Kamis, 22 Maret 2018

Tantangan bunsay level9 "Be creative" Day 1

Sudah setahun ini, kami tinggal di desa, di rumah ibu. Kami akui segala sesuatu pasti ada sisi negatif maupun positifnya. Sisi positifnya, anak-anak menjadi lebih dekat dengan alam. terutama Uwais, anak kedua kami, yang kecerdasan naturalisnya sangat menonjol. Namun sisi negatifnya salah satunya adalah tentang kedisiplinan. Dulu waktu kami tinggal mandiri, di Surabaya ataupun di Bekasi, anak-anak sudah mempunyai jadwal dan mereka mematuhinya. Misal bahwa melihat televisi atau bermain gawai ada batas waktunya. Namun di sini, kedispilinan itu mulai longgar. bermain gawai ataupun gadget tak seketat dulu. Gawaiku dan gawai ayahnya memang tidak kami kasih game. Namun gawai nenek dan Kakeknya? itulah yang terkadang menjadi kendala kami dalam menerapkan nilai kedisplinan yang dulu sudah kita sepakati.

Dulu lihat televisi hanya boleh sehari cuma 2 jam. Waktu terserah mereka, asal tidak menganggu waktu prioritas, misal waktu ngaji atau belajar. Namun sekarang anak-anak lebih bebas dan jadwal menonton televisinya jauh lebih lama dari kesepakatan. ada beberapa titik televisi juga membuat kendala.

Oleh karena itu, melalui tantangan game level 9 ini, saya akan berusaha mengalihkan perhatian Uwais dan Fatir, terutama, dari kebiasaan menonton televisi yang berlama-lama dengan melakukan aktifitas yang menarik dan kreatif.

Hari pertama di game level 9 ini saya telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk aktifitas yang akan kami lakukan bersama. Saya membeli beberapa perlengkapan menggambar dan crayon. biasanya waktu melihat televisi adalah pagi hari ketika saya masih sibuk dengan aktivitas rumah. Maka pagi ini uwais dan Fatir mulai mewarnai gambar yang sudah dibuat ayahnya tadi malam. Rizwan yang hari ini tidak masuk sekolah akhirnya ikut nimbrung juga.



Ketika Wais mewarnai sebuah gunung merapi, yang puncaknya ada warna merah, coklat dan hijau saya tanya kenapa demikian, Dia menjawab bahwa merah adalah lahar panasnya, hijau melambangkan tumbuhan dan coklat adalah tanah.


#TantanganLevel9
#KelasBunsay
#BeCreative
#Day1

Selasa, 20 Maret 2018

Diorama Cinta part12



Kukenakan gamis tosca dengan kerudung warna senada. Hari ini aku akan menghadiri acara reuni di kampusku dulu. Sebelum Haifa datang menjemputku, aku layangkan pesan WhatsApp ke nomer mas Bram. 

Mas ... pagi ini aku ke kampus ya? Mau reuni. Ijinku yang memang terkesan bukan sebuah ijin namun lebih kepada pemberitahuan. Sambil menunggu balasan, aku menuju ke dapur. Aku buka jendelanya, aku tengok ke pekarangan, aku cari di mana sosok dua ekor burung gereja. Namun lagi-lagi aku kecewa. Burung gereja itu lagi-lagi cuma sendiri. 

Gawaiku berbunyi, Aku lihat ke layarnya, ada sebuah panggilan masuk, dari mas Bram. 

“Assalamualaikum.” 

“Wa’alaikumsalam.” 

“Mau pergi dengan siapa?” 

“Sama Haifa mas.” 

“O ya udah, hati-hati ya?” 

“Iya mas.” 

“Gimana kamu sehat kan?” 

Aku tak menjawab pertanyaan itu, air mataku mengalir. 

“Fania ...?” 

“Iya mas, aku sehat, aku baik-baik saja kok!” Aku seka air mataku, aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan nada suara yang seperti biasanya. 

“Alhamdulillah. Oiya maaf ya Fania, akhir-akhir ini aku sibuk. Jadi jarang menghubungimu.” 

“Iya mas, Fania ngerti kok.” 

“Ya udah kalau begitu, hati-hati di jalan ya! Assalamualaikum.” 

“Iya Mas, Waalaikumsalam.” 

Kini air mataku mengalir lagi, kejadian malam itu diruang dokter terlintas dalam pikiranku. Kata-kata dokter itulah yang membuat pikiranku akhir-akhir ini menjadi kacau. Dan akupun belum ke dokter kandungan seperti yang di rujukkan kepadaku. Bukannya apa-apa, aku cuma takut menghadapi kenyataan jika benar aku mengidap penyakit kanker ovarium. 

Sebuah klakson mobil berbunyi. Itu pasti Haifa, gumamku dalam hati. Aku ambil tas di sofa yang sudah aku persiapkan dari tadi. 

“Hai, Haifa.. ayo langsung  berangkat saja!” Aku temui dia di pekarangan rumah. 

Sampainya di sana, aku lihat sudah banyak yang datang. Begitu juga teman-teman seangkatanku. Kita saling melepas rindu dengan saling berbincang. Haifa yang dari tadi ada di sampingku, kini aku tak tahu kemana dia. Sindy, teman sekelasku, datang dengan menggendong bayi dan suaminya. Anaknya lucu sekali, bayi perempuan dengan memakai baju merah muda dan bando di kepala, cantik sekali. Ya Allah, rasanya aku ingin sekali menimbang bayi, ya ... bayiku sendiri. Lamunanku kian liar kemana-mana. Seandainya aku punya bayi pasti lucu seperti itu. 

“Fania...” Haifa menarik tanganku. 

“Hei ... kemana saja kamu. Ada apa?” 

“Fania ... Faras ingin menemuimu!” 

“Hah, Faras?” aku terperanjat mendengar perkataan Haifa. Bagaimana Faras ada di sini? 

“Fania, Faras baru saja meneleponku, dia menuju kesini.” 

Seketika badanku lemas, aku binggung. Apa yang akan ku katakan kepada Faras? 

“Tenang saja, aku sudah bilang bahwa kamu sudah menikah kok!” Kata Haifa berusaha menenangkanku, sepertinya dia tahu bagaimana kegalauan hatiku. 

Tak berselang lama datanglah Faras dengan mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan celana berwarna hitam. 

“Fania, bisa bicara sebentar?” tanyanya. 

“Bisa, tapi bertiga dengan Haifa, bagaimana?” 

“Ok , tak masalah.” 

Aku tarik tangan Haifa, supaya mengikuti langkah kami. Kami menuju taman di depan gedung perpustakaan. 

“Fania, jujur aku kecewa sekali saat tahu bahwa kamu sudah menikah.” 

Aku diam saja dan tak berani menatapnya. 

“Dulu aku kira kamu akan menungguku hingga aku bekerja, lalu aku akan ke rumahmu, melamarmu,” lanjutnya. 

Aku tarik nafas panjang. Haifa di sampingku juga diam. 

“Ternyata aku salah, aku tahu dari Ridho bahwa kamu sudah menikah. Aku pulang ke Indonesia untuk memastikan apakah benar itu terjadi. Ternyata memang benar begitulah kenyataannya.” 

