Minggu, 04 Februari 2018

PERSEPEKTIF LAIN TENTANG PROFESI IBU RUMAH TANGGA


Pada dasarnya semua ibu adalah pekerja. Ada yang memilih fokus bekerja di ranah publik namun ada juga yang fokus  berkerja di ranah domestik. Jadi menurutku sudah tidak jaman lagi ya mem-versus-kan keduanya, antara ibu pekerja diranah publik dengan ibu rumah tangga. keduanya mempunyai peran peradapan masing-masing, keduanya sama-sama mulia. Keduanya mempunyai tantangan yang berbeda.  Namun  kali ini, aku akan membahas tentang ptofesi ibu rumah tangga.
Banyak orang mencibir profesi yang satu ini. Mengganggap bahwa profesi ibu rumah tangga adalah profesi yang tidak berkelas, tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi dan menganggap bahwa semua orang pasti bisa. Sekilas memang profesi ini begitu mudah dijalani. Tak perlu keahlian khusus, tapi apakah memang begitu kenyataannya?
Tidak sedikit wanita yang bergelar sarjana memilih profesi ini, mendapat pandangan yang sumbang dari masyarakat atau keluarga besarnya. Mereka menganggap bahwa sayang sekali ijasah yang dengan susah payah di raih kini hanya tersimpan rapi dalam lemari. Anggapan "sayang ilmunya" membuat stigma negatif bahwa profesi ibu rumah tangga tidak perlu pendidikan tinggi. tapi apakah memang begitu?.  
Mendidik anak adalah tugas orang tua, baik ayah ataupun ibu, baik ibu pekerja ataupun ibu rumah tangga. Seorang ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya di habiskan dirumah, maka konsekuensi logisnya adalah dia punya banyak waktu bersama anak-anak mereka. Bermain bersama atau menemaninya untuk tumbuh dan berkembang. Menemani anak-anak untuk melakukan kegiatan yang positif, aktifitas yang sesuai usianya, yang mendukung tumbuh kembangnya, bukankah membutuhkan kreatifitas dan pengetahuan atau ilmu yang tidak sedikit?! 
Kalau parameternya dunia, maka profesi ini seperti tidak berkelas. Sebagian besar yang menekuni profesi ini (meskipun tidak semuanya ya) daster jadi seragam andalan, tidak perlu gincu, setiap pagi tidak perlu berdandan rapi, bersepatu (padahal seharusnya juga harus berdandan rapi mengantar suami pergi kerja?). Tidak ada kenaikan pangkat, tidak ada promosi jabatan, uang lembur, atau perjalanan dinas keluar kota.
Tapi coba parameternya berubah, orientasinya diubah, dari dunia menjadi akhirat. pasti tidak menganggap remeh profesi ini. seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan dirinya untuk keluarga, anak dan suami adalah pekerjaan yang mulia. Membentuk generasi dari dalam rumahnya, menjadikan manusia-manusia yang mempunyai peran dalam peradabannya adalah tugas yang harusnya tidak di pandang sebelah mata. ibu sebagai arsitek peradaban. You teach a man:you teach a man, you teach a women ; you build a generation.
Lalu apakah benar tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi?  Seorang ibu yang mempunyai tugas sebagai arsitek peradaban pasti membutuhkan ilmu yang banyak khususnya tentang pengasuhan. Apalagi tantangan jaman yang semua serba digital, semua  mudah dilakukan dengan sentuhan jari, pasti membutuhkan ketrampilan dan ilmu yang tidak sembarangan. Mendidik anak menjadi seorang yang tau tentang dirinya, tentang tuhannya pasti membutuhkan ilmu yang tidak main-main. ibu yang cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas.
Apakah mudah dijalani? Cobalah tengok kondisi para ibu rumah tangga. Mereka harus berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya. Terkadang kadar kewarasan yang mereka punya ada pada titik terendah. Kalau sudah begini apa yang akan terjadi? Pasti berakibat kekacauan dalam rumah, jadi uring-uringan. Jika seorang ibu yang kondisi emosinya tidak stabil, maka seluruh anggota keluarga pasti kena dampak yang luar biasa. Kena marah kan? hehehehe. Makanya akhir-akhir ini banyak bertebaran tagline  di media sosial Happy mommy happy family.
Saya punya seorang sahabat, dia dulu adalah seorang ibu pekerja di ranah publik. Pengajar di Universitas Airlangga Surabaya dan kini memilih menjadi profesi ibu rumah tangga murni. Apa yang terjadi? berbagai macam perasaan berkecambuk dalam dirinya. Dia merasa Useless, tidak produktif, rendah diri, mimpi-mimpinya serasa terbang tinggi meninggalkannya dan berbagai macam perasaan negatif lainnya. Apakah memang begitu? bagi saya dan sebagian besar ibu rumah tangga yang berijasah sarjana pasti berat jika melihat ijasah yang dengan susah payah di raih kini tersimpan rapi dalam lemari, ada ego yang harus ditaklukkan, dibutuhkan keikhlasan. Mengubah prioritas tujuan, dari siapa aku menjadi apa yang bisa aku lakukan. Bahwa orientasinya nya diubah dari dunia menjadi akhirat. bukankah anak-anak yang sholeh adalah investasi akhirat yang tidak ternilai harganya?
Sekali lagi kalau orientasinya dunia, maka ibu rumah tangga sepertinya tidak mempunyai ruang untuk berprestasi dalam hal duniawi, tidak ada hal besar yang bisa dibanggakan dari dalam dirinya. Namun para ibu rumah tangga seperti saya, bisa menekuni hobi. Mungkin dari hobi itu tergali sebuah potensi bakat yang dimiliki, dan dari potensi bisa menjadi sebuah kekuatan. Dengan kekuatan potensi inilah bisa menjadi citra positip bagi dirinya. 
Selayaknya manusia pada umumnya, seorang ibu rumah tangga pasti di anugrahi oleh Allah potensi uniknya, yang menjadikan potensi itu sebagai peran didalam kehidupan. Jadi ibu rumah tangga juga butuh diberi ruang untuk bisa mengembangkan hobi dan potensi.

