sejarah, Julius Caesar mempunyai startegi yang unik dalam merebut pantai itu. Ketika Julius Caesar berhasil mendaratkan pasukannya pada tengah malam yang dingin, dia berdiam diri sejenak, sedangkan pasukannya sibuk merapatkan dan menyembunyikan perahu-perahu yang mereka tumpangi. Karena pasukannya berfikir bahwa setelah pertempuran selesai, mereka akan kembali lagi ke kapal induk dengan menggunakan perahu-perahu itu.

Namun betapa kagetnya para pasukan itu ketika mendengar perintah dari sang komandan yaitu Julius Caesar untuk membakar semua perahu yang sudah mendarat. Sebagai pasukan yang taat pada komandan, meskipun dengan ragu-ragu mereka membakar semua perahu sampai hangus. Akhirnya, semua pasukan bertempur habis-habisan, karena mereka berfikir tidak akan kembali lagi.

Begitu pula seharusnya sikapku. Aku harus membakar semua kemungkinan yang membuat aku menyerah dan kembali untuk mundur menyelesaikan tantangan ODOP batch 5 ini. Aku harus membakar semua kekhawatiran itu. Karena aku tahu bahwa kekhawatiran itu sebenarnya sama sekali tidak mendasar, ketakutan itu tidak pernah menjadi kenyataan jika aku mau untuk komintmen menulis setiap hari. Mengingat kembali kenapa dulu aku mau bergabung dengan komunitas ini, bisa menjadi doping ketika rasa malas itu menghantui. 

Mari kita bakar "jalan" yang membuat kita kembali. Kita akan bertarung mati-matian menghadapi segala macam tantangan di sini untuk menang. Karena kita menganggap kita tidak punya jalan lagi untuk kembali. Yang penting bukan dari mana kita memulai, melainkan  dimana kita berakhir. Bukankah kita ingin menjadi peserta yang bisa bertahan hingga tantangan odop Batch 5 di tutup?

John C. Maxwell pernah mengatakan,"Kekhawatiran akan menghambat tindakan, tiadanya tindakan akan menuntun pada ketidak adanya pengalaman, tiadanya pengalaman menuntun kita pada ketidak tahuan, dan ketidak tahuan akan melahirkan kekhawatiran."


Menunggu Giliran


Siang itu sepasang kakek-nenek masuk dalam sebuah restaurant padang. Mereka tampak begitu mesra, selalu bergandengan tangan. Saat pramusaji bertanya kepada keduanya, mau makan disini atau di bawa pulang, mereka menjawab mau makan di sini. Akhirnya pramusaji itu mempersilakkan sepasang suami istri itu untuk mencari tempat duduk.

“Siang Kakek! Kakek mau pesan apa? Mau dihidang atau satu menu saja?” tanya seorang pramusaji.

“kami mau pesan seporsi rendang dan dua piring nasi saja, dan minumnya teh tawar dua gelas,” jawab kakek.

“ok ... saya ulang pesannya ya kek! Satu rendang daging, 2 piring nasi, dan 2 gelas teh tawar.”

Sambil mengangguk kakek itu memberikan isyarat bahwa pramusaji itu benar. Sebelum makanan mereka datang, minuman mereka telah sampai duluan.

Tidak begitu lama, seorang pramusaji membawa pesanan pasangan kakek-nenek itu. Ditaruhnya seporsi rendang daging di tengah meja, satu piring nasi di depan kakek, sepiring nasi lagi di hadapan nenek. Kakek itu menyantap nasi dan rendangnya, sedangkan si nenek tidak menyentuh sendok dan piring nasinya. Sang nenek lebih asyik melihat sang kakek makan. Sesendok dua sendok sang kakek makan dengan lahapnya. Melihat pemandangan begitu, seorang pengunjung merasa iba melihat pasangan tersebut. Dalam pikiran pengunjung tersebut, sepasang nenek dan kakek itu pasti hanya mempunyai uang yang cukup untuk membeli seporsi rendang. Dipanggilnya pramusaji, dan disuruhnya mengantarkan seporsi rendang lagi ke meja kakek-nenek itu.

“Ini seporsi rendang dibelikan seseorang buat nenek,” kata pramusaji itu.

“Oh ... terimakasih, tapi seporsi saja cukup buat kami berdua,” jawab nenek. Namun nenek itu tetap saja tidak menyentuh sendok dan piring nasinya. Dia masih tetap memandangi sang kakek yang sedang makan.

Seorang pengunjung lainnya merasa takjub dengan sikap yang ditunjukkan sang nenek. Dalam pikiran pengunjung itu, si nenek pasti sangat mencintai suaminya, sehingga setiap apa yang dilakukan suaminya tersebut, pasti menjadi pemandangan yang indah.

Pengunjung tersebut akhirnya duduk di dekat sang nenek. Karena penasaran pengunjung itu bertanya kepada nenek.

“Nenek kenapa selalu memandangi suami nenek?”

“Aku senang melihat dia makan dengan lahap, pasti rendang itu sangat lezat,” jawab nenek.

“Lantas kenapa nenek tidak memakan nasi dan rendang nenek?”

“Aku menunggu dia selesai makan” jawab nenek.

“Kenapa menunggu suami nenek?”

“Karena aku menunggu gigi yang dia pakai.” Jawab sang nenek dengan tersenyum.