Ridho adalah teman kita se SMA. Aku tahu aku salah, namun aku juga tak mungkin menolak permintaan ibuku. Aku lihat Faras, namun dia tertunduk lesu. 

“Faras maafkan aku, ini sudah takdir dari Allah.” Kataku dengan setengan berbisik. 

Namun seketika itu, kepalaku pusing, pandanganku menjadi gelap. Sayup-sayup aku dengar Haifa dan Faras memanggil namaku. 





Bersambung ....

Baca Cerita sebelumnya : Diorama Cinta part11 

#TantanganCerbung
#ODOP

Minggu, 18 Maret 2018

Diorama Cinta part11

Baca cerita sebelumnya : Diorama Cinta part10

Haifa mengantarkanku pulang. Di perjalanan aku lebih banyak diam. Tidak banyak obrolan yang kita lakukan. Pikiranku kalut, apakah aku akan bilang sama mas Bram? Bahwa aku dari dokter, dan katanya kemungkinan aku mengidap tumor atau kanker ovarium. Ah, sepertinya belum dulu. Lagipula penyakit ini juga belum pasti. 

“Gimana kata Dokter Fan?” Tanya Haifa memecahkan keheningan kami. memang dari tadi dia aku larang untuk ikut masuk ke ruang dokter. 

“Ah, ga pa-pa, cuma sakit perut biasa.” Alasanku untuk menutupi. 

“Alhamdulillah deh kalau begitu. Tapi kamu yakin, malam ini kamu tak ingin aku menginap di rumahmu?” 

“Ga usah Haifa, aku ga pa-pa kok. Lagian kamu besok kan juga harus ngantorkan? Kalau kamu menginap di rumahku, bisa-bisa besok kamu tidak bisa sampai kantor tepat waktu, terkena macet.” 

“Ya udah deh kalau begitu. Tapi kalau ada apa-apa kamu telepon aku ya?” 

“Iya.” Jawabku. 

“Oiya lusa jadi ikut reuni?” tanyanya. 

“Iya, ikutlah. Kamu jemput aku ya!” 

“Siap tuan putri,” jawabnya. Kamipun terkekeh. 

Tak terasa mobil haifa sudah masuk ke pekarangan rumahku. 

“Makasih ya Fa. Hati-hati di jalan!” Akupun turun dari mobilnya. 

“Aku ga usah turun ya? Udah malam, aku langsung balik.” 

“iya. Hati-hati.” Aku lambaikan tangan. 

“Assalamualaikum.” 

“Waalaikumsalam.” 

Tidak lama mobil suzuki Swift itupun tak terlihat. 

Dengan gontai aku melangkah menuju kamar. Berbagai macam pikiran dan perasaan menghantuiku malam ini. Aku binggung apa yang harus aku lakukan? Aku ambil laptopku, aku browsing tentang kanker ovarium. Mataku tak berkedip saat membaca dengan teliti setiap informasi yang di sajikan di salah satu laman kesehatan. Ya Allah ... kenapa tanda dan gejala kanker ovarium itu sama seperti yang aku alami akhir-akhir ini. Aku menarik nafas panjang, namun serasa susah sekali aku bernafas. Tak terasa air mataku mengalir. Aku teringat Almarhum ayahku, ibuku dan mas Bram, suamiku. Kini aku sendiri disini, meratapi ketakutan akan penyakit ganas yang kemungkinan di tubuhku. Jika memang benar ada tumor atau kanker di ovariumku, apakah aku masih bisa mempunyai anak? Menjadi seorang ibu, menjadi arsitek buat anak-anakku? Air mataku semakin deras mengalir. 



Bersambung ...

Baca cerita selanjutnya : Diorama Cinta part12

Diorama Cinta Part10



Sudah seminggu mas Bram pergi. Rutinitasku pun tak banyak berubah. Seperti pagi ini, setelah memasak aku mencuci piring. Seperti hari-hari sebelumnya aku menantikan pemandangan pagi hari yang selalu kutunggu. Namun ada yang aneh hari ini, burung gereja yang biasanya bertengger di ranting pohon kedondong kini hanya seekor. Yang satunya kemana? Ah ... mungkin sebentar lagi, pikirku. Namun setelah beberapa saat aku tunggu, burung itupun tak pernah hadir. Burung gereja itu  akhirnya terbang sendirian. 

Seketika pikiranku tambah kesepian. Aku sedih bahwa aku tahu burung gereja itu sejatinya sama seperti diriku. Segera aku ambil gawaiku. Biasanya pagi hari mas Bram akan meneleponku atau sekedar WA menanyakan kabarku. Namun aneh pagi ini, gawaiku tidak nampak berita darinya. Ah ... mungkin sibuk, gumamku. 

Apa aku yang harus memulai dulu? Tapi rasanya aku masih gengsi. Ah, entahlah ... itulah aku. Kubiarkan saja, kulihat gawai yang kini berada di atas meja. Kulihat tumpukan piring kotor yang belum aku sentuh. Meskipun tak banyak tapi tak juga aku cuci sejak aku tahu pagi ini tidak ada sepasang burung gereja, hatiku jadi merasa. 

Kini nyeri itu kurasakan lagi, kali ini sakitnya tak bisa aku tahan. Aku binggung hendak menghubungi siapa? Tidak mungkin aku menghubungi ibuku. Ibuku sudah tua untuk bisa naik kendaraan umum ke tempat tinggalku. Kini siapa lagi yang bisa kuhubungi? Mas Bram ... ah rasanya tak mungkin. Jika aku menelepon mas Bram, malah membuat dia semakin kepikiran. Hingga akhirnya kutahan sakit ini sampai malam hari. 

Haifa sudah pulang kantor? Tolong ke rumah sebentar ya! 

Ku kirim pesan itu ke pada sahabatku, Haifa. Aku tunggu balasan darinya. Dan akhirnya gawaiku pun berbunyi. 

Iya, tunggu ya sebentar lagi. 

Tidak lama setelah itu, bel rumahku berbunyi. Aku yakin itu pasti Haifa, sahabatku. Aku ambil kerudungku dan menuju ke pintu depan. 

“Assalamualaikum...” 

“Wa’alaikumsalam ...” 

“Masuk Fa.” Dengan menahan rasa sakit, aku pegangi perutku. 

“Fania, kamu tidak apa-apa? kamu pucat sekali!” tanyanya. 

“Kamu kenapa Fan?” tanyanya lagi. 

“Perut bagian bawahku sakit sekali Haifa, sejak tadi pagi.” Sambil meringis ku jawab pertanyaanya. 

“Kita kedokter ya?” 

Aku jawab pertanyaan itu dengan anggukan kepala. 

Di perjalanan haifa mengemudikan mobilnya dengan cepat bahkan bisa dibilang ngebut. Aku tahu dia sangat panik melihat kondisiku. 

“Pelan-pelan Fa, aku gak papa ko,” kataku. Agar dia tidak mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. 

“Iya, kamu tenang saja, bentar lagi nyampe.” 

Setelah mengantri akhirnya tiba giliranku memasuki ruang praktek dokter. 

“Malam mba! Sakit apa? Tanya dokter itu kepadaku?” 

“ini dokter perut di bagian bawah sakit sekali!” 

“Sering begini?” 

“Iya Akhir-akhir ini.” 