SURAT CINTA UNTUK UWAIS

Malam itu, 31 januari 2013 perutku merasa mulas, tanda-tanda akan melahirkan pun semakin jelas. Aku nyakin entah malam ini atau besok pagi, bayi dalam kandunganku pasti akan lahir. Kulirik tas yang tergeletak di pojok kamar, tas untuk persalinan. Tas itu berisi baju bayi, baju gantiku, kerudung dan sarung. Sebenarnya perasaanku tak setegang melahirkan anak pertama dulu, cuma ada yang menganjal pikiranku, sekarang pukul 23.30 wib bagaimana jika bayi ini tak sabar ingin bertemu dengan ibunya? Kami naik apa ke rumah bidan yang jaraknya lumayan jauh? Tidak mungkin kami naik motor, motor itu pasti overload karena ada aku, ayahnya dan Rizwan anak pertama kami. Sedangkan mencari taksi tengah malam begini, apa ada ?. 
Ku elus-elus perutku, kukatanya padanya, “Nak keluarnya besok pagi saja ya, agak pagian!”, pintaku. Mules itu bertambah namun durasinya masih lambat.

Tanggal 1 Februari 2013. pukul 03.15 wib.
Darah segar itu sudah nampak. “Mungkin ini waktunya aku harus pergi”, gumamku dalam hati. Tas di pojok kamar itu kuraih, suamiku yang sudah siap dari tadi menstater motornya untuk mencari taksi. Dalam perjalanan, perutku bertambah kontraksinya. Dan sepertinya supir taksi itu tau bagaimana kegundahanku, aku takut melahirkan dalam taksi ini. Dengan kencang dia kemudikan mobilnya.

Pukul 06.00 wib Bulak kapal Bekasi.
“Masih bukaan 3 bu”, kata bidan itu kepada ku. “Mungkin sejam atau dua jam lagi, ibu tunggu di sini saja ga usah pulang”.
Ku elus perutku, “Anak Pintar, nanti bantu ummi ya nak! Ummi juga sudah ga sabar ketemu sama kamu”. 
Kontraksi itu semakin lama semakin sering. Tulang ekorku seperti ditarik dan mau putus rasanya, sakit sekali. Melihat ibunya yang meringis kesakitan, Rizwan (yang waktu itu masih berusia 4 tahun) mengelus-elus perutku.
“Sabar ya ummi, adik Rizwan mau keluarkan?”, tanyanya.
kujawab pertanyaan itu hanya dengan anggukan kepala.

Pukul 10.00 wib.
Kontraksi nya semakin sakit dan jeda waktunya semakin sering, dari pengalaman melahirkan sebelumnya aku tahu bahwa bayiku mau lahir ke dunia. 
“Ayah tolong panggilkan bidannya”, pintaku dengan berbisik.
Bu Bidan pun datang, setelah diperiksa akhirnya aku di bawa ke ruang bersalin. 
“Rizwan tunggu diluar ya, ayah jagain ummi mengeluarkan adiknya”, sayup-sayup kudengar suamiku bicara dengan anak sulungku.
Disela rasa sakitku, kulantunkan doa dan pujian untuk-Nya. Yang katanya ini adalah pertaruhan nyawa seorang ibu untuk anaknya. air ketubanku pecah dan inilah saatnya perjuanganku dimulai. Berkali-kali aku mengejan tapi mengapa dia tidak jua mau keluar? 
“Ayah... , aku sudah ga kuat”, kataku, aku menyerah.
“Bentar lagi ummi, bentar lagi… , semangat ya!”, memotivasiku sambil menggemgam tanganku. 
“Ayo bu… Mengejannya pake tenaga perut ya, ga usah bersuara. Sebentar lagi kok, sudah  kelihatan kepalanya”, kata bidan itu menyemangatiku.

Dan akhirnya lahirlah dia dengan persalinan normal, Uwais nama yang kami berikan untuknya. panjangnya 50 cm dengan berat 3,8 kg. karena bayinya besar, pundaknya selalu nyangkut ketika hendak keluar, itulah mengapa mengejan berkali-kali tapi tidak kunjung lahir. Dari ketiga persalinanku, melahirkan uwais adalah yang paling sakit dan membutuhkan perjuangan yang panjang.



*********** 
 Kini bayi yang dulu susah di lahirkan, hari ini tanggal 1 februari 2018 genap berumur 5 tahun. Harapan kami sebagai orang tua, kami ingin kamu seperti sosok namamu, Muhammad Uwais Al-qarny. Muhammad seperti sosok rasul Allah,bahwa kamu umatnya nabi Muhammad, harus meneladi kehidupan dan akhlak beliau. Sedangkan Uwais  adalah pemuda dari Qarn, seorang pemuda yang tidak dikenal oleh penduduk bumi tapi terkenal oleh penduduk langit. pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. 





Tulisan ini aku persembahkan buat uwais anakku... 
(bahwa ibunya pernah menulis ini untuknya)


Sabtu, 03 Februari 2018

NAURA


Namaku Naura, biasa di panggil Na. Aku tinggal di Aceh Besar, kecamatan Lhoong, gampong Keutapang namanya. Gampongku mempunyai pemandangan yang indah, hamparan laut lepas dengan pengunungan yang hijau. Pantainya masih perawan, deretan pohon pinus dan kelapa membuat keelokannya semakin menawan. Gampongku berada dekat dengan laut hanya berjarak kurang lebih 500 meter dari bibir pantai dan  ada beberapa bukit  batu di sana. Bukit batu yang kini dijadikan tempat evakuasi jika terjadi tsunami. Karena jaraknya yang dekat, maka tahun 2004 terkena dampak gempa dan tsunami.