***

Hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa diatas adalah terkadang kita suka menilai orang dari luarnya. Kita sering menilai sesuatu dari apa yang kita lihat. Padahal apa yang kita lihat belum tentu mempunyai nilai kebenaran. Pasangan kakek dan nenek itu bukan tidak mempunyai uang untuk membeli 2 porsi rendang, bukan juga karena cinta yang begitu besar (seperti cinta muda-mudi yang sedang di mabok cinta) sehingga nenek itu selalu memandangi suaminya ketika makan. Nenek tersebut berlaku demikian lebih karena menunggu giliran penggunaan gigi.

So ... jangan gampang menilai seseorang ya hahahaha



Kamis, 01 Maret 2018

Laskar Pelangiku

Dulu aku bermimpi bisa mengajar anak-anak yang tidak berseragam dan bersepatu karena keterbatasan yang mereka miliki. Bahkan tidak mempunyai gedung yang mentereng, belajarnya di mana saja. Mengajar anak jalanan, putus sekolah karena faktor biaya, anak pemulung dan yang lainnya. 

Itulah mengapa saat ada gempa dan tsunami Aceh tahun 2004, hatiku tergerak untuk berangkat ke aceh menjadi seorang voluteer. Saat itu belum ada program “Pengajar Muda” yang di gagas oleh Bapak Anies Baswedan. Ketertarikan menjadi seorang pengajar buat anak yang tidak mampu menjadi faktor yang dominan untuk mengabdi di dunia pendidikan. Karena niat itu juga akhirnya aku mendapatkan pendamping hidup. 

Kini impianku menjadi nyata, mengajar anak-anak yang memang tak berseragam dan bersepatu. Namun bukan mngajar di sekolah formal. Mengajar les lebih tepatnya, tanpa dipungut biaya. Murid-muridku adalah anak tetangga yang membutuhkan pendampingan dalam belajar. Awalnya aku tidak ada niat untuk membuka les-lesan. Setiap habis magrib aku mendampingi Rizwan (anak sulungku) belajar. Tahu kalau Rizwan mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya, teman-temannya dan anak tetangga pada datang kerumah ingin belajar. Awalnya tiga orang yang datang, namun semakin hari semakin banyak. Akhirnya aku batasi yang belajar di rumah. Bukannya aku tidak mau menerima sebanyak-banyaknya murid, namun semakin banyak murid semakin tidak kondusif, dan sepertinya aku tidak bisa optimal dalam mengajar. Kini ada 11 anak, mulai dari kelas dua sekolah dasa sampi kelas satu SMP. 

Selama aku mengajar, banyak hikmah yang aku aku temukan. Setiap anak mempunyai potensi kecerdasaannya. Mereka unik dan mereka semua istimewa. Ada yang pandai berlogika, namun tak pandai dalam bahasa. Ada yang tak pandai matematika namun menonjol visual-spasialnya. Ada yang tak pandai akademis namun kecerdasan kinestetiknya bagus. Ada yang tidak pandai akademis namun bagus kecerdasaan interpersonalnya, ada yang pandai bermusik, ada yang kombinasi dari berbagai kecerdasan. Ya ... semua istimewa Allah tidak pernah menciptakan produk gagal bukan? 


Semua anak unik, semua anak adalah bintang ... 





Selasa, 27 Februari 2018

Uhud Dulu Dan Sekarang

Jabal Uhud atau bukit Uhud adalah sebuah tempat bersejarah bagi kaum muslimin. Disebut Pertempuran Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil. Tak seperti umumnya gunung di Madinah, Jabal Uhud seperti sekelompok gunung yang tidak bersambungan dengan gunung yang lain. Karena itulah penduduk Madinah menyebutnya dengan sebutan Jabal Uhud yang artinya 'bukit menyendiri'. 

Dahulu tempat ini menjadi saksi tentang kisah kepahawanan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam dan para sahabat untuk memperoleh tiket ke surga dengan menjadi seorang syuhada. Beliau bersama pengikutnya berjihad memperjuangkan kalimat Tauhid, di masa awal sejarah islam. 
Perang Uhud terjadi pada tanggal 7 Syawal tahun 3 Hijriah atau 22 Maret tahun 625 Masehi. Saat itu kaum muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad melawan kaum Qurais yang di pimpin oleh Abu Sufyan dan Khalid bin Walid. 

Perang Uhud merupakan perang balasan oleh kaum Qurais yang mengalami kekalahan pada perang sebelumnya yaitu perang Badar. Abu Sufyan dengan pasuknnya 3000 pasukan ( 3 kali lebih banyak dari kaum muslimin) menyerang kota Madinah. Jabal Uhud yang menjadi saksi kekalahan kaum muslimin karena ketidak disiplinan dalam mentaati startegi perang, tergiur dengan harta rampasan perang sehingga menewaskan seorang pejuang islam salah satunya Hamzah paman Rasulullah. Kini tempat itu berganti fungsi menjadi pasar. 

Dulu tahun 2011 saat kami kesana, jabal Uhud tidak begitu rame dengan kegiatan perdagangan. Namun kini, tempat yang dulunya sebagai jihad meraih tiket ke surga itu sekarang dipenuhi oleh orang yang mencari harta dunia. Banyak para pedagang menawarkan bermacam barang, mulai dari barang-barang kecil dan aneka peralatan hingga beragam bumbu masak khas asia yang populer di Pakistan, India dan Indonesia. Selain pedagang ada juga tukang potret keliling dan juga para pengemis yang berlalu lalang. 