“Menstruasinya lancar?” 

“Enggak dokter.” 

“Coba saya periksa dulu ya?” 

Akupun tidur di tempat tidur yang sudah disediakan. 

“Maaf saya periksa perutnya ya?” 

Aku buka bajuku, aku perlihatkan perutku. 

“Loh, kok perutnya kelihatan agak besar ya? Mbak sudah menikah?” 

“Sudah dokter.” 

“Apa hamil?maksud saya apa pernah di tesk pack kalau hamil?” 

“Ah, ga mungkin lah dokter. Sekarang saya sedang menstruasi kok.” 

Dokter itu kini kembali ke tempat duduknya. Aku pun mengikuti. 

“Ini saya kasih rujukan untuk periksa ke dokter kandungan saja. Nanti biar disana diadakan pemeriksaan lebih lanjut.” 

“Maaf dokter, sebenarnya saya sakit apa?” 

“Kalau diagnosa saya, saya curiga, kalau tidak tumor ya kanker di ovarium. Tapi ini masih diagnosa sementara. Semoga tidak demikian ya!” kata dokter itu berusaha menghiburku. 

Seketika itu badanku lemas, seperti aku tidak mempunyai tulang untuk menyangga tubuhku. Ya Allah lindungi hamba dari penyakit yang berbahaya, doaku dalam hati.


Bersambung ... 

Diorama Cinta Part9

Tiang Negara


Sepulang liburan kami dari Aceh, kini aku benar-benar merasa kesepian. Mas Bram pagi ini juga berangkat ke Singapura. Itu berarti selama sebulan ke depan aku akan sendirian di rumah ini. Aku termenung di jendela dapurku, seperti hari-hari biasanya ada dua ekor burung gereja di sana. Mereka sangat akrab sekali, jujur membuatku menjadi iri. 

Aku binggung mau ngapain, kumainkan saja gawaiku. Grup teman-teman kuliahku sedang membahas tentang reuni akbar di kampus. Ya ... mungkin ada baiknya nanti aku hadir, untuk sedikit mengobati kesepianku.  Beberapa dari mereka akan datang dengan membawa anak, meskipun ada juga yang belum menikah, seperti Haifa. Aku akan datang ke acara reuni itu tanpa anak dan suami. Sekarang aku merasa kesepian mungkin juga karena belum ada momongan, tidak ada canda tawa, tangis anak kecil dirumahku. 

Lalu Tiba-tiba aku teringat perkataan mas Bram pagi itu, bahwa sejatinya tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya, kurang lebih begitu. Aku jadi teringat sebuah buku yang ditulis oleh Buya Hamka yang kapan hari pernah aku beli dari toko buku langgananku. 

“Jika perempunnya baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang; dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tiangnyalah yang lapuk.” Buya Hamka dalam bukunya Berbicara Tentang Perempuan. 

Tapi tunggu ... kenapa tanda-tanda aku akan menjadi seorang ibu juga belum terlihat. Aku lihat kalender di dinding. Biasanya aku menstruasi di akhir bulan, kenapa ini malah maju? Ah memang dari dulu siklus menstruasiku tak patuh jadwal. Seketika itu nyeri di perutku kambuh. Ya ... aku sering sekali mengalami nyeri ini. Selama ini memang tidak pernah aku periksakan ke dokter. Karena aku pikir paling juga karena kecapekan. Aku mudah sekali merasa kecapekan akhir-akhir ini. 

Gawaiku berbunyi, sebuah panggilan telepon masuk. 

“Assalamualaikum.” Sapaku, setelah aku tahu siapa yang sedang meneloponku. 

“Ada apa Haifa? Tumben telepon aku di jam kerja?” 

“Ga ada apa-apa Fan, Cuma mau bilang sama kamu, bahwa aku tadi pagi ketemu sama Faras. “ 

“Trus?” tanyaku dengan penasaran. 

“Faras nanyain kamu, dia tanya alamat rumahmu.” 

“Lalu kamu kasih?” 

“Enggaklah, aku bilang kamu sekarang sedang ke luar kota.” 

“Syukurlah ....” 

Lega rasanya tahu kalau Faras tidak akan ke rumah. Apalagi kondisinya sekarang mas Bram sedang tidak ada di sini. 

“Haifa ... Aku jadi ikut reuni ya! Nanti kamu jemput aku ya!” 

“Iya ... ya nanti aku kerumahmu.”
Kami, aku, Haifa dan Faras dulunya adalah satu SMA. Haifa tahu bagaimana hubunganku dengan Faras. Aku yang mempunyai prinsip untuk tidak pacaran kala itu, akhirnya menolak Faras dengan sopan. Aku katakan sama Faras bahwa aku tidak mungkin pacaran. Jika kamu memang serius denganku, nanti saja jika aku dan kamu sudah siap untuk menikah, kamu kerumah untuk melamarku. Setelah kami lulus, aku dan Faras memutuskan kuliah di kota yang berbeda. Sejak saat itu aku tidak pernah berkomunikasi dengannya. 

Bersambung ... 

Diorama Cinta Part8



Pulau Rubiah menjadi pilihan destinasi liburan kami selanjutnya. Pulau ini sekitar 23,5 Kilometer dari pulau Weh. Pulau Rubiah terkenal dengan pemandangan alam kerajaan bawah laut nya. Keadaan alam bawah laut yang masih asri dan alami dengan berbagai macam biota laut yang hidup. Mas Bram yang hobi dengan diving tak menyianyakan kesempatan ini. Air laut di pulau ini sangat bersih dan jernih. Bahkan pengunjung dengan mudah dapat melihat pemandangan bawah laut dari atas permukaan air sampai dengan kedalaman 15 meter. 

Sebelum dia meakukan hobinya, kami naik perahu. Perahu yang dimodifikasi dengan bagian tengahnya dilubangi dan dipasang kaca sehingga kita bisa melihat terumbu karang dan ikan yang berenang , indah sekali. Terkadang angin laut menerpa ujung kerudungku. Mas Bram memengang erat tanganku, kulirik dia dengan hati-hati. Ini adalah moment yang langka buat kami. Kami jarang menghabiskan waktu berdua, karena kesibukan mas Bram dengan pekerjaannya. Bahkan habis menikahpun kita tidak sempat bulan madu. Ya ... bisa dibilang ini adalah bulan madu pertama kami. 

Denyut jantungku berdetak lebih cepat, ada getaran yang tak bisa aku sebutkan, perasaan apa ini. Kulihat wajahnya lekat-lekat. Dia ... bisa dibilang mempunyai wajah yang manis dengan kulit sawo matang, hidung mancung dengan wajah yang bulat sedikit lebih oval. Janggutnya yang ditumbuhi jenggot yang cuma 1 cm membuat wajahnya kelihatan lebih berwibawa. Aku rasa aku mulai suka dengannya, jika belum bisa dibilang jatuh cinta, mungkin bisa dikatakan aku ada di jalan yang menuju kesana. Bukan karena wajahnya yang manis, tapi mungkin lebih karena sikapnya selama ini terhadapku. 

Kini aku mematahkan anggapan bahwa menikah tanpa cinta adalah sesuatu yang susah. Ternyata tidak juga, asal kita memilih pasangan yang tepat. Yang agama dan akhlaknya baik, pasti kita tidak akan kecewa, untuk selebihnya cintapun bisa dipelajari. 