***************

Minggu, 26 Desember 2004. Seperti hari minggu biasanya, aku dan adikku akan bermain layang-layang di belakang sekolah kami. Ya... meskipun aku seorang perempuan tapi aku suka bermain layang-layang.
“ Na... kamu tuh anak inong, kenapa kok main layang-layang? Sini bantu mamak, masak sayur pliek ue kesukaanmu!,"protes mamak ku pagi itu.
“Sudahlah mak Cuma hari ni aja, nanti kalau sudah siap, Na bantu mamak cuci baju!",  bujukku.
“Ya sudahlah, tapi sebelum berangkat, tolong kau panggil bapak mu di kedai kopinya bang Fadli, suruh pulang, bapak kau ini betah banget kalau sudah di kedai," jawabnya. Yes kataku dalam hati, berarti negoisasiku berhasil.
Di kamar, adikku sedang membaca buku sambil tidur-tiduran. Setelah berhasil membujuk mamakku, aku segera masuk ke kamar memanggil adikku dan mengambil perlengkapan layang-layang kami. Layang-layang itu berada di kolong tempat tidur.  Namun seketika itu tempat tidur  bergoyang, kulihat sekeliling, pigora poto, hiasan dinding juga bergerak. Mataku melihat jam dinding, dan jam itupun bergerak dan kulihat saat itu pukul 7.58 wib. Adikku yang yang tidur-tiduran di kasur pun panik.
“Gempa”, kataku.
Namun gempa kali ini berbeda dengan gempa yang biasa kami alami. Goncangannya sangat kencang dan durasi waktunya lebih lama dari biasanya.
" mamak... !", teriakku. Aku berlari sambil menggandeng adikku keluar rumah. Di luar sudah banyak orang berhamburan. Gurat  ketakutan tergambar jelas di wajah mereka. Berbagai macam kalimat tasbih mereka ucapkan. Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter telah mengguncang jiwa kami. Semua orang ketakutan, semua orang panik.

Belum reda ketakutan itu, kulihat gelombang air laut setinggi pohon kelapa menggulung-gulung  menuju kami. Air itu seperti monster raksasa yang  mengejar. Tinggi dan sangat menakutkan. Kami berlari sekencang mungkin tapi apa daya, monster itu jauh lebih ganas. Hingga akhirnya kami pun tersapu. Air laut yang menghantam kami, membuat kami berpisah. Badanku seperti di makan monster air itu, mataku melihat ada banyak orang didalamnya, tapi tidak kutemukan keluargaku. Orang-orang itu, bergerak- gerak seolah-olah mencari di mana permukaannya. Kucoba menghirup udara tapi aku malah menelan air, perutku kembung kurasa sudah banyak air yang masuk.

Dengan sekuat tenaga ku kerahkan  agar aku bisa muncul kepermukaan, menghirup udara. Sayup-sayup kudengar suara adikku dikejauhan Sebelum dia menghantam pintu rumah yang mengambang di air, kulihat dia, dia berteriak minta tolong. Setelah itu, dia menghantam kayu lagi, lalu dia lemas tak berdaya. kejadian itu terekam jelas dalam ingatku. Aku tersapu ombak lagi, gelap lalu tak sadarkan diri.

**********

Di bukit belakang gampong aku ditemukan, tersangkut di sebuah pohon. Kata orang-orang badanku lemas dan telanjang. Setelah peristiwa itu, semua orang menganggap aku gila. Aku tidak gila, aku hanya histeris ketika lintasan peristiwa tsunami itu melintas. Aku suka tertawa sendiri ketika teringat kenangan  dengan keluargaku. Atau aku akan menangis karena aku rindu sekali dengan bapak, mamak dan adik ku. Hanya itu, dan hari-hariku hanya ada bayangan kenangan itu. Sejak kejadian itu, aku tidak pernah bicara dengan siapapun.

Kini sudah hampir 2 tahun sejak peristiwa gempa dan tsunami. Warga gampongku mendapatkan rumah bantuan  dari pemerintah Turki, dan sekarang aku tinggal bersama bibiku. Rumah bantuan itu dibangun tidak jauh dari gampongku dulu.
Setiap hari hatiku pilu ketika aku lihat rumah ku tinggal sisa- sisa pondasinya. Tak kutemukan siapapun disana, Emak,bapak dan adikku mana? Bisik ku. Namun tiba-tiba aku teringat adikku. Adikku yang pontang-panting dihantam air dan terbentur kayu, seketika itu aku berteriak, aku teringat gelombang air raksasa itu yang setinggi pohon kelapa. Menyeramkan sekali.

"Tidak... !", teriakku.
Aku berlari sekuat tenaga, menuju arah pantai, aku mau mencari keluargaku tapi tak juga kutemukan siapa-siapa, sepi... hanya ada gerombolan sapi yang yang bertuan tapi dibiarkan. 
Lalu aku pergi menuju bekas sekolah kami, siapa tau adikku bermain layang-layang. Tapi lagi-lagi tidak kutemukan, sekolah itu sama dengan bekas rumahku dan rumah warga lainya hanya tinggal pondasi dan lantai kamar mandinya. Semuanya membisu dan sepi, hembusan angin menyapu wajahku, luka hatiku terasa getir sekali.
"Kemana keluargaku? Aku ingin bertemu mereka!".
 Lalu aku teringat kala itu  mamak menyuruhku untuk menjemput bapak, ya... di kedai bang Fadli. Dengan penuh semangat aku menuju kesana, tapi lagi-lagi aku kecewa, hanya tanah kosong yang kini banyak ditumbuhi rumput dan tumbuhan pantai. Selalu saja begitu, selalu berulang, gelombang air raksasa itu, wajah adikku, aku lari kepantai, ke sekolah lalu ke kedai bang Fadli dan lagi-lagi berakhir dengan kesedihan.

*********
Malam ini susah sekali kupejamkan mataku, suaru gemuruh ombak laut itu mengusikku. Malam ini keputusan bahwa aku akan mencari keluargaku, ayah ibu dan adikku. Aku sudah tidak tahan dengan rindu yang semakin menderu.
Dengan pelan-pelan aku buka pintu rumah bibi. Malam ini terasa lebih dingin dari malam biasanya. Aku akan ke bukit, aku nyakin keluargaku pasti ada di sana, tersangkut di salah satu pohon seperti yang dulu aku alami.
Dengan langkah panjang kunaiki bukit ini,  bukit yang sama dimana dulu aku di temukan.  Bukit ini kini mempunyai tangga dan bertuliskan, "jalur evakuasi" terpasang di papan. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan keluargaku. Satu persatu  ku naiki anak tangganya,  namun tiba-tiba seperti ada langkah lain selain langkahku. Semakin Aku percepat langkahku, langkah itu juga semakin cepat. Rasa takut tak bisa disembunyikan. Aku takut langkah itu akan mencelakai keluargaku. Aku harus menemukan mereka sebelum langkah itu menemukannya.
Langkahku semakin kupercepat, kunaiki tebing ini dengan setengah berlari, tapi tiba-tiba kakiku terpeleset, badanku berguling-guling kebawah dan kepalaku berkali-kali membentur anak tangganya. Aku terpelanting jatuh kebawah, sebelum tubuhku menghantam tanah, kurasakan kepalaku membentur batu. Seketika itu aku melihat senyum adikku, lalu semua menjadi gelap dan tubuhku serasa melayang, sangat ringan.