Dibalik historis dan fenomena sekarang, jabal Uhud menyimpan sebuah keistimewaan. Kelak bukit ini adalah salah satu bukit di surga. sebagaimana sabda Nabi Muhammand, "Bukit Uhud ialah salah satu dari bukit-bukit yang terdapat di surga” (HR Bukhari).

Suatu ketika Rasulullah SAW bersama – sama Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina Umar Al-Faruq RA, dan Sayyidina Utsman bin Affan RA. Setelah keempatnya sedang di puncak, terasa Gunung Uhud bergetar. Rasulullah SAW kemudiannya menghentakkan kakinya dan bersabda, “Tenanglah Wahai  Uhud. Di atasmu sekarang ialah Rasulullah seorang shiddiq dan dua yang kelak akan mati syahid.” Tak lama setelah tersebut Uhud berhenti bergetar. Demikianlah tanda kerinduan dan kegembiraan Uhud menyambut Rasulullah.


Senin, 26 Februari 2018

Mahalnya Rasa Terimakasih

Kemarin saat kami keluar kota dan memilih melaui jalan tol, ada kejadian yang mengusikku. Antrian pintu tol itu nampak tak biasa, ada 2 mobil di depan mobil kami yang tidak kunjung jalan. Ternyata seorang pengemudi taksi sedang sibuk mencari pinjaman kartu E-toll nya. Entah karena saldo kartunya habis atau lupa tidak membawanya? saya juga tidak tahu pasti. Setelah berkeliling untuk meminjam kartu tol dari beberapa mobil tidak kunjung dapat, akhirnya si supir itu menghampiri mobil kami.

"Pak, pinjam kartunya?" tanyanya tanpa basi-basi.

"Oh ... ini, tapi nanti di ganti uang ya!" kata suamiku.

"Ih ... Ayah pelit banget sih, gitu ajah minta dibalikin!" sahutku, saat supir taksi itu sudah hilang dari pandangan kami.

"Loh biar gak jadi kebiasaan, nanti kalau digratisin malah nyandu." Suamiku memberikan alibinya.

"Ah ... Ayah mah alesan."

 Tak berselang lama, supir itu datang dengan membawa kartu dan uang.

"Ini pak kartunya, habis Rp.5500." Sambil menyodorkan uang Rp.5000  kepada suamiku. Dengan buru-buru dia berlalu, karena menyadari karena ulahnya sudah membuat antrian dan macet panjang.

"Tuh... kan wong habisnya Rp.5500 ngasihnya Rp.5000." Kata suamiku

"Ih... masak sih yah?" tanyaku tak percaya.

 "Sebenarnya gak apa-apa sih, cumakan harusnya dia  berterima kasih, sudah dipinjami kartu, e.. malah yang minjamin di rugikan," kata suamiku.

"He... he... lucu ya," timpalku.

Sebenarnya ini masalah budaya masyarakat kita atau ulah beberapa oknum yang maunya enak sendiri dengan merugikan orang lain? secara logika, Dia harusnya memberikan sejumlah uang Rp.5500,00 atau kalau memang tidak punya uang  recehan Rp.500,00  kan bisa juga dilebihkan menjadi Rp.6000,00. Kelebihan uang 500,00 sebagai ucapan terimakasih kan tidak ada salahnya, daripada dia lari sana-sini, sudah membuat macet, sudah mendzolimi orang banyak. Atau mungkin memang uangnya cuma Rp.5000,00? ah kalau ini sih, menurt saya
kemungkinan yang paling tidak mungkin ya. Sekali lagi ini bukan masalah uang Rp.500, tapi masalah akhlak. Uang Rp.500,00 bisa saja kami anggap sebagai sedekah. Namun yang jadi masalah adalah ketika tidak ada unggapan rasa terimakasih, malah merugikan orang yang berbuat baik kepadanya. Coba tengok bagaimana islam memperintahkan untuk membalas kebaikan orang lain kepada kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa diperlakukan baik (oleh orang), hendaknya ia membalasnya. Apabila dia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaknya ia memujinya. Jika ia memujinya, maka ia telah berterimakasih kepadanya, namun jika menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkarinya” (HR. Bukhari).

Islam juga adalah agama yang penuh kasih sayang. Ia bukan hanya mengajarkan manusia membangun hubungan baik dengan Allah sang Maha Pencipta, tetapi juga mengajarkan untuk membangun hubungan baik dengan sesama manusia.

Salah satu bentuk hubungan baik sesama manusia adalah berterima kasih ketika mendapatkan pemberian atau perlakuan baik dari orang lain. Menyampaikan terima kasih kepada sesama manusia atas kebaikannya bahkan merupakan indikator apakah seseorang bisa bersyukur kepada Allah atau tidak atas nikmat-nikmat dariNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
Tidak dikatakan bersyukur pada Allah, siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud; shahih)



Me Time

Setiap manusia dianugrahi Allah SWT potensi dan kemampuan, baik lelaki begitu juga perempuan. Apapun peran mereka, apalagi bagi seorang ibu yang mempunyai tugas mulia …

Seorang ibu, bukan hanya mengurus rumah tangga, ada banyak potensi lain yang perlu dan layak digali dan dikembangkan, bukan malah dipadamkan, bukan?