“Seorang lelaki yang sholeh akan tahu bagaimana memperlakukan istrinya. Jika dia mencintaimu maka dia akan menghormatimu. Namun jika dia tidak mencintaimu, maka kamu tidak akan disakiti." Itulah nasehat Haifa saat aku pernah bimbang menerima khitbahnya. 

Seharian bermain di pulau Rubiah akhirnya kami kembali di penginapan. Rasa capek membuat malam ini tanpa rencana. Kami hanya menghabiskan malam di penginapan. Mas Bram asyik dengan bukunya yang ia bawa dari rumah, sedangkan aku melihat televisi sesekali mengintip keluar jendela.

Laut yang memantulkan sinar bulan dan deburan ombaknya yang riang bergemuruh membuat malam ini begitu indah. Sebenarnya ingin sekali menikmati ini semua berlama-lama, namun mata dan tubuhku sepertinya tidak bisa bekerja sama. Ngantuk dan capek sekali rasanya. Aku menuju tempat tidur, disana mas Bram masih asyik dengan bukunya.

“Fania ... bangun, Fania ...” Dengan lembut mas Bram membangunkanku. Kukucek mataku, kulirik jam di dinding. 

“Ada apa Mas? Ini masih pukul 4 pagi!” kataku. 

“Kita sholat tahajud yuk!” ajaknya. 

“ya ... tapi kok tumben mas Bram membangunkanku jam 4? Biasanya jam 3 jadwal tahajud kita kan?” 

“Disini sholat subuhnya agak siangan Fania, sekitar pukul 5 lebih. Setelah sholat subuh kita akan melihat matahari terbit di tanah rencong. Di pulau paling ujung Indonesia.” Sambil tersenyum, dia menatapku. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Mas Bram sudah khusuk di atas sajadahnya. Debur suara ombak menenami kami menghadap Illahi.

Pukul 5.30 pagi 

Mas Bram mengajakku ke pantai. Kulihat cahaya matahari pagi mulai menampakkan sinarnya. Perpaduan cahaya warna merah kekuning-kuningan nampak begitu apik diantara gumpalan awan putih. Ada beberapa burung-burung menyambut pagi dengan kicaunya yang merdu. Nan jauh disana laut itu seperti bersatu dengan langit. Pohon kelapa yang daunnya sekali-kali menari-nari karena hembusan angin nampak begitu gemulai.

“Fania!” 

“Iya.” 

“Aku masih ingat omonganmu tentang jalan hidup wanita setelah menikah tempo hari.” 

Aku mulai menyergitkan dahi, aku coba menebak kemana arah pebicaraan mas Bram. 

“Sebenarnya aku tidak pernah melarangmu melakukan aktivitas apapun, kamu boleh bekerja, kamu boleh main dengan teman-temanmu, kamu boleh melakukan hobimu, kamu boleh menggambar masa depanmu seperti apa yang kamu mau!” mas Bram kini menatap mataku. 

“Semua itu adalah hak mu Fania. Kamu berhak memperjuangkan mimpimu, jika memang mimpi itu belum kamu gapai. Tapi jika aku boleh mengutarakan keinginanku, aku hanya ingin ... kelak jika kita mempunyai anak, aku ingin anak-anakku kamu yang pegang sepenuhnya, kamu yang menjadi arsiteknya mereka. Karena bagiku seorang wanita adalah arsitek sebuah peradaban. Wanita adalah al-madrasatu al-ula, madrasah pertama yang menanamkan akhlak dan kepribadian kepada anak-anak mereka.” Kini dia memegang tanganku. Jujur jantungku berdenyut kencang lagi sekarang. 

“Maksudnya Mas?” 

“Bisa di katakan bahwa perjuanganmu akan dimulai sebentar lagi.” 

Aku hanya terdiam, serasa aku diberi sebuah kepercayaan dan tanggungjawab yang besar, serasa badanku ditindah beban berat. Sedangkan mas Bram membenamkan wajahku di dadanya, dan tubuhku ada dalam pelukannya.



Bersambung .....

Diorama Cinta Part7



Bandara Soekarno-Hatta pukul 08.15 wib 

Kulihat wajah panik mas Bram, dia menarik koper hitam kami dengan tergesa-gesa. Suara petugas bandara telah mengumumkan bahwa pesawat yang kami tumpangi akan segera lepas landas menuju bandara Kuala Namu, Medan, tempat transit sebelum ke Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Dengan langkah kaki panjang, aku coba mengimbangi langkah kakinya. 

Hiruk pikuk orang berlalu lalang, tidak ada seorangpun yang aku kenal. Hingga mataku menatap sesosok pria tinggi kurus memanggil namaku. 

“Fania ... “ 

“Faras?” kuhentikan langkahku. 

“Kamu kenal Fania? Tanya mas Bram. 

“Iya Mas, dia teman SMA ku dulu.”Aku lihat Faras berjalan menuju kami. 

“Faras ..., ini mas Bram, suamiku.” Aku perkenalkan mas Bram kepada Faras. Merekapun berjabat tangan. 

“Maaf Ras kami sedang buru-buru, karena pesawat kami akan take off sebentar lagi,” kataku. Lalu kami tinggalkan Faras yang masih diam terpaku. Ada perasaan lega dalam hatiku, setidaknya aku tertolong dengan situasi ini.

Aku dan mas Bram pun menuju gate 5. Petugas bandara mengecek tiket kami dan kami melewati Security Check Point (SCP) dengan berbagai macam alat detektornya. Setelah melewati pemeriksaan, kami melewati lorong yang panjang. Lowong ini membawa kami ke pintu pesawat. 

Seorang pramugari menyambut kami di sana. Segera aku cari tempat dudukku, 3A tepat di dekat jendela. Aku ambil gawaiku dari tas selempang yang kini ada dipangkuanku. Sebelum aku ganti mode pesawat aku lihat ada pesan WhatsApp disana. 


Fania, kamu tidak banyak berubah. Yang berubah darimu hanya ... statusmu, kini kamu sudah tak sendiri lagi. 


Aku lihat pesan itu tanpa nama. Namun Profile Picture nomer sang pengirim sepertinya sama dengan Profile Picture nomer yang mengirimkan pesan tempo hari. Apakah ini nomer Faras? Segera aku hapus pesan itu dan kumatikan gawaiku. 

*** 

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, meskipun bandara ini tak sebesar bandara Soekarno-Hatta, namun tempat ini memberikan kesan yang lain di hatiku. Arsitektur bangunanya seperti masjid, di tengahnya Ada kubah besar warna hijau. Model bangunan bandara seperti ini pasti sangat langka di Indonesia. 

Atmosfer Aceh yang dijuluki sebagai ‘Serambi Mekkah’ sudah terasa sejak di tempat ini. Aku lihat petugas bandara yang perempuan semua berkerudung, type wajah India dan pakistan. Bahkan pramugarinya juga berkerudung, sejak kami transit di bandara Kuala Namo Medan. Kata bapak supir yang mengantar kami ke pelabuhan Ulee lheue, aturan atau Qonun yang berlaku di sini bahwa semua perempuan harus menggunakan kerudung jika keluar rumah, kecuali anak-anak. Pantas saja tak pernah kujumpai wanita yang tak berkerudung di sepanjang perjalanan. 