#Tantangan2
#onedayonepost
#ODOPbatch5










Kamis, 01 Februari 2018

ACEH BAGI KAMI


Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia. Terletak di ujung utara pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. 
Nangroe Aceh Darussalam adalah sebuah daerah yang mempunyai nilai historis yang berkesan dalam hidupku, ada kisah kami, aku dan suami.  Aceh adalah sebuah tempat yang menjadi saksi bahwa kita pernah di sana untuk saling mengenal, berbagi, saling belajar, belajar mencintai, belajar menyayangi. Hingga kita tahu bahwa kita diperkenalkan di tempat ini, adalah bukan sesuatu yang kebetulan. Ada “sutradaranya", ada jalan ceritanya, yang membuat “film" kita begitu bermakna.


Aceh… suatu tempat yang luar biasa, pemandangan yang begitu indah. Lautnya, bukit nya, tata kotanya, masyarakatnya, suasananya, kebiasaanya, dan budayanya.

Perpaduan yang begitu apik. Bak not not sebuah nada yang menjadikan lagu itu menjadi begitu merdu.

Masyarakatnya seperti masyarakat melayu pada umumnya, yang para lelakinya suka ke kedai kopi setiap pagi, maka tidak heran jika di Aceh, banyak sekali ditemukan kedai yang hanya menjual kopi dan jajanan. Apalagi kalau musim bola pasti semua kedai bakal penuh  karena nonton bareng.
 Di kedai kopi sebenarnya bukan hanya melulu minum kopi, tapi di sini kita akan dapati banyak sekali kegiatan, tukar informasi, mengomentasi masalah politik, keadaan negara, keamanan, pekerjaan atau mungkin masalah keluarga , mungkin ?! Hehe

Dulu kalau kita ke mana-mana pasti selalu bawa buku nikah kawan, karena takut di razia polisi syariah. Karena Qonun yang berlaku, sepasang laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri akan diciduk, kalau sudah 3 kali  dinikahkan. Bagaimana ada yang mau coba? Jangan ya. Hehehe

Bagi lidah jawa seperti ku, awalnya butuh adaptasi untuk merasakan kuliner aceh, karena bumbu masakannya sangat khas, rempah-rempahnya sangat kuat. Tapi aneh nya lama-lama aku menyukainnya. Ada bumbu bumbu masakan yang hanya orang aceh mungkin yang tahu, seperti asam sunti, sayur plie ue, hmm apalagi ya?!
Intinya i love aceh, love budayanya, love kulinernya, alamnya pokoknya i love Aceh full lah. Karena telah memberikan dimensi baru dalam hidupku.

Rabu, 31 Januari 2018

BERBAGI


Berbagi , 7 huruf tapi dalam maknanya.
Gampang sekali menyebutnya tapi berat melaksanakan. Berbagi apa saja pasti butuh keikhlasan. Apalagi yang bikin sensitif di kalangan emakers, berbagi suami… serem gak sih?
Maaf bukannya saya anti poligami, tidak, wong Al-Quran aja ngebolehin masak saya ngelarang?!  Mungkin saya akan melihat dari sudut pandang yang lain, poligami di jaman Rasul bagaimana sih? Asbabul Nuzulnya ayat yang membolehkan poligami itu bagaimana? Ini saya juga masih nyari ilmunya (makhlum ilmunya masih cetek). Tapi mungkin dulu poligami menjadi solusi disaat banyak janda yang suaminya (kaum muslim) banyak yang meninggal karena perang , bukan hanya masalah mencukupi kebutuhan ekonomi tapi juga buat pengasuhan anak- anak yang sejatinya butuh figur seorang ayah.

Lalu... coba tengok hadist nabi,
"Jika engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki oleh wanita itu." (HR. Tirmidzi)

Nah kah,ini nasihat nabi. Kenapa kok tidak dianjurkan menikahinya? Padahal kan kuotanya masih ya?! Jangan beralasan daripada zina, menimbulkan fitnah. Kalau ini alasannya, yuk ah bapak- bapak pulang ke rumah, istri mu memiliki seluruh hal yang dimiliki wanita cantik itu kok. Berat pak kalau poligami didasari karena nafsu.

Sekali lagi bukan maksud saya anti atau pro poligami. Yang mau poligami sih monggo, tapi perlu di garis bawahi ( pake stabilo warna merah kalau perlu hihi) , poligami itu bukan hanya mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani secara adil,tapi lebih dari itu. kelak di akhirat seorang pemimpin keluarga ( suami) akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya, istri dan anak-anaknya. Kalau istrinya lebih dari satu ya, istri-istri dan anak-anaknya. Yakin Sanggup? kalau sanggup sih tidak apa-apa.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu".[at-Tahrîm/66:6]


Berbagi apapun itu, yang terpenting adalah anda punya yang hendak anda bagikan. Ya iyalah.hehehehe

Selasa, 30 Januari 2018

PILIHAN HIDUP

Ya Allah, bener deh hari ini memang benar-benar buntu mau nulis tentang apa. Apa karena kemarin yang harus setor 3 tulisan? entahlah, serasa kehabisan ide.  Akhirnya siang tadi aku menyalakan televisi, niatnya sih mencari inspirasi siapa tau ada ide yang masuk. Aku pencet-pencet remotnya, sampai pada sebuah channel yang menyiarkan tentang acara infotainment. Membahas tentang Dian sastro yang akan merambah ke dunia bisnis. seketika itu, aku bergumam dalam hati, "kalau Dian sastro mau fokus ke dunia bisnis, maka Dian Fajar akan fokus ke dunia nulis".( hehehe hubunganya apa coba, Dian sastro dengan diriku. hahahaha)