Me time …

Adalah 2 kata ajaib bagi seorang ibu, terlebih bagi seorang ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumahnya.
Dari banyaknya pekerjaan rumah tangga, dari mengurus suami, anak- anak hingga membereskan rumah.
Itu semua rutinitas yang terkadang membuat bosan. 

Lalu, datanglah me time, bak seorang super hero tokoh marvells. 


Dengan me time, seorang ibu ini bisa memanjakan diri bahkan menggali dan mengembangkan potensi, termasuk me-refresh pikiran dan badannya supaya lebih segar, bahagia dan tentunya tampil penuh talenta. 


Karena jika ibu bahagia, maka keluarga pun bagaikan surga. 


Seperti slogan yang sedang hits "Happy mommy happy family".

Minggu, 25 Februari 2018

Komunikasi Produktif


Siapa sih yang tidak setuju dengan anggapan bahwa sebagian besar seorang ibu adalah cerewet? Pasti hampir semua menjawab setuju dengan lantang. Tapi taukah kamu, bahwa dibalik kecerewetannya adalah bentuk kepeduliannya. Dulu sebelum saya jadi ibu juga merasa demikian, tapi ternyata sekarang saya paham kenapa para ibu-ibu itu bertindak begitu. hehehe

Jadi poin yang harus digaris bawahi adalah "Dibalik kecrewetannya tersimpan kepedulian", cuma yang suka dilupakan oleh para ibu adalah bagaimana mengunggapakan "bentuk kepeduliannya" itu menjadi komunikasi yang produktif sehingga tidak terkesan cerewet.

Contoh kasus, seorang anak habis mandi. Handuk yang harusnya dia jemur atau diletakkan di luar tapi malah ditaruh di atas kasur. Daripada kita ngomong ngalur ngidul (ceramahlah bahasanya ya) lebih baik melakukan  komunikasi produktif. Kita bisa mengungkapkan apa maksud dan tujuan kita dan yang mendengarkannya pun enak.

Prinsip melakukan komunikasi produktif adalah :

1. Utarakan perasaan kita

2. Maunya kita tuh bagaimana

3. Akibat dari perbuatan tersebut.


Kalau dari contoh kasus diatas, kita bisa membuat formulasinya begini :

"Ibu sedih sekali jika kamu menaruh handuk di kasur. Maunya ibu, selesai mandi handuknya dijemur di luar. Karena handuk yang ditaruh di kasur, kasurnya jadi basah, bau dan sarang kuman."

Kalau begini bahasanya kan enak didingar. Daripada kita ngomong, "Kamu ini bagaimana sih, habis mandi handuk bukannya di jemur malah di taruh di atas kasur. Selalu saja begitu, kamu kan sudah besar masak ibu harus ngomel terus hanya gara-gara masalah begini setiap hari?"
Kalau komunikasinya begini dijamin si Ibu juga jadi uring-uringan dan si Anak juga tidak nyaman.


Ibu yang baik adalah bukan ibu yang tidak pernah marah, tapi ibu yg selalu belajar terus dan terus agar bisa lebih sabar. Belajar bisa dimana saja dan dengan siapa saja. Karena sejatinya setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru.

Semangat menjadi ibu pembelajar!

*Ini juga buat pengingat diri

Sabtu, 24 Februari 2018

Family Forum Kami



Pagi ini di family forum kami, aku membuka obrolan.

"Gara-gara ada pemberitaan tentang komunis sampai kebawa mimpi," kataku.

Rizwan pun nyletuk, "Apa sih komunis itu?" tanyanya.

"Komunis itu adalah paham yang tidak mempercayai adanya tuhan, orang-orang ini tidak mau diatur dengan aturan tuhan". Jawabku.

"Kenapa manusia kok harus diatur sama aturan Allah?", tanya Ayah kepada Rizwan.

Rizwan pun menggeleng dengan lemah karena merasa tidak tahu jawabannya.

"Rizwan kalo main komputer, sembarangan, gak mau ikuti aturan pemakaian komputer yang benar, selesai main dimatiin gak pake di shutdown, pencet sembarang, gimana coba?”Aku pun atusias menganalogikannya dengan kegiatan kesehariannya. Karena aku pikir, mungkin ini adalah moment yang pas buat menyampaikan ketauhitan dengan sederhana.

“Rusaklah komputernya" , jawab Rizwan.

“Betul, betul sekali, begitujuga manusia. Manusia kalau gak mau ikut aturan Allah ya bakal rusak. Rusaknya bisa di dunia atau di akhirat. Syariat Allah sebenarnya adalah untuk membuat hamba-Nya bahagia dan agar manusia terhindar dari kesusahan di dunia maupun di akhirat. Hidup di dunia ini adalah tempat ujian nak, sudah dikasih petunjuk apa-apa yang boleh dan tidak boleh. Petunjukknya semua ada di Al-Quran dan hadist Nabi, Jika Rizwan berpegang teguh kepada keduanya pasti akan selamat," jawabku.

"Oh...." Jawabnya sambil menganggukkan kepala.


Bagi kami family forum sangat berguna, setiap anggota keluarga bebas menyampaikan apapun tentang permasalahannya, keinginannya, kejadian yg dialami, cita-citanya atau apapun. Di forum ini adalah salah satu kegiatan yang bisa dimanfaatkan untuk mendidik menyampaikan ilmu kepada anak-anak. 