Dari pelabuhan Ule lheue kami naik kapal speed boat untuk bersandar di pantai Gapang. Sebenarnya ada beberapa pilihan, bisa menggunakan kapal feri, namun akan memakan waktu yang lebih lama. Sabang sebuah kota kecil yang merupakan nol kilometer dari wilayah Indonesia menyimpan pemandangan yang mempesona. Hamparan laut biru yang jernih dengan deretan pegunanan yang hijau membuat tempat ini begitu eksotis. Penduduknya yang ramah dengan tradisi melayu yang masih sangat kental. Konon pulau ini dulu adalah satu kesatuan dengan daratan Sumatra, karena adanya gempa sehingga mengakibatkan pulau ini terpisah dengan daratan. Begitu juga dengan pulau-pulau di sekitarnya.

Kulihat wajah mas Bram yang kelihatan sudah capek sekali, begitu juga aku. Sejak pagi kami harus menghadapi kemacetan ibu kota menuju bandara dan bahkan hampir ketinggalan pesawat. Kini kami berada di sebuah pulau paling ujung di Indonesia, pulau Weh. Kulirik jam tanganku, sudah hampir pukul 11 malam. Penginapan dengan ornamen yang unik dan menghadap laut membuat liburan kami begitu sempurna. Banyak pohon kelapa di kanan dan kiri penginapan kami. Malam ini kubiarkan tubuhku mendapatkan haknya, kepalaku juga sudah pusing. Aku tutup jendela dan kumatikan lampunya, namun cahaya rembulan masih bisa kulihat dari bilik kamar.



Senin, 12 Maret 2018

Diorama Cinta Part6



Sebenarnya bukannya aku tidak mau pergi kemana-mana sendiri, namun aku memang tak suka. Dulu aku selalu dengan Haifa sahabatku. Namun kini dia sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Kita punya kehidupan sendiri-sendiri sekarang. Pagi ini kususun rencana, bahwa setelah selesai pekerjaan rumah aku akan pergi ke toko buku langgananku. Mungkin aku akan membeli beberapa buku. 

Aku masukkan gawaiku yang tadi malam aku letakkan di meja dekat tempat tidur ke dalam tas selempangku warna biru. Jalanan yang kulalui tak banyak berubah. Pohon-pohon besar dengan trotoar yang lebar membuat para pejalan kaki merasa nyaman. beberapa orang berlalu lalang sibuk dengan gawainya. Aku jadi teringat pesan WA tadi malam. Apa benar pesan itu buatku? Dari siapa? Atau hanya salah kirim? Aku ambil gawaiku dalam tas biruku. Aku lupa bahwa pesan itu sudah aku hapus. Segera aku buang memoriku tentangnya. 

Memoriku kembali ke masa lalu, hari-hari bersama Haifa sahabatku. Memang benar terasa janggal rasanya. Biasanya ada teman mengobrol di sepanjang perjalanan, namun kini aku sendiri. Bukan berarti aku tak bahagia dengan kehidupan baruku namun ada rindu akan masa lalu. Setelah mendapatkan beberapa buku, aku langsung pulang kerumah. 

“Waduh hujan... lupa gak bawa payung lagi!” gumamku dalam hati. Aku biarkan saja air hujan itu membasahi tubuhku. Sesampainya di depan rumah aku cari di mana aku tadi menyimpan kunciku di dalam tas selempang yang kubawa siang itu.

“Aduh kemana ini kuncinya’” gumamku dalam hati. Tapi aneh pintu itu sepertinya tak terkunci. Apa aku yang lupa ya tadi tidak aku kunci? Apa karena rutinitas baruku telah mengorupsi sebagian memoriku? Kubuka perlahan-lahan pintunya, takut ada maling di dalam rumah. 

“Lho Mas, jam segini kok dirumah?” tanyaku. Aku terkejut mas Bram duduk di sofa sambil membaca koran. 

“Lho kamu kok basah kuyup begitu?” Tanyanya yang tidak menjawab pertanyaanku. 

“Iya aku lupa membawa payung. Aku tadi jalan-jalan di luar sebentar ke toko buku langgananku.” 

“Oh ... ya sudah ganti baju sana biar tidak masuk angin. Ada hal penting yang mau aku sampaikan.” 

Tanpa pikir panjang aku segera menuju kamar mandi. Sedangkan mas Bram sejak tadi masih duduk di sofa di ruang keluarga dengan menikmati secangkir tehnya. 

“Fania ... kesini sebentar!” perintah mas Bram ketika dia tahu bahwa aku sudah selesai mandi. 

“Iya mas, sebentar lagi.” Kuletakkan hair dryer di meja riasku. 

“Sini duduk sini!” katanya. Akupun duduk didekatnya. Aku lihat sudah ada dua cangkir teh di meja dan ada kotak sebesar kotak sepatu. 

“Fania, bulan depan aku ada tugas dari kantor untuk mengawal proyek di Singapura. Ya ... mungkin selama sebulan.” Kata-katanya berhenti. Aku lihat dia merilikku. 

“Tapi sebelum kepergianku, aku sudah mengajukan cuti. Kita akan berlibur,” lanjutnya. 

Aku tidak tahu, aku harus senang atau sedih. Di lain sisi aku senang karena kita akan berlibur berdua. Itu berarti kesepianku bisa terobati saat ini. Namun setelah itu, dengan kepergiannya sebulan sama juga dengan membuat kesepianku semakin berkepanjangan. 

“Berlibur kemana?” tanyaku. 

“Coba kamu buka!” mas Bram menunjuk kotak di depanku. Aku buka kotak itu. Sekuntum bunga mawar dan dua tiket pesawat. Aku ambil tiket itu dan aku baca dengan teliti. 

“Banda Aceh?” 

“Iya kita akan ke pulau Weh, di sana alamnya masih asri dan sangat indah. Kita mulai petualangan kita dari ujung Indonesia, dari Sabang.” 


Baca Cerita sebelumnya : pesan WhatsApp

#tantanganCerbung
#ODOP
#OneDayOnePost





Sabtu, 10 Maret 2018

Cerbung Part5

Pesan WhatsApp


”Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ... Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ....” Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, pertanda bahwa berakhirnya sholat isya’ku. Aku panjatkan doa dan wirid selesai sholat. Belum selesai lantunan doaku, kudengar seseorang mengucapkan salam. 

“Assalamualaikum ...Fania?” Jelas itu adalah suaranya mas Bram. 

“Waalaikumsalam...” jawabku. Aku bangkit dari sajadah, aku sambut suamiku. 

“Sudah sholat Mas?” Sambil kucium tangannya. 

“Sudah ... tadi di jalan terdengar Adzan, lalu mampir ke Masjid.” Jawabnya sambil tangan kirinya mengusap kepalaku.

Aku lipat sajadahku yang masih tergeletak di lantai. Aku duduk di tempat tidur sedangkan Mas Bram melangkah menuju kamar mandi. 

Sejak pertemuanku dengan Haifa, membuat akhir-akhir ini aku tidak bisa berkosentrasi. Kata-katanya telah meracuni pikiranku. Bukannya aku takut menjadi Zombie, tidak. Namun mungkin benar apa yang dikatakannya, bahwa aku sekarang jarang bersosialisasi. Hal ini sangat kontras dengan kehidupanku dulu sebelum menikah. Aku orang yang paling tidak betah berdiam diri di rumah.