Belum juga mendapatkan inspirasi, aku teringat kemarin membeli sebuah DVD " CRITICAL ELEVEN" waktu ke mall akhir pekan kemarin. Sebenarnya peengen baca novelnya dulu, tapi kulihat harganya yang lumayan kalau seukuran harga novel sekarang, akhirnya aku memutuskan membeli DVD nya dulu saja. Entah kenapa aku selalu suka dengan monolog sebuah film. Begitu juga dengan monolog film ini.
" Airport sudah jadi rumah kedua gue, dan gue... suka tempat ini. Airport buat gue sama seperti hidup. semuanya selalu berubah, selalu bergerak, dan selalu harus memilih. Memilih akan kemana, memilih pergi atau pulang, memilih apa dan siapa yang akan menjadi tujuan hidup kita. Dan itulah mengapa saya suka Airport. Airport adalah tentang pilihan. Coba pikirkan, jika kita tidak berani membuat pilihan, sekecil apapun plihan itu, berarti kita tidak hidup kan?"

Seketika itu DVD ku pause, hei aku jadi teringat tentang berita infotainment tadi, memang benar bahwa dalam hidup, kita harus membuat pilihan. Dian sastro memilih menjadi pembisnis, dia fokus akan menggeluti dunia bisnis. Mungkin berbagai macam usaha akan dia lakukan, begitu juga harusnya aku. Jika aku memilih menjadi seorang penulis maka hendaknya aku juga fokus, mencari ilmunya, memperbanyak membaca sebagai bahan referensi dan yang paling penting adalah tetap konsisten menulis.

Setiap orang berhak atas pilihan hidupnya, mau jadi apa? mau kemana? mau bagaimana menjalani hidup? dan macam-macam pilihan hidup lainnya. Namun yang terkadang dilupakan adalah bahwa  pilihan kita  akan membawa berbagai macam konsekuensi. Dan kita akan dimintai pertanggugjawaban atas pilihan itu.


#ODOPBatch5
#onedayonepost
#batch5


Senin, 29 Januari 2018

JODOH

Pagi ini, kutatap matahari terbit dari jendela, tidak ada yang spesial sebenarnya, tapi pikiranku melayang jauh. Kubuka laci-laci tempat memori merekam setiap kejadian dalam hidupku. Dari aku kecil, tumbuh menjadi gadis remaja, dewasa hingga berubah status menjadi seorang istri.
Pikiranku liar mengelana.
Dulu tak pernah terpikir lelaki yang bagaimana yang akan dijodohkan untukku. Lelaki yang dijodohkan Allah denganku ternyata penuh kejutan.
Tapi yang kupahami satu hal, bahwa jodoh yang dipertemukan kepada kita adalah agar kita bisa "belajar" sesuatu darinya.
Yang harus berpisah, pasti ada beribu hikmah. Ada banyak pelajaran yang bisa kita renungkan. Kenapa dia dipertemukan dengan kita? Dan kenapa hanya sekejap mata?

Yang jodoh sehidup sesurga pasti dalam perjalananya banyak terjadi proses pembelajaran.  Terkadang kekurangan kita yang menjadi kelebihannya, atau bisa juga kelebihan kita menjadi kekurangannya. Intinya saling melengkapi. Tidak mungkin Allah tidak punya maksud mempertemukan dua insan yang tak makhrom untuk "saling" dibawah ikatan suci.

Yang masih menunggu,  sabar ya…..,nyakinlah bahwa suatu masa kalian pasti akan bertemu. …Memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik supaya mendapat jodoh terbaik adalah mungkin jalan terbaik yang patut ditempuh. Bukankah pria yang baik adalah untuk wanita yang baik? so perbaiki saja dirimu!.

Intinya .. Yakinlah bahwa Allah men "setting" hidup kita penuh dengan pelajaran bertabur hikmah.Bagi mereka yang mau berfikir dan bersyukur.