*Dalam perjalanan menuju ke Pandaan

Kamis, 22 Februari 2018

Semua Istimewa


Pagi ini kancil berjalan-jalan menusuri hutan. “Hmm pagi yang indah ...!”gumamnya. Hutan itu begitu asri banyak binatang yang lalu lalang dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang mencari makan ada yang masih santai di bawah pohon. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor kura-kura.

“Pagi kura-kura, mau hendak kemana? bagaimana kalau kita bermain hari ini?” tanya kancil kepada kura-kura yang sedang berjalan dipinggir jalan.

“Aku sedang buru-buru kancil, sodaraku sedang membutuhkan bantuanku di sungai!” jawab si kura-kura.

“Ha... ha ... jalan begitu kau anggap buru-buru, cobalah kamu berlari lebih cepat, pasti saudaramu tak akan menunggu lebih lama!”

“Ini aku sudah berlari,kancil!” jawab kura-kura denga keki.

“Ha... ha ... ha ...itu lari!  begini loh yang namanya lari!” Sambil memperagakan larinya. “Nanti aku tunggu di sungai ya? Aku ingin tahu, sampai sungai kamu butuh waktu berapa jam.” Sambil berlari, dia berteriak. Dengan sombong kancil menunjukkan kepada kura-kura tentang kehebantan larinya.

Setelah tiba di sungai, si Kancil bertemu dengan semut. Semut itu sedang mengumpulkan makanan dengan para koloninya. Merasa dirinya mau di injak oleh si kancil, semut itu berteriak.

“Hai Kancil, lihat-lihat dong kalau berjalan. Ada kami di bawah sini. Jangan asal injak saja,” protes semut kepada kancil.

“Maaf, habis kamu kecil sekali sih, mana tahu aku kalau ada kamu dan teman-temanmu. Makannya Badan itu yang besar kayak aku,  kelihatan kan? Jadi gak ada yang mengijak,” ledek kancil kepada semut.

Semut tak menghiraukan ejekan kancil, dia dan koloninya tetap berbaris menuju sarang mereka.
Tak lama setelah bertemu dengan semut, kancil menuju ke pinggir sungai hendak minum. Di sungai ada seekor ikan.

“Hai ikan ..., sedang apa kamu? Kamu gak bosan ya di dalam ait terus. Dunia ini bukan hanya air, ada daratan yang indah, ada banyak bunga, pohon, dan buah-buahan. Kalau di air, mana ada banyak tanaman? Pasti masih banyak di darat bukan?”

“Hmmm ... kamu kan tahu aku hanya bisa bernafas di air. Mana bisa aku jalan-jalan di daratan?”
“Ha .. Ha.. kasihan banget ya kamu!” Ledek Kancil kepada ikan.

Setelah puas minum, kancil bersandar pada sebuah pohon. Ada seekor burung gagak di sana. Burung gagak itu menyaksikan dari tadi mendengar percakapan kancil, semut dan ikan.

 “Kancil sedang apa kamu di sini?” tanya gagak .

“Aku ini sedang menunggu kura-kura. Kura-kura itu lambat sekali jalannya, dari tadi gak sampai-sampai, padahal aku sudah capek sekali menunggu.”

“Ya kan kamu tahu jalan kura-kura memang begitu, meskipun dia lambat dia punya tempurung sebagai rumahnya. Tempurungnya sangat kuat, jadi jika ada musuh yang menggangu atau ada bahaya, dia bisa bersembunyi di dalamnya.”

“Lantas kenapa semut tadi berteriak kepadamu?” tanya gagak lagi.

“Oh semut ... dia hampir saja terinjak aku. Salah sendiri kenapa badannya begitu kecil!” jawab kancil.

“Wah jangan salah ya, dengan tubuh kecil begitu, semut bisa masuk ke tempat-tempat yang sempit. Yang pastinya kamu tak bisa masuk kesana. Kancil, semua dari kita pasti istimewa, tidak ada yang di ciptakan yang tidak berguna, semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak mungkin kan Allah menciptakan produk gagal?”

“Lantas apa kelebihan ikan?” tanya kancil.

“Ikan bisa bernafas dalam air, dia pandai berenang. Kalau aku disuruh berenang pasti aku tidak akan sanggup. Begitupun sebaliknya, jika ikan itu disuruh ikut perlombaan terbang pasti juga tidak akan menang. Jadi tidak usahlah kamu menghina dan mengolok-olok. Semua unik, semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Jadi semua istimewa."

Mendengar penjelasan gagak, kancil mulai berfikir. "Lantas buat apa diberikan kekurangan. Kenapa aku tidak diberi kemampuan terbang sepertimu? atau kenapa aku tidak diberi kemampuan bisa bernafas di dalam air seperti ikan?"

"Kancil ... semua mempunyai kekuranga dan kelebihan. Dengan kekurangan itu, kita diharapkan bisa saling bekerjasama dan dengan kelebihan kita, kita menjalani peran kita masing-masing."

Kancil termenung ternyata apa yang dikatakan gagak telah menyadarkannya. Selama ini dia selalu menhina dan meremehkan teman-temannya.