Waktu kuliah aku mengikuti banyak kegiatan di kampus, bahkan sejak SMA aku suka camping dan mendaki gunung bersama teman-teman pramukaku. Kini kehidupan yang kujalani bertolak belakang, sehari-hari melakukan pekerjaan rumah tangga, bersantai dengan melihat televisi atau membaca buku. Sehari dua hari masih oke, namun jika terjadi hampir dua bulan, pasti membuatku bosan. 

“Loh kok masih pake mukenanya? pake acara ngelamun lagi,” kata mas Bram keluar dari kamar mandi. Bau sabun sangat wangi dari tubuhnya. 

“Fania ...kok ngelamun?mikirin apa?” tanyanya lagi karena tidak mendapatkan respon dariku. 

“Oh ... hehehe,” sambil tersenyum kuperlihatkan gigiku. Aku lepas mukenaku dan melipatnya. 

“Oh iya mas, Haifa kemarin ke rumah?”Sambil kuubah posisi dudukku lebih menghadap kepadanya. 

“Trus?” Tangannya kini membetulkan poniku yang hampir menutupi mata. 

“Dia mengantarkan undangan reuni kampus.” 

“Wah ... bagus. Coba kamu ikut, biar gak bosan dengan rutinitas di rumah,” katanya. 

“Kapan acaranya?” tanyanya . 

“Bulan depan.” 

“Wah masih lama ya?” tanyanya lagi. Aku menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepala. 

“Maaf Fania, mungkin waktuku tidak banyak dirumah. Mungkin membuatmu kesepian. Kamu boleh kok jalan-jalan ke toko buku atau ke mall buat belanja. Asal hati-hati dan kamu bisa menjaga diri.” Kini dia menatapku dengan senyuman. Kubalas senyumannya dengan sebuah senyuman juga. 

Tit tit tut bunyi notifikasi WhatsApp di gawaiku berbunyi. 

Assalamualaikum. Gimana kabarnya? Aku dengar kamu sudah menikah ya?

Bunyi pesan WhatsApp itu di layar gawaiku. Dari sebuah nomer yang tidak aku kenal. "Ah ... paling juga salah kirim!" gumamku dalam hati. Kuhapus pesan itu dan ku letakkan kembali gawaiku di meja dekat  tempat tidur.


Bersambung ...

Baca cerita sebelumnya : Burung Gereja




#TantanganCerbung #cerbung10Episode
#ODOP
#OnedayOnePost

Jumat, 09 Maret 2018

Cerbung part4


Burung Gereja

Kulihat kalender di dinding, jariku mulai menghitung hari pernikahan kami dan berhenti di hari ini. Sudah 42 hari aku menjadi seorang istri. Kini hari-hariku lebih banyak aku habiskan dirumah. Nyaris tak pernah keluar kecuali membeli sayur atau diajak mas Bram untuk sekedar makan malam di luar. Selebihnya aku hanya berkutat di kasur, dapur dan sumur, itu kalau istilah orang Jawa. 

Pagi ini seperti biasa, pagi hari di mulai dengan membuat sarapan. Kini memasak tidak lagi menjadi “hantu” bagi diriku semenjak peristiwa kalung dan liontin itu. Acara memasak di televisi sudah aku lihat lagi, pembawa acaranya tidak lagi aku benci, jika grup WA membahas masalah masakan maka aku sesekali juga berkomentar, meskipun terkadang hanya berupa emoji. Terkadang aku suka tersenyum sendiri, ternyata hatiku mudah sekali di suap, hanya diberi hadiah saja bisa langsung hilang marahnya dan luluh. Sebenarnya bukan masalah hadiahnya, bukan masalah kalung dan liontin itu. Tapi lebih kepada sikap mas Bram yang mau meminta maaf dan mengerti perasaanku, itu jauh dari hadiah tadi. Ternyata sederhana sekali ya mau seorang wanita, cuma ingin dimengerti. hehehehe 

Pagi ini setelah memasak untuk sarapan dan Mas Bram sudah berangkat kerja, rutinitas berikutnya adalah mencuci piring dan membersihkan rumah. Jendela yang berada tepat di atas westafel cuci piring itu aku buka. Pandanganku menatap jauh kedepan, melihat tanaman di  halaman belakang rumahku. Rumputnya kini kelihatan panjang dan ada beberapa rumput liar yang harus segera dicabut biar tidak semakin mengintimidasi rumput yang sengaja aku tanam. Bunga-bunganya kelihatan ceria sekali dengan warna-warninya. Daunnya yang terkadang menari ke kanan dan ke kiri ketika tertiup angin sepoi-sepoi. Nampak ada seekor burung disana, yang sedang mematuki sesuatu di rumput, seperti sedang mencari makan. Lalu terbang keranting pohon kedondong.Tidak lama setelah itu, seekor burung mendatanginya. Lalu mereka berdua terbang tinggi entah kemana. 

Pemandangan seperti ini yang aku nantikan setiap pagi. Adegan kedua burung itu selalu menjadi adegan favoritku. Mereka selalu saja berdua. Ketika  baru seekor burung yang datang, tak lama kemudian seekor lagi menghampiri. Seperti membisikan sesuatu lalu mereka terbang. Mereka akan saling bersiul bersahutan sambil mengepakkan sayapnya. 

Seketika itu aku mendengar suara yang arahnya dari pintu rumahku. 

Tok ... tok ... tok. 

“Assalamualaikum.” Terdengar suara seseorang di balik pintu. Dengan buru-buru, kubersihkan tanganku dan kumatikan kran airnya. 

“Wa’alaikumsalam,”jawabku. Dengan setengah berlari aku menuju ke ruang tamu. kubuka pintunya. 

“Hai ... Fania!” Seorang gadis disana, dan aku kenal betul dengan wajah itu. 

“Ya Allah Haifa, tumben kok kerumah?” sambil kusalami dan kupeluk sahabatku itu. 

“Ayo masuk!” Kupersilakan dia untuk masuk kedalam rumah. Lalu dia duduk di pojokan sofa. 

“Gimana kabarnya? Sejak pernikahanku, kita belum pernah ketemukan lagi kan?” tanyaku. 

“Idih... kamu itu yang menghilang. Di telepone gak pernah diangkat, di WA di read doank. Gak pernah nongol saat anak-anak pada kumpul. Di grup WA juga seringnya Cuma silent reader. Kamu kemana aja Nyonya.Bramatyo? kamu dipingit sama suamimu ya?” kata-katanya tanpa jeda, nyaris membuat aku tidak bisa menjawab pertanyaannya untuk membela diri. 

“Sebentar,Mas Bram ... baik kan orangnya? Maksudku tidak ada KDRT dalam rumah tangga kalian?” tanyanya sambil menyipitkan matanya penuh curiga, seperti meminta penjelasan dariku. 

“Haduh ... kamu itu ya kebanyakan lihat sinetron, pikirannya jadi drama begitu. Aku baik-baik saja kok, seperti kamu lihat sekarang.” Kataku membela diri. 