#OneDayOnepost
#odopbatch5

BELAJAR DARI MBAK ONI

Hari ini aku belajar banyak dari sosok yang sangat sederhana, mbak Oni namanya. Dia yang sehari-hari membantuku membersihkan rumah. Berangkat pagi pulang siang.
Sebenarnya mbak Oni adalah orang Flores, Nusa Tenggara Barat. Karena tuntutan ekonomi, akhirnya merantau ke Surabaya. 7 tahun menjadi pramusaji di sebuah restauran. Uang hasil kerja dia kirim ke kampungnya untuk menyekolahkan adik-adiknya.
Sekarang dia menikah dengan pemuda di kampung kami, dan tinggal di sini. Suaminya,sebut saja Budi, adalah pemuda yang kurang sempurna secara fisik karena terkena polio waktu kecil. Budi bekerja serabutan, terkadang membantu menjaga kandang ayam milik kepala desa atau membantu warga memperbaiki pompa listrik yang rusak. Padahal mbak Oni cantik, sempurna fisiknya,mencari suami yang sempurna secara fisik pasti tidak susah untuknya.
Mungkin bagi sebagian orang membutuhkan kebesaran hati untuk bisa menerima keadaan Budi. Atau mungkin juga mbak Oni sudah jatuh cinta dengannya?!, entahlah. Tapi memang cinta terkadang susah ditebak. Pernikahannya dengan Budi mempunyai satu putri, Olivia namanya.
Kekagumanku bermula ketika suatu hari aku berbincang dengannya.
“ Mbak Oni, kok bisa kenal sama Budi di mana mba?”, pertanyaan ku membuka pembicaraan kami.
“ Dulu mas Budi sering main ke Restaurant ke saudaranya yang juga bekerja denganku!”, jawabnya sambil tersipu.
“oo… , terus gimana kok mbak Oni bisa menikah? Kan sampean sama Budi beda agama?”, tanyaku dengan penasaran.
“Mas Budi bilang sama aku, kalau mau menikah dengannya harus masuk islam, lalu aku bilang sama kedua orang tuaku. Kata orang tuaku tidak apa-apa, asal aku baik sama orang dan taat sama Tuhan. Mungkin sudah takdir-Nya sehingga aku jadi mualaf”, jawabnya dengan mata berbinar.
“Apa sih mbak yang membuat mbak Oni mau menerima pinangan dari Budi?”, tanyaku dengan hati-hati.
“Mungkin sudah takdir saya, yang penting bagi saya mas Budi orangnya baik dan tanggung jawab sudah cukup!”, jawabnya dengan malu.
MasyaAllah aku tertegun, jawaban dari mbak Oni membuat ku jadi melek. Disaat kebanyakan orang ada yang menyalahkan takdir atau mungkin tidak mau menerima takdirnya, ternyata ada sosok seperti mbak Oni yang malah melihat segala sesuatu dengan mensyukuri takdir yang berikan padanya.
Kekaguman ku tak cukup sampai di kisah ini.
Suatu hari dia bercerita bahwa di rumahnya sekarang dia tinggal dengan kakek Budi, ibu mertua dan adik perempuan iparnya yang sudah berkeluarga. Kakek Budi sakit karena sudah tua tidak bisa berjalan. Maka setiap aktifitasnya seperti mandi, membersihkan kotoran, menyiapkan makan dan menyuapin, itu semua dilakukan oleh mbak Oni. Padahal secara hubungan darah dia adalah orang luar yang masuk ke keluarga itu karena ikatan pernikahan. Kenapa bukan adik iparnya yang merawat kakeknya. Kenapa malah mbak Oni?!.
Bukan hanya itu, ketika ibu mertuanya sakit dirawat di rumah sakit, mbak Oni ijin tidak masuk kerja.
“Kenapa mbak kok tidak datang kerumah?”, tanyaku.
“ Ibu dirumah sakit, ga ada yang jaga kalau malam disana”, jawabnya.
“Loh mbak Oni sama Olivia tidur dirumah sakit?!, kasihan Oliv masih kecil mbak, apa ga ada yang bisa gantiin?”, tanya ku dengan rasa iba.
“ Aku, suami sama Olivia yang tidur disana, kalau aku gak tidur disana, ayahnya Olive gak bisa ngantar ke kamar mandi dan gak bisa mandiin !”, jawabnya.
"Oo iya," batinku dalam hati. Budi kan secara fisik tidak bisa berjalan seperti pada manusia umumnya, mungkin agak susah kalau membopong ibunya ke kamar mandi.
“Masya Allah mbak, sampean kok begitu baik sama ibu mertua!”, penyataan ku dengan diliputi rasa kagum.
“Bukannya apa-apa sih, cuma aku ngebanyangin ibuku. Mungkin suatu saat ibuku akan di rawat sama menantunya. Kalau aku baik sama ibu mertuaku, semoga ibu ku juga di rawat dengan baik dengan menantunya kelak”, jawabnya dengan penuh harap.
Ya Allah serasa mau berlinang air mataku. Sosok seperti mbak Oni jarang sekali aku temui. Dia ikhlas dengan takdir nya.

Karena penderitaan kita adalah kita tidak menerima kenyataan. Padahal barang siapa yang ridho dengan ketentuan Allah maka Allah akan ridho kepada dirinya. Jadi mungkin kuncinya adalah jangan MEMPERSULIT DIRI.
Itulah pelajaran yang ku peroleh dari mbak Oni, sosok sederhana yang begitu menginspirasi.



Sang Linguistik

Lihat emaknya akhir akhir ini suka ngetik di laptop, eh dia jadi tertarik dan ikut- ikutan. Mau nulis cerita katanya, malah pengen di buatkan blog segala. Kebanyang gak sih isi blog nya apa hehehe.
Rizwan Hanif adalah anak sulung kami, kenapa namanya Rizwan Hanif? Awalnya aku mau menamai dia dengan Rizvan, tapi kata ayahnya terlalu ke barat-baratan kita ganti aja v nya dengan w jadi Rizwan. Rizwan masih berafiliasi dengan Ridwan, penjaga surga. Sedangkan Hanif selain karena artinya yang bagus, kita memberikan nama itu lebih karena nama ayahnya adalah Hanafi jadi biar matching gitu. Hehehe
Jadilah nama anak kami Rizwan Hanif. Lahir di Banda Aceh, 9 tahun yang lalu.
Rizwan hanif sejak kecil suka dengan dongeng, hampir setiap hari sebelum tidur ayahnya mendongen untuknya. Meskipun terkadang karena ayahnya sudah capek, dongengnya kemana- mana (tidak nyambung anatara awal cerita dengan cerita selanjutnya) karena pendongengnya setengah tidur hahahaha.
Mungkin karena kebiasaan suka di dongenkan atau memang bakat alamnya, kecerdasan linguistik nya berkembang dengan pesat. Waktu masih balita dua suka sekali berbicara dan bertanya, kalau kataku dulu dia seperti penyiar radio yang tidak akan pernah jeda bicaranya karena kehabisan bahan.
Kecerdasan linguistinya semakin terasah ketika dia menemukan sekolah yang memang benar- benar mendukung bakatnya. Hingga suatu hati dia memenangkan lomba bercerita meskipun hanya tingkat sekolah dan kecamatan.
Memasuki usia SD, dimana peraturan dan tata tertib semakin ketat. Atau entah karena gurunya tidak tahu bagaimana menangani type seperti Rizwan ini, maka sering dia terkena hukuman karena sering ngobrol waktu dikelas.
Ya setiap anak adalah unik dan setiap anak di anugrahi bakat potensinya sendiri-sendiri.Maka harusnya setiap anak mempunyai treatment yang berbeda dalam pengasuhan.
Sebenarnya aku ingin Rizwan bisa menjadi seorang penulis, Untuk saat ini menurtku lebih baik ide idenya disalurkan dalam tulisan. Kita tunggu saja apakah dia bisa membuat karya dalam sebuah tulisan?!
Dulu pernah sih membuat cerita, judulnya 'PETUALANGAN 3 PENDEKAR'. Tokoh tokihnya ya Dia, dan kedua adiknya, Uwais dan Fatir. Tapi karena lupa tidak di save jadi hilang entah kemana filenya.
So.... kita lihat nanti ya, apa karya Rizwan bisa mejeng di sini, di duniaku .... dunia Dian.