Rabu, 21 Februari 2018

Perlu Budek

Peringatan hari kemerdekaan di Negeri Binatang berlangsung meriah dengan di adakannya berbagai macam perlombaan. Salah satu perlombaan yang sangat menarik perhatian rakyat negeri Binatang adalah lomba lari yang di ikuti oleh para Rusa. Para peserta lomba harus lari sejauh 10 km dan dekat di garis finish harus melewati sebuah sungai. Di sungai itu disedikan rintangan berupa pijakan, tapi pijakan itu tak semuanya kokoh. Peraturannya sederhana, jika ada Rusa yang jatuh di sungai maka diberi kesempatan dua kali unutk bisa melanjutkan larinya. Bagi pemenang yang berhasil sampai di garis finis berhak mendapatkan sebuah mahkota emas persembahan dari sang Raja.

Peserta lomba lari kali ini berjumlah 30 ekor rusa yang datang dari berbagai penjuru negeri Binatang. Selain karena berpartisipasi untuk memeriahkan hari kemerdekaan, mereka juga tergiur dengan hadiah yang diberikan. Ketika seorang juri meniup peluit tanda perlombaan dimulai, Rusa-rusa itu lari dengan sekuat tenaga. Ada yang melesat jauh di depan namun ada juga yang tertinggal di belakang. Namun ketika sampai di sungai, banyak rusa yang jatuh dan dinyatakan gagal, hingga tersisalah hanya beberapa ekor rusa saja. 

Penontonpun semakin histeris ada yang memotivasi namun banyak pula yang mengolok-olok. Memang terkadang penontot merasa lebih hebat dari pada para peserta. Beberapa waktu telah berlalu, para Rusa yang tereliminasipun semakin banyak karena telah terjatuh lebih dari dua kali. Tinggalah 5 ekor rusa yang berjuang sampai ke garis finish. 

Anehnya para penonton bukan malah memotivasi para rusa yang masih bertahan namun melainkan mereka justru menggendorkan semangat para rusa yang masih berjuang. "Ah ... sudahlah gak mungkin, sudah banyak yang jatuh, sudah pulang sajalah!"
" Haduh masak cuma gara-gara iming-iming mahkota aja sampai rela begini!" dan ada juga yang berkomentar, " Kalau aku mending pulang sajalah, gak usah terlalu ngotot , daripada sakit kenapa-kenapa mending pulang saja."

Mendengar teriakan-teriakan yang demikian, beberapa ekor rusa mulai jatuh motivasinya, daya juang mereka semangin melorot, dan akhirnya tereliminasi satu persatu. Melihat kondisi yang demikian, para penonton-penoton itu semakin mempertinggi suara teriaknya, mereka mengatakan bahwa tidak akan ada rusa yang berhasil menuju garis finish. Namun perlombaan belum selesai, meskipun ada rusa yang memilih untuk menyerah namun ada seekor rusa yang terus berjuang melewati pijakan-pijakan di sungai itu dengan optimis. satu persatu pijakan itu di injaknya dan dia terjatuh, namun jatuh pertama ini tidak menyurutkan tekatnya untuk menjadi juara.

Melihat Rusa itu terjatuh, mulailah para penontot itu bersorak lagi,  bahwa sesuatu hal yang mustahil kalau rusa itu bisa berhasil menuju garis finish, pasti seperti rusa-rusa lainnya yang tereliminasi. Namun sang rusa tidak patah semangat dia bangun dari jatuhnya dan mulai lagi dengan pijakan terakhir hingga akhirnya bisa keluar dari sungai dan berhasil menuju garis finish. 

Gegap gempita dan sorak penonton bergemuruh. Para penonton yang semula berkomentar meremehkan pun ikut bahagia. Semua penontot bertanya-tanya, kenapa rusa itu bisa berhasil hingga menuju garis finish? Apa yang menyebabkan dia bisa berhasil melewati rintangan disungai dan berhasil menjadi suara? Kenapa dia tidak berpengaruh dengan teriakan dn cemooh para penonton?Betapa kagetnya mereka setelah di periksa ternyata sang rusa juara itu tidak bisa mendengar alias budek

***
Dalam hidup terkadang kita perlu menjadi budek dengan komentar-komentar yang negatif yang membuat kita tidak bisa maju dalam meraih apa yang kita cita-citakan. Karena ada beberapa orang yang menerima komentar negatif membuatnya  sering kali mematahkan motivasinya untuk berkembang dengan baik dan optimal. Semua orang berhak berkomentar apapun tentang kita, namun kita juga berhak untuk memberikan respon yang bagaimana. Menjadikan komentar negatif itu menjadi lecutan semangat? atau malah menjadi tak percaya diri? dan terkadang kita juga perlu budek untuk tidak mendengar segala macam pembicaraan yang negatif yang justru menghambat laju kita untuk maju. Tapi bukan berarti dengan budek tidak melakukan intropeksi diri, jika memang komentar-komentar itu benar harusnya kita melakukan perbaikan diri agar kedepannya tidak terulang kembali. namun jika tidak benar maka bersabarlah, kebenaran akan menemukan jalannya. 

Selasa, 20 Februari 2018

Selingkuh


Sejak mengenal dunia maya, Facebook tepatnya, Erna kini banyak berubah. Dulu sehari-hari daster dan bau kompor adalah menjadi ciri-kasnya. Namun kini berbeda, gincu merah merona selalu melapisi bibirnya. Daster yang menjadi seragamnya sehari-hari kini juga berganti, rok mini dan kaos ketat membalut tubuhnya, dan daster itu kini menjadi jampel  di dapur dan sebagian lagi menjadi kain keset kamar mandi.