Haifa bangkit dari tempat duduknya. Diperhatiankan aku dari kepala hingga kaki. Tidak puas sampai disitu, dia memutar mengelilingiku. 

“Ya ... ya... tak ada tanda-tanda kekerasan,” katanya sambil menganggukkan kepalanya. 

“Habis kamu gak ada kabar gitu. Aku kan khawatir sama kamu. Gimana enak gak menikah. Jadi seorang istri gimana?” tanyanya dengan antusias sambil mendekatkan wajahnya di wajahku. 

“Ih ... kepo, makanya segera menikah biar tahu gimana rasanya menikah dan jadi istri.” Kataku yang tak mau kalah oleh tindakan intimidasinya. 

“Kamu mau minum apa? Mau yang dingin apa yang hangat?” Tanyaku sambil berjalan menuju ke dapur. 

“Gak usah Fan, aku Cuma sebentar kok. Aku hanya mengantarkan undangan reuni akbar bulan depan di kampus. Ya ... Sengaja aku antar saja kerumahmu. Habis kalau aku WA takut gak kamu baca.” 

“Oh ... reuni itu? iya aku pernah lihat di grup WA.” 

“Iya ... kamu datang ya! Biar gak suntuk dirumah terus. Kumpul-kumpul sama teman-teman. Kalau kelamaan jadi istri yang kerjanya di rumah terus bisa-bisa kamu seperti mayat hidup, Zombie Hiii . Tak punya semangat hidup.” Katanya yang mencoba menakutiku. 

“Ngaco kamu ..., kamu itu yang harusnya cepat menikah biar pikirannya gak drama gitu, ngawur.”Dan kamipun tertawa bersama. 


Bersambung ....

Baca Cerita sebelumnya :Liontin Hati



#TantanganCerbung
#Cerbung10Episode
#ODOP
#OneDayOnePost



Cerbung Part3

Baca Cerita Sebelumnya : Cerbung Part2

Liontin Hati

Semenjak tragedi sayur lodeh itu, aku menjadi tidak bersemangat dengan apapun yang berbau masakan. Bahkan acara memasak di televisi yang biasa aku tonton, yang sebenarnya tidak berdosa pun terkena dampaknya, aku jadi hater pembawa acaranya. Iklan tentang masakan langsung aku ganti channelnya. Obrolan grup di WA mengenai masakanpun langsung aku clear chat. Aku muak sekali dengan semua hal berbau masakan. Bahkan mas Bram, suamiku, bercerita bahwa hari ini dia ditraktir koleganya makan di restaurant America yang menghidangkan makanannya tanpa piring juga jadi sasaran kemarahanku. Seketika itu mimik mukaku berubah. Kurubah posisi dudukku, tanda aku menarik diri. Dan mas Bram sepertinya memperhatikan perubahan sikapku.

Setiap pagi aku hanya memasak makanan yang sederhana, nasi goreng atau sarden itupun jika mas Bram ingin sarapan nasi. Namun jika tidak, maka aku hanya menyediakan roti dan selai. Sedangkan siang dan malam, dia jarang sekali makan dirumah. Karena sampai rumah biasanya habis isya'.

Sebenarnya bukan masalah masakan, masakan tidak salah apa-apa. Masakan hanya menjadi kambing hitam atas kejadian pagi itu. Sebenarnya aku hanya kecewa dengan sikap Mas Bram. Kenapa kaum laki-laki tidak bisa untuk basi-basi? Bukankah kebohongan pasangan suami istri juga diperbolehkan dalam islam jika itu untuk kebaikan? 

Sebenarnya sejak pernikahan kami, nyaris tidak ada keributan yang berarti. Mas Bram orangnya sangat baik. Beliau lebih banyak ngemong aku yang terkadang masih suka kekanak-kanakan, yang lebih banyak mengalah ketika kami bertengkar. Dan pertengkaran kami pemicunya pasti hanya hal-hal yang sepele, terkadang hanya masalah cara berkomunikasi. Salah satunya masalah sayur lodeh yang keasinan itu, itupun menurutku. Tapi sebenarnya Mas Bram orangnya sangat romantis, seperti yang terjadi pagi ini. 

“Fania ...?” 

“Iya Mas?” 

“Tolong ambilkan barangku di dalam tas,” katanya. Dengan buru-buru kuturuti saja perintahnya. Aku temukan kotak kecil yang dibungkus kertas kado warna merah muda. 

“Yang dibungkus kertas kado ini Mas?” 

“Iya ... Tolong bawa kesini ya!” 

“Ini,” sambil kusodorkan bungkusan itu. 

“Tolong kamu buka.” Katanya sambil mengancingkan kancing di lengan bajunya. 


Akupun melihatnya, dia seperti tidak begitu peduli. Sebenarnya bungkusan apa sih ini. Bentuknya seperti kado. Kado dari siapa? Lalu mengapa aku yang disuruh membukanya? Berbagai macam pertanyaan masih bermuculan di benakku. Hingga bungkusan itu telah telanjang dari bungkusnya. Kotak kecil berwarna merah, kotak perhiasaan. Dan setelah aku buka ternyata sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati warna merah jambu. 


“Waow ... cantik banget, punya siapa ini Mas?” tanyaku. Sambil kulihat dia yang sedang memperhatikan ekspresiku melihat kalung dan liontin di tanganku. Senyum mengembang di wajahnya. 

“Ya... Buat kamu Fania!”jawabnya. 

“Buat aku? Yang benar Mas? “ 

“Iya buat kamu.” 

“Tapi ... Mengapa ada hadiah hari ini? Hari ini bukan hari ulang tahunku.” Aku berusaha mengingat-ingat kejadian penting lain yang terjadi di tanggal ini, namun tidak juga aku temukan. 

“Selamat hari perempuan Fania ... Semoga kamu menjadi perhiasan paling indah yang kumiliki di dunia ini.” Sambil mengambil kalung itu dan memasangnya di leherku.

Aku tidak tahu harus berkata apa, seketika badanku seperti beku, mulutku kaku. 

“Ini juga sebagai permintaan maafku karena kata-kataku  kemarin, yang telah menyinggung perasaanmu.” 


“Kata-kata yang mana?” Aku mengernyitkan dahi. 

“kemarin aku bilang bahwa sayur lodehnya keasinan, maaf ya!” 

Akupun tersenyum, tersipu malu tepatnya. Ternyata Mas Bram tau perasaan yang ku rasakan. Ternyata dia mengamati mimik mukaku, sikap dinginku pagi itu dan gerak gerikku selama ini. Lalu aku hanya mengangguk dan tersenyum. 



Bersambung ....

Baca Cerita Selanjutnya : Burung Gereja

#tantanganCerbung  #10Episode 
#ODOP
#OneDayOnePost











Selasa, 06 Maret 2018

cerbung part2 (2 love is 2 touch lives 4 EVER)

Baca cerita sebelumnya : cerbung part1

Kutatap lekat wajah laki-laki itu. Mungkin banyak beban. Beban pekerjaan atau beban yang lainnya. Namun yang pasti dia mempunyai beban tanggungjawab yang baru yaitu aku. Wanita yang benar benar belum ia kenal untuk tinggal bersama. Aku tahu tidak mudah tinggal seatap sebagai pasangan suami istri jika rasa cinta itu belum ada. Selain tantangan permasalahan perbedaan karakter dan kebiasaan, masalah hati juga tak bisa dipungkiri. Bagaiman bisa menyakinkan hatinya untuk bisa mencintaiku dan aku juga bisa mencintainnya. Tak mudah namun tak sulit juga sebenarnya. Tapi bagiku ini adalah pekerjaan yang tak gampang, karena aku bukan type orang yang gampang jatuh cinta.