#odopbatch5

Jumat, 26 Januari 2018

SELAYANG PANDANG

Nama saya Dian Fajar Rahmahyani Aprilia
Lahir 32 tahun yang lalu di Gresik pada bulan April tanggal 14.
Saya mempunyai 3 orang putra, kami menyebutnya anak nusantara heheh, karena setiap anak lahir  dari daerah yang berbeda. Rizwan Hanif (8y) lahir di Banda Aceh, yang ke-2, Muhammad Uwais (4y) lahir di Bekasi dan yang terakhir, Abdul Fatir As-sidqi (2y) lahir di Mojokerto jawa timur, dan sekarang kami tinggal di Gresik.
Profesi saya adalah (bukan) ibu rumah tangga biasa. Yang lagi suka menulis dan crafting. Bagi saya menulis (meskipun masih belajar sih heheheh) dan crafting adalah tanggung jawab saya terhadap diri sendiri. Perempuan selain berperan sebagai seorang ibu yang  bertugas membersemai anak-anaknya juga mempunyai hak untuk mengembangkan hobi dan potensi.
Seorang ibu rumah tangga yang bisa menggali potensi yang dimilikinya menjadi sebuah kekuatan akan  memberikan citra diri positif terhadap dirinya. Jadi tidak merasa useless, under estimate atau rendah diri dan lain-lain. Tapi memang benar, hobi yang dibayar adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan.
Bahwa ibu rumah tangga seperti saya juga masih bisa produktif dari dalam rumahnya. mengerjakan hobi yang bisa menghasilkan pundi itu mengasyikkan. #serius
Saya pernah belajar di Universitas negeri Malang jurusan Matematika.  Matematika murni bukan pendidikan. Yang mempelajari tentang teori bilangan, membuktikan theorema dan  definisi rumus, logika matematika, graph, Diferesial, limit, geometri dan lain sebagainya.  Sekilas tampak tidak aplikatif dalam kehidupan sehari-hari ya? Tapi sesungguhnya matematika itu mengajarkan kepada kita bagaimana menyusun logika berfikir  dan bernalar. ( hahaha malah promosi jurusan)
Math around us ,di mana-mana ada matematika karena matematika hadir untuk membantu mempermudah kehidupan kita. Hehehe salam matematika.
Beberpa karya quilling saya yang pernah dipamerkan di grandcity Mall surabaya dan jatim Expo :



Sebelum saya menutup coretan kali ini, perkenankan saya untuk mengutip sebuah tulisan:
“Andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu,  pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya” (Ibnu Qayyim Al jauziyyah).


Kamis, 25 Januari 2018

SEKELUMIT TENTANG ke-WONDER WOMAN-an KU

Bahwa aku pernah merasa menjadi wonder women kawan. Wonder women yang tak punya senjata seperti wonder women di tv. Senjataku hanya sabar, doa dan sekali kali ada air mata (hahaha lebay). Tidak ada musuh yang diperangi, musuh ku ya diriku sendiri. Aku ta melakukan hal besar sebenarnya,mungkin hampir semua ibu-ibu yang mempunyai anak balita pernah mengalami.

Aku ibu dari 3 anak laki-laki. pertama usia sekolah dasar, yang kedua 2 tahun dan ketiga 3 bulan. Waktu itu tanpa Asisten rumahtangga, semua dilakukan sendiri. Mulai dari memasak, bersih-bersih, merawat anak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Rutinitas harianku adalah pagi-pagi bangun sholat shubuh, pergi belanja sayur, memasak menyiapkan sarapan dan membuat bekal. Disela-sela kesibukan memasak, tangisan sikecil dan rengekan anak kedua terdengar. Ah bagaimana rasanya? Cuma ibu-ibu yang tahu.Tapi untungnya sang Ayah turut membantu ke crowded an pagi itu. Alhamdulillah.
02.00 wib jam pulang sekolah, tugas negara memanggil, saatnya menjemput si kakak. Alat tempur disiapkan. berbagai macam acara protokoler dijalankan. menggendong adik bayi, menyalakan motor, memastikan kompor mati dan rumah terkunci. kurang lebih begitulah protokolernya.
Tapi taukah dimana letak dramanya?
Dramanya adalah ketika motor itu tak juga mau hidup karena merasa di anak tiri. Maka kami bertiga harus jalan kaki mencari becak. Dengan pasukan lengkap, adik di gendongan sedangkan kakaknya bergelanjut manja di gandengan. Atau jika motornya mau bersahabat, baru jalan beberapa meter, sikaka dibelakang ketiduran. sedangkan si masnya tidak kunjung keluar dari sekolahnya. Sikakak leyat leyot mau jatuh, si adik bertingkah seperti tak mau disembunyikan di gendongannya. Bagaimana rasanya? cuma ibu-ibu yang pernah merasakan begini yang tahu.
Tapi apapun kondisinya aku selalu bersyukur, masih banyak hal positip yang harus di syukuri. Kalau Popeye kan jadi kuat karena makan bayam, tapi Wonder women itu (aku-red) merasa bertambah energi jika melihat tingkah lucu anak- anaknya.
Itulah sekelumit cerita ke-wonder woman-an ku. Aku nyakin di luar sana pasti banyak yang menjalani kehidupan yang jauh lebih luar biasa dari kisahku ini.


Rabu, 24 Januari 2018

Laju kereta dan resolusi 2018

Bagi banyak orang punya mimpi adalah sebuah keharusan.
Tapi ada sebagian orang telah mengubur mimpinya dalam-dalam
hanya karena menganggap itu tak akan pernah terjadi,
dia memilih menyerah dan pasrah.


Bagi banyak orang mengejar mimpi
untuk mewujudkan nya jadi nyata adalah tantangan.
Dia sadar bahwa perjuangan itu tidak mudah
harus melalui proses yang panjang.
Tapi ada sebagian orang, mimpi hanya jadi angan-angan yang indah,
seperti bunga tidur, bangun lalu terlupa.