Marlina teman dekat Erna juga heran dengan perubahan penampilannya, bukan hanya penampilan gaya bicara dan cara berjalannya pun berubah. Dulu Erna suka membicarakan hal-hal seputar masakan, atau membicarakan tetangga mereka yang sembunyi karena dikejar-kejar bank harian. Namun kini tema pembicaraan Erna berubah, Erna seperti politikus yang sedang berkomentar di acara televisi, bahasa asingpun sering terlontar dari mulutnya, meskipun sejatinya Marlina tahu bahwa Erna pasti juga tak mengerti apa yang sedang dia ucapkan. Jika demikian Marlina hanya mengangguk-angguk dengan khitmat seperti orang yang sedang tidur dalam angkot.

Cara jalan Erna juga berubah, dulu Erna kalau jalan seperti orang yang sedang mengejar kucing yang mencuri ikan di meja makan. Cepat sekali. Dasternyapun dia salahkan karena mengganggunya dalam melangkah hingga tak jarang daster itu akan diangkat  diatas lutut. Tapi sekarang, jangan heran , jalannya seperti jalan induk entok yang sedang berjalan dengan anak-anaknya, seorang model yang sedang jalan di catwolk pun pasti kalah dengannya.

Persahabatan Marlina dan Erna dimulai sejak mereka masih SD. jika ujian, Marlina yang tak lebih pintar dari Erna selalu percaya dengan jawaban yang diberikan Erna padanya.
“Na.. no.5 Medan ibu kota dari propinsi apa?” tanya Marlina.
“ Jelas Ambon itu.”
“Ambon?” tanya Marlina ragu.
“Iya, percaya saja sama aku.1000% pasti betul. Kemarin aku lihat ditipi bikang Ambon menjadi buah tangan paling terkenal dari Medan. Jadi jelas, bikang nama makanan dan Ambon pasti nama daerah. Jadi Medan pasti ibukota dari Ambon.” Jawabnya mantab sekali, seperti orang yang sedang mengucapkan ijab kabul saat menikah,tak ada keraguan sedikitpun.

***
Persahabatan Merlina dan Erna tetap terjalin meskipun keduanya telah menikah. Marlina menikah dengan seorang pemuda dikampungnya. Sedangkan Erna menikah dengan pemuda tetangga desa. Tidak ada rahasia diantara keduanya. Bahkan urusan pribadipun kerap mereka bicarakan. Seperti yang terjadi diobrolan siang ini.

“Mar... tengoklah pemuda ini! Cakep banget kan?” Tanya Erna sambil menyodorkan gawainya kepada Marlina.
“Wah ini mah bukan hanya cakep tapi udah kayak artis. “ Jawab Marlina dengan antusias.
“Itu siapa Na? Aha jangan bilang itu selingkuhan kamu ya? Dosa atuh Na selingkuh itu! Kalau kang Ujo tahu bakal bahaya kamu, bisa-bisa kamu tidak dikasih uang belanja selama 3 tahun.”
“sstt... jangan keceng-kenceng ngomongnya. Aku Cuma kenal dia lewat facebook kok, belum pernah ketemu.”
“ih... itumah sama ajah atuh Na, sama-sama selingkuh. Meskipun belum ketemu tapi kalau kalian sudah sering ngobrol, apalagi ngomongnya pake mesra-mesra segala!”
“Ah sok tahu kamu Mar, namanya juga buat hiburan.”

4 hari kemudian Erna mendatangi rumah Marlina. Rumah Marlina yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Erna, Cuma berjarak 3 rumah. Saat itu Marlina sedang memasak di dapur.
“Mar... aku binggung!”
“Ada apa? Pagi-pagi kok sudah binggung,” jawab Marlina.
“Mas Joy ngajak aku ketemuan,”
“Mas Joy? Siapa dia?”tanya Marlina sambil membalik tempe di penggorengan.
“Iya mas Joy... itu loh poto yang pernah aku perlihatkan ke kamu, teman facebookku!”
“Oo... selingkuhanmu itu.”
“Hus... jangan kenceng-kenceng ngomongnya.”
“Kalian mau ketemu dimana?”
“Di Warung Mbok Sumi.”

Pukul 4 sore, Erna sudah rapi. Gincu merah merona dengan bulu mata anti badan sudah terpasang di mata sipitnya. Aneka warna warni, biru, merah, jingga juga berebut menghiasi wajahnya. Gaun merah muda selutut dengan banyak payet sudah ia kenakan. Baju itu terakhir dia pake saat tampil menyanyi di acara Agustusan. Baju keramat yang hanya digunakan saat manggung. Sandal berhak tinggi yang sudah lama tersimpan dalam lemari kini dia pake. Sandal itu hanya keluar jika menghadiri hajatan kawinan. Rambutnya yang dulu selalu di kucir kuda kini digerai  manja di pundaknya. Rambutnya dihiasi jepit kupu-kupu di sisi kiri dengan poni barunya yang baru saja ia potong siang tadi di salon Mbak Sri.

Dengan langkah entoknya dia terlihat sangat kaku. Nampak sekali dia tidak biasa menggunakan sandal berhak tinggi. Kekiri ke kanan  menjaga keseimbangan. Sore ini jantungnya serasa berdetak 2 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Selain merasa deg-deg bertemu mas Joy, Erna juga takut pertemuannya dengan pria itu diketahui oleh kang Ujo.