Perubahan status membuat beban tersendiri dalam hidupku. Hampir setiap hari aku selalu berbisik di hati, “aku sekarang seorang istri”. Namun disaat kata-kata itu berakhir, terasa beban berat ada dipundakku. Aku tidak tau beban apa itu, tapi aku merasa aku mempunyai tanggaung jawab yang besar untuk aku bawa. Dan laki-laki itu selalu mengingatkanku bahwa aku mampu.

Hari-hari bersama orang “asing" itu tidak mudah. Aku harus bisa bertoleransi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Seperti pagi ini, bangun pagi dan memasak adalah bukan kebiasaanku, tapi karena perubahan statusku, akhirnya mau tak mau harus aku lakukan. Sebenarnya aku tidak jago masak apalagi masak yang ‘aneh-aneh’. Buku resep masakan setebal 456 halaman menjadi buku pedoman wajib yang harus ada di dapur. “Resep Masakan Komplit” judul bukunya.

Memasak sayur lodeh, seperti requestnya kemarin. Segala bahan dan pelengkap sudah aku siapkan. Dan belajar dari “kitab” itupun sudah aku pelajari sejak tadi malam. Singkat kata pagi itu adalah pagi tersibuk sejak pertama kali statusku berubah.

“Ok lodeh nya sudah siap,” aku bergumam sendiri.

“Silakan Mas kalau mau sarapan!” Agak sedikit teriak karena dia masih sibuk di dalam kamar.

Akhirnya dia keluar dan menuju meja makan kami yang sangat sederhana.

“Waow sarapan pertama kita,” katanya dengan riang. Dia menarik salah satu kursi lalu mengambil nasi dipiring.

“Makasih ya sudah repot-repot membuatkan sayur ini buatku,” imbuhnya.

Agak aneh memang sayur lodeh buat sarapan. Hehe, tapi mungkin dia ingin melihat ketrampilan memasakku. Ah ... biarlah yang penting ujicoba kali ini lulus.

“Dicobain dulu mas sayurnya!” 

“Hmm ... enak sih, tapi kok agak keasinan ya?” katanya tanpa dosa.

Namun kata-kata itu bagiku seperti pedagang kaki lima yang diteriakin satpol pp. Seketika itu perasaanku nano-nano, antara binggung, sedih, kecewa campur aduk jadi satu.

“O begitu ya? Ya udah gak usah dimakan sayurnya, sarapannya pake telor dadar aja ya!” jawabku seriang mungkin. Sambil aku sodorkan piring yang berisi telor dadar.

Sarapan kami pertama kali nyaris tanpa obrolan, sebenarnya aku yang kurang merespon setiap tema yang dia buka untuk menjadi bahan obrolan. Bukannya apa-apa, aku hanya kecewa dengan sayur lodehku. yang aku buat dengan susah payah, namun semua serasa sia-sia karena satu kata, "keasinan".

Setelah laki-laki yang kupanggil mas itu pergi, kupandangi sayur itu dalam kuali, mau kuapakan sayur ini? Namun hatiku tak bisa berbohong, kuambil sayur itu di mangkok dan kumasukkan dalam kualinya. Tanpa banyak bicara ku buang semua sayur itu keluar rumah. Itulah masakan pertamaku sebagai seorang istri yang berakhir di got pembuangan.


Bersambung
Baca cerita selanjutnya : part3 Liontin Merah

2 love is 2 touch lives 4 EVER
#TantanganCerbung
#Cerbung10Episode
#ODOP
#OneDayOnePost


Senin, 05 Maret 2018

Cerbung part 1

Mungkin aku bukan wanita terbaik yang pernah kau temui.
Mungkin juga bukan wanita tercantik yang pernah kau jumpai.
Aku sadari aku jauh dari sempurna.
Tak seperti bidadari yang tanpa cela.
Aku ... aku hanya wanita yang darimu,
aku tau bagaimana belajar mencintai apa adanya…

***
Pagi ini, kulihat matahari terbit dari jendela.  Mentari itu tanpa malu-malu memancarkan sinarnya. Pohon kedondong di depan jendelaku nampak senang sekali dan menikmati. Burung-burung yang bertengger di dahan-dahanya berkicau dengan riangnya. Karena embun, daun pohon itu basah. Binatang-binatang kecil yang bersarang di pohon itu nampak bersemangat sekali melewati hari ini, meskipun ada beberapa yang enggan untuk melewati daun yang basah itu.

Pagi ini tidak ada yang spesial sebenarnya, sama seperti pagi-pagi biasanya. Tapi tidak dengan pikiranku. Pikiranku melayang jauh. Kubuka laci-laci tempat memori merekam setiap kejadian dalam hidupku. Dari aku kecil hingga berubah status menjadi seorang istri. Pikiranku liar mengelana, hingga tanpa kusadari sebuah tangan memegang pundakku.

“Sepertinya serius sekali sedang memikirkan apa?” tanya laki-laki itu.

“Oh ... Enggak ada apa-apa. Aku hanya berpikir tentang jalan hidup sesorang perempuan. Ketika seorang perempuan menikah, apakah perjuangannya sudah berakhir atau malah sebaliknya?" jawabku.

Dia menatapku dengan penuh tanda tanya, seperti meminta sebuah kejelasan.

"Maksudku ... well seorang perempuan yang belum menikah pasti sangat idealis, mereka bebas menggambar masa depannya seperti apa, bebas mengaktualisasikan dirinya, mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dan bebas untuk melakukan apapun yang dia suka," lanjutku.

Aku lirik bagaimana reaksinya. Sebuah senyuman tergambar di wajahnya.

"Semua itu apa bisa dilakukan seorang perempuan yang sudah berubah status menjadi seorang istri?"

Lelaki itu tak menjawab pertanyaanku, dia hanya menantap mataku lalu memelukku.

“Kamu belum siapkah menjadi seorang istri?” tanyanya.

Dan aku hanya terdiam dalam pelukannya.

***

Kami tahu bahwa pernikahan kami bukan didasari rasa cinta. Dia mau menikahiku karena orangtua kami bersahabat. Ibunya memintanya untuk menikahiku karena kehidupan kami sangat susah sejak kematian Bapak. Aku tau dia tak punya pilihan lain selain menuruti kehendak ibunya, karena begitu besar baktinya ke beliau. Dan begitu juga aku, aku tidak mempunyai pilihan lain. Selain mengiyakan keinginan ibu, karena akupun tak berdaya untuk menolak. Setidaknya tidak ada ketakutan menikah dengannya,  karena paling tidak, aku tau keluarganya dan dia begitu hormat padanya ibunya. Kalau perlakuan dia dengan ibunya begitu, pasti dengan istrinya juga akan baik. Itulah yang membuat aku berani mengambil keputusan untuk menerima lamarannya.

bersambung

#tantangan cerbung