Bagi banyak orang mimpi adalah gairah hidup,
seperti pemuda yang sedang jatuh cinta dengan pujaan hatinya.
Tapi bagi sebagian orang mimpi seperti sang mantan,
yang harus dihindari, karena bisa bikin sakit hati.


Lalu aku ada di mana?
Di sebagian orang yang mewujudkan mimpinya atau
yang menyerah dengan mimpi-mimpi itu?


2017 banyak mimpi yang datang dan pergi.
Tapi di benakku masih ada yang menari-nari .
Dia asyik sekali mengganggu ku, menggedor pintu alam sadar ku,
mengintip ku di keheningan malam,
dan terkadang aku tergoda untuk menyapanya.


2018 jelas.., jelas sekali aku mau jadi apa…
Mimpi itu telah menjelma menjadi sosok yang mengagumkan,
dan aku terpesona dengannya.
Akan aku takhlukkan dia.
Meskipun meraih mimpi itu jalannya tak
seperti laju kereta, kencang tak peduli siapa di depan.
Lajunya tak selalu mulus,
terkadang dengan goncangan tapi dia tau ke mana arah yang akan dituju.
Di laju kereta ini kutulis semua resolusi. Bahwa hidupku butuh mimpi-mimpi.


*Dalam perjalanan kereta menuju Jogja*


Senin, 22 Januari 2018



 AKU, DOAKU DAN JAWABAN DARI "NYA"


Namaku Dian Fajar Rahmahyani Aprilia. Biasa dipanggil Dian. Seperti namanya aku lahir di bulan April. Tidak usah sebut tahun ya..hehehe nanti ketahuan matangnya (kalau tidak mau di sebut tua). Aku termasuk pengikut aliran nikah muda. Meskipun dulu itu bukan cita-cita. Takdir mungkin lebih tepatnya.
Setelah lulus kuliah bulan berikutnya aku menikah. Kalau kata orang jawa, “tutup buku buka terop”.

Aku bukan dinikahi seorang pangeran yang ada dalam impianku, bukan, bahkan sosoknya tak pernah kukenal sebelumnya. Entah kenapa aku mau menerima pinanganya, mungkin sudah menjadi kehendak Allah. Setelah melakukan istikharah, berkonsultasi dengan sutradara kehidupan, yang menulis kisah hidupku, satu hal yang yang membuat aku percaya, yaitu mimpiku dan kenyakinanku bahwa dia bisa menjadi nahkoda dalam perahu pernikahan kami. InsyaAllah.

Setelah menikah, kami hijrah ke Aceh. karena sebelumya dia bekerja disana. Segala macam adaptasi aku lalui. Adaptasi menjadi seorang istri, adaptasi dengan budaya, kearifan lokal serta kulinernya dan yang paling susah adalah adaptasi dengan orang baru yang kini setiap hari bertemu, dengan dia, yang kini kusebut suami.
Hidup seatap dengan orang yang belum begitu kita kenal adalah bukan pekerjaan yang mudah. Ada banyak kebiasaan dan karakter yang terkadang membuat mood ku berubah. Meskipun ada banyak kebiasaan dan karakternya yang membuat aku berfikir dan belajar. Dari sinilah aku mulai tahu bahwa Allah pasti punya rencana, kenapa dia dijodohkan denganku adalah agar aku bisa belajar darinya. Ada banyak kelebihannya yang malah jadi kekuranganku. Subhanallah Allah tak pernah metakdirkan segala sesuatu dengan sia-sia. Ada banyak hikmah dan pelajaran bagi orang-orang yang mau berfikir.

Diawal-awal pernikahan kami, hidup kami sangat sederhana. Rumah masih kontrak dan satu-satunya kendaraan kami adalah sepeda motor yamaha. Maka kala itu ketika aku ditawari naik haji berdua dengannya aku kaget bukan main. Umumnya orang naik haji adalah orang yang sudah mapan hidupnya, sudah punya rumah paling tidak atau bahkan sudah punya kendaraan roda empat. sedangkan kami punya apa? tabungan pun tak begitu banyak. Bukankah naik haji membutuhkan uang yang tidak sedikit?

"Uangnya dari mana?", kataku kala itu.
"Bismillah, kita minta sama Allah!", jawabnya dengan mantap.

Bulan Desember kami menikah, Bulan Februari kami mendaftarkan diri untuk menunaikan haji. Modal uang pendaftaran hutang dari ibu mertua. Kala itu naik haji (tahun 2008) masa tunggunya hanya tiga tahun. jadi selama tiga tahun kami mengumpukan uang buat biaya haji dan bayar hutang pendaftaran. Alhamdulillh tahun 2011 kami benar-benar di panggil Allah untuk menjadi tamuNya.

Menjalankan rukun islam yang ke-5 bersama dengan seseorang yang spesial adalah hal paling berkesan dalam hidupku. Siapa yang tidak ingin berhaji? setiap muslim pasti sangat memimpikannya. Apalagi ditunaikan dengan pasangan. waow luar biasa.

Berthawaf bersama, lari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa, melempar jumrah ula, wustha dan aqobah, mabit di mudzalifah mencari batu kerikil yang jumlahnya 21 butir. Melakukan safari religi ke jabal rahmah-tempat bertemunya nabi Adam dan Siti Hawa, laut merah dimana nabi Musa membelahnya dengan tongkatnya, Gua hira' tempat dimana Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu. dan masih banyak tempat2 religi yang pernah di sebutkan dalam Al-Quran dan shiroh nabi. Dan semua itu dilakukan bersama dengan pasangan, itu sesuatu hal yang sulit diungkapkan dengan tulisan.

Dari serangkaian prosesi haji, bagiku yang paling berkesan adalah saat di depan ka'bah aku bersimpuh, sambil melirik dia yang kusebut suami. Dulu doaku, aku ingin pasangan hidup yang bisa membawaku lebih dekat dengan Nya. Dan kini hal itu benar-benar terjadi.

Kini aku tahu, jika mencintai karena Allah kita tidak akan kecewa atau bahkan sakit hati.





#TantanganODOP1
#Onedayonepost
#ODOPbatch5