Pukul 4.30 wib Erna datang lebih dulu di warung Mbok Sumi. Di inbox Facebooknya mas Joy bilang bahwa dia kan menggunakan baju kotak-kotak warna biru muda dengan bunga mawar disakunya. Semenit dua menit Erna menunggu dengan perasaan tak menentu. Hingga akhirnya dari kejauhan terlihat sosok seorang pria memakai baju kotak-kotak biru muda dengan bunga mawar di sakunya. Tapi... semakin dekat pria itu sepertinya Erna kenal dengan sosoknya. Apa... itu kan Kang Ujo? Jerit Erna dalam hati. Kenapa Kang Ujo memakai baju kotak-kotak berwarna biru dengan bunga mawar di sakunya? Harusnya kostum itu yang dipakai mas Joy bukan Kang Ujo. Antara wajah Kang Ujo dengan profil picture di Facebook Mas Joy sangat jauh berbeda.

“Erna kenapa kamu disini?”tanya Kang Ujo membuyarkan pikiran Erna yang sedang binggung.
“Enggak ada apa-apa kang, tadi aku lewat jadi sekalian beli gorengan.”
“Aku pulang dulu ya Kang!” Dengan menjinjing sandalnya dia mengambil langkah panjang.
Di perjalanan pulang, dia membuka inbox di facebooknya, dia menulis sebuah pesan untuk Mas Joy
“Maaf mas sepertinya kita putus saja”

Di Facebooknya, poto profile nya dia hapus. Di poto itu nampak wanita cantik bermata belok tersenyum manis menunjukkan gigi gingsulnya. Poto wanita itu dulu dia ambil dari google. Dan sebuah akun facebook yang bernama Mr. Joy dia blokir.

Senin, 19 Februari 2018

ODOP Bagiku

ODOP adalah kepanjangan dari One Day One Post, satu hari satu kiriman. Jadi setiap hari harus menyetor tulisan minimal 300 kata yang di posting dalam sebuah akun blog. Dengan menggunakan aplikasi WhatApp sebagai sarana monitoring, aplikasi WhatsApp juga digunakan untuk mentransfer ilmu dan sarana untuk saling mengenal sesama anggota. Di WhatssApp, komunitas ini mempunyai 3 grup, satu grup besar ODOP, grup untuk setor tulisan dan grup kecil. Di ODOP anggotanya akan dibagi menjadi grup-grup kecil. Fungsi grup kecil ini adalah untuk membedah tulisan anggotanya.

Bukan hanya membuat tulisan setiap hari, di ODOP kita akan di berikan berbagai ilmu tentang kepenulisan. Setiap Senin dan Jumat ada materi tentang bergai macam Genre tulisan dan seluk beluknya. pembekalan tentang teknik menulis juga di berikan sebelum  membedah tulisan. Setiap anggota diharuskan memberikan krisan (kritik dan saran) untuk tulisan temannya. Dan di setiap pekan ada materi tantangan dan pasti ada yang dieliminasi. Anggota yang dieliminasi adalah yang dalam sepekan tidak menulis sebanyak 3 kali.

Semua orang bisa mengikuti komunitas ini. Baik perempuan ataupun laki-laki. Baik tua maupun muda. Baik Ibu rumah tangga seperti saya maupun yang berkerja di luar rumah. Dari berbagai macam profesi ada disini. Sehingga disini, aku merasa mendapat banyak suntikan dan ilmu. Bergaul dengan berbagai macam karakter orang dari berbagai macam suku dan daerah di Indonesia. Bahkan kalau tidak salah ada yang berada di luar negeri. Menyenangkan sekali bukan?

Awalnya tahu ODOP dari sebuah linimasa Facebook seorang teman yang membuka pendaftan ODOP Batch 5. Awalnya bertanya-tanya ini komunitas apa sih? Dari namanya One Day One Post pasti tiap hari harus menyetor tulisan. Seperti yang lagi booming di media sosial, ada yang One Day One Juz yang setiap hari membaca 1 juz misalnya. ada yang One Day One Status, setiap hari membuat status dan berbagai macam penggunaan istilah One Day.

Lalu mengapa aku memutuskan untuk bergabung dengan ODOP? Karena bagiku aku butuh sebuah wadah yang mampu menampung hobiku, yang memberikan banyak ilmu tentang dunia kepenulisan, yang memberikan suntikan semangat ketika sudah mulai bosan menulis. Yang bisa mengajariku menulis yang baik dan menarik. Yang bisa sedikit demi sedikit memperbaiki kesalahnku dalam menulis.

Dan taukah kamu, ternyata di ODOP aku dapatkan semua yang aku inginkan. Aku mendapat banyak ilmu. Berbagai macam ilmu tentang menulis dan tips-tipsnya. Bagaimana caranya menulis yang baik dan benar sesuai dengan PEUBI yang berlaku. Sedikit demi sedikit penulisanku mulai menuju ke jalan yang benar. Dulu menulis dengan singkatan adalah sesuatu yang biasa. Dulu menulis kalimat langsung masih banyak yang salah. Dulu aku tak tahu bahwa tulisan asing harus dimiringkan. Dan berbagai macam dosa-dosa yang tak terindentifikasi.

Di ODOP juga aku belajar bagaimana melatih konsistensi dalam menulis. Bergabung dengan sebuah komunitas yang memiliki kegembaran yang sama memang sangat membantu. Saling sharing, saling support. Boleh di kata di ODOP aku menemukan rumah yang baru.


#tantangan
#Pekan5
#ODOPBatch5
#oneDayOnePost